
Happy reading...
Sampailah mereka di suatu tempat seperti taman. Alvin yang menjadi petunjuk jalan turun lebih dahulu.
Ia melihat ke sekitar. Tempat ini telah berubah. Hanya satu yang meyakinkan dia bahwa ini benar tempat yang dia lihat dari tante Ambar. Yaitu pohon besar tempat Aksa berteduh saat Aksa di tinggalkan. Waktu itu turun hujan.
Kejadiannya pada siang hari di mana hujan lebat sedang terjadi. Sehingga suasana sepi. Tante Ambar dan suaminya membawa Aksa ke tempat ini. Laku Aksa di dorong ke luar dari mobil. Aksa kecil yang baru berusia 7 tahun kebingungan saat tantenya meninggalkannya.
Tante Ambar melihat ke bekakang dan mendapati Aksa berlari berteduh di bawah pohon ini. Hanya itu yang Alvin lihat.
" Bagaimana ? Benar ini tempatnya ?" Tanya Gibran.
" Iya , itu petunjuknya." Alvin menunjuk pohon besar.
Kring...kring...
Suara ponsel terdengar. Ternyata itu ponsel Gibran. Dia memang suka bunyi ponsel yang biasa tidak terlalu suka yang lagu. Katanya tanggung lagi enak-enak dengerin lagunya berhenti karena diangkat.
Gibran melihat ponselnya dan membaca siapa gerangan yang menelepon.
" Feli, sebentar ya ." Ucap Gibran pada Alvin dan menjauh dari Alvin . Gibran melangkah ke bawah pohon di mana Aksa dulu berteduh.
" Siapa ?" Tanya Max yang baru datang bersama Meta pada Alvin.
" Feli " Jawab Alvin.
" Oh..Ini bener tempatnya ?" Tanya Max
" Iya ."
Lalu Alvin menceritakan pada Max dan Meta yang dilihatnya di tempat ini. Meta hanya diam dan matanya berkaca-kaca .
" Oh..jadi begitu. Apa di sini tidak ada yang bisa kita tanyai mengenai kejadian 13 tahun yang lalu ?" Tanya Max sambil netranya memperhatikan sekitar tempat itu.
"Entahlah. Tempat ini banyak berubah mungkin penduduk sekitarnya juga. Jadi pasti sangat sulit untuk menemukan saksi. Jika ada pun mereka pasti lupa karena sudah lama sekali." Ucap Alvin. Max dan Meta dua M itu mengedarkan pandangan pada sekitar.
" Kak, aku haus. Itu ada warung, aku mau beli minum dulu ya ." Ucap Meta.
" Ayo Kakak antar !" Ucap Max dan menuntun Meta.
" Kak, jangan di tuntun ! Aku jadi berasa kayak nenek-nenek tahu !" Protes Meta.
__ADS_1
" Maksud Kakak biar kamu gak jatuh."
" Insyaallah aku gak akan jatuh Kak. Walaupun aku jatuh, kan ada Kakak yang akan selalu siap menangkapku dan merangkulku saat aku jatuh dan terpuruk ." Meta tersemyum.
" Ih pacar Kakak udah pintar gombal. Siapa yang ngajarin? Lain kali gak boleh gombal lagi ya ."
" Loh emang kenaapa?"
" Aku gak kuat, hati Kakak berdebar kencang kalau kamu gombalin ."
" Hahahaha....Kakak bisa aja. Masa digombalin gitu doang baper !" Max terkekeh. Dia sengaja berbicara seperti itu agar Meta terhibur. Mereka sudah sampai di warung.
" Mau apa sayang ?" Mendengar kata sayang dari Max, Meta langsung menatap Max.
" Kenapa ?" Tanya Max
" Gak apa-apa, aku mau fresh tea yang dingin." Jawab Meta.
" Pak fresh tea dingin dua !" Pinta Max pada penjual.
" Iya Mas sebentar ya !" penjaga warung itu mengambil minuman pesanan pembelinya.
" Mas ini !" Bapak itu memberikan minuman kepada Max.
" ini kembaliannya Mas ." Ucap penjaga warung.
" Tidak usah. Buat Bapak saja." Ucap Max menolak.
" Wah,terima kasih Mas. Alhamdulillah ." Bapak itu senang sekali.
" Sama-sama Pak. Bapak sudah lama jualan di sini ?" Tanya Max.
" Sudah Mas, saya jualan kira-kira 15 tahun yang lalu. " Meta berbinar mendengar itu. Ada harapan dia bisa menemukan kakaknya.
" Wow, sudah lama sekali Pak ya."
" Iya, habis mau jualan apa lagi. Pindah juga belum tentu ramai."
" ALVIN !" Teriak Max memanggil Alvin yang sedang berkumpul dengan Gibran, Adam , dan Aston.
" Kakak ngagetin aja ih !" Tegur Meta.
__ADS_1
" Maaf." Ucap Max sambil nyengir.
" Ada apa ?" Tanya Alvin pada Max. Mereka semua menghampiri Max di warung.
" Ini kata Bapak ini dia sudah jualan di sini semenjak 15 tahun yang lalu. " Jawab Max.
" Benarkah ?" Tanya Alvin.
" Iya ."
" Bapak tahu kejadian 13 tahun lalu. pada siang hari saat hujan. Ada anak kecil sekitar 7 tahun di tinggalkan di sini ?"
" 13 tahun lalu. Wah sudah lama sekali. Sebentar saya ingat-ingat dulu !" Bapak itu terlihat sedang berpikir.
Sementara itu Alvin sedang melihat masa lalunya. Bapak ini memang menyaksikannya.
" Saya ingat ! Waktu itu saya pikir orang yang meninggalkannya akan kembali. Tapi setelah dia menunggu hampir 1 jam dan berteduh di bawah pohon itu, orang itu tidak pernah kembali dan menjemputnya. Lalu ada mobil berhenti dan menghampiri anak itu, turun 2 orang dan membawa anak itu pergi. Saya pikir mereka keluarganya. " Benar itulah yang di lihat Alvin.
" Bapak masih ingat, padahal itu sudah lama ." Celetuk Aston.
" Iya. Karena di sini kejadian itu baru 1 kali. Di mana ada orang meninggalkan anaknya !"
" Baiklah Pak, Terima kasih. Kami pergi dulu. Mari pak !" Alvin pamit pada penjaga warung.
" Iya Mas." Ucap Bapak itu, lalu mereka pergi dari situ.
Mereka berkumpul di bawah pohon.
" Lihat ini!" Kata Gibran.
Mereka melihat ke batang pohon itu yang ditunjuk Gibran dan ada tulisan di sana.
Aksa sayang Meta
Meta menangis melihat tulisan itu. Kakaknya mengingatnya dan mungkin khawatir padanya. Sekarang di mana dia.
" Kita harus mencari tahu siapa yang membawanya ." Ucap Max.
" Ya kita cari nanti di rumah !" Ucap Alvin dan memberi kode pada yang lain. Max mengangguk mengerti.
" Ayo kita pulang sudah semakin sore sebentar lagi malam !" Ajak Gibran lalu mereka pulang.
__ADS_1
...----------------...