
Hari sudah malam , Gibran belum mengantuk dilihatnya yang lain sudah tidur. Saat Gibran baru memejamkan mata pintu terbuka.
Dilihatnya walau remang karena lampunya di redupkan , ada seorang perawat laki-laki muncul . Gibran segera memejamkan matanya begitu pria itu mendekat.
Gibran dapat mendengar rencana jahatnya yang ingin menyuntikkan racun kepada Gibran lewat selang infus
Sementara pria tadi sudah mengeluarkan suntikan berisi cairan racun. Saat ingin dimasukkan dalam selang ,Mata Gibran terbuka .
" Mau apa kamu ?" Tanya Gibran dengan suara keras .
pria itu terkejut.
" Oh.. maaf saya mau menyuntikkan obat !" jawabnya sambil melanjutkan niatnya .
Gibran menghentakkan tangannya ke kanan sehingga suntikan itu terlepas tepat sebelum obat dimasukkan, dan menyenggol tempat dia membawa suntikan .
Prang...
Suara gaduh itu membangunkan Sam dan Mila juga 3G. Mila menyalakan semua lampu.
" Ada apa ini ?" tanya Sam. Ia melihat suntikan yang terjatuh, dan hendak diambilnya.
" Jangan disentuh abi, itu adalah racun. tangkap orang ini !"
" Apa ? kurang ajar kamu !, jadi kamu mau buat anakku mati dengan racun ini."
Pria itu terpojok, dia lari keluar tapi diluar pengawal Sam sudah menghadang. Dia melawan dan sempat berkelahi sampai wajahnya babak belur terkena tinju dan tendangan .Akhirnya pria itu tertangkap .
Sam pergi bersama bodyguard membawa penjahat itu ke suatu tempat bukan kantor polisi atau rumah sewa tapi tempat di mana Alinski berada.
Yah Peter dan Al sudah datang . Al mempunyai markas di sini. Sam langsung masuk ke dalam rumah dengan pagar yang tinggi , tak terlihat apapun dari luar.
Setelah mobil masuk Sam dan yang lainnya keluar, dibawah sinar bulan mereka berjalan masuk ke dalam .Penjahat itu diseret oleh dua bodyguard .
" Jadi ini orang yang sudah mencelakai Gibran kita ?" Tanya Alinski.
" Yah.. dia akan menyuntikkan racun pada Gibran disaat kita semua tidur , untunglah Gibran terbangun. " Jawab Sam.
"Bawa dia ke ruangan khusus !" Titah Al pada pengawal.
Pengawal menyeret pria itu, mereka memasukkannya ke sebuah ruangan interogasi . Bukan hanya kursi dan meja yang ada di ruangan itu .
Tapi juga ada kursi khusus yang di sertai sabuk pada sisi kana kiri untuk mengikat tangan, dan juga sabuk pada bagian kaki kursi untuk mengikat kaki.
Ada juga 2 rantai yang menggantung di sisi lain untuk mengikat tangan . Di sisi kiri terdapat lemari berisi berbagai macam peralatan untuk menginterogasi secara paksa dengan kata lain untuk sedikit memberi rasa sakit agar mereka mengaku.
Karena Author tidak tega melihat penyiksaan jadi kita tinggalkan mereka dan beralih pada Kondisi Gibran.
Di rumah sakit tepatnya di kamar Gibran. Suasana menjadi ramai . Mereka tak bisa tidur lagi setelah kejadian itu. Tapi Gibran sangat mengantuk.
__ADS_1
" Umi, Gibran tidur dulu ya ..ngantuk banget !" Gibran menguap lalu memejamkan mata.
" Iya sayang , tidur aja ." Jawab Milla seraya membelai rambut Gibran agar cepat tidur.
" Abang , Giska gak bisa tidur lagi ." keluh Giska.
" Kenapa? gak usah takut , semua sudah teratasi. Penjahatnya sudah tertangkap ."
" Kalau tadi kak Gibran tidak terbangun maka orang itu pasti sudah memasukkan racun dan kak Gibran bisa..... "
" sssst.. jangan bicara begitu ! Alhamdulillah Allah melindungi kak Gibran , kak Gibran selamat dari niat jahat orang itu ." Gifar menempelkan telunjuk di bibir Giska.
" Giska gak mau tidur , Giska mau jagain kakak takut nanti ada yang jahat lagi, kita jangan lengah !"
Gilang dan Gifar terkekeh melihat wajah Giska yang menahan ngantuk.
" Iya.. kita gak usah tidur . Sini dekat aa duduknya !" Giska pindah duduk yang semula di bawah di atas matras menjadi di sofa.
" Sini.. senderan biar gak pegel !" Gifar menyenderkan kepala Giska di bahunya.
" Kita bergadang ya.. a..bang..!"
" Iya sayang kita bergadang !"
Milla yang melihat mereka tersenyum geli. Ada- ada saja, perkataan tidak sesuai perbuatan.
Bilang mau bergadang tapi mata sudah terpejam . Setelah kejadian itu tak seorangpun boleh masuk ke kamar Gibran tanpa ijin Sam atau Milla baik itu dokter sekalipun . Kecuali keluarga dan sahabat mereka.
...----------------...
Hari sudah pagi perawat menyerahkan makan pagi untuk Gibran , dan mereka juga ingin mengecek keadaan pasien .
Pengawal meminta ijin apakah mereka boleh masuk. Milla mengijinkan mereka. Senentara Sam belum juga kembali dari semalam.
Perawat menanyakan keluhan pasien, lalu melakukan cek rutin yaitu suhu tubuh dan tekanan darah juga menghitung nadi , lalu mencatatnya. mereka juga mengecek cairan infus, serta kateter .
Setelah mereka memberikan obat Gibran yang harus diminum setelah makan. Mereka pamit keluar.
3G sudah bangun .
" Mana yang katanya mau bergadang menjaga kakaknya ?" ledek Umi pada 3G.
" Aa sih nyuruh Giska nyender jadikan Giska ngantuk. Abang juga nepuk -nepuk punggung Giska , kan jadi tambah ngantuk !" Giska cemberut dan menjauhi kedua kakaknya. Ia menghampiri Gibran.
" Kak Gibran sekarang gimana ? gak apa-apa kan ?"
" Alhamdulillah kakak baik -baik saja sayang . Apalagi kalau di pijitin kepala kakak ."
" Oh..ya, sini Giska pijitin !" Giska lansung mengambil posisi untuk memijit kepala Gibran.
__ADS_1
" Abang juga mau , kak Gibran mau dipijitin apa lagi ?"Gilang langsung mendekati Gibran.
" Ini aja tangannya pegel ada jarum , tapi hati-hati ya ." Gilang memijit pelan tangan Gibran yang terpasang infus.
Gifar tak mau kalah ia juga mendekati kakaknya.
" Aku ngapain kak ? "
" Kamu suapin kakak aja !" ucap Gibran . Sebenarnya Gibran tak mau menyuruh mereka . Gibran tak mau mereka merasa kecewa , biarlah mereka merasa bangga sudah melakukan sesuatu untuk kakaknya.
" Gib..umi ke sebelah dulu ya mau melihat twins dan yang lainnya."
" Iya umi."
" Gifar , makanannya harus sampai habis ya !"
" Iya umi. "
"Tuh kak Gib, kata umi harus sampai habis !" tegas Gifar.
" Iya dek ..Insyaallah habis, untung makanannya enak. " Gifar terus menyuapi Gibran .
Ceklek..
Masuk Max dan Alvin.
" Waduh.. Gibran berasa jadi raja ," celetuk Alvin. Max terkekeh.
" iya kak , soalnya semalem kita mau bergadang jagain kak Gibran eh malah ketiduran ." saut Gilang.
" Iya makanya kita sekarang manjain kak Gibran." lanjut Gifar sambil terus menyuapi Gibran.
" Semalem kami sangat takut , kak Gibran hampir diracun orang ."
" Benarkah ?" Max terkejut.
Alvin langsung menerawang apa yang terjadi dari Gibran.
" Benar .. tapi dia bukan pria lift itu !" Alvin menjawab Max.
" Dari mana kau tahu ? maksudku dari mana kamu tahu kalau dia bukan pria lift itu ?' tanya Max lagi.
" Lehernya tak ada bekas luka, juga tangannya bersih tidak ada tato sama sekali. "
" Itu berarti dia masih berkeliaran , sebenarnya untuk siapa mereka bekerja dan mengapa mereka begitu menginginkan kau mati Gib?"
" Entahlah Max .. aku sendiri tidak tahu ."
" Alhamdulillah , sudah habis kak . Sekarang kak Gibran minum obat dulu !" Gifar menyiapkan obat dan minumnya lalu memberikan pada Gibran.
__ADS_1
...----------------...