
Milla mencari 3G ke kamar mereka ,
" Giska kenapa kamu menangis ?"
" Tidak umi, Giska tidak apa-apa dia cuma kesel diledekin sama bang Gilang.."
" Gilang berhenti menjahili Giska , kalian siap-siap ya sebentar lagi mereka datang lalu kita berangkat."
" Ok ! umi "
" Kenapa jadi abang yang kamu jadikan alasan ?"
" Maaf bang yang penting umi gak tahu, Gifar gak mau umi khawatir . Mungkin ini hanya perasaan kita saja , lebih baiknkita sholat berjamaah sekarang !"
3G segera sholat dzuhur dengan Gilang yang menjadi imam. Mereka semua sudah menjadi hafiz Qur'an.
Mereka kini sedang dalam pesawat yang menuju ke Bandung.
Max memperhatikan Giska yang terlihat murung dan gelisah. Gifar menggenggam tangan Giska begitu juga Gilang ada apa fengan mereka bertiga.
Aston juga Adam merasakan perasaannya yang tak menentu , seperti sesuatu yang menyesakkan dada ingin dikeluarkan , ingin menangis tapi kenapa ? Alvin , juga Feli mereka terdiam tak ada yang berbicara Alvin melihat apa yang terjadi pada 3G , sedangkan Feli dia meradakan seperti akan ada sesuatu yang besar tejadi dan dia akan kehilangan.
Para orang tua bingung , mereka yang biasanya cerewet dan berisik kenapa terlihat tidak bersemangat dan sedih bukankah seharusnya mereka senang , akan bertemu dan jalan-jalan dengan Gibran.
" Ada apa dengan mereka? terlihat tidak bersemangat mereka justru terlihat sedih." tanya William .
" Entahlah tapi kok aku merasa gak enak hati ya ada apa ya ?" ucap Milla.
" Kita sebentar lagi sampai tenanglah !"
Sementara di hotel, Sam dan Frederick sudah mengadakan rapat dengan detektif sekarang mereka sedang rapat dengan kontaktor.
Gibran sedang tiduran di kamar Hotel setelah sholat, hari ini dia sedang malas sekali melakukan apapun dia cuma ingin tiduran . Dia tidak pernah merasa seperti ini .
Gibran bangun dan ke kamar mandi untuk wudhu, dia akan mengaji untuk menenangkan hatinya, Setelah mengaji dia keluar kamar untuk menemui abi di bawah .
Sam dan Frederick sudah selesai rapat , mereka akan ke kamar untuk melihat Gibran.
Gibran berjalan dengan lesu dan menunduk .
Brugh ...
Gibran menabrak seseorang , dia mengangkat kepalanya, Gibran melihat ada seorang pria bertopi hitam memakai masker dan sarung tangan jaket merah celana hitam .
" Maaf, saya tidak sengaja ." ucap Gibran.
Pria itu tidak berkata apa pun dan pergi. Gibran meneruskan langkahnya menuju lift.
Pintu lift terbuka masuklah Gibran dan memencet tombol . Pintu kembali tertutup.
Pria tadi berbalik sebelum pintu tertutup sepenuhnya dia melihat Gibran dan tersenyum.
Gibran menatapnya hingga pintu tertutup rapat dia dapat mendengar pikiran pria itu, Gibran terkejut tapi sudah terlambat. Gibran hanya bisa pasrah semoga Allah selalu melindunginya.
Sementara Sam dan Frederick akan menaiki lift , lift sebelah kanan ditandai tulisan RUSAK , mereka menaiki lift sebelah kiri .
Sam memencet tombol angka 5 . Lift sudah bergerak ke atas sedangkan lift yang Gibran taiki bergerak ke bawah . Lalu tiba-tiba
BBRRUUUGH.......
Suara dentuman keras dan lift yang Sam taiki agak sedikit berguncang.
" Ada apa ini Sam , suara apa itu ?"
" Entahlah , suaranya kencang sekali." Jantung Sam tiba-tiba berdenyut kencang , dia teringat Gibran dan hatinya gelisah.
__ADS_1
Lift sudah sampai, pintunya terbuka Sam bergegas lari ke kamar Gibran.
Kosong..kamar itu kosong. Tak ada Gibran di manapun. Sam belari keluar.
" Gibran tidak ada cari dia aku akan lihat ke bawah dan kau tolong liat cctv !" Pinta Sam pada Frederick.
" Ok !"
Mereka lari ke arah lift tapi lift tidak berfungsi. Mereka lari menuju tangga ke lantai 1.
Sampai di kantai 1 dengan nafas terengah Sam melihat banyak orang berkerumun di dekat lift. Sam dan Frederick saling menatap lalu mereka lari menghampiri kerumunan dengan perasaan was-was dan jantung yang berdebar kencang.
" Ya ampun pantesan tadi suaranya kencang sekali aku pikir suara apa gak tahunya suara lift jatuh ,"
" Iya sekarang sedang menunggu ambulan dan pemadam kebakaran untuk mengevakuasi anak itu."
" Apa?? lift jatuh !! di mana ? " tanya Sam begitu mendengar mereka.
" Ya di basement,"
" Sam langsung berlari ke arah tangga dan turun menuju basement"
Sam melihat banyak orang berpakaian dinas pemadam yang sedang berusaha mengevakuasi korban.
Sam bergegas menghampiri terlihat oleh Sam seorang anak remaja diangkat dan dibaringkan di atas brankar.
" Gibran.. Gibran..." Jantungnya sesak dan berdetak semakin cepat, tangannya terasa dingin , Sam ingin membelai rambutnya tapi ada darah ,Sam takut justru melukai Gibran Sam menyentuh tangannya dan menggenggamnya , sambil berjalan mengikuti brankar yang membawa Gibran. kenapa harus anaknya, kenapa harus Gibran.
Pada saat yang sama Gibran masuk ambulance, datang mobil yang membawa rombongan dan berhenti di depan pintu masuk hotel. Setelah semua turun , mobil itu pergi.
Rombongan masuk ke lobi . King dan William memesan kamar setelah terima kunci mereka semua pergi ke kamar.
Lift kembali berfungsi setelah dinyatakan aman walau cuma 1.
" umi, sudah telepon abi ?" tanya Gilang.
" Umi...umi !" Gilang memanggil agak kencang.
" Hah..apa ?"
" Umi kenapa ? Gilang panggil dari tadi !"
" Maaf umi tidak dengar, ada apa ?"
" Apa umi sudah telepon abi ?"
" Oh.. sudah tapi tidak diangkat ."
Lift berhenti di lantai 6.
Pintu lift terbuka, mereka keluar menuju ke kamar masing-masing.
Terdengar suara ponsel berbunyi ternyata itu ponsel King. Semua berhenti dan memperhatikan King.
" Halo King, ini aku Fred, kau di mana sekarang?"
" Iya Fred, aku sudah sampai hotel."
"Bisakah kalian semua pindah dari hotel itu dan juga ambil semua barang-barang ku dan Sam di kamarku tolong chek out namaku. Jangan bertanya lakukan saja , untuk sementara cari rumah sewa full furniture serahkan pada William untuk mengurus itu ."
" Tapi kenapa?"
" jangan bertanya dan kau cepat ke rumah sakit bersama Milla.
" Iya ."
__ADS_1
" King , titipkan anak-anak pada William , secepatnya kau ke sini . Aku akan kirim alamatnya ." Sambungan terputus.
ting..
ada pesan masuk dari Frederick berisi alamat rumah sakit.
King bertanya dalam hati ada apa sebenarnya , apa yang terjadi ? hatinya merasa tidak enak . King melihat anak-anak lalu dia menatap Milla .
King menghampiri Milla .
" Milla kau pernah tinggal di Bandung kan , aku ingin pergi ke suatu tempat bisa kau antarkan aku? William juga akan ikut !"
" Ke mana ?" Tanya William .
" Bukankah kau bilang tadi ingin ikut denganku ."
"Aku... bilang begitu , kapan ? "
" Ya.. kau pasti lupa , anak -anak biar di sini saja sama Julia dan yang lainnya .Mereka butuh istirahat. Ayo kita pergi sekarang !" King menarik tangan William . Milla menatap 3G dan mencium pipi mereka satu persatu lalu pergi menyusul King.
Hatinya sudah tidak enak , dia tahu ada hal buruk yang sudah terjadi .
Mereka turun kelantai 1 lewat tangga.
" Wil, dengar ! tolong kamu keluar dari hotel ini dan cari rumah sewa full furniture, di sini banyak , kamu tinggal cari di internet . Aku dan Mila akan ke rumah sakit, oh ya pesan Fred jangan ada yang naik lift demi keselamatan pakai tangga aja, semuanya !"
William menelepon istrinya agar mereka segera siap-siap untuk chekout dan turun lewat tangga, jangan ada yang naik lift , William menunggu di bawah.
King menyuruh semua bodyguard untuk lebih waspada . King turun bersama Milla lewat tangga. King pergi bersama supir .
" Aku tahu ada sesuatu yang buruk terjadi, katakan padaku ada apa?" Tanya Milla.
" Aku juga tidak tahu, Fred hanya menyuruh kita ke rumah sakit." jawab King.
Setelah itu suasana di mobil menjadi hening. Milla berdzikir dalam hati untuk menenangkan perasaannya yang semakin gelisah, memohon perlindungan Allah untuk seluruh keluarganya.
Sampailah mereka di parkiran rumah sakit. King menelepon Fred.
" Halo aku, sudah berada di depan ."
" Pergilah ke IGD ."
" Ok !" King menutup handphonennya.
" Ayo kita ke IGD !" ajak King.
Milla ingin melangkah tapi kakinya terasa berat, tangannya gemetar.
Milla tak bisa berpikir, dia tak menyadari seseorang menghampirinya. Tangannya yang gemetar digenggam orang itu.
Milla menatapnya, dia tersenyum air matanya menetes.
" Sam .. kau di sini , apakah kau baik-baik saja ?" Sam mengangguk.
" Alhamdulillah..Gibran .. bagaimana dia ? apakah dia baik-baik saja ?" Sam menatap Milla. matanya berkaca-kaca lalu Sam memeluk Milla , jatuh juga air mata yang ditahannya sedangkan Milla dia sudah menangis.
" Maaf.. maafkan aku Milla, aku tidak bisa menjaganya dengan baik, maaf Milla ..maafkan aku ." Sam semakin terisak.
Milla memukul punggung Sam .
" Katakan bagaimana keadaannya bukan meminta maaf, aku ingin tahu bagaimana keadaannya .. katakan ..KATAKAN !!" Milla berteriak pada Sam.
" Ketika Gibran naik lift untuk turun ke lantai 1 , lift itu jatuh meluncur ke bawah dari lantai 5 sampai basement. Gibran terluka parah sekarang dia sedang di IGD dan akan dioperasi sebentar lagi . Ayo kita masuk ke dalam tapi kamu harus kuat dan sabar. " Baru saja Sam selesai berbicara Milla jatuh pingsan.
Sam terkejut dan menggendong Milla , dia berjalan cepat ke IGD.
__ADS_1
William menemukan rumah sewa full furniture dengan 7 kamar dan 5 kamar mandi, ruang tamu luas ruang keluarga juga besar, dapur lengkap. Garasi besar.
Mereka segera membereskan barang dan beristirahat . Bodyguard berjaga di sekeliling rumah.