
"Bagus, sekarang kita kembali ke topik. Selama seminggu ini kami sudah merangkai semua yang kita dapatkan, dan melakukan pencarian dari no plat mobil itu."
"Kami menemukan beberapa hal yang penting."
"Mobil itu adalah milik Tuan Pedro. Kami sudah konfirmasi pada Tuan Pedro ternyata beliau pada saat itu sedang tidak ada di Indonesia, dan mobil tersebut di pinjam atau di sewa oleh pasangan yang sedang liburan ke Indonesia."
"Tapi, yang menyewakannya bukan Tuan Pedro melainkan supirnya."
"Hanya dia yang tahu siapa pasangan itu."
"Masalahnya, supir itu dipecat karena menyewakan tanpa izin."
"Kami mencari identitas supir itu, dan melacaknya. Dia ada di Bali sekarang."
"Gue udah nyuruh orang untuk mencari supir itu dan menanyakan tentang pasangan yang menemukan anak kecil beberapa tahun yang lalu. dan gue udah mendapatkan hasilnya."
"Kakak Meta di bawa ke luar negeri, yang menyewanya adalah Milyuner asal Belanda. Mereka membawanya pulang ke Belanda."
"Apa? Jauh sekali Kak!" Meta bingung, bagaimana dia mencarinya ke Belanda?
"Kamu, tenang saja. Kami sudah mendapatkan identitasnya dan alamatnya. Kita akan pergi ke Belanda Besok!" Tentu saja perkataan Max mengejutkan Meta.
"Besok?" tanya Meta.
"Iya."
"Tapi aku belum menyiapkan apa-apa. Bagaimana besok bisa berangkat?"
"Meta, aku ini kekasihmu. Aku sudah siapkan semua kebutuhanmu. Kamu tinggal bawa diri aja."
"Bukan begitu Kak Max. Paspor sama visa aku gak punya."
"Udah di bikinin sama Max."
"Iya Kak?
"Hm ... sudah ku bilang kamu tinggal bawa diri aja."
"Iya Kak."
...***...
Ketika Mereka akan berangkat. Gibran mendapat telepon yang memberi laporan bahwa Aksa ada di Indonsia, sedang mencari adiknya.
Mendengar itu Meta merasa senang, karena Kakaknya tidak melupakannya.
"Apa kau senang? Untunglah orang suruhan Gibran menemui orang tua angkat Aksa dan bicara pada mereka," ucap Max.
"Iya Kak."
__ADS_1
"Dia juga sudah memberi informasi di mana kau tinggal pada mereka. Kemungkinan mereka akan menghubungi Aksa."
"Permisi Tuan, ada tamu."
"Suruh masuk, ke rumah utama ya."
"Iya Tuan."
"Ayo kita ke sana sekarang!" Komando Gibran.
Mereka berjalan menuju rumah utama.
Begitu sampai sana, Mereka melihat ada cowok tampan sedang ngobrol bersama Umi.
"Gibran ke sini! Ini ada tamu nyari Meta."
"Iya, Umi"
Gibran dan yang lainnya menghampiri Umi dan cowok itu lalu duduk di sofa.
"Nak Aksa, ini anak-anak saya. Kenalkan Gibran, Maxwell, Alvin serta si kembar Adam dan Aston. Nah ini yang cantik namanya Metania Andromeda." Umi memperkenalkan Gibran dan yang lainnya.
Lelaki itu mengangguk, sebagai tanda salam.
"Kenalkan saya Aksara, panggil saja Aksa." Aksa memperkenalkan dirinya, dan pandangannya tak lepas dari Meta. Wajah Meta mengingatkannya pada sang Mamah.
Meta pun melihat wajah Aksa. Dia tidak ingat sama sekali wajah Kakaknya. Dia masih terlalu kecil saat itu.
"Ini benar kamu. Metania Andromeda?"
"Iya,"
Aksa berdiri dan segera menghampiri Meta lalu memeluknya.
"Kakak rindu kamu, Kakak cari kamu bertahun-tahun. Kakak kembali ke rumah itu, tapi kamu tidak ada. Kata Tante kamu sudah pergi untuk mencari Kakak dan tidak pernah kembali. Maafkan Kakak, Kakak menyesal karena terlambat mencarimu."
Meta tidak kuasa menahan tangis. Ia terisak di pelukan Aksa.
"Kakak sudah menemukanmu. Kakak tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Iya Kak, jangan tinggalin Meta."
"Meda, dulu Kakak suka memanggilmu Meda. Kamu cantik sekali. Wajahmu seperti Mamah."
"Bisakah Kakak ceritakan tentang Mamah dan Papah. Aku ingin mendengarnya."
"Iya, pasti akan Kakak ceritakan. Tapi sekarang Kakak ingin mengucapkan terima kasih pada keluarga Gibran."
Aksa berbalik dan menatap Gibran juga yang lain.
__ADS_1
"Terima kasih banyak. Kalian sudah merawat Meta dengan baik. Gibran juga yang menelepon keluargaku di Belanda dan memberitahu keberadaan Meta. Terima kasih banyak. Aku tidak akan melupakan ini. Aku berhutang seumur hidup pada kalian."
"Kakak tidak berhutang apapun pada Kami. Semua kami lakukan karena kami menyayangi Meta juga karena Max sangat mencintai Meta." Max langsung melotot pada Alvin.
"Oh ... jadi kamu sudah punya pacar ya. Tapi kamu masih kecil, gak boleh pacaran."
"Kakak, aku sudah besar."
Aksa tersenyum.
"Kamu tahu, dulu waktu kamu kecil aku membayangkan bagaiamana kamu akan curhat pada Kakak tentang pria yang kamu sukai dan kamu juga akan bermanja pada Kakak. Mendengar kamu sudah punya pacar, Kakak merasa tidak rela. Berarti ada orang lain tempat kamu bermanja."
"Aku bukan cewek manja Kak, tapi aku senang bermanja sama Kakak."
"Max, bisakah aku bawa Meta ke Belanda. Untuk aku kenalkan pada orang tua angkatku. Beri kami waktu untuk menebus kebersamaan kami yang hilang."
"Apa hakku melarang kalian, Kak Aksa adalah Kakaknya. Tidak perlu izin dari ku. Kalau perlu aku akan ikut."
"Max, kamu gak perlu ikut biarkan Meta menghabiskan waktu bersama Kakaknya," ucap Umi.
"Iya Max, nanti juga Meta balik lagi." Alvin ikut membujuk Max.
"Baiklah aku tidak akan ikut. Tapi kau harus kembali Meta."
"Hm ... Apakah kau serius pada Meta?"
"Iya."
"Aku tidak akan bertanya status dan latar belakangmu, aku hanya ingin melihat kesungguhanmu."
"Iya Kak, aku bersungguh-sungguh mencintai Meta. Aku akan menunggu Meta kembali."
"Baiklah. Meta kita pergi sekarang. Kamu ikut Kakak."
"Iya, Kak. Aku ke kamar dulu." Meta pergi ke kamarnya, di susu Umi.
"Gibran ini alamat saya di sini." Aksa memberi kartu namanya.
"Saya sedang merintis usaha di sini. Jadi kamu tidak perlu khawatir Max, kami hanya sebentar di Belanda." Aksa tersenyum pada Max.
"Iya Kak."
Semua terkekeh melihat Max.
Meta kembali ke ruang tamu bersama umi sambil menenteng tas.
Dia berpamitan pada semuanya. Sayang tidak ada Om Sam, dan 3G. Mereka sedang pergi.
Meta memeluk umi dan menangis. Dia berterima kasih pada umi yang begitu baik padanya dan menyayanginya.
__ADS_1
Meta dan Aksa pergi dari rumah itu.
Akhirnya misi pencarian Kakak Meta selesai. Gibran bisa mengadakan pertunangannya dengan tenang.