
Meta di giring ke kantor Kepsek. Max ikut mengantar.
"Permisi Pak Kepsek." Bu indah masuk ke dalam, di ikuti Meta, Max dan siswi lain yang menjadi saksi.
"Bu Indah! Ada apa ini, ramai-ramai ke sini?" tanya Pak kepsek.
"Maaf Pak, tapi saya mau melaporkan kasus penganiayaan." Bu indah melirik Meta.
"Penganiayaan? Siapa dengan siapa?"
"Meta dengan Jeni."
"Mana yang bernama Meta?"
"Saya Pak." Meta mengacungkan tangannya sambil menunduk.
"Kamu kelas berapa?"
"Sepuluh 3 Pak." jawab Meta.
"Mana yang bernama Jeni?" tanya Pak Kepsek.
"Maaf Pak Jeni sedang di obati lebih dulu di uks dan di ganti bajunya !"
"Silahkan duduk semuanya!" Pak Kepsek mempersilahkan mereka duduk. Mereka pun semua duduk. Meta duduk di kursi tepat di depan Kepsek. Sedangkan Max duduk di bangku pinggir.
"Kita tunggu Jeni dulu ya, biar semua jelas."
Sementara Gank Angker baru datang.
"Maaf permisi bolehkah kami masuk!"
"Apa anda berkepentingan?" tanya Kepsek.
"Ya, Meta teman saya. Saya berkepentingan untuk menolong dan menemani Meta!"
"Silahkan duduk bersama Max."
"Permisi, siang Pak." Datang Jeni dan Ochi yang menemani.
"Kamu Jeni?" tanya Kepsek sambil menelisik melihat luka yang ada pada lengan Jeni.
"Iya Pak."
"Silahkan duduk di samping Meta." Jeni duduk mengikuti perintah Kepsek.
"Jadi Jeni, bagaimana awalnya sampai kamu di siksa oleh Meta?" tanya Kepsek.
"Awalnya saya saat itu lari ke toilet karena saya sudah tidak tahan. Lalu saat saya masuk toilet saya tidak sengaja menabrak Meta." Jeni terdiam dan melirik Meta.
"Dia marah dan mendorongku. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. Ternyata itu adalah pisau lipat." Jeni mengambil nafas panjang. Tangannya gemetar.
"Meta ... Meta berusaha melukai ku, dengan menggoreskan pisau itu kepadaku. Padahal aku sudah minta maaf, lalu dia berusaha melukaiku lagi, aku menghindar tapi walau pakai kurk tenaga Meta sangat kuat. Sampai ia berhasil melukai tanganku. Belum cukup sampai di situ ia menyiramku ...."
"Bohong! saya tidak melakukan itu! sa ...." Belum selesai bicara perkataan Meta terpotong oleh ucapan seseorang.
__ADS_1
" Tunggu giliranmu bicara Meta!" tegur bu Indah.
Meta terdiam. Gibran dan Alvin menatap Jeni. Melihat tatapan Gibran dan Alvin Jeni merasa bahwa mereka menatapnya iba.
Sungguh Jeni tak pandai menebak arti tatapan seseorang. Karena nyatanya Alvin dan Gibran sedang menatapnya tajam mengintimidasi tapi percuma karena yang ditatap tidak merasa terintimidasi.
" Lalu setelah itu bagaimana?" tanya bu Indah.
"Untunglah Bu, ada yang datang dan menolong saya. Entah apa yang terjadi kalau sampai mereka tidak datang, mungkin akan lebih parah dari ini." Jeni menangis.
"Siapa yang pertama kali melihatnya?" tanya Kepsek.
"Ochi Pak." jawab Jeni.
"Benar Ochi?" tanya Kepsek.
"Iya Pak, saya yang lebih dulu masuk untuk mengecek keadaan, dan yang saya lihat adalah Meta sedang memegang pisau lalu Jeni sedang memegang tangannya yang terluka. Lalu saya memanggil bantuan."
"Siapa yang mendobrak pintu?" tanya Kepsek.
"Max dan Toni pak," jawab Ochi.
"Apakah pintunya terkunci?" tanya Kepsek.
"Iya Pak." Kepsek terdiam setelah Max menjawab.
"Jeni, Mana yang lebih dulu masuk kamu atau Meta?" Kini Pak Kepsek bertanya pada Jeni.
"Meta Pak," jawab Jeni
"Iya Pak."
"Di mana kamu menabraknya?"
"Di dalam begitu saya mau masuk bilik toilet."
" Sebelah mana?"
" Yang dekat cermin, Pak."
"Oh berarti yang paling dalam yang ujung ya?"
"Iya Pak."
"Lalu setelah kamu tabrak dia, Meta mengamuk dan mendorong kamu terus mengeluarkan pisau dan melukai kamu?"
"Iya Pak."
"Meta tidak sempat ke luar?"
"Tidak Pak. Dia langsung menyiksa saya dan menyiram saya dengan air."
"Dari mana dia dapat airnya, bilik yang mana?"
"Yang ujung."
__ADS_1
"Oke berarti, Meta melukai kamudian menyiram kamu dari bilik yang ujung. Dia tidak pernah beranjak dari situ mengingat dia juga pakai kurk. Begitu Jeni?"
" Iya Pak."
"Apa itu benar Meta?" tanya Kepsek pada Meta. Tapi Meta tidak menjawab.
"Kamu menyiram dia?" tanyanya lagi
"Iya pak, saya pikir dia kesurupan. Karena dia melukai dirinya sendiri dengan pisau," jawab Meta
"Kamu tidak pernah beranjak dari awal Jeni menabrak kamu?"
"Saya tidak di tabrak, tapi dari awal dia datang saya tidak pernah beranjak kecuali mengambil air di gayung." Meta meralat pernyataan Kepsek.
"Oke, dari semua jawaban kalian berdua tidak ada yang menyebutkan pintu terkunci."
"Anak-anak, apa pintu toilet bisa terkunci otomatis?" Pak Kepsek beralih pada siswa yang lain.
"Tidak Pak!" jawab mereka.
"Kalau begitu ada yang menguncinya dari dalam, saat itu hanya ada kalian berdua di sana, begitu bukan Ochi?"
"Iya Pak."
"Berarti yang mengunci pintu adalah salah satu dari kalian. Jika Meta tidak, berarti itu adalah kamu, Jeni!"
Jeni mulai gelisah. "Sial, aku lupa. Seharusnya tadi aku bilang Kalau Meta mengunci pintu lalu melukaiku!" batin Jeni.
"Kenapa Bapak menuduh saya? Mungkin saya lupa karena saya takut sekali!"
"Iya Pak, buktinya pisau itu ada pada Meta!"
"Tidak! Meta tidak bersalah. Tapi Meta yang melukai dirinya sendiri. Saya tahu karena sebelumnya dia pernah cerita niatnya pada saya."
"Andrew!" Teriak Jeni.
"Apa? Aku sudah bilang padamu. Hentikan niatmu. Dia adalah saudaramu. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Selalu membencinya dan membuat dia dalam masalah?" ucap Andrew yang tiba-tiba muncul.
"Kau? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengkhianatiku?" tanya Jeni.
"Berarti sudah jelas kasus ini, Meta tidak bersalah. Sekarang Meta kamu boleh keluar!"
"Baik Pak, Terima kasih," ucap Meta. Max membantu Meta pergi.
"Jeni dan Andrew tetap di sini!"
Jeni dan Andrew serta bu Indah tetap di dalam kantor.
Meta berjalan di depan bersama Max.
"Untung saja ada Kak Andrew, dia selalu berbuat baik padaku dan diam-diam selalu menolongku. Dia memang pria yang baik."
"Apanya yang ba ...."
Gibran memegang tangan Max dan menggeleng. Max yang melihat itu langsung terdiam.
__ADS_1
...----------------...