
Satu minggu setelah itu Feli dan Dady kembali ke negaranya.
Sebenarnya para orang tua ingin membuat acara lamaran yang mewah tapi Gibran menolak ia ingin acara lamaran biasa saja antar keluarga dan sahabat.
Namun, ada satu misi yang harus dia selesaikan sebelum, acara lamarannya berlangsung.
Acara lamaran akan di gelar sebulan lagi. Gibran akan segera menuntaskan misi ini
Hari ini hari libur. Gibran mengumpulkan semua anggota Gank Angker dan Meta.
"Saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting." Gibran bicara dengan wajah serius. Membuat ketampanannya bertambah, menurut Meta.
Meta selalu terpesona melihat Gibran, Max yang memperhatikan Meta langsung menutup mata Meta.
"Bisa gak? Biasa aja ngeliatnya!" tegur Max.
Meta yang ditegur cuma tersenyum malu dengan wajah memerah. Gibran tersenyum melihat Max, rupanya Max sudah cinta mati sama Meta.
"Oke! Kalian tahu sebentar lagi guemau tunangan, dan gue mau sebelum acara itu, kita sudah menemukan Kakaknya Meta."
"Ya, kami juga berpikir demikian," saut si kembar Aston dan Adam.
"Maaf, Kak. Tapi aku gak apa-apa kok. Kak Gibran fokus aja sama acara Kak Gibran. Pasti banyak yang harus di siapkan. Aku gak mau jadi beban siapa pun. Biar Meta cari sendiri aja. Terima kasih sudah membantu Meta selama ini. Meta juga mau sekalian pamit. Berhubung kaki Meta sudah sembuh. Meta mau pergi."
"Apa-apaan ini? Pergi ke mana? Kamu ngelindur ya?" tanya Max kesal. Pasalnya tanpa bicara apapun sebelumnya Meta memutuskan akan pergi.
"Tapi kenapa Met?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Karena aku tahu diri, aku gak mau numpang di rumah orang terlalu lama." batin Meta.
"Aku ...."
"Max, bisa kita bicara berdua?" tanya Gibran.
Max mengangguk dan mereka pergi ke luar ruangan.
"Meta ingin pergi karena Lo!"
"Gue? Gue kenapa?"
"Lo ingat pernah marah sama Meta dan lo bilang nyuruh Meta ke Andrew, dia pasti senang nampung lo. Masih ingat kata-kata itu!"
"Iya gue ingat. Tapi kata-kata itu keluar spontan dan gak maksud buat ngusir dia."
"Kenapa dia gak ngomong? Gue bukan cenayang yang bisa baca pikiran orang!"
"Emang cuma cenayang, yang bisa baca pikiran orang?"
"Harusnya kalau dia tersinggung atau marah, bilang jadi aku bisa perbaiki."
"Meta itu polos Max, dia gak bakalan ngerti kalau kamu cemburu. Dia pikir kamu marah padanya karena terlalu lama tinggal di sini."
"Pikiran apa itu? Pantas sikapnya berbeda seminggu ini."
"Hati-hatilah berbicara Max, apalagi Meta yang rapuh hatinya. sepanjang hidupnya yang dia dapat adalah hinaan. Kau harus lebih lembut padanya. Minta maaf pada dia dan jelaskan semuanya."
__ADS_1
"Iya Gib, makasih!"
Mereka masuk kembali ke dalam.
Adam mendengar semua percakapan mereka.
Max menghampiri Meta dan duduk di samping Meta.
"Meta, lihat aku!" Meta bingung, kenapa Max terlihat serius?
"Aku minta maaf, kalau perkataanku ada yang menyinggungmu. Aku tidak pernah bermaksud untuk itu. Aku mencintaimu dam tidak mungkin aku berniat menyakitimu. Aku tahu kenapa kau ingin pergi. Maafkan perkataanku waktu itu. Semua itu karena aku ... cemburu. Kau memuji lelaki lain dihadapanku."
"Kak Max, Meta minta maaf kalau membuat Kak Max tersinggung dengan memuji lelaki lain, tapi sungguh Meta cuma mengagumi tidak mencintai, karena Meta cuma cinta sama Kak Max."
"Iya, maaf kata-kata aku menyingung kamu dan menyakiti hati kamu. Kamu jangan pergi dari sini."
"Meta harus pergi Kak, ini bukan rumah Meta, Meta tidak mungkin selamanya tinggal di sini."
Max terdiam, dia sedang berpikir apa yang bisa dia lakukan.
"Ini memang bukan rumahmu tapi rumahku, dan aku ingin kau tinggal di sini, sampai kau menemukan Kakakmu," ucap Gibran.
"Iya Met, dan di sini kita sekarang! Untuk membantumu, menyelesaikan misi menemukan Kakak kamu," ucap Adam.
"Baiklah Kak, aku akan di sini sampai menemukan Kakakku."
...----------------...
__ADS_1