
Gibran memakai hoodie nya dia akan keluar mencari uminya.
Gibran mengunci pintu dan berjalan memakai senter, begitu Gibran melewati rumaj mbok Darmi silihatnya ada mobil mewah, Gibran pun melanjutkan perjalanan tapi sekilas dia melihat banyak sendal dan ada satu sendal yang tak asing lagi , sendal uminya.
Gibran mendekat untuk memastikan, benar itu sendal uminya . Gibran melangkah ke arah pintu dan mengetuknya.
Tok..Tok..
" Siapa itu, ndo coba kamu lihat siapa itu?" kata suami mbok Darmi.
" Iya pak ," jawab Surya, lalu pergi membuka pintu.
" Assalamu'alaikum ," Terdengar salam begitu pintu terbuka.
" Wa'alaikumsalam, ada perlu apa ya?" Jawab Surya.
" Maaf apa ada umi di sini ?"
" Umi ?"
" maksud saya ibu Milla yang sedang hamil !"
" Oh.. ada di dalam, silahkan masuk !" ajak Surya.
" Jadi anak bu Milla kembar 3 , wah menakjubkan ," terdengar suara pria saat Gibran mendekat. Mbok Darmi melihat Gibran.
"Eh..den Gibran, sampai nyusul ke sini ," ucap mbok Darmi.
" Iya mbok, umi kenapa keluar gak bilang-bilang, Gibran nyariin umi, tadi Gibran anterin susu ke kamar umi, tapi umi gak ada , Gibran kan khawatir !"
" Maaf nak, umi tadi mau eskrim , umi ke sini mo minta tolong anterin cari es krim, eh .. Alhamdulillah mbok Darmi punya es krim , jadi bunda makan di sini tapi bunda malah keasikan ngobrol jadi lupa waktu, maaf ya sayang ." Jawab Milla.
" Tapi umi kalau mau apa-apa bilang aja sama Gibran biar Gibran yang cari, Gibran siap kapan aja umi butuh ," ucap Gibran. Arya yang mendengar ucapan Gibran tersentuh hatinya, anak ini begitu penyayang dan berbakti pada orang tua dia juga sangat tampan.
" Iya..sayang lain kali umi akan bilang sama Gibran, sekarang kita pulang yuk umi sudah ngantuk ." Milla mengajak pulang.
__ADS_1
" Ayo.. ,"Gibran membantu umi bangun dari duduknya.
" Boleh saya antar , saya khawatir melihat kondisi ibu Milla sebaiknya saya antar saja." ucap Arya tiba-tiba.
" Terimakasih.. tapi tidak usah rumah saya dekat cuma jarak beberapa rumah saja , mbok, pak , semuanya kami pamit. Milla berpamitan dan pergi dituntun Gibran.
Arya mengikuti dari belakang. Sesampainya di pintu Arya menawarkan kembali untuk mengantar Milla, sungguh melihatnya saja dia sudah linu , Milla berjalan dengan perut yang besar sesekali Milla terlihat meringis mungkin perutnya terasa sakit . Arya tidak tega melihatnya. Ke mana suaminya kenapa tidak menjemputnya malah membiarkan Milla di jemput oleh anak kecil.
"Aku bukan anak kecil paman !" kafa Gibran begitu dia dengar pikiran Arya yang menganggapnya anak kecil.
Tentu saja Arya terkejut setahunya dia tidak mengatakan apapun cuma berpikir kalau dia menganggap Gibran anak kecil apakah anak ini bisa membaca pikiran, ah mungkin hanya kebetulan saja, pikir Arya.
" Kau memang bukan anak kecil , pikiranmu dewasa tapi badanmu masih kecil belum kuat menopang ibumu jika sesuatu terjadi, karena itu biarkan aku mengantar kalian jika tidak dengan mobil jalan kaki juga tidak apa-apa !" Arya lalu berjalan lebih dulu keluar, dan menunggu di depan teras.
" Baiklah , ayo Gib.. kita pulang. Mbok saya pulang , Jon terimakasih ya es krimnya..mari Assakamu'alaikum ," ucap Milla berpamitan.
" Wa'alaikumsalam". Jawab keluarga mbok Darmi.
Mereka bertiga berjalan pelan. Milla memegang lengan Gibran dengan erat. Arya sebenarnya gemas ingin menggendong Milla sebab Milla terlihat susah berjalan dan sering meringis.
Milla tiba-tiba berhenti.
" Sebentar perut bawah umi linu , si babynya menekan ke bawah." Milla mengambil nafas panjang dan menghembuskannya.
" Boleh saya gendong ?" tanya Arya yang tidak tega melihat Milla.
" Tidak boleh paman, maaf tapi umi dan paman bukan muhrim. Kata Gibran tegas.
" Ok.. tapi kamu panggilkan ayahmu suruh gendong ibumu kasihan dia." balas Arya.
" Ayo.. umi sudah tidak apa-apa ." Milla langsung berjalan kembali menghindari Arya. Arya hanya mengikutinya dari belakang.
Begitu sampai depan pintu Gibran mengambil kunci di sakunya lalu membuka pintu dituntun uminya masuk, kemudian Gibran mengatur bantal agar umi dapat bersandar dengan nyaman dan di dudukkan umi di sofa.
Arya melihat semua itu dari luar, betapa telaten anak ini merawat ibunya. Rumah ini terlihat sepi mungkin mereka hanya tinggal berdua buktinya tadi Gibran yang membuka kunci.
__ADS_1
Gibran kembali ke pintu.
" Terima kasih paman sudah diantar. Maaf saya tidak menyuruh paman masuk karena ini sudah malam ." ucap Gibran.
" iya sama-sama kalau begitu paman pulang..permisi Asalamu'alaikum." Arya pamit dan melangkah pergi.
"Wa'alaikumsalam," Jawan Gibran.
" paman tidak tahu saja kita punya bodyguard yang selali ngawasin." gumam Gibran pelan.
Gibran menutup pintunya.
Arya berjalan sendiri dan sampailahbdia di rumah mbok Darmin.
" Assalamu'akaikum," Arya membuka pintu dan memberi salam.
" Wa'alaikumsalam, udah pak nganter bu Millanya. ?"
" Sudah bu, tapi kenapa rumahnya sepi ya bu , suaminya ke mana? kok tega membiarkan istri hamil besar keluar sendirian ?" tanya Arya yang penasaran sejak tadi.
" Ibu juga ndak tahu, semenjak tinggal di sini mereka cuma tinggal berdua , dan selama ibu kerja di rumahnya ndak pernah ibu menemukan foto selain foto mereka berdua.," mbok Darmi duduk di sofa bersama Arya.
" Mereka sudah lama bu tinggal di sini ?" tanya Arya.
" Sekitar 3 bulanan lah kalau ibu tidak salah, " jawab mbok Darmi.
Mereka terus mengobrol seputar Milla dan Gibran , betapa kagumnya mbok Darmi pada Gibran. Gibran yang dari bangun tidur sudah mengurus keperluan ibunya lalu sekolah dan pulang sekolah menemani ibunya lagi tak pernah dilihatnya Gibran keluyuran bermain seperti anak seusianya, hanya kalau Jono ikut ke rumah Gibran mereka main bersama, tapi tak pernah keluar rumah.
Arya penasaran dengan status Milla, kalau memang dia punya suami tega sekali suaminya menelantarkan istri dan anak-anaknya, andaikan dia suaminya pasti dia akan bahagia dan dijaganya Milla dan Gibran dengan sepenuh hati , di umurnya yang ke 29 tahun ibunya mendesaknya untuk cepat menikah tapi dia belum menemukan wanita yang membuat hatinya tergerak . Melihat Milla dia merasa terusik entah itu kasihan atau kagum tapi dia ingin menjaganya dan selalu terlintas dalam pikirannya .
Malam kian larut semua orang sudah tidur dan istirahat , kecuali Gibran yang kini sedang melihat-lihat barang di toko on line Gibran ingin membeli kursi roda untuk umi. Gibran sudah membelinya satu. Lalu Gibran membuka grup chating nya yang beranggotakan 6 orang . Aston , Adam, Maxwell, Alvin, Felicia dan dirinya.
Mereka saling menanyakan kabar dan bercanda , mata Gibran lama-lama mengantuk , Gibran mengakhiri obrolannya di grup dan mematikan hp lalu tidur.
Sementara jauh di seberang benua, Adam masih mengobrol dalam grup disampingbAdam ada Sam, Sam sekilas melihat Adam membahas Gibran. Sam mendekat ingin melihat lebih jelas , Adam yang merasa ada yang mendekatinya melihat ke samping ternyata uncle Sam , Adam langsung mematikan HP nya.
__ADS_1
Adam pergi ke kamarnya untuk mandi karena sudah jam lima sekarang, melihat Adam pergi Aston ikut menyusul.
Sam baru pulang dari kantornya. Pekerjaannya masih banyak sehingga dia belum bisa kembali ke Indonesia untuk mencari Milla.