
Shang Feng menemukan tempat dimana hawa dingin kacau berada.
"Balok es abadi. Kau bisa menggunakannya sebagai pedang. Mungkin bocah bermarga An itu bisa, " ucap Kaisar Cai Jin.
Shang Feng menyutujui saran Kaisar Cai Jin. Dia memotong balok es tersebut kemudian disimpan di dalam cincin kehampaan.
"Hutan ini perlu disucikan kembali. Aku takut iblis kuat lahir dari energi negatif ini dan aku bisa mendapatkan hadiah dari jasa yang aku lakukan, " ucap Shang Feng.
"Itu berguna. Aku melihat kau akan mendapatkan sesuatu dari dalam perpustakaan, " balas Kaisar Cai Jin.
Shang Feng melayang di udara menyatukan kedua telapak tangannya.
"Cahaya Dharma Penyucian Semesta, " ucap Shang Feng.
Cahaya emas bersinar dengan terang menyinari seluruh hutan. Mereka semua telah disucikan kembali. Semua peserta tes melihat cahaya terang tampak terkejut bagaikan melihat dewa.
"Apakah itu adalah dewa? " tanya An Ming.
"Tidak. Itu adalah cahaya Yang Mulia, " jawab Qin Li.
Raja serigala salju seakan telah terlindungi secara alami tak merasakan sakit apapun. Cermin cembung menampilkan apa yang dilakukan Shang Feng saat ini.
"Dia menyucikan hutan iblis salju, " ucap Tetua Chen Qianfan.
Tetua Agung termenung dibuatnya. Dia melihat pancaran cahaya terang dengan wujud spiritual Buddha.
"Dia bukan penduduk benua Hanleng. Teknik kuil suci. Tujuannya tentu di pertanyakan. Dia harus berada di paviliun sunyi. Aku akan pergi menemui pemimpin, " ucap Tetua Agung.
"Aku mengerti, " balas tetua Chen Qianfan.
Pandangan niat membunuh dilayangkan Tetua Agung kepada Shang Feng.
"Dia adalah ancaman terkuat, "batin Tetua Agung.
Shang Feng mengeluarkan kendi labu air menghisap energi iblis di hutan salju. Dia memegang kendi labu menutupnya dengan erat.
" Pusaka kendi labu ini sangat berharga. Senior memiliki benda bagus, "ucap Shang Feng.
" Tentu saja. Kendi labu itu pernah aku gunakan melawan seseorang kuat. Dia memiliki dimensi sendiri, "balas Kaisar Cai Jin.
Raja serigala datang menghampiri Shang Feng menundukkan kepalanya.
" Aku datang mengucapkan terima kasih, "ucap raja serigala salju.
__ADS_1
" Tak apa. Aku tahu kondisimu. Jejak iblis bukan darimu melainkan seseorang, "balas Shang Feng.
Raja serigala pergi meninggalkan Shang Feng sendirian.
" Sepertinya tes kali ini tak kuat seperti umumnya. Hanya menyingkirkan batu penghalang bagi akademi salju abadi, "gumam Shang Feng.
Cahaya terang turun dari langit menyinari tubuhnya. Dia menghilang secara perlahan-lahan. Shang Feng muncul kembali di arena. Tersisa delapan orang. Qian Fengge terluka cukup parah sedangkan kelima pengawal Shang Feng dalam kondisi baik-baik saja. An Ming memiliki keadaan cukup baik. Tetua Agung berdiri.
"Tes terakhir menunggu kabar selanjutnya namun yang pasti dilaksanakan di arena inti akademi, " ucap Tetua Agung dengan lantang mengumumkan sebelum ia dan tetua lainnya pergi.
Peserta diarahkan menuju tempat tinggal sementara. Tetua Ya De dan Tetua Jian Yi tak mendampingi sebab mereka ada urusan dengan para tetua lainnya. Shang Feng berjalan terlebih dahulu menghentikan An Ming.
"Datanglah ke kamarku. Aku ingin memberimu sesuatu, " ucap Shang Feng.
"Aku mengerti, " balas An Ming.
"Kalian jaga-jaga saja dan tak perlu terlalu serius, " ucap Shang Feng kepada lima pengawalnya.
"Baik! " ucap mereka serempak.
Bangunan besar menjulang tinggi berada di depan mereka. Tempat dimana para tamu tinggal untuk sementara.
"Terlalu berlebihan bukan? " guman Shang Feng menggelengkan kepalanya berjalan menaiki anak tangga masuk ke dalam bangunan tersebut.
"Kemana pemimpin? " tanya Tetua Agung.
"Guru tengah berada di ruang pemeriksaan, " jawab Qi Dao.
Tetua Agung menganggukkan kepalanya. Dia berjalan mengikuti Qi Dao menuju ruang pemeriksaan. Qi Dao menunjukkan pemimpin akademi tengah melakukan apa. Tetua Agung menuruni anak tangga berjalan mendekati pemimpin akademi.
"Salam kepada pemimpin, " ucap Tetua Agung.
Pemimpin akademi Song Zhuang berbalik badan ketika mendengar suara Tetua Agung.
"Aku telau melihat dia, " ucap Song Zhuang.
"Aku ingin Anda memberikan instruksi, "ucap Tetua Agung.
" Dia memiliki sesuatu luar biasa. Aku tak bisa menembus secara langsung pertahanan jiwanya. Dia mendapatkan balok es murni di hutan salju,"balas Song Zhuang.
"Dia mengguncang halaman luar beberapa bulan yang lalu. Tekniknya benar-benar di luar akal setara denganku. Aku takut dia mata-mata dari kekaisaran, " ucap Tetua Agung.
"Mata-mata? Kekaisaran telah mengirimkan puluhan mata-mata. Putri ketiga Ruo Xuan. Pangeran kedua Qian Fengge. Aku mengantisipasi leluhur klan Tu keluar dari pengasingannya. Dia setara denganku dulu. Aku tak tahu bagaimana kekuatannya sekarang. Enam bulan larangan ibukota Baoxue akan melemah. Inilah saatnya akademi salju abadi menjadi penguasa benua Hanleng, " ucap Song Zhuang.
__ADS_1
"Kekaisaran melemah akibat pangeran ketujuh Si Yingjie benar-benar membuka langit meruntuhkan garis keturunan permaisuri Lin Lang. Dia berseteru dengan putra mahkota menantang secara terbuka, " ucap Tetua Agung.
"Tak peduli apa itu. Jika dia orang luar maka biarkan dia tinggal di paviliun sunyi. Dia adalah harta akademi, " balas Song Zhuang.
Tetua Agung menganggukkan kepalanya. Dia bersama dengan Song Zhuang melihat cermin segalanya menampilkan pertarungan Shang Feng serta penyucian yang dia lakukan.
"Dekan Song berpamitan pergi. Apakah pemimpin tahu? Aku ingin berencana membuka segel pengunci jiwa pada paviliun sunyi, " ucap Tetua Agung.
Song Zhuang memberikan token berukir rubah kepada Tetua Agung.
"Token sembilan pengunci jiwa aku berikan kepadamu. Ini akan mengaktifkan sembilan rantai ekor rubah, " ucap Song Zhuang.
Tetua Agung menerima token tersebut yang kemudian ia simpan.
"Gunakan tes jiwa agung di kuil dewi, " ucap Song Zhuang.
"Mengerti. Izin undur diri, " ucap Tetua Agung.
Song Zhuang menganggukkan kepalanya. Dia melambaikan tangan mengizinkan Tetua Agung untuk pergi. Dia kembali menatap cermin segalanya mengamati Shang Feng yang berada di kamarnya.
"Siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu ke benua Hanleng. Jika aku harus menggunakanmu sebagai alat maka aku dapat yakin sepenuhnya bahwa kau mampu. Namun kau tak berhak mendapatkan pedang dewa angin salju jika ingin mendapatkan hadiah dariku, " ucap Song Zhuang.
Tetua Agung berjalan hendak keluar dari kediaman melihat Qi Dao tengah melukis sesuatu di atas kertas.
"Kau tengah berlatih? " tanya Tetua Agung menghampiri Qi Dao.
"Benar. Murid tengah berlatih beladiri pelukis jiwa. Butuh waktu yang lama mempelajari kitab itu, " jawab Qi Dao.
Tetua Agung melihat kuaa dan hasil gambaran Qi Dao. Sebuah pemandangan indah dengan empat gunung mengapit sebuah danau serta air terjun di bawahnya.
"Lukisan indah. Kau mendapatkan inspirasi yang bagus, " Puji Tetua Agung.
"Murid membuat lukisan empat gunung pengunci jiwa. Murid bisa bertarung di dalamnya dengan menguasai segala medan, " ucap Qi Dao.
"Mengapa kau tak meneruskan seni pedang bunga salju milik gurumu? " tanya Tetua Agung.
"Murid meneruskannya bersamaan dengan beladiri pelukis jiwa. Jika digabungkan akan membentuk tarian dewa pedang yang mampu menyaingi teknik suci sekalipun, " jawab Qi Dao.
"Berlatihlah dengan giat. Kedua teknik yang kau pelajari adalah yang terkuat di akademi. Terutama beladiri pelukis jiwa. Gurumu membawa kitab itu dari istana dinasti pertama dengan susah payah. Pyton es penjaga istana mengejar dengan keras, " ucap Tetua Agung menepuk-nepuk pundak Qi Dao.
"Murid mengerti. Beladiri pelukis adalah beladiri surga, " balas Qi Dao.
Tetua Agung menganggukkan kepalanya puas. Ia terbang pergi meninggalkan puncak utama. Qi Dao menggulung kertas dan menyimpannya rapi. Kuas ia pandangi dengan renungan.
__ADS_1
"Beladiri pelukis jiwa ya, guru memberitahu bahwa beladiri ini adalah beladiri surga. Menggunakan kuas menggambar keindahan surga hingga dia menemukan cara berkultivasi beladiri ini. Namun aku tak bisa menemukan rahasia kultivasi di dalam kuas ini, " gumam Qi Dao.