
Pangeran Shang Feng mendarat di atas batu. Dia tengah melihat seorang pria tua tengah bermeditasi di bawah air terjun. Guyuran air yang begitu deras tak membuatnya lelah ataupun merasakan kesakitan menandakan pelatihan fisik yang luar biasa di usia senja. Dia membuka mata ketika merasakan seseorang berada di dekatnya.
"Salam... " ucap pangeran Shang Feng.
Pria tua tersebut beranjak berdiri. Dia terbang menghampiri pangeran Shang Feng.
"Apakah ini kau? " ucapnya menyentuh kepala pangeran Shang Feng.
"Ini aku, Feng'er, " jawab pangeran Shang Feng.
Pria tua tersebut mundur satu langkah dan membungkukkan badannya dengan sempurna.
"Zhi Nan memberi salam kepada Yang Mulia, " ucapnya. Pangeran Shang Feng segera membantu untuk berdiri.
"Aku ingin meminta bantuan kepada penasihat untuk datang pada saat konfrensi Qinglong, " ucap pangeran Shang Feng.
"Tentu! Aku akan datang. Aku akan memusnahkan klan Shi beserta dinasti Zhufu bersamamu bahkan mati pun aku rela, " ucap Zhi Nan.
"Aku ingin menantang dua Kaisar sekaligus. Putra mahkota Zhufu memiliki pedang Kaisar Ding Feng. Karma buruk keturunan telah ia tebas menggunakan pedang itu, " ucap pangeran Shang Feng.
"Aku tahu Yang Mulia ingin menduduki takhta Kaisar sekarang menyatukan dua dinasti dan melawan sekte Tianmen kembali. Memusnahkan klan Shi dan klan Feng sebagai kaki tangan sekte Tianmen di mari adalah hal yang terpenting, " ucap penasihat istana.
"Anda tahu betul. Aku akan pergi terlebih dahulu, " ucap pangeran Shang Feng.
"Tunggu! "
Gelembung air muncul dan keluarlah gulungan yang kemudian diberikan kepada pangeran Shang Feng.
"Pengetahuan ranah alam dewa sesungguhnya berada dalam gulungan ini. Peninggalan Yang Mulia Kaisar. Pangeran bisa pergi ke danau dewa yang berada di bawah tebing gunung Yunshan " ucap penasihat istana.
"Terima kasih atas bimbingannya, " balas pangeran Shang Feng pergi.
Gejolak danau di bawah air terjun terlihat setelah kepergian pangeran Shang Feng. Zhi Nan menggerakkan lengannya membuat gejolak air hingga gelembung muncul dipermukaan air. Sebuah pedang melesat keluar dari dalamnya dan dalam genggaman Zhi Nan. Pedang mengkilap dengan bilah pedang tajam. Mengandung jejak misterius yang membuatnya tampak seperti pedang kuno dan sakti.
"Selanjutnya pak tua ini akan kembali melihat apakah orang-orang tua itu akan datang, " ucap Zhi Nan.
Kota Wushuang.
__ADS_1
Walikota Shang Wen tengah meminum teh kedatangan tamu yang tiba-tiba muncul yakni pangeran Shang Feng.
"Paman, apakah engkau tak merindukanku? " tanya pangeran Shang Feng.
Walikota Shang Wen terperanjak mendengar suara tersebut. Dia menoleh terkejut dan beranjak berdiri.
"Kau keponakanku!?" ucap walikota Shang Wen.
Pangeran Shang Feng menganggukkan kepalanya. Walikota Shang Wen segera memeluknya.
"Maafkan pamanmu ini, akulah yang membuat semua ini,"ucap walikota Shang Wen.
"Takdir telah ditentukan. Akulah yang membuat paman memiliki ingatan kabur. Karena aku ingin paman hidup dalam ketenangan, namun keinginan kuat dan rasa bersalah paman membuat mantraku tak begitu berguna,"balas pangeran Shang Feng.
"Mari! Sini duduk! " ucap walikota Shang Wen mengajak pangeran Shang Feng duduk.
Mereka saling berhadapan satu sama lain dan pangeran Shang Feng menghela nafas panjang.
"Aku ingin paman datang pada saat konfrensi Qinglong bersama lainnya," ucap pangeran Shang Feng mengungkapkan niatnya.
"Paman, aku akan membuat plakat Xuanwu dan lainnya berada dalam genggamanmu. Kota Wushuang akan menjadi nomer satu bahkan kota Tianqi harus menyetujuinya" ucap pangeran Shang Feng.
"Bagaimana caranya? Bukankah raja Lu yang akan menerima plakat tersebut? Tiga plakat penyeimbang ditarik paksa oleh Kaisar Feng Yu tak diberikan kepada keluarga dari tiga pendekar suci. Kota Ci Nan negara Nan raja Wen juga memiliki kuota masuk ke dalamnya begitupun negara Xi ratu Xi Shi, " balas walikota Shang Wen.
"Paman akan menerima plakat Xuanwu dan ratu Xi Shi akan menguasai dua negara menjadikan satu wilayah bergabung dengan negara Xi. Dua negara lainnya termasuk raja Wen akan ikut dalam pengawasan ratu Xi. Apapun caranya itu paman tinggal menunggu,"ucappangeran Shang Feng beranjak berdiri.
" Kau mau kemana? "tanya walikota Shang Wen.
" Pergi jauh untuk meningkatkan kekuatan,"Jawab pangeran Shang Feng.
"Baik! Aku akan menunggu kau menantang mereka dan menduduki takhta Kaisar dan menyatukan dinasti! " balas walikota Shang Wen.
Pangeran Shang Feng menghilang dalam sekejap. Walikota Shang Wen mengepalkan tangannya.
"Bahkan kota Wushuang akan siap bertempur melawan mereka! " ucapnya bertekad.
Kereta kuda telah disiapkan di halaman istana, raja Lu menaiki kereta kuda. Kusir melajukan kereta kudanya meninggalkan istana.
__ADS_1
Kota Tianqi.
Kereta raja Lu telah sampai di kota Tianqi dia tak langsung menuju istana. Dia tengah tertidur hingga badannya terasa sangat panas. Sesaat ia membuka matanya terkejut melihat seorang wanita tengah berada dalam pangkuannya.
"Mengapa kau ada disini? " tanya raja Lu menahan hasratnya.
Permaisuri memeluk tubuh raja Lu hingga membuat adik kecil milik raja Lu berdiri tegak. Kereta hampir mencapai istana.
"Aku ingin bersamamu," ucap Permaisuri berbicara lirih di telinga raja Lu.
"Kau kembali ke istana bersamaku?" tanya raja Lu.
Permaisuri menganggukkan kepalanya. Raja Lu memeluk erat permaisuri membuat leguhan kecil terdengar. Pelukan erat raja Lu membuat permaisuri tertekan. Raja Lu menghirup dalam-dalam aroma tubuh khas Permaisuri.
"Aku ingin melakukannya, " ucap raja Lu segera membalik tubuh Permaisuri menindihnya dan wajah mereka sangat dekat. Kecupan hangat dilayangkan oleh raja Lu pada bibir Permaisuri.
Mereka melakukan senggama dengan hati-hati di dalam kereta dengan raja Lu membekap mulut Permaisuri. Kereta kuda tiba-tiba berhenti. Raja Lu menghentikan aktivitasnya dan dengan marah meneriaki kusir.
"Siapa yang menyuruhmu berhenti! " marah raja Lu.
Selambu terbuka dengan kepala kasim melihat pemandangan tersebut. Keduanya terkejut hingga diam. Kaisar Feng Yu datang setelah kepala kasim menyingkir.
"Yang Mulia! " ucap raja Lu terkejut segera merapikan pakaiannya.
Kaisar Feng Yu melihat sekilas Permaisuri dengan keadaan setengah telanjang.
"Aku menunggu kalian di aula, " ucap Kaisar Feng Yu meninggalkan mereka berdua.
Kepala kasim menutup selambu kereta dan menengok ke arah kusir sekilas. Beberapa saat kemudian raja Lu turun dari kereta kuda berikut dengan Permaisuri. Kepala kasim menuntun mereka manaiki anak tangga menuju aula langit. Pandangan kepala kasim tak terlepas dari kusir yang mengantarkan kereta kuda Raja Lu. Mereka berjalan manaiki anak tangga hingga tak terlihat oleh pandangan.
"Rencana berhasil meskipun aku harus mendengar suara tak senonoh itu, " ucap Su Na melajukan kereta kuda menuju tempat kandang kuda.
Sesampainya disana, Su Na turun disambut suara tak asing yang dia kenal.
"Kerja bagus! " ucap Hua Jing mengacungkan jempolnya.
"Tuan Muda memang benar-benar hebat! " balas Su Na.
__ADS_1