
Kuil Shengxin.
Seseorang datang disertai angin ketika ia mendarat di tanah.
"Keluarlah!" ucap ketua Shi Jun.
Pintu kuil terbuka. Biksu Tang Zhou keluar membawa tongkanya.
"Kau yang membunuh saudaraku? " tanya ketua Shi Jun.
"Dia telah berbuat salah, " jawab biksu Tang Zhou.
"Kau benar-benar orang tua licik!" ucap ketua Shi Jun mengeluarkan pedangnya hingga ribuan pedang tercipta.
"Teknik ribuan penciptaan pedang. Serang! " ucapnya.
Puluhan ribu pedang melesat ke arah biksu Tang Zhou. Dia menghentakkan tongkanya dan seketika wujud Buddha dengan telapak tangannya menghalangi puluhan ribu pedang tersebut.
"Teknik pembukaan pedang langit! " ucap ketua Shi Jun.
Langit terbelah dan pedang raksasa turun. Biksu Tang Zhou melihat pemendangan tersebut mengarahkan telapak tangannya ke atas seketika tapak raksasa menahannya. Telapak tangan Buddha menahan pedang raksasa tersebut.
"Bommmm!!!"
Ledakan dahsyat terjadi. Tiba-tiba tanah bergetar dan sulur-sulur akar mencuat dari dalam tanah membentuk sebuah pohon raksasa. Ketua Shi Jun segera mundur melihatnya.
"Siapa! " teriak ketua Shi Jun.
Wei Rong muncul berada di puncak pohon raksasa tersebut.
"Kau! " ucap ketua Shi Jun.
"Harap ketua Shi kembali ke istana dan perhitungkan ramalan dinasti Zhufu sekarang, " ucap Wei Rong.
Ketua Shi Jun segera pergi dari sana tanpa ragu. Wei Rong mendarat di tanah setelahnya.
"Namo Amituofo" ucap biksu Tang Zhou.
"Sepertinya Guru Besar mengalami masalah, " balas Wei Rong.
Seutas senyuman tipis muncul. Biksu Tang Zhou mempersilahkan Wei Rong masuk ke dalam. Mereka duduk bersama dengan santai.
"Puncak akan segera terjadi, " ucap Wei Rong.
"Aku telah menghadang Shi Chao, namun aku keterlaluan membuatnya hingga tewas, " ucap biksu Tang Zhou.
"Aku tahu Guru Besar pasti melakukannya dengan terpaksa, " balas Wei Rong.
__ADS_1
Suasana sedikit hening ketika Wei Rong menyelesaikan pembicaraanya.
"Aku akan datang, " ucap biksu Tang Zhou.
Wei Rong segera berdiri memberi tanda hormat kepada biksu Tang Zhou.
"Aku sangat berterima kasih, " balas Wei Rong.
Biksu Tang Zhou mengantarkan Wei Rong ke depan. Wei Rong melambaikan tangannya membuat pohon raksasa menghilang dan dia pergi. Biksu Tang Zhou hanya menggelengkan kepalanya sembari mengelus-elus janggutnya.
"Benar-benar mengguncang bumi dan langit, " ucap biksu Tang Zhou.
Paviliun Tianji.
Ketua Shi Jun tengah memulihkan diri. Alasan mengapa ia mengalami penurunan ranah adalah pertarungannya dengan seseorang.
"Sudah aku duga bahwa dia tak sesederhana. Kaisar membawanya ke istana karena mencegah pertikaian dengan raja obat? Cihh! Munafik bila dikatakan, " ucap ketua Shi Jun.
Ketua Shi Jun beranjak berdiri. Dia menuangkan teh untuk ia minum sendiri.
"Takk!!
Cangkir ia letakkan di meja dengan keras. Amarah terlihat jelas diwajahnya.
" Klan Shi bukanlah orang lemah!"ucap ketua Shi Jun.
Pangeran Shang Feng dengan pandangan dinginnya terbang melintasi hutan dengan sesekali ia berpijak pada dahan pohon. Tak seperti biasa, dia sangat dingin dan tak ada senyuman pada wajahnya. Dia mendarat di sebuah rumah tua di tengah hutan.
"Siapa? " ucap seseorang dari dalam rumah tersebut.
"Putra suci mengumpulkan 7 hewan mistik namun gagal. Tapi namanya terdengar diseluruh dunia sebagai murid terbaik Sang Abadi, " ucap pangeran Shang Feng.
Pintu terbuka dan pria paruh baya keluar dari dalam rumah tersebut.
"Hormat kepada senior Jie, " ucap pangeran Shang Feng.
Pria paruh baya tersebut mengamati pangeran Shang Feng kemudian senyuman hangat terlukis di wajahnya.
"Silahkan masuk, " ucapnya dengan tulus.
Pangeran Shang Feng masuk ke dalam rumah tua tersebut. Dia disambut dengan ramah dipersilahkan untuk duduk.
"Jie Quentin memberi hormat kepada pangeran,"ucapnya membungkukkan badan.
"Senior Jie terlalu sungkan, " balas pangeran Shang Feng duduk. Jie Quentin duduk berhadapan dengan pangeran Shang Feng.
"Yang Mulia datang kemari, hamba bersyukur keturunan Yang Mulia Kaisar masih hidup, " ucap Jie Quentin.
__ADS_1
"Kedatanganku kemari ingin meminta senior datang membantuku pada saat konfrensi Qinglong, " ucap pangeran Shang Feng mengungkapkan niat kedatangannya.
"Hamba hidup dalam pengasingan, apakah pak tua ini tetap dikenal ketika keluar? " balas Jie Quentin tertawa pelan.
"Ketua sekte Jie terhormat. Orang yang mampu mencapai alam dewa bumi menengah, " ucap pangeran Shang Feng.
"Baik. Hamba akan datang melawan orang-orang tua itu,"balas Jie Quentin.
Pangeran Shang Feng beranjak berdiri berpamitan kepada Jie Quentin. Pangeran Shang Feng keluar dari rumah tua tersebut dan menghilang dalam sekejab. Jie Quentin mengelus-elus janggutnya sebelum beranjak berdiri berjalan menuju belakang rumahnya. Angin berhembus pelan. Tangannya bergerak seketika tanah bergetar hingga retak dan keluarlah tombak mengkilat dengan aura luar biasa. Tombak tersebut berada dalam genggaman Jie Quentin.
"Tombak pengguncang bumi, aku telah lama menyimpannya. Sekarang Yang Mulia telah kembali. Kau akan segera berperang melawan musuh-musuhmu,"ucap Jie Quentin mengelus-elua tombaknya.
Jie Quentin merupakan ketua sekte Jie terhormat pada zaman Kaisar Sheng Jing. Sekte telah hancur ketika perang menyisakan dirinya yang hidup dalam penyesalan dan penyendirian. Memiliki berkah setetes air abadi membuatnya hidup hingga hari ini.
Pangeran Shang Feng mendarat di sebuah kawasan hutan bambu. Puluhan meter hamparan bambu membuatnya bernyanyi ketika terkena oleh angin.
"Putra suci mengumpulkan 7 hewan mistik namun gagal. Tapi namanya terdengar diseluruh dunia sebagai murid terbaik Sang Abadi, " ucap pangeran Shang Feng.
Hembusan angin membuat bambu melengkung dan terlihat sebuah tempat peristirahatan di tengah-tengah hutan bambu. Seseorang bermain Xiangqi.
"Junior memberi hormat kepada senior, " ucap pangeran Shang Feng.
"Pangeran bisa duduk di depanku, " ucapnya.
Pangeran Shang Feng menurutinya. Dia duduk di depan orang tersebut. Berperawakan pemuda tampan dengan rambut putih serta mengenakan kain yang menutupi kedua matanya. Dia hidup ratusan tahun sama seperti Jie Quentin yang menerima setetes air abadi. Dia adalah pendekar buta Hui Li.
"Pangeran ingin meminta bantuan? " tanya Hui Li.
"Benar. Aku ingin menantang para Kaisar pada saat konfrensi Qinglong, " jawab pangeran Shang Feng.
"Setelah itu? " tanya Hui Li.
"Menyatukan dinasti mengembalikan dinasti besar kekaisaran Tianwu dan berperang melawan sekte Tianmen, " jawab pangeran Shang Feng.
"Baik! Aku akan datang. Aku tak akan membantu ketika melawan para Kaisar. Aku akan membantu membereskan orang-orang disampingnya, " balas Hui Li.
Pangeran Shang Feng memberikan tanda penghormatan berterima kasih kepada Hui Li.
"Pergilah ke air terjun Ningjing, dia akan membantu dan memberikanmu solusi, " ucap Hui Li.
"Aku memang ingin pergi ke sana, " balas pangeran Shang Feng memberikan tanda penghormatan kepada Hui Li sebelum pergi.
Satu bidak hitam diletakkan oleh Hui Li sedikit keras. Hutan bambu terlewati oleh angin pelan.
"Sepertinya, aku harus kembali melihat para junior yang terkenal itu, " ucap Hui Li.
"Takk! "suara ketika satu bidak diletakkan dengan cukup keras
__ADS_1