
Aula Langit.
Kaisar Feng Yuan tengah duduk tegap di kursi kebesarannya. Menatap raja Lu dan Permaisuri dengan tatapan dingin.
"Sai Gong, jelaskan maksudmu ini, " ucap Kaisar Feng Yu.
"Aku menemukan Permaisuri di tepi danau mistik, dia pingsan dan terluka. Aku merawatnya di istana, saat ingin memberi kabar kepada istana kekaisaran, istana sedang dilanda kekacauan akibat pemberontakan raja Ming Xing," ucap raja Lu.
"Lantas apa alasanmu melakukannya dengan Permaisuriku? Berapa kali kau melakukan itu dengannya?" tanya Kaisar Feng Yu.
"Aku ingin membawa Permaisuri ke istana, namun tubuhku terasa panas hingga tak bisa aku kendalikan dan terjadilah itu, " jawab raja Lu.
Kaisar Feng Yu menoleh ke arah Permaisuri yang tertunduk.
"Aku akan menutup mata demi melindungi reputasi istana, kota Meili dan terutama putra mahkota. Jika sampai terjadi sesuatu, aku tak menerima anak itu, " ucap Kaisar Feng Yu.
"Aku akan bertanggung jawab merawatnya hingga dewasa, " balas raja Lu.
Kaisar menoleh mendengar jawaban raja Lu.
"Aku tak memberimu hukuman mati sebab dinasti akan runtuh bila negara-negara kosong. Aku menyuruhmu mengumumkan diri mengundurkan diri sebagai raja dan mengabdi menjaga aula leluhur, " ucap Kaisar Feng Yu.
Bak petir di siang bolong. Raja Lu terkejut akan hukuman yang ia terima. Kaisar melambaikan tangannya menyuruh mereka untuk pergi.
Keesokan harinya, berita mengenai raja Lu mengunjungi istana kekaisaran dan mengundurkan diri sebagai raja santer terdengar ke seluruh penjuru negeri. Kaisar mengeluarkan dekrit mengenai penyatuan dua negara menjadi bagian negara Xi. Plakat militer sepenuhnya di serahkan kepada walikota Wushuang dan tak lupa pengumuman akan kembalinya Permaisuri yang diculik oleh orang-orang lembah hantu dan Kaisar memerintahkan penghancuran lembah hantu. Negara Xi menjadi negara besar dan Kaisar memutuskan pemindahan kota militer ke negara Xi. Tiga plakat penyeimbang telah dihilangkan dan berada dalam genggaman Kaisar mencegah terjadinya hal serupa. Terkenalnya ratu Xi Shi dahulu membuatnya layak menyandang gelar penguasa negara besar.
Raja Ming Xing dan Jendral Lei Zixin dieksekusi di depan publik dengan tuduhan pemberontakan membuat masyarakat berseru mencaci maki keduanya.
Dekrit Kaisar kedua yakni jatuhnya tanggal pernikahan pangeran Feng Yuan dengan Nai Ye murid ketiga raja obat. Perubahan titah Kaisar Feng Yu membuat beberapa orang terkejut namun mereka berusaha memaklumi setelah mendengar lembah obat kembali hidup yang dipimpin kepala tabib istana. Semua orang menduga bahwa Kaisar ingin menjalin hubungan erat dengan kota obat melihat raja obat yang memiliki ketrampilan medis luar biasa hebatnya.
Hari pernikahan pangeran Feng Yuan dengan Nai Ye digelar mewah dan meriah. Satu-satunya pangeran yang telah menikah adalah pangeran ketiga Feng Yuan secara resmi mempersunting Nai Ye. Raja obat datang sebagai wali dari Nai Ye. Acara berlangsung dengan khidmat. Beberapa hari kemudian istana menjadi hening. Semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Pangeran Feng Yuan melaksanakan tugasnya serta Nai Ye berperan sebagai istri yang baik berbudi luhur. Putra mahkota belum kembali dan konfrensi Qinglong segera digelar.
"Salam kepada ayahanda, " ucap pangeran Feng Yuan.
Kaisar menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ekspresinya berubah kesakitan hingga tubuhnya ambruk. Nai Ye segera datang ketika menerima panggilan. Kaisar dibawa ke kamar untuk diperiksa.
"Guru harus datang, " ucap Nai Ye.
Raja obat mendengar pesan rahasia mengenai sakitnya Kaisar segera datang ke istana. Setelah beberapa pemeriksaan, raja obat memberitahukan diagnosisnya.
"Jiwa Yang Mulia rusak akibat hukuman surgawi. Nyawanya berada dalam bahaya, " ucap raja obat.
Mendengar hal itu, semua orang terkejut dan khawatir. Ketua Shi Jun datang dan semua membuka ruang untuknya. Jari telunjuk ketua Shi Jun menyentuh kening Kaisar dan tak lama kemudian Kaisar tersadar.
__ADS_1
"Semua orang pergi, " ucap ketua Shi Jun. Semua orang menurutinya bahkan Permaisuri sendiri.
Leluhur Feng Gui muncul berikut penasihat istana yang datang bersamaaan.
"Hidupmu tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Paling lama aku bisa membantumu untuk menghadiri konfrensi Qinglong, " ucap leluhur Feng Gui.
"Pewaris dinasti besar tengah membuka jalur langit. Apakah pintu Tongtian terbuka? " ucap ketua Shi Jun.
"Dia akan datang, " ucap leluhur Feng Gui.
Kaisar Feng Yu berusaha untuk duduk memohon kepada leluhur Feng Gui untuk menyelamatkan dinastinya.
"Sebagai kakekmu, tentu saja aku tak akan membiarkan dinasti Zhufu runtuh, " ucap leluhur Feng Gui.
Kaisar mengeluarkan tiga gulungan dan memberikan dua gulungan kepada ketua Shi Jun dan penasihat istana.
"Yang satunya kau berikan kepada siapa? " tanya leluhur Feng Gui.
"Guru besar Tang Zhou, " jawab Kaisar Feng Yu.
Mendengar nama tersebut menyulut amarah sesaat ketua Shi Jun.
"Aku akan mengantarkannya langsung, " ucap leluhur Feng Gui menerima gulungan ketiga.
Ketiga orang tersebut pergi dan Kaisar Feng Yu beristirahat. Ketua Shi Jun berjalan menuju paviliun Tianji duduk dengan memendam amarah. Dia membuka gulungan dekrit tersebut namun nyatanya hasilnya adalah kosong.
Hal yang sama terjadi pada penasihat istana yang melihat isi gulungan kosong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kuil Shengxin.
Leluhur Feng Gui datang berdiri di depan pintu kuil. Tangannya terulur membuka pintu tersebut dan melihat biksu Tang Zhou tengah bermeditasi.
"Feng Gui ingin mengantarkan dekrit Kaisar"
Biksu Tang Zhou membuka matanya beranjak berdiri menghampiri leluhur Feng Gui. Biksu Tang Zhou menerima gulungan dekrit tersebut.
"Aku akan menjaganya, " ucap biksu Tang Zhou.
Leluhur Feng Gui menghilang. Biksu Tang Zhou menatap gulungan tersebut dan menyimpannya. Berniat untuk menutup pintu, namun sebuah energi tajam melesat menghancurkan meja di belakang biksu Tang Zhou.
Beberapa orang berdatangan. Walikota Fanzui Chan Fan hingga ketua paviliun kebebasan Shi Jintian. Biksu Tang Zhou tak begitu terkejut melihatnya. Kuil Shengxin dikepung puluhan orang.
__ADS_1
"Namo Amituofo"
"Kenapa dua Tuan datang kemari? " tanya biksu Tang Zhou.
"Hanya ingin melihat isi gulungan yang biksu bawa, " ucap Shi Jintian.
"Namo Amituofo"
"Tidak ada gulungan yang dibawa kemari, " jawab biksu Tang Zhou.
"Bohong! Kau pasti menyembunyikannya! " marah walikota Fanzui.
"Serahkan secara baik-baik. Kami hanya ingin melihat siapa nama yang tertera, " ucap Shi Jintian
Biksu Tang Zhou menggelengkan kepalanya. Walikota Fanzui memerintahkan bawahannya untuk menyerang. Biksu Tang Zhou dikepung dari segala arah.
"Namo Amituofo" ucapnya menghentakkan tongkatnya ke tanah hingga menyebabkan ledakan energi menghempaskan mereka semua.
Walikota Fanzui melesat mengayunkan pedangnya bersiap menusuk perut biksu Tang Zhou.
"Denggg!!! "
Energi spiritual membungkus tubuh biksu Tang Zhou menyebabkan pedang walikota Fanzui tak mengenai tubuhnya langsung. Ketua paviliun kebebasan melesat membantu walikota Fanzui menghancurkan pertahanan biksu Tang Zhou tersebut. Hentakan tongkat sekali lagi menghempaskan mereka memaksa untuk mundur.
Mereka berdua medongak setelah aliran energi spiritual berwarna emas mengelilingi biksu Tang Zhou membentuk Buddha duduk bermeditasi dengan kedua telapak tangannya bersatu.
"Tubuh emas abadi legendaris, " ucap mereka serempak.
Keduanya saling memandang melihat tubuh emas abadi milik biksu Tang Zhou yang sempurna.
"Yang Mulia Kaisar masih sehat, mengapa kalian ribut dengan dekrit terakhirnya? " tanya biksu Tang Zhou.
"Yang Mulia Kaisar memberikan tiga gulungan dekrit. Yang pertama diberikan kepada penasihat istana dan yang kedua diberikan kepada ketua paviliun Tianji dan yang terakhir diberikan kepada guru besar kuil Shengxin! Keduanya kosong tanpa isi, seharusnya gulungan ketigalah yang berisi nama itu, " jawab Shi Jintian.
"Berarti kedatangan Anda berdua atas utusan ketua paviliun Tianji dan penasihat istana? "ucap biksu Tang Zhou.
" Benar!"Balas Shi Jintian.
"Sepertinya, perdana mentri Jin kehilangan kekuatan dalam persaingan ini, " balas biksu Tang Zhou merujuk pada walikota Fanzui.
"Dia hanyalah orang bodoh! " balas walikota Fanzui.
"Aku ingin Tuan-Tuan kembali, kuil Shengxin tak menerima gulungan dekrit terakhir, " ucap biksu Tang Zhou.
__ADS_1
"Jika aku tak pergi? " tanya Shi Jintian.
"Terpaksa aku mengusir Anda semua, " balas biksu Tang Zhou disusul dengen ledakan energi besar keluar dari dalam tubuhnya menyebankan angin berhembus kencang.