Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Kacaunya Keadaan


__ADS_3

Istana Panjang Umur.


Raja Obat berikut dengan penasihat istana dan Permaisuri duduk menghela nafas panjang.


"Hamba akan menyelidiki siapa penyebab semua ini, "ucap penasihat istana.


Pandangan tak sedap sedetik muncul dilayangkan oleh raja Obat.


"Yang Mulia Kaisar meninggal dengan jiwa yang rusak menandakan seseorang dengan ketrampilan jiwa tingkat tinggi ataupun seorang alkemis yang membuat pil perusak jiwa, " ucap raja Obat.


"Siapa alkemis terhebat selain kau? " tanya Permaisuri.


"Mantan kepala tabib istana. Beliau adalah alkemis hebat yang mampu bersaing dengan hamba. Beliau mendirikan kembali Lembah Obat," jawab Raja Obat.


"Bagaimana mungkin Wei Rong bisa ke kamar Yang Mulia jika di luar dijaga ketat kecuali orang-orang yang ada di dalam itu sendiri, " balas Permaisuri.


Semua orang terdiam dan tahu maksud dari Permaisuri. Penasihat istana mengangkat kepalanya.


"Ketika Yang Mulia Kaisar berkultivasi, Wei Rong masuk ke dalam ruangan terlarang. Hamba tak bisa mencegahnya karena dia mengancam dengan keselamatan nyawa Yang Mulia, " ucap penasihat istana.


"Lancang! Beraninya dia melakukan tindakan keji itu. Perintahkan untuk menyerang Lembah Obat dan bawa Wei Rong kemari penggal kepalanya atas tuduhan percobaan pembunuhan Kaisar! " perintah Permaisuri.


"Baik, " ucap mereka serempak.


Penasihat istana berkontak mata dengan raja obat sebelum pergi. Permaisuri mengepalkan tangannya memukul lengan kursi dengan keras.


"Ming'er belum kembali. Anak selir itu pasti yang akan mewakili konfrensi Qinglong. Berita kematian Yang Mulia harus menemukan tumbalnya, " ucap Permaisuri beranjak berdiri meninggalkan Kaisar sendiri.


Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia adalah leluhur Feng Gui.


"Maafkan aku. Kau tak pernah mengindahkan nasehatku,"ucap leluhur Feng Gui.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Istana Biru Langit.


Permaisuri tengah melihat sekelilingnya mencari-cari Hua Jing. Penasihat istana yang lewat dihentikan olehnya.


"Dimana Hua? " tanya Permaisuri.


"Tuan Hua bersama dengan kepala kasim menuju kuil Shengxin, " jawab penasihat istana.


Permaisuri melambaikan tangannya membuat penasihat istana pergi undur diri.

__ADS_1


"Kepala Kasim ke kuil Shengxin ditemani Hua Jing?"gumam Permaisuri tak tenang seperti hal mengganjal dihatinya.


Di dalam kereta kuda, kepala kasim dan Hua Jing tengah memejamkan matanya merasakan bosan dan kantuk.


"Menurut kepala kasim. Siapa pemenang dari akhir ini?"tanya Hua Jing.


"Yang Mulia telah meninggal. Aku menjemput dekrit Kaisar yang sebenarnya. Mengajakmu karena aku percaya bahwa kau melakukan sesuatu dengan hati-hati meskipun tujuanmu menghancurkan dinasti Zhufu,"jawab kepala kasim.


"Jadi, kepala kasim tak tahu nama siapa yang tertera di dalam dekrit Kaisar itu? Mungkin kita bisa bermain tebak-tebakan, " balas Hua Jing.


"Aku menebak tetap putra mahkota lah yang akan menjadi Kaisar selanjutnya. Adapun dukungan yang ia miliki... " ucap kepala kasim dengan ragu.


"Raja Lu meniduri Permaisuri, demi menjaga reputasi publik Yang Mulia menutup mata dan hanya menghukum raja Lu. Raja Ming Xing dan Jendral Lei dihukum mati. Lalu siapakah pendukung putra mahkota? Apakah ia akan lengser setelah menduduki takhta? " tanya Hua Jing.


Kereta kuda berhenti ketika sampai di halaman kuil Shengxin. Mereka berdua turun berdiri di depan pintu mengetuk beberapa kali hingga biksu Tang Zhou keluar.


"Mengikuti Perintah, " ucap Hua Jing.


Biksu Tang Zhou mempersilahkan keduanya masuk ke dalam kuil. Biksu Tang Zhou menyerahkan gulungan dekrit Kaisar kepada kepala kasim.


"Aku belum membukanya silahkan dibuka, " ucap biksu Tang Zhou.


Kepala kasim membuka gulungan tersebut dan tertera nama putra mahkota Feng Ming yang berhak menduduki takhta Kaisar selanjutnya.


Biksu Tang Zhou menganggukkan kepalanya mengelus-elus janggutnya sembari tersenyum mempersilahkan mereka pergi kembali. Hua Jing dan kepala kasim hendak masuk ke dalam kereta kuda namun diurungkan ketika mendengar ucapan biksu Tang Zhou.


"Semoga kalian selamat, " ucap biksu Tang Zhou.


Mereka serempak menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kereta kuda. Kusir melajukan kereta pergi meninggalkan halaman kuil Shengxin.


"Menurut kepala kasim, apakah kita akan dicegat?" tanya Hua Jing.


"Seharusnya tidak karena perdana mentri menunggu siapa yang duduk di atas takhta itu dan melengserkannya sedangkan penasihat istana telah menebak siapa nama yang tertera hanya saja mereka tak tahu dimana dekrit sebenarnya, " jawab kepala kasim.


"Sepertinya, orang tua yang ada di istana mengantarkan ke kuil Shengxin dan kepala kasim bisa menebaknya sendiri, " balas Hua Jing.


Kepala kasim tertawa pelan begitupun Hua Jing. Kereta kuda berjalan dengan kecepatan sedang. Tidak ada masalah dalam perjalanan ini.


"Berhenti! " ucap Hua Jing.


Kereta kuda berhenti. Angin berhembus kencang hingga selambu kereta terbuka.


"Bangg!! "

__ADS_1


Kepala kasim menggunakan wujud spiritual tubuh baja melindungi kereta dari serangan mendadak.


"Siapa! " ucap Hua Jing.


Seseorang turun dari langit. Mereka berdua keluar melihat siapa yang berani menyerang. Pandangan Hua Jing menyipit ketika melihat sosok tersebut dan peti mati perak disampingnya. Orang tersebut melambaikan tangannya membuat angin berhembus kencang melesat ke arah mereka berdua. Hua Jing membuka kipas melambaikannya membuat kedua angin bertabrakan.


"Wushhhh!!! "


"Antarkan peti mati ini ke bukit Jingling, " ucap leluhur Feng Gui.


"Mengapa tak Anda sendiri yang mengantarkannya? Atau menggunakan peti emas kuil Shengxin? Bukit Jingling bukankah kompleks pemakaman dinasti?" tanya Hua Jing.


"Heh! Jika aku mengatakan untuk mengantarkannya maka kau harus melakukan perintahku, " jawab leluhur Feng Gui.


"Tidak ada orang yang pernah aku takuti di dunia beladiri bahkan istana sekalipun, " ucap Hua Jing membuka kipas melambaikannya membuat hembusan angin puyuh melesat ke arah leluhur Feng Gui.


"Tebas! " ucap leluhur Feng Gui melambaikan tangannya.


"Tunggu! " ucap kepala kasim menengahi pertarungan.


"Apa yang akan terjadi jika kami mengantarkan peti mati perak tersebut ke bukit Jingling? " tanya kepala kasim.


"Tentu saja mati. Siapapun yang mengantarkan jasad seorang Kaisar harus mati bersamanya. Bukankah begitu, leluhur Feng Gui, " jawab Hua Jing.


Seutas senyuman meremehkan muncul dari wajah leluhur Feng Gui.


"Aku yang mengantarkan dekrit Kaisar Feng Yu ke kuil Shengxin dan kalian yang mengambilnya. Bukankah aku hanya ingin kalian mengantarkan jasad Kaisar Feng Yu ke bukit Jingling? " ucap leluhur Feng Gui.


"Bukankah sama saja Anda menumbalkan kami? Semua orang istana tahu bahwa kami ke kuil Shengxin berdoa meminta kesembuhan Kaisar. Jika jasad Kaisar di istana menghilang, tuduhan pertama adalah kami berdua,"balas Hua Jing.


"Orang-orang dunia beladiri memang berani dan tak kenal takut. Mereka tak akan ada yang berani membunuhmu,"ucap leluhur Feng Gui melemparkan token kepada Hua Jing.


"Token titah Kaisar tertinggi. Bahkan putra mahkota ataupun keluarga kekaisaran berhak tunduk akan token itu," ucap leluhur Feng Gui.


"Baik! Aku akan melakukannya dan sampai jumpa kembali nanti, " balas Hua Jing.


Leluhur Feng Gui sedikit memiliki kerutan pada dahinya ketika mendengar balasan Hua Jing sebelum ia menghilang.


"Kepala kasim, kembalilah ke istana. Aku tahu perjalanan ini akan aman dan bawalah ini umumkan kepada mereka," ucap Hua Jing memberikan token titah Kaisar tertinggi kepada kepala kasim.


"Kau sendiri? " tanya kepala kasim.


"Tidak mungkin seseorang mengetahui ini jika leluhur Feng Gui yang mengirimkannya kemari, " jawab Hua Jing.

__ADS_1


"Baik! Jaga dirimu baik-baik, " balas kepala kasim pergi melesat terbang.


__ADS_2