
Hua Jing melambaikan tangannya membuat angin berhembus hingga peti mati perak tersebut masuk ke dalam kereta dengan selambu tertutup. Dia memberikan sekantung emas kepada kusir untuk pergi
"Terimakasih kepada Tuan Hua, " ucap kusir tersebut bersujud.
"Tetaplah diam karena nyawa kita ada ditangannya,"balas Hua Jing.
"Hamba mengerti, " ucap kusir buru-buru berdiri pergi meninggalkan Hua Jing secepat mungkin.
Hua Jing melecutkan tali membuat kuda meringkik melesat menuju jalan bukit Jingling. Malam hari yang sunyi, Hua Jing mengendarai kuda menembus jalanan hutan dengan membawa jasad Kaisar Feng Yu. Dia sampai di puncak bukit dimana kompleks pemakaman kekaisaran dinasti Zhufu. Bulan bersinar dengan terang. Hua Jing turun berdiri diantara batu-batu nisan menatap bulan purnama.
Suara angin menandakan seseorang datang. Hua Jing berbalik melihat siapa orang tersebut.
"Ketua Shi Jun? " ucap Hua Jing.
Pakaian putih bersih bercorak awan biru membuat ketua Shi Jun tampak seperti orang yang penuh akan moral kebajikan.
"Sepertinya ketua Shi Jun ingin melihat Yang Mulia untuk terakhir kalinya, " ucap Hua Jing.
"Heh! Aku hanya ingin memperingatkanmu bahwa Tuanmu tak akan pernah bisa menyentuh ibukota selama ada aku, " ucap ketua Shi Jun.
"Ternyata dugaanku salah. Ketu Shi ingin memperingatkanku. Namun aku bukanlah orang yang mudah digertak. Karena seseorang memintaku menguburkan jasad Kaisar Feng Yu secara diam-diam, maka aku akan melakukannya," balas Hua Jing.
"Memang banyak berucap tak tentu dia pintar. Aku tahu Tuanmu ingin membuka altar dewa, membunuhmu sama saja menggagalkan rencananya, " ucap Ketua Shi.
Hua Jing menyipitkan matanya membuka kipas meledakkan energi spiritual membuat pohon-pohon bergoyang karenanya. Ketua Shi tersenyum meremehkan.
"Kau tanpa musik hanyalah orang bodoh. Bangsawan Tianwu klan Shi lah yang menghancurkannya!" ucap ketua Shi Jun melayang di udara.
Pedang melesat berada dalam genggamannya. Pedang yang terkena sinar cahaya bulan membuat siapapun dapat dengan jelas melihat keindahan tersebut.
"Pedang gerhana bulan? Sepertinya aku harus berusaha keras, " ucap Hua Jing.
Ketua Shi menggerakkan pedangnya. Sesuai dengan ranah alam dewa buminya, dia mampu mempengaruhi bumi dan langit menyebabkan tanah berguncang. Bulan purnama adalah kekuatan bantuan alami dari pedang gerhana bulan.
"Serang! " ucap ketua Shi Jun.
Hua Jing membuka kipasnya menghindari ayunan pedang ketua Shi Jun. Mereka bertemu berkontak mata. Pedang diayunkan secara mendadak membuat Hua Jing mendongak dan menyayat lengan baju ketua Shi Jun. Mereka mundur. Ketua Shi Jun melihat robekan pada lengan bajunya terdiak kemudian menatap Hua Jing.
"Aku terlalu meremehkanmu, " ucap ketu Shi Jun.
"Bukankah begitu kenyataannya. Klan Xie bukanlah orang lemah, " ucap Hua Jing bersiul. Alunan melodi unik dari siulannya membuat suasana menjadi sangat sunyi bahkan batu yang terjatuh dapat terdengar. Ketua Shi Jun melihat sekelilingnya.
"Jangan kira aku terpengaruh oleh melodi ketenangan milikmu! " ucap ketua Shi Jun membuat segel tangan dan pedang gerhana bulan menyerap energi bulan purnama membuat kekuatannya kian meningkat. Aliran energi spiritual alam mengalir dalam pedang gerhana bulan.
__ADS_1
"Kau akan mati, " ucap ketua Shi Jun.
"Aku tak akan mati, " balas Hua Jing membuka kipasnya kemudian tubuhnya melayang di udara. Awan berkumpul ketika Hua Jing melambaikan kipasnya ke langit. Awan seakan-akan turun menutupi cahaya dari bulan purnama. Ketua Shi Jun terkejut melihatnya.
"Hempasan angin ekstrem! " ucap Hua Jing melambaikan tangannya.
Bilah angin melesat begitupun dengan pedang gerhana. Kekuatan menghantam begitu dahsyat. Bulan purnama tertutupi oleh awan membuat pedang gerhana tak begitu efektif.
"Blarrrr!!! "
Petir mengglegar di langit ketika dua kekuatan bertabrakan. Hua Jing melayang di udara di bawah pusaran awan.
"Kau belum mencapai ranah alam dewa bumi, kekuatanmu memang tak bisa dianggap remeh, " ucap ketua Shi Jun.
"Memang begitu faktanya, aku tak bisa dianggap remeh,"balas Hua Jing.
Ketua Shi Jun melesat bertarung dengan Hua Jing dalam pertarungan jarak dekat. Pedang tertodong membuat Hua Jing dalam posisi bertahan. Hua Jing menendang perut ketua Shi Jun membuatnya mundur. Kipas ia ayunkan menyebabkan hempasan angin menghalangi ketua Shi Jun mendekat. Hua Jing melayang di udara membuat segel tangan hingga kilauan corak ombak langit pada kipasnya.
"Hempasan amukan angin! " ucap Hua Jing.
Dirinya berputar mengayunkan kipasnya menyebabkan angin turun dari langit menghempaskan seluruh lingkungan sekitar. Ketua Shi Jun dipaksa mundur oleh angin ekstrem tersebut.
"Ikat! " ucap Hua Jing.
"Teknik sapuan ombak langit" ucap Hua Jing.
"Wushhhhh!! "
Angin berhembus kencang membawa awan serta petir mengepung ketua Shi Jun. Dia dikelilingi oleh guntur. Dia memegang erat pedang gerhana bulan miliknya. Membalikan pedang dan menebas ke segala arah.
"Blarrr!! Blarrr!! Blarrr!! "
Petir saling menyambar dihancurkan oleh bilah pedang gerhana ketua Shi Jun. Dengan pedang gerhana bulan di tangannya, ketua Shi Jun menebas hingga merobek ruang hampa. Langit seakan terbelah yang kemudian tertutup kembali. Hua Jing terbelalak melihanya.
"Aku kalah dalam hal ranah. Dia alam dewa bumi tingkat tiga, " ucap Hua Jing.
Bilah raksasa melesat menyerang Hua Jing hingga membuatnya terdorong. Dia menggunakan kipasnya sebagai pertahanan.
"Apakah aku akan mati? " guman Hua Jing.
Seberkas energi spirutual melesat menghancurkan bilah pedang raksasa tersebut. Hua Jing terkejut hingga ia mundur beberapa langkah.
"Siapa! " ucap ketua Shi Jun melihat sekelilingnya dari udara.
__ADS_1
Pangeran Shang Feng turun dari langit berhadapan dengan ketua Shi Jun.
"Apakah kau benar-benar tak sabar menungguku?" tanya pangeran Shang Feng.
Ketua Shi Jun melihat pangeran Shang Feng dengan seksama.
"Kau tak akan pernah bisa menduduki takhta itu apapun yang terjadi bahkan dengan kekuatanmu sendiri. Membuka altar lima dewa? Mimpimu terlalu jauh" ucap ketua Shi Jun.
"Heh! Aku ingin lihat. Bagaimana ketua paviliun Tianji menghadapiku, " balas pangeran Shang Feng. Kipas hempasan ombak langit yang berada di tangan Hua Jing melesat dan berada dalam genggaman pangeran Shang Feng.
"Sepertinya, aku tak perlu menggunakan pedang untuk memperingatkam ketua paviliun, " ucap pangeran Shang Feng mengipas-ngipas dirinya dengan lembut.
"Nyalimu cukup besar anak muda! Bahkan jika kau memiliki warisan keturunan darah dewa, klan Shi tak gentar menghadapimu. Ingat! Sekte Tianmen adalah adikuasa di dunia beladiri! " balas ketua Shi Jun.
"Karena itulah aku ingin meratakan sekte Tianmen dan dimulai dari meruntuhkan ketiga dinasti ini! " ucap pangeran Shang Feng meledakkan energi spiritualnya menyebabkan hempasan angin menggoyangkan pepohonan.
Mereka melesat menyerang satu sama lain. Pertarungan di udara membuat hembusan angin kacau balau tak terarah. Hua Jing melihat pertarungan tersebut kagum.
"Serang! " ucap ketu Shi Jun disusul dengan pedang-pedang melesat ke arah Hua Jing.
Kipas hempasan langit terbuka lebar dan pangeran Shang Feng melambaikannya membuat angin berhembus kencang menahan serangan pedang tersebut.
"Wushhh!! "
Pangeran Shang Feng menghindar ketika sebauh pedang melesat menyerang dirinya.
"Trangg!"
Pedang tersebut menyerang dari bekakang ia tangkis dengan menggunakan kipas.
"Apakah segini kekuatan ketua paviliun Tianji, " ucap pangeran Shang Feng disusul dengan pedang melesat kembali ke tangan ketua Shi Jun.
Ketua Shi Jun berlari dengan cepat di udara menancapkan pedang-pedangnya mengelilingi Hua Jing. Sinar biru melesat di langit dengan pola formasi dibawah kaki pangeran Shang Feng.
"Formasi tujuh bintang pembunuh? Takutnya tak bisa membunuhku, " ucap pangeran Shang Feng.
Ketua Shi Jun berhenti. Melihat dan mendengar pangeran Shang Feng berkata seperti itu membuatnya tetawa geli.
"Hancurkan jika mampu, " ucap ketua Shi Jun.
Bintang-bintang muncul menyerang pangeran Shang Feng dari berbagai arah membuatnya berputar di udara. Sesekali ia menggunakan kipasnya memantulkan bintang tersebut. Pangeran Shang Feng melemparkan kipasnya menyayat sepanjang putaran dinding formasi tujuh bintang hingga retakan terlihat olehnya.
"Pyarrrr!!! "
__ADS_1
Dinding formasi hancur. Kipas terus berputar mengelilingi ketua Shi Jun hingga membuatnya waspada.