Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Tes terakhir


__ADS_3

Di suatu tempat bagian tersembunyi benua Hanleng, Dekan Akademi tengah memadatkan energi spiritualnya ke dalam wadah mangkuk emas. Lonjakan energi menyebar ke seluruh goa es. Air melayang masuk ke dalam mangkuk emas.


"Padatkan! " ucap Dekan Akademi.


Air dari sungai dingin berputar hingga membentuk sebuah pedang melayang di udara. Dekan Akademi mengalirkan energi qi ke dalam pedang tersebut hingga membentuk wujud nyata.


"Akhirnya berhasil memperbaiki pedang ini, " ucap Dekan Akademi memegang pedang tersebut yang kemudian ia ayunkan. Hempasan angin kuat menabrak dinding goa hingga membuat getaran menjatuhkan beberapa batuan es.


"An Bingwen pasti akan datang suatu saat nanti. Aku telah siap bertarung melawannya jika dia nekat, " ucap Dekan Akademi.


Dia memegang pedang melesat keluar dari goa es tempat pertapaannya selama ini. Dia berdiri memandang ke arah selatan dimana ibukota Baoxue berada.


"Aku akan mendapatkan peluang disana, " ucap Dekan Akademi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akademi Salju Abadi.


An Ming mendatangi kamar Shang Feng setelah percakapan sebelumnya.


"Senior, " panggil An Ming.


Shang Feng berbalik setelah ia puas melihat pemandangan dari jendela. Dia meminta An Ming untuk duduk. Shang Feng melambaikan tangannya membuat balok es muncul di atas meja.


"Balok es ini sangat cocok jika digunakan olehmu. Teknik pedang angin salju seharusnya bersinkronisasi dengan materi balok es, " ucap Shang Feng.


An Ming mengulurkan tangannya menyentuh permukaan balok es tersebut. Sensasi dingin menyejukkan ia rasakan.


"Pembuatan pedang es ini memerlukan api abadi yang mampu melelehkan es abadi ini tanpa mengurangi manfaat serta fungsinya. Namun itu hal mudah bagiku. Tapi kau harus berjanji kepadaku, " ucap Shang Feng.


"Berjanji seperti apa? " tanya An Ming.


"Bersediakah kau bertarung melawan dekan akademi jika keadaan memaksamu untuk bertarung?" balas Shang Feng.


An Ming terdiam dia sedikir memerlukan waktu untuk berpikir.


"Bersedia! Meskipun aku akan tewas di tangannya asalkan namaku terkenal luas, " ucap An Ming.


"Bagus! Duduklah dalam posisi bermeditasi dan kosongkan pikiranmu rasakan aliran dingin balok es abadi ini. Temukan jiwamu dan tanyakan padanya siapa dirimu sebenarnya, " ucap Shang Feng.


An Ming menganggukkan kepalanya. Dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Shang Feng dengan duduk di lantai dalam posisi bermeditasi.

__ADS_1


Shang Feng duduk di hadapan An Ming. Dia mengalirkan kekuatannya menyambungkan jiwanya dengan jiwa An Ming dalam bentuk benang jiwa tipis. Aliran energi qi dari tubuhnya masuk ke dalam tubuh An Ming. Shang Feng melambaikan tangannya membawa balok es tersebut ke hadapannya. Dia menyentuh permukaan menggunakan jari telunjuknya. Matanya terpejam dan jarinya mulai menggambar sesuatu di atas permukaan tersebut. Jari telunjuk yang dilapisi oleh api abadi.


"Semua bergantung padanya, " gumam Shang Feng.


"Tess.. Tesss.. Tesss... "


An Ming membuka kedua matanya. Dia mendengar suara tetesan air. Melihat sekelilingnya kosong membuatnya takut. Suara air gemericik terdengar. Air melayang membentuk wujudnya sendiri. An Ming terkejut hingga tanps sadar mundur.


"Jangan takut. Ada aku disini"


An Ming berusaha menetralkan kembali perasaan takutnya berhadapan dengan jiwanya sendiri.


"Aku adalah kau dan kau adalah aku. Kita satu tubuh. Engkau wujud nyata sedangkan aku tak bisa dilihat. Kita sama tak terpisahkan selama hidup. Jangan takut karena kosong. Aku yang menemanimu"


An Ming melangkahkan kakinya ke depan berhadapan dengan jiwanya sendiri.


"Aku tak bisa. Aku takut jika kosong," balas An Ming.


"Mengapa kau takut? "


An Ming terdiam. Dia tak tahu mengapa ia takut.


"Jangan pernah merasa sendiri karena aku ada di dalam dirimu tanpa kau sadari"


"Pedang ini akan mengakui kau sebagai Tuannya," ucap Shang Feng memberikannya kepada An Ming.


An Ming terpukau. Pedang yang dipahat dari balok es. Shang Feng memberikan sarung pedang kepadanya.


Suara lonceng terdengar nyaring. Mereka berdua buru-buru keluar menuju halaman utama. Tetua Agung telah datang berniat mengumumkan tes terakhir.


"Kalian akan dibawa menuju kuil dewi di puncak terdalam akademi. Tes ini sangatlah mudah. Kalian akan menaiki 999 anak tangga menuju kuil dewi. Terdapat 10 gerbang dewi di sepanjang perjalanan kalian tentu akan tahu apa tantangannya, " ucap Tetua Agung.


Mereka semua menganggukkan kepalanya mengerti. Tetua Agung melambaikan tangannya menciptakan portal menuju kaki gunung kuil dewi. Mereka semua muncul secara bersamaan tepat di kaki gunung. Shang Feng mengamati dari pandangan sekilasnya.


"10 gerbang menuju kuil mengandung tekanan kuat serta jejak jiwa orang lain yang berbeda. Anak tangga ini seperti jalan surgawi menuju langit, " Batin Shang Feng.


"Kalian bisa naik dari sekarang. Jika tak kuat maka akan langsung terlempar keluar cukup mengatakan menyerah," ucap Tetua Agung.


Qian Fengge mencoba menaiki anak tangga tersebut. Dia melangkah dengan lancar. An Ming menoleh.


"Kau bisa mencobanya. Jika gagal tak masalah karena kita semua telah menjadi murid dalam tanoa terkecuali, " ucap Shang Fenh.

__ADS_1


An Ming menganggukkan kepalanya. Dia berjalan dan mulai menaiki tangga.


"Kalian naik namun jangan berada posisi lurus dengan orang di depan kalian. An Ming berada di kanan maka kalian pertama berada di kiri begitupun seterusnya. Menghindari tekanan satu arah, " ucap Shang Feng.


"Mengerti," ucap mereka serempak.


Qin Li berjalan terlebih dahulu berada disisi kiri. Huo Xiang meneruskannya disisi kanan begitupun seterusnya. Mereka telah naik semakin tinggi. Shang Feng hanya diam ditempat.


"Apakah kau menyerah? " tanya Tetua Agung.


Shang Feng menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekati anak tangga melangkahkan kaki kananya terlebih dahulu.


"Aku mengenal aura ini, " ucap Shang Feng tersenyum penuh kepuasan.


Dia melangkah cepat menaiki anak tangga. Tetua Agung diam mengamati pergerakan Shang Feng.


"Dia begitu cepat, " ucap Tetua Chen Qianfan.


"Dia mengetahui rahasia jalan surgawi ini, " balas Tetua Agung.


Shang Feng berlari secara zig-zag hingga ia memimpin di depan. Dia memperlambat langkahnya ketika melihat gerbang gunung pertama.


"Tekanan akan meningkat dan tantangan sesungguhnya akan dimulai, " ucap Shang Feng.


Pedang sungai dan gunung berada di tangannya. Qian Fengge mengrenyitkan dahinya.


"Bodoh! " ucapnya mengejek Shang Feng.


"Ada ancaman. Ubah posisi dalam tiga detik, " perintah Qin Li.


Mereka berlari dan berganti posisi dengan An Ming berada di tengah-tengah. Gerbang pertama memunculkan jiwa seorang petarung tangguh. Shang Feng mengayunkan pedangnya menghancurkan peruwujudan jiwa seseorang tersebut dengan mudahnya. Pedang membelah mengelilingi tubuhnya kemudian ia melesat terbang.


"Apa! Bagaimana bisa! " ucap Qian Fengge terkejut.


Qin Li memimpin mereka untuk berlari secepat mungkin menaiki anak tangga. Tekanan bertambah ketika melewati gerbang pertama. Shang Feng menyipitkan matanya ketika dia melihat gerbang kedua. Tangannya terulur memerintahkan pedang-pedang menyerang perwujudan jiwa tersebut. Shang Feng melakukan hal yang sama hingga pandangannya terhenyak ketika melihat seseorang berada di gerbang kelima. Dia berhenti dan melayang di udara.


"Senior? " ucap Shang Feng.


Orang yang dia panggil adalah Cui Liangyi. Dia telah menjadi jiwa penjaga gerbang kelima kuil dewi. Tak ada balasan dari Cui Liangyi selain tatapan kosong.


"Jangan-jangan! " ucap Shang Feng terkejut segera ia mengalihkan pandangannya pada lantai tepat di bawah gerbang kelima.

__ADS_1


"Jasadnya tertanam dan bagaimana dia bisa! " ucap Shang Feng.


__ADS_2