
"Coba kau gunakan hartamu itu! " balas Nangong Yuxuan.
"Cihhh!! " ucap putri ketiga membalas ucapan Nangong Yuxuan. Dia mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanan. Sebuah kubus hexagonal transparan muncul perlahan-lahan merenggang memancarkan cahaya terang yang kemudian terpantul ke berbagai cermin es menghancurkan bayangan es masing-masing. Beberapa saat kemudian bayangan es hancur berkeping-keping dan mereka terbebas.
"Harta kuno kubus hexagonal? " tanya Nangong Yuxuan.
"Kau kira klan Tu hanyalah klan biasa? Setelah runtuhnya dinasti terakhir Xue, kami memiliki benda pusaka hebat!"balas putri ketiga melesat pergi.
"Hati-hati! " teriak Nangong Yuxun melihat balok es mencair segera ia melesat memegang pinggang putri ketiga menariknya pergi untuk menjauh.
"Boommm!!! "
"Ini ilusi! " ucap Nangong Yuxuan melepaskan secara perlahan-lahan tubuh putri ketiga. Dia melihat sekelilingnya yang tampak biasa namun memiliki keadaan berbeda.
"Maksudmu? " tanya putri ketiga.
Nangong Yuxuan membuat segel tangan. "Teknik Pembalikan Ilusi! " ucapnya disertai dengan sesuatu dinding tipis perlahan-lahan terbuka dan menampilkan keadaan sesungguhnya di dalam goa.
"Pembakaran abadi? Salah satu diantara mereka memiliki api ilahi! " ucap putri ketiga.
Nangong Yuxuan membuat segel tangan merentangkan kedua lengannya. Hembusan angin menyebar dengan cepat. "Teknik badai angin dingin!" Hempasan angin kuat membuat api kian berkobar. Nangong Yuxuan membuka jalan menuju portal tes selanjutnya. "Pergilah dulu! " ucap Nangong Yuxun. Putri ketiga menganggukkan kepalanya. Dia berlari secepat mungkin melompat menuju portal. Nangong Yuxuan merasakan tekanan api kuat hingga ia segera pergi berlari sembari mengeluarkan badai dingin guna melindungi tubuhnya sendiri. Ia melompat memasuki portal.
"Kun Lian.. Siapa orang yang membakar goa iblis es?"tanya Dekan Akademi.
"Tuan, orang pertama yang masuk ke dalam goa iblis es adalah kelompok dari kota Haifeng. Setelahnya adalah Nangong Yuxuan dan putri ketiga, " jawab Tetua Agung.
Dekan Akademi melambaikan tangannya membut cermin memperlihatkan apa yang sebelumnya terjadi di dalam goa iblis es. Kejadian berputar dengan berbagai kilasan hingga membuat dahi dekan akademi memiliki kerutan.
"Siapa nama bocah itu? " tanya Dekan Akademi.
"Shang Feng! " jawab Tetua Agung.
Dekan Akademi menghela nafas berbalik berjalan untuk duduk. Tetua Agung mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Memecahkan ilusi dan menggunakan cahaya dharma serta membakar menggunakan api ilahi. Kau mengatakan bahwa dia berasal dari kota Haifeng? " ucap Dekan Akademi.
"Benar. Dia adalah pemimpin kelompoknya, " balas Tetua Agung.
Dekan Akademi diam menyesap tehnya dengan tenang. Tetua Agung tak berani bertanya banyak.
"Apakah dia cucu pak tua itu, 50 tahun yang lalu aku membunuh putra dan menantunya di luar kota Haifeng membuatnya meledak hingga melukaiku, " batin Dekan Akademi.
"Terisa tes terakhir. Aku akan datang secara langsung,"ucap Dekan Akademi beranjak berdiri menghilang dalam sekejap. Tetua Agung menghela nafas lega setelahnya. "Aku harus buru-buru pergi ke dunia kecil melihat pertarungan tes terakhir, " ucap Tetua Agung menghilang dari tempatnya.
Shang Feng dan lainnya berada di sebuah dunia kecil yang sangat berbeda dengan iklim di luar. Tumbuhan hijau terhampar luas sejauh mata memandang. Mereka mendarat pada salah satu altar. Total terdapat sembilan altar yang bertumpu pada tiang batu
"Tempat yang indah. Sembilan altar ini seperti memiliki tottem tertentu, " ucap Lian Xiang.
"Aku baru ingat jika terakhir kali pertemuan sembilan suku suci berada di benua Hanleng, " ucap Kaisar Cai Jin.
"Yah setelah itu kita semua berbeda pendapat, " balas Kaisar Xue Kai.
"Benar. Kota Suci pemilik sebenarnya sebab pulau terlarang memiliki alat dimana sebuah dunia kecil bisa dipindahkan. Aku tak menyangka Song Zhuang menemukan dunia kecil ini, " ucap Kaisar Xue Kai.
"Sepertinya klan Song memiliki sedikit bakat, " balas Kaisar Ding Feng tertawa.
"Hanya klan Song dianggap klan Kuno? Aku lebih mengakui jika suku Lengshui lebih baik dibandingkan dengan mereka. Suku Xueren-ku menghormati mereka,"balas Kaisar Xue Kai.
"Betapa hebatnya peradaban kuno pada saat itu namun aku masih tak menyangka bisa runtuh, " ucap Shang Feng.
"Sembilan suku suci menghuni alam manusia dengan dua diantara hidup berdampingan di kota suci. Setiap 100 tahun sekali maka sembilan suku akan berkumpul di dunia kecil ini, " balas Kaisar Cai Jin.
Ruang terbelah dengan beberapa orang keluar dari dalam. Mereka melayang di udara. Beberapa saat kemudian para peserta dengan kualifikasi cukup baik keluar dari portal berdiri di atas salah satu altar. Nangong Yuxuan dan putri ketiga berdiri pada altar yang berbeda. Sembilan altar telah terisi sepenuhnya.
"Semuanya dengarkan aku! Kalian akan bertarung satu sama lain hingga sembilan altar akan terisi satu orang satu! " ucap Tetua Agung.
Semua orang saling memandang satu sama lain berbisik-bisik mengenai syarat yang begitu ketat meskipun hanya akan menjadi murid halaman luar.
__ADS_1
"Kau harus memahami 20 jurus pedang angin salju kalau tidak kau akan tersingkir, " ucap Shang Feng.
"Secepat ini! " balas An Ming terkeju.
"Ketika kau bertarung dengan bayanganmu sendiri seharusnya kau mengetahui apa itu teknik pedang angin salju, " ucap Shang Feng.
Tetua Agung mengalirkan kekuatannya pada tengah-tengah sembilan pilar yang menopang altar. Altar dengan lebar yang memenuhi sembilan altar lainnya memiliki sembilan tottem masing-masing altar.
"Semuanya dengarkan aku. Jika satu diantara kalian gagal maka jangan ikuti aku lagi. Mengerti!" ucap Shang Feng.
"Mengerti! " ucap mereka serempak.
"Silahkan kalian memilih lawan kalian masing-masing dengan altar utama sebagai arena!" perintah Tetua Agung.
Para peserta segera melesat ke altar utama bertarung tanpa basa basi. Kelompok Shang Feng telah pergi mencari tempat mereka masing-masing. Sedangkan dirinya berdiri tanpa turun ke altar utama. Dia mengawasi jalannya pertarungan.
"Mengapa dia tak mencari tempat? Apakah bertahan dalam altarnya? " gumam Tetua Agung.
Dekan Akademi tiba-tiba muncul di sebelah Tetua Agung. "Dia tengah menunggu lawan yang ia provokasi sebelumnya, " ucap Dekan Akademi dengan santai membuat Tetua Agung terkejut dibuatnya.
"Ruo Xuan.. Apakah kau memiliki niatan yang sama sepertiku? " tanya Nangong Yuxuan.
"Emm.. Pedangku ingin membunuh seseorang, " jawab putri ketiga.
Mereka berdua melesat dengan sekali melangkah dan berada di ujung altar utama yang berdekatan dengan altar dimana Shang Feng berdiri.
"Ohhh... Kalian datang? " ucap Shang Feng berpura-pura terkejut.
"Kali ini aku akan membuat perhitungan denganmu. Kota Xianpin tak bisa kau tindas dengan mudah! " ucap Nangong Yuxuan.
"Benar! Anggota kekaisaran bukan sembarangan orang kau singgung! " ucap putri ketiga.
"Apakah begitu? Aku tak pernah takut karena aku membuat aturanku sendiri! " balas Shang Feng mengeluarkan pedangnya.
__ADS_1