Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Memasuki Ibukota


__ADS_3

Kaisar Xue Kai turun dari singgasananya. Dia menatap dengan sekilas.


"Bawa tubuh dekan ke akademi salju abadi, " ucap Kaisar Xue Kai.


"Baik! " jawab Bi Dong.


Bi Dong segera membawa jasad Dekan Akademi kembali. Kaisar Xue Kai mengarahkan telapak tangannya mengaliri kekuatan suci ke dalam tubuh An Bingwen.


"Kau memiliki tekad kuat sebagai pendekar pedang salju, aku ingin kau hidup abadi sebagai pemimpin pasukan hantu kabut! " ucap Kaisar Xue Kai.


An Bingwen membuka kedua matanya. Tubuhnya memiliki kondisi unik. Dia perlahan-lahan bangun memberikan penghormatan kepada Kaisar Xue Kai.


"Kau menjadi bagian pasukanku. Pergi dan jagalah kota Baoxue ini, " perintah Kaisar Xue Kai.


"Baik! " balas An Bingwen meninggalkam istana.


Tubuhnya menjadi muda dengan fisik mumpuni tak lagi sama seperti sebelumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akademi Salju Abadi.


Bi Dong memasuki kawasan akademi. Dia mencari tempat yang cocok membuang jasad dekan akademi.


"Sepertinya taman itu cocok, " ucap Bi Dong melemparkan jasad Dekan Akademi ke dalam danau di taman. Dia segera pergi meninggalkan kawasan akademi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ibukota Kekaisaran.


Shang Feng memasuki ibukota setelah beberapa hari. Dia mencari informasi tambahan mengenai pangeran ke tujuh. Sekarang dia berada di rumah makan.


"Pangeran ke tujuh benar-benar menentang langit! Dia berusaha mendapatkan haknya sebagai putra mendiang permaisuri, "


"Benar! Aku ingin melihat apakah putra mahkota akan tetap diam atau benar-benar bergerak. Situasi istana tak kondusif sama sekali"


Shang Feng hanya menghela nafas panjang ketika mendengarnya.


"Aku ingin melihat apakah dia ada kaitannya dengan sumber kegelapan di lautan. Menentang langit dalam semalam? Apakah dia reinkarnasi dewa, " batin Shang Feng.


Malam mulai larut. Beberapa orang telah mabuk tak terkendali. Seseorang mendarat di atap. Shang Feng mendongakkan kepalanya. Dia meletakkan kembali cangkir di meja. Beranjak berdiri mengecek siapa orang tersebut. Seseorang yang berada di atap telah pergi ketika Shang Feng sampai. Matanya menyipit ketika melihat seseorang tengah terbang dan berlari di atap-atap rumah.


"Menuju istana? Jangan-jangan dia, " ucap Shang Feng segera mengejar orang tersebut. Gerakan Shang Feng ringan tak menimbulkan suara sedikitpun mengikuti orang misterius.


Shang Feng berhenti ketika orang tersebut mendarat di halaman kediaman.


"Kediaman pangeran ke tujuh? " gumam Shang Feng terbang mendarat di atap membuka celah sedikit. Dia dapat dengan jelas melihat di dalamnya.


"Pangeran, putra mahkota pergi ke pengasingan di barat," ucap Xiao Ye.


"Dia pergi menemui raja Guang Xing, " balas pangeran ke tujuh.


"Apa yang harus hamba lakukan? " tanya Xiao Ye.


"Memastikan sesuatu. Pergilah ke tanah leluhur lihat apakah ada sesuatu disana, " perintah pangeran ke tujuh.

__ADS_1


"Baik! " balas Xiao Ye.


Shang Feng mengrenyitkan dahinya ketika mendengar raja Guang Xing.


"Kota Xinpin, " guman Shang Feng.


"Brukk!! "


Shang Feng mendarat di tanah. Pangeran ke tujuh melambaikan tangannya membuka pintu lebar-lebar.


"Siapa kau? " tanya pangeran ke tujuh.


"Seharusnya aku bertanya kepadamu. Siapa kau sebenarnya. Kau bukan pangeran ke tujuh, " ucap Shang Feng berjalan memasuki kediaman dengan aura mengintimidasi.


"Aku Si Yingjie! Pangeran ke tujuh! "


"Bukan! Kau Kang Renshu! Saudara mendiang Kaisar terdahulu! " ucap Shang Feng.


Si Yingjie terkejut. Pandangannya berubah tajam.


"Mati! " ucap pangeran ke tujuh.


"Banggg!! "


Mereka beradu telapak tangan. Pangeran ke tujuh memiliki kekuatan luar biasa hebatnya.


"Tapak pengguncang bumi! " ucap Shang Feng.


"Boommmm!! "


"Menarik! Memisahkan jiwa membuat wadah baru dan menghisap jiwa kehidupan pemiliknya. Teknik keabadian kejam, " ucap Shang Feng pergi meninggalkan kediaman pangeran ke tujuh.


Si Yingjie bergegas keluar mengejar Shang Feng namun dia hanya bisa melihat cahaya emas pergi meninggalkan kawasan istana.


"Pangeran! " ucap kepala prajurit istana.


Pangeran ke tujuh menoleh. Kepala prajurit membawa beberapa pasukan setelah mendengar keributan.


"Perkuat keamanan, " perintah pangeran ke tujuh.


"Baik! " jawab kepala prajurit istana.


Kepala prajurit istana memerintahkan pasukannya memperkuat formasi kediaman pangeran. Lingkaran formasi besar tercipta mengukir rune kuno.


"Apa yang ingin dia lakukan dengan menemuiku. Dia mengetahui teknik keabadian milikku, " batin pangeran ke tujuh berbalik kembali memasuki kediamannya.


"Tapp!! "


Shang Feng mendarat di atap kediaman putra mahkota. Dia mengawasi keadaan sekitarnya.


"Leluhur klan Tu memiliki segel kekaisaran es. Sepertinya bertahun-tahun mereka membuat fondasi kokoh, " ucap Shang Feng.


"Segel es Kaisar Xue Kai. Sepertinya dia meminta bantuanmu mengembalikan segel itu, " ucap Kaisar Cai Jin.


"Putra mahkota memiliki gelang giok biru. Pelindung mutlak. Energi langit dan bumi yang menciptakan gelang itu, " ucap Shang Feng.

__ADS_1


"Tenang, kau buat mereka berdua bertarung dengan sengit, " ucal Kaisar Cai Jin.


Shang Feng menganggukkan kepalanya. Dia mendarat di tanah.


"Siapa! " teriak putra mahkota dari dalam.


Shang Feng langsung menyerang merapatkan telapak tangannya memukul tubuh putra mahkota.


"Banggg!! "


Kekuatan Shang Feng tak dapat menembus pertahanan alami putra mahkota.


"Hmph! sekuat apapun kau tak akan bisa menembusnya," ucap putra mahkota meremehkan Shang Feng. Dia mundur menjaga jarak.


"Aku harus bisa membunuhmu, bukankah kau sendiri yang mengatakan pergi ke Xinpin. Meminta bantuan klan Nangong? Takutnya Yang Mulia telah mengetahui rencanamu, " ucap Shang Feng dengan nada begitu dramatis.


Pandangan putra mahkota berubah drastis. Kekuatan besar merembes dari tubuhnya. Tangannya memegang pedang secara tiba-tiba.


"Tebasan empat arah! " ucap putra mahkota mengayunkan pedangnya.


Shang Feng terkepung dibuatnya. Dia menyatukan kedua telapak tangannya.


"Lonceng emas kebajikan! "


"Banggg"


Pelindung lonceng emas aktif tepat pada waktunya. Putra mahkota mundur setelah melihat lonceng emas.


"Beladiri spiritual! Kau dari kota suci!? " ucap putra mahkota.


"Hmph! Maksudmu beladiri gunung roh seperti ini? " tanya Shang Feng menunjukkan delapan piringan mengelilingi tubuhnya menyatu membentuk piringan emas berukir aksara kuno.


"Roda takdir kebajikan!"


Cahaya emas membentuk tapak menghantam tubuh putra mahkota. Dia mundur sedikit namun tak mengalami luka sedikitpun. Shang Feng buru-buru pergi meninggalkan kediaman putra mahkota.


"Siapa dia? Si Yingjie memiliki pendukung kota suci, " ucap putra mahkota.


Shang Feng mendarat di puncak gedung tertinggi di ibukota kekaisaran. Dia memandang langit untuk beberapa waktu.


"Aku menemukan iblis pedang yang lain, namun dia dalam perlindungan Song Zhuang. Sepertinya pada waktu pembukaan segel ibukota Baoxue aku bisa membawanya pergi. Terlalu banyak konflik tak akan baik," ucap Shang Feng.


"Kau diincar! " ucap Kaisar Cai Jin.


Formasi tali jiwa tak kasat mata tiba-tiba muncul dari berbagai arah.


"Pihak kekaisaran mengirimkan kultivator beladiri jiwa. Pasukan khusus dibawah naungan Kaisar, " ucap Kaisar Cai Jin.


Shang Feng segera terbang menghindari jerat tali jiwa. Kecepatannya kian bertambah ketika tali berubah menjadi pelik. Dia melesat pergi ke awan terbang di atasnya. Seseorang dengan tali melingkar di kedua tangannya berdiri tak jauh.


"Kultivator beladiri jiwa. Sungguh sesuai reputasinya. Benua Hanleng adalah benua dewa di alam manusia, aku menemukan tiga kultivator beladiri jiwa hingga saat ini termasuk kau, " ucap Shang Feng.


"Hmph! Kau memang bocah pembuat onar. Seharusnya kau pergi tak memasuki ibukota, " ucap Li Hua. Kultivator beladiri tali jiwa kematian.


"Aku ingin maka tak ada yang bisa mencegahku, " balas Shang Feng.

__ADS_1


"Sepertinya kau belum pernah mendengar beladiri tali jiwa kematian, " ucap Li Hua melesat menyerang mengencangkan talinya mengincar tubuh Shang Feng.


__ADS_2