Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Kematian Kaisar Awa Dari Rencana


__ADS_3

Nangong Yuhang menuangkan teh secara pribadi kepada putra mahkota.


" Pangeran ingin hamba melakukan apa?"tanya Nangong Yuhang.


"Mendukungku secara penuh, " jawab Putra Mahkota.


"Kota Xinpin terkhusus keluarga Nangong memegang kendali atas pendekar di luar kekaisaran maupun akademi. Ujung tombak kekaisaran berada di kota Xinpin. Hamba takut dukungan penuh menyebabkan gejolak politik cukup keras di luar istana, " ucap Nangong Yuhang.


"Aku memerlukan dukungan dunia beladiri untuk mempertahankan status putra mahkota, pangeran ke tujuh memiliki jendral besar Jun Zhu, " balas putra mahkota mengungkapkan kegelisahannya.


"Dunia beladiri mampu membalikan istana dalam sekejap, namun pejabat istana tetaplah yang terkuat. Menurut hamba, pangeran perlu menemui mentri kehakiman, " ucap Nangong Yuhang.


Putra mahkota memegang erat cangkirnya. Dia menggertakkan gigi nenahan kekesalan. Sebuah stempel muncul di atas meja.


"Kau pasti tahu benda ini bukan? " tanya putra mahkota menunjukkan stempel kekaisaran Guxue.


Nangong Yuhang terkejut. Pasalnya benda itu tercatat dalam manuskrip kuno.


"Segel kekaisaran Guxue! " ucap Nangong Yuhang.


"Benar. Aku memegang segel ini yang dimana ketika ibukota Baoxue terbuka, akulah kandidat terbaik sebagai pemenangnya, " Balas Putra Mahkota.


"Baik! Kota Xinpin mendukung putra mahkota dalam pengaruh dunia beladiri. Untuk masalah pejabat istana, hamba tak bisa leluasa, " ucap Nangong Yuhang.


Putra mahkota mengeluarkan sesuatu dari cincin ruang. Kotak kayu panjang berisi pedang elegan. Kejutan muncul kembali. Nangong Yuhang menyentuh dengan gemetar pedang tersebut.


"Pedang hantu salju, " ucap Nangong Yuhang menatap putra mahkota seakan meminta kejelasan.


"Pusaka turun-temurun keluarga Nangong. Pedang hantu salju legendaris yang pernah membantai ribuan orang di tengah badai salju. Menarikan tarian pedang putih membantai musuh dengan gagahnya, " ucap Putra Mahkota.


Nangong Yuhang menerima pusaka leluhurnya dengan pandangan tak percaya. Semenjak keluarga Nangong menguasai dunia beladiri secara absolut. Kaisar sakti terakhir menyimpan pusakan pedang hantu salju di gudang harta kekaisaran karena takut mereka memberontak melawan kekaisaran.


"Baiklah. Aku akan pergi ke kediaman mentri kehakiman. Namun gerakanku pasti telah terbaca oleh pangeran ke tujuh, " ucap Putra Mahkota.


Mendengar keluhan putra mahkota, Nangong Yuhang teringat sesuatu.


"Hamba teringat bahwa beberapa hari semenjak formasi besar aktif, seseorang datang ke kota Xinpin menantang aula beladiri mengalahkan seluruh penguji, " ucap Nangong Yuhang.


Putra Mahkota mengrenyitkan dahinya ketika mendengar seseorang dari luar yang bisa menaklukkan seluruh penguji aula beladiri setelah 5 tahun.


"Dingwei. Tempramennya bisa dikatakan buruk karena amarahnya meledak-ledak. Dia menunggu seseorang di atap aula belaidiri setiap malam, " ucap Nangong Yuhang.


"Aku akan mengunjunginya nanti malam. Dia cukup manarik, " ucap Putra Mahkota.


Malam Hari.


Shang Feng atau Kaisar Ding Feng tengah duduk di atap aula beladiri. Dia memejamkan matanya merasakan tubuhnya mulai panas akibat arak yang ia minum.

__ADS_1


"Tapp!! "


Seseorang mendarat di atap yang tak jauh darinya.


"Apa keuntunganku? " tanya Shang Feng.


"Ketenaran, kekuasaan dan uang, " jawab putra mahkota.


"Hmph! Hanya itu? " tanya Shang Feng.


"Kau bisa mencoba peruntungan melalui portal suci ibukota Baoxue, " jawab Putra Mahkota.


Shang Feng membuka kedua matanya. Dia beranjak berdiri menatap putra mahkota.


"Aku bisa menandingi orang dari kota suci itu, namun kau harus menjamin pendukungnya tak melakukan pemburuan kemari kalau tidak benua Hanleng akan rata," ucap Shang Feng mengadahkan tangannya membuat api merah darah berkobar ditelapak tangannya membumbung tinggi meliuk-liuk hingga membentuk sebuah pedang.


"Dengan pedang api karma serta jalan pedang api duniawi, aku bisa menandinginya, " ucap Shang Feng dengan bangga. Tepukan dilayangkan oleh putra mahkota.


"Bagus! Besok ikutlah denganku ke kuil tebengkalai di pinggiran kota. Bukankah kau ingin bertarung terus-menerus? " tanya Putra Mahkota.


"Baiklah! Aku akan mengikutimu, " jawab Shang Feng.


Putra Mahkota pergi setelahnya. Shang Feng mengubah wujudnya kembali sebagai Kaisar Ding Feng.


"Pembantaian akan terjadi, apakah mereka akan terkejut?" gumam Kaisar Ding Feng tertawa di dalam hatinya.


"Ding Feng telah melakukan rencanamu, kau ingin bertindak? " tanya Kaisar Cai Jin.


"Belum saatnya. Aku menunggu sebentar lagi. Mereka tengah menyiapkan kejutan untukku, " jawab Shang Feng.


Satu jam berlalu. Shang Feng beranjak berdiri setelah kedatangan Kaisar Ding Feng.


"Aku pergi melakukan misi membunuh Kaisar, " ucap Shang Feng melesat pergi meninggalkan kediaman.


Kaisar Tu Lei berada di ruang bawah tanah istana tengah melakukan meditasi bersamaan menyempurnakan senjata sakti.


"Dimana pedang hantu salju? " tanya leluhur kedua.


"Putra mahkota mengambilnya, " jawab Bao Chai.


"Cukup ceroboh, namun aku memakluminya. Pergilah ke hutan dibalik gunung kekaisaran dan bawa lima batu bening dari sana, " Perintah leluhur Pertama kepada Kaisar Tu Lei.


"Baik! Aku akan melakukannya, " jawab Kaisar Tu Lei pergi meninggalkan ruangan bawah tanah istana.


Dia mengendarai kuda pergi menuju hutan dibalik gunung. Dengan gagahnya dia mengendarai kuda tanpa pengawalan apapun.


"Membunuhmu adalah awal kehancuran dinasti Daxue. Entah Si Yingjie ataupun putra mahkota, mereka akan tetap kehilangan pijakan. Kursi Kaisar akan kosong, " ucap Shang Feng mengikuti Kaisar Tu Lei dari kejauhan hingga dia sampai di hutan.

__ADS_1


Kaisar Tu Lei turun dari kuda berjalan ke suatu tempat menghancurkan tumpukan batu hingga beberapa batu bening terlihat mengkilat. Saat hendak mengambil batu tersebut, Kaisar Tu Lei menghindar ketika menyadari serangan mengarah kepadanya.


"Siapa! " teriaknya dengan lantang.


Shang Feng perlahan-lahan mendarat di tanah. Kaisar Tu Lei mengrenyitkan dahinya.


"Shang Feng datang untuk membunuhmu! "


"Hmph! Kau datang seakan menang melawanku, " ucap Kaisar Tu Lei.


Shang Feng melesat menyerang Kaisar Tu Lei. Mereka bertarung sengit saling mengeluarkan niat membunuh.


"Guntur pengguncang langit! " ucap Shang Feng.


Petir melesat turun layaknya hujan menargetkan Kaisar Tu Lei.


"Blaarrr!! "


Kaisar Tu Lei tak sempat menghindar. Dia membuat perlindungan menahan sambaran petir.


"Serangan jiwa! " ucap Shang Feng menyusup ke dalam lautan kesadaran Kaisar Tu Lei.


"Beraninya kau menyusup! " marah Kaisar Tu Lei.


Shang Feng membuat segel tangan menggunakan tubuh dharmanya.


"Segel penutup langit! "


Tangan raksasa muncul dari kekosongan menekan Kaisar Tu Lei hingga ia terduduk tak bisa bergerak sedikitpun. Kertas jimat melayang di udara melindungi Kaisar Tu Lei dari hantaman serangan tersebut. Ledakan besar terjadi.


"Aku membunuhmu agar putramu cepat naik ke takhta Kaisar. Segel kekaisaran Guxue akan kembali muncul menggemparkan benua Hanleng," ucap Shang Feng.


"Hmph!! Empat leluhur tak akan membiarkan kekacauan terjadi! " balas Kaisar.


Dia berdiri tegap memandang Shang Feng tanpa rasa takut sedikutpun.


"Kau akan hilang dari dunia ini, " ucap Shang Feng melesat menusuk Kaisar Tu Lei menggunakan wujud spiritual pedang takdir.


"Arkhhh!! "


Kaisar Tu Lei menatap Shang Feng dengan pandangan tak percaya.


"Pedangku mampu menebas jiwa dan takdir seseorang, " ucap Shang Feng menarik kembali pedangnya.


Kaisar Tu Lei terjatuh perlahan-lahan dia menghilang. Shang Feng kembali ke dunia nyata.


"Aku yakin putra mahkota telah kembali ke ibukota dan pangeran ke tujuh pergi ke tanah leluhur. Biarkan mereka yang menyiapkan pertarungan memperebutkan kursi Kaisar. Aku telah membantu mempercepatnya, " ucap Shang Feng.

__ADS_1


__ADS_2