Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Keluarnya Tetua Agung


__ADS_3

12 pedang melesat ke langit membuat formasi hingga ribuan pedang melesat turun menghujani tetua Cheng Xiong.


"Tebas!!... Tebass!!... Tebaas!!! " ucap tetua Cheng Xiong.


Ledakan demi ledakan terjadi di udara. Tetua Cheng Xiong memegang pedangnya dengan erat. Tak lama kemudian ribuan pedang datang kembali dari puncak pedang. Dimana pedang-pedang kuat dari para murid-muridnya maupun gurunya.


"Pemujaan pedang! " terian tetua Cheng Xiong.


Ribuan pedang mengelilingi tubuhnya menunggu perintah tetua Cheng Xiong. 12 pedang beladiri bersiap di depan Liu Mengyao.


"Aku Liu Mengyao ingin mengambil kehormatanku kembali! " ucapnya dengan keras.


12 pedang menegang bersatu dibelakang Liu Mengyao yang melayang di udara. Dia membuat segel tangan mengangkat lengannya ke langit.


"Pemujaan ribuan pedang mengalir layaknya sungai menuju lautan tak terbatas! " ucap Liu Mengyao.


Disuatu tempat yakni paviliun pedang seluruh pedang bergetar termasuk pedang Tunggal yang mengkilap sebentar. Pedang-pedang keluar satu per satu melesat mendengar panggilan Liu Mengyao. Beberapa pedang terkenal mengikuti pedang tersebut seperti pedang air milik ratu Xi Shi maupun penasihat istana Zhi Nan dan pedang akar rotan milik Wei Rong. Ribuan pedang menuju sekte Tianmen begitu cepat sampai mengelilingi Liu Mengyao menganggapnya sebagai Tuan.


"Tidak! Aku ingin sedikit membalaskan dendam muridku!" ucap Liu Mengyao mengerahkan jiwanya memanggil lebih banyak pedang dari wilayah poros tengah benua Shenyun. Tempat dimana banyak pedang tertancap di tanah dengan energi misterius menyelimuti tersebut tepatnya di sebuah halaman di kelilingi oleh hutan bambu dimana Hui Li tinggal. Tempat yang disebut sebagai makam pedang. Hui Li melihat satu per satu pedang keluar dari makam pedang mengarah ke timur.


"Pemujaan ribuan pedang menjadi sungai dan lautan tak terbatas. Pedang Tanhuang, Pedang Qiu Ye, Pedang Meinu, Pedang Yonggan, Pedang Luye dan Pedang Qingshi, " ucap Hui Li melihat beberapa pedang yang dia kenali keluar dari makam pedang. Sedikit kejutan muncul ketika sebuah pedang melesat bergabung dengan yang lainnya.


"Pedang Wuwei milik Kaisar Sheng Jing? Sepertinya kesadarannya benar-benar ingin membalas dendam,"ucap Hui Li.


Makam pedang beberapa telah kosong. Sebagian dari mereka memenuhi panggilan dan yang lainnya tetap berjaga. Tetua Cheng Xiong melihat kedatangan ribuan pedang kembali sembari melihat beberapa pedang terkenal dan ia kenal.


"Pedang air sakti dan pedang air ekstrem, pedang milik Chen Duyi, pedang raja selatan dan pedang... " ucap tetua Cheng Xiong menggantung ketika melihat pedang akar rotan. Ingatannya seakan berusaha memberi tahunya.

__ADS_1


"Pedang milik Kaisar Obat Xia Kang!" ucap tetua Cheng Xiong.


Sebuah pedang melesat dari barisan belakang menuju ke depan dengan cepat


"Pedang Wuwei Kaisar Sheng Jing! " ucap tetua Cheng Xiong.


Layaknya sungai mengalir dengan Liu Mengyao sebagai penggeraknya membuat pedang-pedang mengikuti perintahnya.


"Ribuan pemujaan pedang mengalir seperti sungai yang menjadi lautan. Bocah nakal itu telah mencapai tahap seperti ini ditambah 12 pedang beladiri miliknya itu,"gumam tetua Cheng Xiong.


Ribuan pedang berjejer rapi sesuai urutannya. Liu Mengyao mengatur sedemikian rupa.


"Bukankah ini yang guru ajarkan pada saat itu? " tanya Liu Mengyao.


"Benar! Kau memang si jenius pada saat itu. Namun, puncak pedang tak bisa kau ganggu semudah itu, " jawab tetua Cheng Xiong membuat segel tangan sesaat kemudian monumen yang berada di puncak pedang bercahaya mengalirkan energi murni ke dalam tubuh tetua Cheng Xiong. Ribuan pemujaan pedangnya memiliki peningkatan kekuatan hebat.


"Pergilah! " perintah tetua Cheng Xiong.


Ribuan pedang melesat atas perintah tetua Cheng Xiong. Liu Mengyao memerintahkan seluruh pedangnya menahan serangan tersebut. Dentingan pedang terdengar nyaring dan tak terhitung jumlahnya. Pedang akar rotan mengeluarkan tali yang terbuat dari akar membendung beberapa bagian pedang. Pedang Wuwei melesat dan paling menonjol dalam melakukan serangan. Liu Mengyao mengendalikan ribuan pedang hanya dengan satu jari telunjuknya.


"Badai pedang! " ucap Liu Mengyao.


Ribuan pedangnya menyebar membentuk tornado mengelilingi tetua Cheng Xiong. Satu per satu pedang keluar melesat menyerang tetua Cheng Xiong. Dia dengan segala cara menghindari serangan tersebut. Liu Mengyao membuat segel tangan hingga 12 pedangnya melesat ke langit membuat formasi.


"Turun! " perintahnya.


Pedang raksasa keluar dari dalam formasi. Liu Mengyao mendongak ke atas melihat pedang raksasa telah bersiap untuk turun menyerang dirinya. Tetua Cheng Xiong mengangkat pedangnya mengeluarkan wujud spiritual tubuhnya.

__ADS_1


"Tahan! " ucapnya mengangkat pedangnya di atas kepalanya.


"Semua murid halaman luar dan puncak pedang dengarkan perintah! Aktifkan formasi pembunuh Badai Matahari! " Perintah tetua Cheng Xiong.


Semua murid halaman luar bersiap di tempat membuat segel tangan yang sama begitupun murid puncak pedang. Aliran kekuatannya melesat ke langit membentuk formasi raksasa dengan pola tengah formasi berbentuk bundar seperti matahari disertai suhu yang panas. Tetua Xiu Tao mengalirkan kekuatannya pada formasi Badai Matahari. Tetua Cheng Xiong mendorong pedang raksasa dan membuat perlindungan pada tubuhnya sendiri. Bola energi panas tercipta melesat turun. Xie Hua bersiap melambaikan tangannya membuat angin berhembus kencang memperlambat bola tersebut untuk turun. Qin Li mengayunkan pedangnya membuat bola tersebut terbelah dan meledak.


"Sekali lagi! " teriak tetua Xiu Tao.


Empat bola energi panas tercipta melesat secara bersamaan. Huo Xiang maju mengeluarkan cakram apinya kemudian ia lemparkan berputar-putar dengan kecepatan tinggi membelah bola-bola panas yang akan turun membunuh mereka membuat ledakan besar terjadi. Tetua Cheng Xiong menggeram dengan marah.


"Teknik tubuh pedang tak terkalahkan! " ucapnya.


Wujud spiritual tubuhnya melesat mendorong pedang raksasa untuk mundur. Liu Mengyao mempertahankan segel tangannya.


"Tekan! " ucap Liu Mengyao.


Tekanan kekuatan langsung menuju jantung membuat tetua Cheng Xiong memuntahkan seteguk darah segar. Kekuatan besar mendekat dengan cepat. Pangeran Shang Feng mengayunkan jarinya membuat pedang akar rotan tertancap di tanah membentuk pohon-pohon raksasa layaknya dinding menghalau serangan tersebut.


"Blaarrrr!!! "


Hempasan angin kuat menghempaskan semua orang termasuk Liu Mengyao dan tetua Cheng Xiong hingga mundur. Liu Mengyao menoleh ke arah pangeran Shang Feng.


"Setelah keluar dari sekte Tianmen membunuh rekan-rekanmu di luar dan dimari? Apakah kau tak memiliki moral sama sekali? Harta puncak pedang kotak beladiri kau curi dan kau menantang secara terbuka. Nyalimu besar untuk kembali, " ucap Tetua Agung


"Kalian yang tak tahu malu dan aku ingat hari itu dimana aku dipermalukan! " marah Liu Mengyao.


Sebuah energi melesat ke arah Liu Mengyao. Pangeran Shang Feng muncul di depan menghadang serangan tersebut hanya dengan membuka telapak tangannya.

__ADS_1


"Apakah Tetua Agung benar-benar egois hanya karena tak ingin mendengarkan pendapat orang lain? " tanya pangeran Shang Feng.


__ADS_2