
Kediaman Kementrian Kehakiman.
Putra mahkota tak langsung menuju ke kediaman kementrian kehakiman setelah kembalinya ke ibukota. Dia bahkan tak memasuki kediaman pangeran dan lebih memilih menyewa penginapan guna melihat situasi dan informasi pangeran ke tujuh. Setelah mengetahui kepergian pangeran ke tujuh, putra mahkota mendatangi kementrian kehakiman secara pribadi. Kepala pelayan menyambut kedatangan putra mahkota mempersilahkan untuk masuk. Tak lama kemudian mentri kehakiman Sun Liqin datang tergesa-gesa.
"Salam kepada pangeran, " ucapnya memberikan hormat.
Putra mahkota melambaikan tangannya. Sun Liqin mempersilahkan untuk masuk ke dalam.
"Aku ingin berbicara denganmu, " ucap Putra Mahkota dingin.
Sun Liqin mengintip wajah Putra Mahkota sebelum menganggukkan kepala. Mereka berbelok ke arah ruangan sunyi. Sun Liqin mempersilahkan Putra Mahkota untuk duduk terlebih dahulu.
"Pangeran ingin berbicara mengenai apa kepada mentri ini? " tanya Sun Liqin.
"Aku ingin kau menjamin seseorang untuk lepas dari jerat hukum ketika terjadi sesuatu, " jawab Putra Mahkota.
"Siapa dia? " tanya Sun Liqin.
"Dingwei"jawab Putra Mahkota.
Sun Liqin sedikit bingung karena pertama kali mendengar nama Dingwei.
"Orang yang berhasil mengalahkan seluruh penguji aula beladiri. Dia menjamin mampu menandingi orang kota suci pendukung pangeran ke tujuh, " ucap Putra Mahkota.
Sun Liqin terdiam. Dia sedikit ragu. Pertarungan memperebutkan kekuasaan pasti menarik seluruh perhatian pejabat istana.
"Hamba hanya bawahan dari departemen urusan negara. Hamba takut sekretariat ataupun kanselir menekan kementrian kehakiman, " ucap Sun Liqin mengungkapkan kegundahan hatinya.
"Kanselir Li Jie adalah orang yang paling netral dan dihormati bahkan ayahanda sendiri. Masalah kesekretariatan, aku bisa melakukan pengaturan dengan aman. Kau hanya perlu meringankan bila tak bisa lepas dari tekanan Jendral Besar Jun Zhu, " balas putra mahkota.
"Baik! Hamba menunggu kabar, " ucap Sun Liqin.
"Aku akan kembali ke istana, " balas Putra Mahkota beranjak berdiri. Sun Liqin mengantarkan putra mahkota sampai ke gerbang kediaman.
Putra Mahkota di dalam kereta diam memikirkan rencana matang serta akibat dari rencananya sendiri.
"Berhenti! " perintah Putra Mahkota.
Kusir menghentikan kereta ketika mendengar perintah majikannya.
"Kita putar jalan pergi ke kuil terbengkalai pinggiran kota," ucap Putra Mahkota.
"Baik! "
Kusir melajukan keretanya memutari jalan istana pangeran. Sepanjang jalan mereka tak dikenali oleh orang-orang.
Kuil terbengkalai.
Shang Feng atau Kaisar Ding Feng telah menunggu cukup lama kedatangan Putra Mahkota. Kereta kuda berhenti di depan gerbang kuil. Shang Feng melesat turun dari atap ketika mengetahui kedatangannya.
"Aku datang terlambat sepertinya, " ucap Putra Mahkota keluar dari kereta kuda.
"Hmph!" balas Shang Feng.
Putra Mahkota melemparkan benda yang tertutupi oleh kain kepada Shang Feng.
__ADS_1
"Happ!! "
Shang Feng membuka bungkusan tersebut. Kilauan cahaya samar. Dia menutup kembali.
"Segel kekaisaran Guxue? Kau benar-benae menjadikanku sebagai umpan mati, " ucap Shang Feng.
"Tenang. Aku akan menjaga orang luar dari benua Hanleng tak bisa datang kemari, aku jamin itu, " balas Putra Mahkota.
"Baiklah! Kau bisa pergi sekarang, " ucap Shang Feng.
Putra Mahkota pergi meninggalkan kuil terbengkalai untuk kembali ke istana.
"Tapp! "
Shang Feng dan Kaisar Cai Jin datang.
"Aku akan menyebarkan berita, " ucap Shang Feng.
"Baiklah aku akan menunggu disini, " balas Kaisar Ding Feng.
Shang Feng pergi meninggalkan kuil terbengkalai untuk menyebarkan berita.
"Kau akan pergi ke tanah terlarang? "tanya Kaisar Ding Feng.
" Tidak! Aku akan dimari bertarung melawanmu atas nama pangeran ke tujuh. Biarkan dia mencariku nanti meminta perlindungan, "jawab Kaisar Cai Jin.
" Kita akan menarik kabar kota suci? "tanya Kaisar Ding Feng.
" Tidak mungkin mereka berani datang kemari. Benua Hanleng memiliki kondisi khusus sama seperti benua Shengmingku, "jawab Kaisar Cai Jin.
" Sebarkan berita kemunculan segel giok guxue di ibukota, "ucap Shang Feng.
Kelima bawahannya menerima pesan transmisi udara menganggukkan kepalanya. Mereka melesat pergi meninggalkan kediaman masing-masing.
" An Ming! "panggil Shang Feng.
" Hamba disini, "balas An Ming menjawab panggilan.
" Pergilah sebarkan bahwa Kaisar Tu Lei dinasti Daxue tewas di istana! "perintah Shang Feng.
" Mengerti! "jawab An Ming segera melaksanakan tugasnya.
Shang Feng tersenyum puas. Rencananya adalah mengacaukan kekaisaran Daxue dari dalam.
" Biarkan aku melihat siapa yang akan mewakili kekaisaran. Tujuanku adalah membawa Qi Dao ke ibukota Baoxue, "ucap Shang Feng.
Ibukota heboh. Gerbang utama kedatangan beberapa orang. Fang Kueng dan Li Hua datang berdiri di atas gerbang ibukota.
" Kembalilah! Tak ada segel dinasti Guxue di mari!"ucap Fang Kueng kepada Kai Yuwen.
Pemanah senyap dunia beladiri terkenal dengan busur sunyi miliknya.
"Tak mungkin berita itu bohong! Semua telah mengetahui kebenarannya. Kekaisaran mengincar ibukota Baoxue! " ucap Kai Yuwen.
"Tapp! "
__ADS_1
Seorang wanita membawa kipas bulu putih ditangannya dengan senyuman manisnya. Wang Suyin. Pendekar kipas lembut. Tanah retak ketika seseorang terbang melewatinya. Dia melayang di udara.
Hempasan angin kuat menyertainya.
"Dimana Yuhang! Suruh dia keluar menghadapku!" ucap Shen Ping. Pendekar guntur kilat.
Fang Kueng maupun Li Hua saling memandang satu sama lain. Seseorang datang melayang berhadapan dengan Shen Ping. Dia adalah Nangong Yuhang.
"Bukan pihak kekaisaran yang memiliki segel Guxue. Pergilah ke kuil terbengkalai. Pemiliknya tengah menunggu kalian semua, " ucap Nangong Yuhang.
"Hmph! Jika kau berbohong kepadaku, akan aku bunuh! " balas Shen Ping pergi melesat menuju kuil terbengkalai.
"Kau datang kemari? " tanya Fang Kueng.
"Aku datang karena ibukota bisa saja runtuh. Yang Mulia Kaisar tewas! " jawab Nangong Yuhang.
"Apa! " ucap mereka terkejut.
"Aku mendengar kabar beberapa waktu yang lalu. Mengenai munculnya segel giok Guxue, aku tak begitu khawatir sebab orang-orang dunia beladiri pasti datang, masalah tewasnya Kaisar aku takut ibukota akan hancur," ucap Nangong Yuhang.
"Pangeran ke tujuh?! " ucap Li Hua.
"Menghilang berikut dengan putra mahkota. Istana kosong. Aku takut Jendral Jun Zhu datang setelah menerima kabar, " balas Nangong Yuhang.
"Tapi segel Guxue? " tanya Fang Kueng mengingatkan betapa pentingnya segel tersebut.
Nangong Yuhang terdiam sejenak.
"Aku akan mengeceknya nanti. Aku yakin ini adalah rencana, " ucap Nangong Yuhang.
Li Hua dan Fang Kueng menganggukkan kepalanya mengikuti Nangong Yuhang ke istana. Pasukan berjalan memenuhi jalanan ibukota. Nangong Yuhang menyipitkan kedua matanya.
"Benar-benar diluar kendali dan secepat ini? Apakah putra mahkota mengetahui kondisi sebenarnya? " batin Nangong Yuhang.
"Ayo! " ucap Nangong Yuhang.
Jendral Besar Jun Zhu mengendarai kuda memimpin pasukannya menuju istana.
"Dimana Yang Mulia! " teriaknya dengan lantang.
Pintu istana perlahan-lahan terbuka. Dua orang kasim keluar terlebih dahulu disusul dengan seorang pria paruh baya dengan wibawa kuatnya.
"Jendral Besar Jun Zhu, mengapa kau kemari membawa pasukanmu? " tanya Kanselir Li Jie.
"Dimana Yang Mulia Kaisar?! " ucap Jendral Besar Jun Zhu.
"Beliau tengah tak enak badan beristirahat di bawah pemantauan kepala tabib, " balas Kanselir Li Jie.
"Hmph! Kau berbohong! " ucap Jendral Besar Jun Zhu tak percaya akan ucapan Kanselir Li Jie.
"Tapp!!"
Nangong Yuhang, Fang Kueng dan Li Hua datang berdiri sejajar dengan Kanselir Li Jie.
"Mohon Jendral kembali, " ucap Nangong Yuhang menyatukan kedua tangannya
__ADS_1