
Huang Enlai tengah menyembuhkan Lian Xiang dengan mengalirkan tenaga dalam murni miliknya.
"Dua orang ranah dewa manusia awal memang merepotkan, " ucap Lian Xiang.
"Kau memang hebat. Aku yakin jika diriku telat saja semuanya akan binasa, " balas Huang Enlai.
"Yang Mulia pangeran membantuku, " ucap Lian Xiang.
"Semuanya sesuai rencana. Orang-orang yang memburumu telah aku binasakan. Seharusnya istana membawa surat pengadilan menuju kota perang sekarang, " ucap Huang Enlai.
"Aku tak bisa kembali ke istana jika identitasku telah tewas dimari, " balas Lian Xiang.
"Tenang saja. Sesuatu akan segera terjadi, " ucap Huang Enlai menghentikan penyaluran tenaga dalamnya.
Lian Xiang merasa baikan setelahnya. Aliran energi kembali berjalan lancar.
"Menumbalkanku dan mengabaikan perjanjian? Kaisar memang tak bisa dipercaya. Tapi dia tak akan bisa hidup lebih lama lagi, " ucap Lian Xiang dengan senyuman misteriusnya.
"Apa maksudmu? " tanya Huang Enlai.
"Hukuman surgawi Kaisar Feng Yu adalah karma dari surga. Kehendak dari seseorang yang disebut sebagai dewa menentangnya menjadi abadi. Aku merasakannya pada saat penyembuhan tubuh Kaisar dan aku yakin siapa itu. Dia adalah leluhur dinasti besar Tianwu. Kaisar Shang Yuan yang Agung, " jawab Lian Xiang.
Istana raja Ming Xing.
Kedatangan utusan dari kota Tianqi datang secara cepat. Raja Ming Xing menyambutnya di aula.
"Yang Mulia Kaisar mendengar bahwa tiga pendekar suci telah tewas. Utusan dari istana menghilang keberadannya. Kaisar ingin meminta pertanggungjawaban raja Ming Xing untuk menyerahkan plakat militer Xuanwu segera, " ucap utusan pengadilan istana.
Raja Ming Xing yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum meremehkan.
"Bunuh dia, " perintah kepada prajuritnya.
Utusan pengadilan istana meronta-ronta ketika ditahan oleh prajurit. Raja Ming Xing menginstruksikan untuk membunuhnya segera. Pedang di keluarkan dan ditusuk ke tubuh utusan istana tersebut. Raja Ming Xing beranjak berdiri dari kursi kebesarannya berjalan menuju ke luar istana. Halaman istana besar mencakup puluhan ribu pasukan bersiap dengan senjata lengkap.
__ADS_1
"Waktunya kita bangkit! Akulah yang seharusnya menduduki takhta Kaisar itu! Dekrit mendiang Kaisar tertera atas namaku! " teriak Raja Ming Xing.
Seluruh prajurit berseru serempak mendengar ucapan Raja Ming Xing. Puluhan tahun mereka telah terdoktrin akan ucapan raja Ming Xing. Senyuman puas terlihat jelas di wajah raja Ming Xing.
Kota Tianqi kediaman Lei.
Jendral Lei Zixin tengah menerima laporan dari kota perang.
"Sekarang waktunya, " Gumam Jendral Lei Zixin.
Jendral Lei Zixin mengangkat plakat militer kediaman Lei berseru kepada pasukannya untuk segera memanggil rekan-rekan untuk datang ke kota Tianqi melalui jalur sungai Qingche. Semuanya menganggukkan perintah. Beberapa pasukan dari mereka pergi ke post informan kediaman memberitahukan melalui surat untuk segera mengamankan jalur sungai Qingche.
Jendral Lei Zixin tersenyum bangga ketika pasukan kediaman Lei bergerak menuju gerbang barat.
"Seluruh pasukan harus mentaatiku! " ucap Jendral Lei Zixin.
Gerombolan pasukan melewati sungai mengendarai kuda dengan gagahnya. Sungai dalam keadaan surut membuat mereka menempuh jalur tercepat menuju danau mistik sebelum sampai ke jalur sungai Qingche. Pasukan terhenti berikut dengan raja Ming Xing ketika melihat seorang wanita berdiri di atas air.
"Ratu Xi! Lebih baik kau menyingkir atau ikut bekerjasama denganku! " teriak raja Ming Xing.
"Heh! Siapa yang berani menghancurkan kota perangku! Raja Lu bahkan tak berani menunjukkan dirinya kemari,"balas raja Ming Xing.
"Baiklah kalau raja Ming berkata seperti itu, " ucap ratu Xi Shi mengadahkan tangannya. Beberapa saat kemudian pedang datang tepat dalam genggamannya.
"Aku ingin mencoba apakah pedang air milikku ini mampu memukul mundur raja Ming atau tidak, " ucap ratu Xi Shi.
Raja Ming Xing mengamati pedang yang ada di tangan ratu Xi Shi. Pedang berukuran sedang dengan ganggang menawan serta elegan. Dia tahu pedang itu mampu melukai tiga pendekar suci yang berada tahap setengah alam dewa manusia yang setara dengan alam dewa manusia puncak.
"Biarkan hamba yang melawannya, " ucap He Lei.
Raja Ming Xing menganggukkan kepalanya. Dia mengeluarkan pedang miliknya menatap tajam ke arah ratu Xi Shi. Gelombang ombak tercipta dari tebasan pedang air. He Lei menancapkan pedangnya ke tanah menghalau ombak tersebut mengenai pasukan.
"Byurrrrr!! "
__ADS_1
Ratu Xi Shi melompat di udara disusul dengan He Lei melakukan hal yang sama. Mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Tebas! " ucap ratu Xi Shi disusul dengan bilah air raksasa bergerak maju. He Lei mengangkat pedangnya mengayunkan dengan gerakan menebasnya.
"Blarrrr!!! "
He Lei melemparkan pedangnya ke langit membuat pedangnya membelah diri hingga ribuan melayang di udara. Ratu Xi Shi melambaikan tangannya membuat pedang air miliknya menghilang. Kedua tanganganya terlentang menggerakkan danau mistik hingga berubah menjadi gelombang ombak. Ribuan pedang turun berikut dengan gelombang ombak ratu Xi Shi yang menahannya.
"Bommmm!! "
Tabrakan terjadi menyebabkan hempasan kekuatan hebat. Raja Ming Xing memanfaatkan kesempatan tersebut memimpin pasukan bergerak menjauhi area pertarungan. Ratu Xi Shi melihat raja Ming Xing memimpin pasukannya pergi membuat gerakan tangan hingha naga air muncul menghadangnya. Sebuah tombak melesat menghancurkan naga air tersebut menyerang ratu Xi Shi.
"Apa! " ucap ratu Xi Shi terkejut tak sempat menghindari tombak tersebut.
"Byurrrr!!!"
Gelombang air menyapu seluruh daratan pinggiran hingga membuat He Lei mundur. Pangeran Shang Feng datang dengan jubah biru lautnya mendarat di atas permukaan air.
"Siapa? " tanya Raja Ming Xing ketika merasakan aura penekanan kuat.
"Tak perlu tahu siapa aku. Jika raja Ming ingin pergi melalui sungai Qingche silahkan saja pergi, namun jangan salahkan aku ataupun ratu Xi jika seseorang mencegatnya. Dan jangan salahkan aku bila kota perang hancur karena ratu Xi telah mengingatkannya, " ucap pangeran Shang Feng.
"Kau! " Marah raja Ming Xing melompat melayang di atas permukaan air.
"Aku memegang plakat Xuanwu! Satu juta pasukan siap perang denganku! " ucap raja Ming Xing bangga.
"Hanya plakat Xuanmu membuatmu bangga seperti mendaki langit. Kota perang memang layak dihukum! " bentak pangeran Shang Feng mengeluarkan tekanan hebat menghempaskan angin hingga menimbulkan raungan hebat dari dasar danau. Matanya menyipit melihat raja Ming Xing.
"Pergi! " ucap pangeran Shang Feng.
Tangan raja Ming Xing bergetar hingga ia memerintahkan pasukannya untuk segera naik ke kapal menuju sungai Qingche. Pangeran Shang Feng menghampiri ratu Xi Shi.
"Kau tak apa-apa? Luka pertarunganmu dulu belum pulih,"ucap pangeran Shang Feng.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku tak menggunakan teknik pedang air sepenuhnya. Kita akan kemana?" ucap ratu Xi Shi.
"Aku sudah memerintahkan mereka untuk berada dalam posisi masing-masing. Sekarang aku ingin bertemu musuh penghalangku, " balas pangeran Shang Feng.