
Malam hari di halaman barat kediaman An Ming.
Suasana sunyi dimana hanya kediaman An Ming yang tak terlalu mencolok dibandingkan lainnya. Dia memilih sendiri kediamannya. An Ming duduk dengan jendela terbuka lebar serta ia tengah memanaskan cangkir teh. Kepulan asap teh menghangatkan tubuhnya secara samar.
"Teknik pedang manusia? " gumam An Ming mengingat pertarungannya dengan Nangong Yuxuan.
Hembusan angin membuat pohon-pohon begerak secara bersamaan. An Ming terhenyak hingga ia berniat mengambil pedangnya sebelum pedang seseorang berada di lehernya. Dia terkejut akan kecepatan serta keberanian seseorang menyerang dirinya.
"Siapa! " bentak An Ming berusaha lepas dari cengkraman orang tersebut.
"Kau harus mati agar tak menimbulkan masalah! "
"Apakah seperti itu? " tanya Qin Li mengayunkan pedangnya membuat orang tersebut berputar di udara. Lian Xiang menembakkan beberapa jarum akupuntur dan berhasil mengenai beberapa.
"Pergi! " ucap Huang Enlai menampar udara membuat angin berhembus meninju orang tersebut hingga keluar ruangan.
Mereka segera menyusul di atap begitupun dengan An Ming.
"Pergilah! " perintah Qin Li.
"Kau hanya seorang bocah yang tak mengetahui ketinggian langit! " ucapnya dengan marah mengusap pedang melesat menyerang Qin Li. Mereka berdua bertukar beberapa jurus. Qin Li mampu menandingi orang tersebut.
Suara alunan melodi terdengar begitu halus. Orang misterius tersebut terdiam sejenak seakan terhipnotis.
"Mimpi Abadi Sang Dewi! " ucap Xie Hua setelah kedatangannya.
Kobaran api menerangi gelapnya malam. Tubuh Huo Xiang dipenuhi oleh api
"Teknik pembakaran langit! " ucap Huo Xiang memerintahkan api ilahinya melesat ke arah orang misterius tersebut. Sesaat dia menyadari dan membuat perlindungan.
"Bommmm!!! "
Kepulan asap mengaburkan pemadangan. Dia melesat dengan kecepatan tinggi mengincar An Ming.
"Trangg!! "
Suara dentingan benda tajam terdengar.
"Pergi! " perintah seseorang.
"Kau! " ucapnya dengan marah ketika melihat kedatangan orang yang menghadang penyerangan kecepatannya.
"Bukankah Tetua Agung begitu percaya diri menyerang perwakilan kota Haifeng? " tanya Shang Feng.
Dia mendarat di tengah-tengah bangsawan Tianwu yang berada dalam posisi siap menyerang.
"Apa yang ingin kau cari? " tanya Tetua Agung.
"Aku tak mengatakannya seharuanya Tetua tahu," jawab Shang Feng.
Tetua Agung menggenggam erat pedangnya bersiap untuk bertarung. Dia melesat berlari di udara.
__ADS_1
"Hukum kehampaan! " ucap Shang Feng.
Sesuatu energi misterius merubah semuanya menjadi hitam. Kelima bangsawan Tianwu telah siap berdiri sejajar dengan Shang Feng.
"Pergi! " perintahnya.
"Baik laksanakan! " ucap mereka serempak melesat ke arah Tetua Agung berdiri mengelilinginya. Mereka membuat segel tangan secara bersama-sama.
"Lima elemen pelebur semesta menciptakan segalanya. Gunakan jiwa kami sebagai wadah sang dewa agung!"ucap mereka serempak menyatukan kedua tangannya. Gabungan energi mereka membentuk wujud spiritual suci dewa Zhen Liang.
Tetua Agung tercengang akan energi besar yang dikumpulkan. Dia mengusap pedangnya kemudian ia angkat ke atas. Energi qi bergabung dengan pedang yang ia miliki.
"Pedang penakluk! " ucap Tetua Agung.
Telapak tangan dewa Zhen Liang terbuka menghantam wujud pedang Tetua Agung. Dua kekuatan bertabrakan menyebabkan ledakan energi. Bangsawan Tianwu membuat segel tangan kembali.
"Teknik penyegelan lima elemen! " ucap mereka serempak. Telapak tangan dewa Zhen Liang menekan pedang hingga hancur kemudian diantara kedua alisnya keluar cahaya lima warna melesat ke arah Tetua Agung membuat pengurungan secara menyeluruh.
"Segel! "
Tetua Agung berada dalam kurungan lima elemen dimana ia tak bisa menggunakan energi qi nya.
"Energi langit dan bumi tak ada sedangkan energi qi ku tak bisa digunakan. Penjara ini terlalu kuat, " batin Tetua Agung.
Dia memejamkan kedua matanya dan perubahan terjadi pada dantiannya. Energi qi nya seperti api yang berkobar secara tiba-tiba. Shang Feng mengangkat lengan dan membuka telapak tangannya. Energi miliknya keluar mengalir seperti sungai mengelilingi mereka berlima. Shang Feng seperti tengah menahan sesuatu.
"Gunakan teknik yang sama dengan energi masing-masing! " perintah Shang Feng.
"Gunakan jiwa sebagai penuntun energi suci menjadi wujud sejati! " ucap mereka serempak.
Tubuh mereka masing-masing diselimuti cahaya melesat ke atas dengan wujud spiritual dari entitas suci memadat. Mereka menggabungkan telapak tangan memejamkan matanya.
"Lima dewa turun melindungi umat manusia melaksanakan tugas suci dari sang tertinggi! Teknik Penyegelan langit dan bumi! " ucap mereka serempak.
Wujud spirutual raksasa mereka mengelilingi Tetua Agung menekannya menggunakanan energi suci memblokir segalanya. Tetua Agung pantang menyerah. Dia membakar darahnya sebagai energi.
"Teknik pedang penakluk! " teriak Tetua Agung.
Dua kekuatan bertabrakan dengan hebat. Shang Feng terlihat terengah-engah. Dia begitu terpukau melihat pemandangan lima wujud spiritual lima dewa pelindung umat manusia. Dia mengingat nama-nama kelima dewa tersebut.
"Kong Yizhen, Zhen Liang, Tan Dao, Xiang Meng, dan Shu Mi. Lima dewa pelindung umat manusia!" ucap Shang Feng dengan lantang.
"Hiaakkkkkk!!!! " teriak mereka serempak.
Perlahan-lahan retakan pedang Tetua Agung terlihat hingga ia menerima hantaman kekuatan dahsyat membuatnya memuntahkan seteguk darah segar.
"Ribuan jarum musim gugur! " ucap Lian Xiang.
Ribuan jarum turun menghujani Tetua Agung hingga membuatnya tercengang tak mampu begerak sama sekali.
"Apa!! " teriaknya dengan terkejut dan menutup kedua matanya.
__ADS_1
"Tetua Agung! " panggil seseorang.
Tetua Agung terhenyak membuka kedua matanya terkejut melihat An Ming berdiri di depannya.
"Apa yang terjadi! " ucap Tetua Agung seperti orang linglung.
An Ming membantu Tetua Agung berdiri. Dia tak menunjukkan ekspresi tertawa ataupun sebagainya.
"Aku hanya tak fokus saja, " ucap Tetua Agung merubah ekspresi kembali seperti wibawa sebelumnya.
"Murid mengerti, " balas An Ming.
Tetua Agung berbalik pergi meninggalkan kediaman An Ming.
"Dia seperti orang bodoh, " ucap Shang Feng.
Mereka semua muncul di atap kediaman. An Ming melihat bayangan mereka dari bawah merasa takjub. Dia terbang menuju atap setelah mendapatkan instruksi dari Shang Feng.
"Berlatihlah hingga kau bisa melampaui kakekmu sendiri,"ucap Shang Feng menepuk-nepuk pundak An Ming.
"Mengerti! " balas An Ming memberi tanda hormat.
"Kalian awasi tempat ini dari kediaman masing-masing karena aku ingin menemui seseorang! " perintah Shang Feng.
"Baik laksanakan! " ucap mereka serempak menghilang bersama dengan Shang Feng.
An Ming berbalik melihat kepergian mereka dimana ia kagum. Seseorang melihat An Ming dari balik kegelapan.
"Benar dugaanku, " gumam orang tersebut.
"Dugaan bahwa dia adalah cucu pendekar angin salju?"tanya Shang Feng.
"Siapa! "
Shang Feng mendarat di tanah. Dia berbalik hingga membuat orang tersebut terkejut.
"Kau...!!"
"Ya! Aku Shang Feng. Apakah Tetua Jian Yi, " ucap Shang Feng.
Tetua Jian Yi menormalkan kembali keterkejutannya.
"Kau dari halaman timur mengapa malam-malam kesini?"tanya Tetua Jian Yi.
"Junior hanya ingin menemui Dia berbincang-bincang sesuatu, " jawab Shang Feng.
"Baiklah segeralah kau kembali. Aku ingin pergi, " balas Tetua Jian Yi.
"Apakah Tetua tak ingun berbincang-bincang dengan junior ini? " tanya Shang Feng
"Tidak. Sudah larut malam aku ingin beristirahat, " jawab Tetua Jian Yi.
__ADS_1