
Alam kesadaran Huang Enlai.
Berbagai kekacauan terjadi dimana-mana hingga alam pun rusak. Lima orang bergerak dengan kecepatan tinggi ke sana ke mari dan menghampiri Huang Enlai yang berdiri di atas bukit.
"Siapa? " tanya Huang Enlai.
"Aku seorang dewa yang memiliki lima elemen langsung. Perkenalkan aku dewa Xiang Meng, "
"Junior memberi hormat, " balas Huang Enlai.
"Sudahlah. Aku tak berapi-api seperti Tan Dao. Namun aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, " ucap Xiang Meng membelah dirinya hingga berjumlah empat lima beserta dirinya sendiri.
"Kita pergi! "
"Tunggu! "
"Aku tak bisa mengikuti Anda. Tubuhku hanya satu dan aku bukanlah dewa, " ucap Huang Enlai.
"Jika kau tak bisa melakukannya maka kau harus mati, " balas Xiang Meng mengulurkan tangannya menciptakan formasi di atas kepala Huang Enlai.
"Kau memiliki kitab menyatu dengan alam milikku yang berarti kau berada dimana-mana karena dunia ini diciptakan dari lima elemen"
Huang Enlai mendongakkan kepalanya. Dia mengeluarkan tombak miliknya bersiap untuk bertarung.
"Junior tak bisa melakukannya maka dengan berat hati harus mempertahankan nyawa, " ucap Huang Enlai.
"Baik! Kau yang memilihnya sendiri, " balas Xiang Meng.
Gelombang air raksasa muncul bergerak kemudian menghantam bukit hingga membuat getaran. Naga air keluar menelan tubuh Huang Enlai. Dia menahan arus air kuat menggunakan tombaknya. Nafasnya semakin pendek menahan tekanan kuat.
"Boommmm!! "
Huang Enlai menghantam gunung kemudian jatuh dari ketinggian. Dari dalam tanah muncul naga batu membuka mulutnya bersiap menelannya. Tombak ia lemparkan tepat ketika naga batu hendak menelannya.
"Hancurrr!!" teriak Huang Enlai terpental akibat ledakan. Dia melayang di udara dengan tombak kembali dalam genggamannya.
Huang Enlai terdorong oleh sesuatu tak terlihat. Pakaiannya robek di beberapa bagian akibat tekanan angin kuat.
"Booommm!! "
__ADS_1
Huang Enlai jatuh menghantam tanah hingga membuat lubang besar. Dia terbatuk-batuk. Beberapa tulangnya patah. Suara benda bergerak di atas tanah menyadarkannya. Dia telah terikat oleh tanaman rambat. Tubuhnya terikat tertanam di dalam tanah. Cairan kental berwarna perak muncul hingga menutupi beberapa bagian tubuhnya. Huang Enlai berusaha lepas dari jeratan tanaman rambat. Angin kencang menghantam tubuhnya memaksanya untuk tetap tidur. Perlahan-lahan kobaran api membentuk seekor naga muncul bersiap untuk membunuh Huang Enlai. Dia mengulurkan tangan berusaha meraih tombak tepat disampingnya.
"Aku tak boleh mati. Meskipun Dia adalah dewa tapi aku berhak untuk hidup! " ucap Huang Enlai.
Bebatuan disekitar terangkat dan bergabung dengan naga api hingga mengubah wujudnya yang dipenuhi oleh lava panas.
"Sreettt...!! Sreeetttt!!! "
Selendang biru muncul dari berbagai arah mengikat naga lava hingga tertahan di udara. Raungan menggema dari sang naga membuat siapapun seketika tuli. Suara keras yang mampu meluluh-lantahkan sekitar hanya dengan gelombang suara berpadu dengan angin. Tanah bergetar dibuatnya. Xiang Meng mengrenyitkan dahinya bingung.
"Siapa yang bisa memasuki alam mimpi semudah ini, " gumamnya sembari melamun.
"Hancurkan itu secepatnya. Tak peduli menggunakan senjata atau tidak. Jangan pernah takut! " ucap suara misterius di dalam benak Huang Enlai.
Dia terkejut tetapi segera membulatkan tekad bahwa dia bisa melakukannya. Huang Enlai membayangkan pedang raksasa yang memiliki daya hancur kuat berada di depannya. Dia berusaha mewujudkan materi yang ada di dalam pikirannya. Energi besar berkumpul dari berbagai arah yang perlahan-lahan memadat dan membentuk wujud pedang raksasa. Naga meraung dengan kerasnya. Selendang biru perlahan-lahan mengendur akibat api yang menjalar. Huang Enlai membuka matanya. Tatapannya tajam.
"Pedang lima elemen pencipta semesta! " teriak Huang Enlai.
Pedang raksasa melesat bersamaan dengan naga yang berhasil lepas dari jerat selendang biru.
"Booommmm!!! "
"Hancurkan untukku, " perintah Xiang Meng.
Kelima naga melesat ke arah Huang Enlai. Dia tercengang tak bisa bereaksi. Tubuhnya seakan membeku dibuatnya.
"Booommm!!"
Ledakan terjadi begitu kuat. Selendang biru melayang di pundak seorang wanita. Huang Enlai tak mengetahui siapa dia.
"Kau? " ucap Xiang Meng.
"Aku ingin Anda memberikan warisan tubuh dewa kepadanya bukan untuk membunuh, " ucap Permaisuri Dai Yu.
"Aku tahu itu adalah kau. Tapi seperti Tan Dao. Mereka harua mengawal putra surga kembali ke surga siapapun dia yang menang haruslah menjadi Tuannya, " balas Xiang Meng.
"Aku tahu. Kesempatan inilah yang membuat Anda memasuki mimpi melalui jalan jiwa agung gunung suci. Namun aku akan bertaruh bahwasannya dia akan tetap setia kepada Tuannya saat ini apapun yang terjadi, " ucap Permaisuri Dai Yu.
"Bertaruh melawan takdir? Aku saja kalah, " ucap Xiang Meng.
__ADS_1
"Aku tak pernah salah dalam memilih. Gelar dewi pun tak aku sandang dan tak pernah merasa menyesal, " ucap Permaisuri Dai Yu.
"Baik! Karena kita sama-sama berasal dari alam dewa maka aku menghargaimu sebagai salah satu dewa istana Xingye, " balas Xiang Meng.
Tubuh Huang Enlai melayang di udara dan unsur lima elemen masuk ke dalam tubuhnya. Perasaan sakit luar biasa ia rasakan. Perubahan tubuh fana menjadi surgawi memiliki efek samping menyakitkan tiada tara.
"Dia memiliki tubuh lima elemen. Namun aku bisa merasakan seseorang memiliki tubuh dewa yang sama, " ucap Xiang Meng.
"Biarkan takdir yang mengungkapkan siapa pemilik tubuh dewa lainnya, " balas Permaisuri Dai Yu.
"Aku tahu. Kau meramalkan masa depan dengan tepat. Namun apakah kau bisa meluruskan benang kusut diantara aku, Shu Mi dan Zhen Liang dan bahkan lainnya?" tanya Xiang Meng.
"Cinta? Mungkin aku memerlukan bantuan dewa Tao Li," jawab Permaisuri Dai Yu.
"Memangnya kau bisa memasuki alam dewa kembali? Meminta bantuan Tao Li, sungguh lucu," balas Xiang Meng.
"Maksud Anda dewa cinta dan jodoh Tao Li gagal menyatukan benang merah? " tanya Permaisuri Dai Yu.
"Benar. Sangat benar. Bagaimana tidak, dia menyatukan benang merah Shu Mi kepada Zhen Liang, " jawab Xiang Meng.
"Anda cemburu? Ingatlah bahwa karena pertempuran itu hampir memusnahkan alam manusia. Seluruh dunia diambang kehancuran. Langit seakan runtuh, " balas Permaisuri Dai Yu.
"Heh! Aku benci karena Zhen Liang dengan patuhnya untuk tetap tinggal di alam manusia mengikuti titah suci. Namun ada satu hal yang tak bisa aku temukan alasannya, " ucap Xiang Meng.
"Apa itu? " tanya Permaisuri Dai Yu.
"Asal-usul jurang tak berujung, " jawab Xiang Meng.
Permaisuri Dai Yu terdiam dibuatnya. Perkataan Xiang Meng ada benarnya.
"Baiklah! Pikirkan kembali caramu naik ke alam dewa lagi. Ingatlah bahwa kau adalah dewi mimpi Dai Yu salah satu dari dewa istana Xingye, " ucap Xiang Meng
"Tentu saja ada cara lain untuk kembali memasuki alam dewa. Baiklah! Karena aku diminta dia untuk membantu menyadarkan dari mimpi buruk maka aku akan melaksanakan permintaannya, " ucap Permaisuri Dai Yu.
"Aku ingin melihat siapa yang memengkan taruhan ini, " ucap Xiang Meng menghilang perlahan-lahan.
Permaisuri Dai Yu mendarat di tanah menyentuh kening Huang Enlai.
"Kembalilah. Kau berhutang kepadaku sama seperti lainnya, " ucap Permaisuri Dai Yu tertawa pelan melambaikan tangannya membuat tubuh Huang Enlai menghilang.
__ADS_1