
Formasi besar tercipta di langit yang bahkan mampu mencakup sembilan altar sekaligus. Kekuatannya meningkat dari waktu ke waktu menyerap energi semesta ke dalamnya. Huo Xiang dan Lian Xiang saling memandang menganggukkan kepalanya. Huo Xiang melemparkan cakram api di langit membuat nyala terang membara. "Teknik Kobaran Cakram Api! " ucap Huo Xiang. Lian Xiang mengangkat lengannya ke atas disusul dengan ribuan jarum keluar dari celah lengannya berputar mengelilingi cakram api sebelum bergabung sepenuhnya. Setiap jarum memiliki jejak api ilahi membuat kedua api saling bergabung. "Teknik Ribuan Jarum Kematian! " ucap Lian Xiang.
Mereka berdua membuat segel tangan secara bersamaan. "Teknik Cakram Api Kematian! " ucap mereka serempak. Cakram api membesar melesat ke segala arah secara cepat menyerang musuh-musuh tanpa melukai lebih fatal. Cakram api berada dalam formasi membesar kemudian menembakkan api surgawi ke bawah membuat nyala kobaran api terlihat membara. Xie Hua melambaikan tangannya membuat guqin giok muncul. Segera ia memainkan melodi melupakan dunia miliknya. Teknik Mimpi Abadi Sang Dewi ia mainkan. Semua orang seperti tersihir dibuatnya terlena mendengarkan melodi indah Xie Hua tanpa tahu sekeliling mereka tengah terbakar.
"Tuan... " ucap Tetua Agung.
"Tahan Naga Es itu jika nanti terjadi kekacauan. Dia tak bergerak sama sekali namun bawahannya mampu menggunakan teknik kombinasi luar biasa yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Formasi itu adalah kunci,"ucap Dekan Akademi.
"Mengerti! " balas Tetua Agung menyenderkan punggungnya kembali.
Dekan Akademi termenung dibuatnya. Shang Feng berdiri menatap putri ketiga yang memiliki kesadaran penuh. Ia menggunakan cahaya kubus hexagonal untuk menyadarkan Nangong Yuxuan.
"Apa ini! Mengapa begitu mengerikan! " ucap Nangong Yuxuan terkejut.
"Mereka yang membuat semua ini, " ucap putri ketiga menunjuk kelima pengawal Shang Feng.
Raungan naga es menyadarkan mereka berdua hingga membuat mereka berlari menghindari serangan ekornya.
"Bagaimana? Apakah tetap ingin menyerangku? " ucap Shang Feng.
"Tentu! Aku tak akan kalah semudah itu! " jawab Nangong Yuxuan meledakkan energi qi miliknya mengusap pedang mengangkatnya ke langit. Putri ketiga menyalurkan energi qi ke dalam kubus hexagonal membuat beberapa perubahan bentuk.
"Teknik sembilan pedang abadi! " ucap Nangong Yuxuan memunculkan sembilan pedang raksasa dibelakangnya.
Cahaya emas menguar dari kubus hexagonal membantuk bunga teratai emas raksasa yang mekar dengan sempurna.
"Teratai emas suci! " ucap putri ketiga.
Serangan mereka berdua melesat menuju formasi. Shang Feng membuat segel tangan mengangkat tangannya ke langit. "Sembilan naga menembus surga,"gumamnya lirih.
Raungan naga mengggema dengan keras disusul dengan sembilan naga muncul meliuk-liuk melesat menghantam satu persatu pedang Nangong Yuxuan. Huang Enlai dan Qin Li membiat segel tangan berikut dengan pedang raksasa dengan kekuatan alam semesta tercipta dari formasi menahan teratai emas putri ketiga. Pertarungan mereka telah melebihi perkiraaan. Tetua Agung telah meninggalkan kursinya muncul mencegah naga es menyerang Nangong Yuxuan dari belakang.
"Boommm!! "
Serangan naga es berhasil di tahan tepat waktu. Tetua Agung benar-benar takjub akan tiga elemen bersatu dalam tubuh.
"Hancur! " perintah Shang Feng.
Retakan terdengar sesaat sebelum serangan dari pihak Shang Feng melesat ke bawah. Ledakan besar terjadi hingga mendorong Tetua Agung. Asap mengepul dan membumbung tinggi.
"Aku mengakui kekuatanmu. Tapi ini hanyalah tes masuk murid halaman luar. Bukan pertarungan sesungguhnya,"ucap Dekan Akademi berdiri di depan Nangong Yuxuan dan putri ketiga yang telah bersiap untuk mati. Mereka membuka kedua matanya ketika mendengar suara tak asing.
"Hormat kepada Dekan Akademi Song Bojing, " ucap Shang Feng menurunkan nada bicaranya pada saat menyebutkan nama dekan Akademi.
"Siapa namamu? " tanya Dekan Akademi.
__ADS_1
"Shang Feng! "
Dekan Akademi melihat lima orang dibelakang Shang Feng.
"Huang Enlai! "
"Mu Lian Xiang! "
"Ye Qin Li! "
"Huo Xiang! "
"Xie Hua Jing! "
Dekan Akademi menganggukkan kepalanya. Dia melihat kembali Shang Feng yang perlahan mendarat di tanah.
"Mengapa Dekan turun tangan? " tanya Shang Feng.
"Serangan kombinasi kalian mempengaruhi langit dan bumi. Mereka berdua tentu saja tak akan bisa menanggungnya, " jawab Dekan Akademi.
"Tapi.. Sembilan altar perlu diperebutkan, " balas Shang Feng.
Mendengar hal tersebut, kelima pengawalnya melesat ke lima altar menempatinya menggeser peserta lain dengan memberikan serangan telak dalam sekejap.
"Temanku ingin bertarung dengan mereka berdua memperebutkan altar, " balas Shang Feng.
An Ming maju beberapa langkah ke depan. Dekan Akademi menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menyetujuinya, " balas Dekan Akademi.
Shang Feng melambaikan tangannya membuat naga es meleleh kemudian menghilang. Dia berdiri di atas altar dengan tottem naga. Enam altar telah terisi.
Formasi transparan tercipta sebelum bersatu dengan alam. Dekan Akademi dan Tetua Agung kembali.
"Bocah bernama Shang Feng itu menarik. Mengetahui potensi kelompoknya begitu unggul namun tetap memikirkan jangka panjang, " ucap Dekan Akademi.
"Benar. Memberi wajah pada semua orang, " balas Tetua Agung.
"Gunakan 20 jurus teknik pedang angin salju atau kau akan kalah, " ucap Shang Feng melalui transmisi suara.
"Mengerti! " jawab An Ming.
Nangong Yuxuan dan putri ketiga menatap dengan serius An Ming. Mereka telah mengeluarkan senjata masing-masing.
"Serang! " ucap Nangong Yuxuan berlari dan muncul di hadapan An Ming mengayunkan pedangnya.
__ADS_1
"Trangg!!! "
An Ming menahan serangan pedang tersebut mendorong Nangong Yuxuan untuk menjauh. Rantai emas datang mengejar membuat An Ming berlari berguling-guling menghindari kejaran rantai emas.
"Mati! " ucap Nangong Yuxuan muncul dari atas bersiap menendang kepala An Ming.
"Bommm!! "
An Ming berhasil menghindar pada waktu yang tepat. Dia datang dan langsung menyerang Nangong Yuxuan. Mereka baradu seni beladiri pedang dingin. Suara dentingan pedang beradu. Hawa dingin menyapu altar membuat sesekali kepingan salju turun.
"Jurus kelima: Ayunan Angin! " ucap An Ming mengayunkan pedangnya. Bilah pedang datang secara cepat.
"Boommm!!! "
Ledakan terjadi begitu hebat. Cahaya emas melindungi Nangong Yuxuan yang merupakan kekuatan dari kubus hexagonal. An Ming melihat putri ketiga tengah melakukan penyatuan dengan kubus hexagonal.
"Tak bisa dibiarkan! " ucap An Ming melesat ke arah putri ketiga.
Nangong Yuxuan datang menghadang niatan An Ming.
"Kau terlemah bukan? " ucap Nangong Yuxuan mengejek An Ming dengan kata-kata sarkastiknya.
"Tidak peduli aku yang terlemah atau bukan tapi, aku ingin mengalahkanmu! " ucap An Ming mengangkat pedang ke langit. Hawa dingin berkumpul tersedot ke dalam pedangnya.
"Jurus kesepuluh: Badai Angin Salju!" ucap An Ming mengayunkan pedangnya. Angin tornado perlahan-lahan tercipta dari hawa dingin yang ia kumpulkan bergerak ke arah Nangong Yuxuan dan menelannya. Angin tornado membumbung tinggi ke langit.
An Ming sedikit kelelahan. Batasannya telah terlihat jelas. Dia melepaskan pedang dingin membuatnya melayang di udara. Segel tangan ia lakukan dengan cepat.
"Jurus ketiga belas: Teknik Hujan Pedang! " ucap An Ming memerintahkan ribuan pedang turun. Hujan pedang es datang secara beruntun menyebabkan beberapa bagian altar berubah menjadi es. Hujan pedang berfokus pada titik mata badai tornado.
"Hancur! " ucap An Ming meledakkan tornado membuat hempasan angin kuat menyapu sekitarnya. Dia terengah-engah setelahnya perlahan-lahan mendarat. Kepulan debu membuat tidak jelas siapa pemenangnya.
"Apakah segini teknikmu? " ucap putri ketiga.
An Ming terkejut hingga ia mendongakkan kepalanya. Putri ketiga memiliki wujud seperti seorang dewi dengan balutan emas pada pakaiannya. Nangong Yuxuan meletakkan pedang di pundaknya. Perubahan signifikan terjadi pada pedangnya seakan kekuatan besar telah dilepaskan.
"Menarik, " ucap Dekan Akademi menyunggingkan senyum.
Rantai datang dari berbagai arah mengikat tubuh An Ming dengan erat. Kekuatannya dipaksa untuk keluar. Teriakan kesakitan terdengar keras dari mulut An Ming. Dekan Akademi melihat Shang Feng yang memiliki ekspresi tenang tak terganggu sama sekali seakan memiliki keyakinan dengan An Ming. Ikatan rantai semakin erat menjerat An Ming.
"Rantai ini seperti menyerap kekuatan layaknya daun willow, " ucap An Ming.
Nangong Yuxuan mendecih ketika melihat kekalahan telak An Ming.
"Semakin kau berusaha semakin erat ikatan itu! " ucap Nangong Yuxuan.
__ADS_1