Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Dendam Lama Selesai


__ADS_3

Pedang muncul ditangan An Bingwen. Kilauan es bening memantulkan cahaya cantik.


"Aku menunggu pertarungan menentukan ini! " balas Dekan Akademi mengeluarkan pedang yang ia ciptakan.


"Kau akan mati dan musnah! "ucapnya mengayunkan pedang bersamaan dengan gelombang raksasa bergerak ke arah An Bingwen.


" Medan air dingin memang benar-benar menguntungkanmu, "ucap An Bingwen balas An Bingwen mengayunkan tangan membuat pedang tertancap menciptakan dinding es menghalangi gelombang air. Dekan Akademi datang dari atas mengacungkan pedangnya. An Bingwen menyambut serangan pedang menggunakan tangan kosong. Tubuh tua tak menghalanginya untuk menyerah.


Lambaian tangan An Bingwen membuat pedangnya ikut serta dalam pertarungannya.


"Amarah samudera! " ucap Dekan Akademi.


Tanah perlahan-lahan retak mengeluarkan gelombang air raksasa.


"Pedang manusia! " ucap An Bingwen melesat mengacungkan jari telunjuknya bertabrakan dengan ujung pedang.


"Kau tak bisa mengendalikan pedang dan tubuhmu sendiri, " ucap Dekan Akademi meremehkan.


"Kau terlalu meremehkanku. Aku belum mengeluarkan 31 jurus pedang angin salju, " balas An Bingwen menggerakkan jari telunjuk kirinya memerintahkan pedangnya untuk menarik hawa dingin membuat formasi perlindungan.


"Pemisahan jiwa! " ucap Dekan Akademi terkejut.


"Byuurrrrr!!! "


Gelombang ombak besar menenggelamkan pedang An Bingwen.


"Beku! " perintah An Bingwen.


Hawa dingin menguar dari dalam pedang membekukan segalanya. Pedang melesat keluar berada di tangan An Bingwen.


"Boommmm!! "


Es perlahan-lahan terangkat membentuk pedang lancip mengelilingi An Bingwen.


"Pedang beku hujan salju! " ucap An Bingwen.


Hujan salju tiba-tiba turun. Pedang melesat secara beruntun ke arah Dekan Akademi.


"Tranggg...!!! "


"Trangggg...!!! "


"Tranggg...!!! "


Dekan Akademi memotong satu per satu pedang es. Hujan salju memiliki jejak qi kuat dari An Bingwen. Dekan Akademi merentangkan kedua tangannya membuat tanah bergetar dan air melayang melindungi dirinya. Hujan salju sekeras batu. An Bingwen melompat ke udara dan terjun tepat menghantam perlindungan air Dekan Akademi.


"Byuurrrr!! "


Hempasan angin kuat membuat air tercerai berai. Dekan Akademi menerima tekanan kuat.


"Tekan! " ucap An Bingwen.


"Pilar air kehidupan! " ucap Dekan Akademi.


Empat pilar air muncul membantu Dekan Akademi.


"Padatkan untukku!" ucap An Bingwen.

__ADS_1


Hawa dingin dari benua Hanleng menyelimuti pedangnya menciptakan energi dingin ekstrem. Air perlahan-lahan beku. Retakan terjadi. An Bingwen mendorong pedangnya hingga es pecah mendorong tubuh Dekan Akademi menusuk pinggangnya. Darah merembes membasahi pakaiannya.


"Boommm!! "


Dekan Akademi menabrak dinding es hingga hancur. An Bingwen melayang menunggu hasil akhirnya.


"Cuihh!! "


Dekan Akademi meludah darah tertawa keras. Dia begitu senang melawan An Bingwen.


"Pak tua! Kau benar-benar kuat! Rumor kau pendekar pedang salju kuat memang benar adanya. Dulu aku hampir mati dibuatmu, namun aku menyiapkan pembalasan dendammu, " ucap Dekan Akademi.


An Bingwen mengrenyitkan dahinya ketika melihar armor yang dikenakan Dekan Akademi.


"Bukan hanya kau saja yang memahami jalan pedang pendekar salju. Aku pun bisa melakukannya bahkan seluruh klan Song! " ucap Dekan Akademi beranjak berdiri. Dia mengambil pedang yang kemudian ia usap menggunakan darah dari sudut bibirnya. Ledakan energi kuat menguar dari dalam pedang.


Bunga teratai muncul di sekitar An Bingwen secara tiba-tiba.


"Teratai dewi! " ucap An Bingwen berusaha melompat menghindari teratai tersebut.


"Ledakkan!"


Teratai salju meledak menciptakan ledakan beruntun. An Bingwen menghindari dampak ledakan dengan menjauhinya. Dekan Akademi membuat segel tangan. Dia mengangkatnya ke langit.


"Formasi segitiga emas! " ucap Dekan Akademi disusul dengan cahaya emas membentuk limas segetiga. An Bingwen turun dengan pedang es mengelilingi tubuhnya.


"Formasi emas klan Song? " gumam An Bingwen.


Dekan Akademi menancapkan pedangnya di tanah membuat retakan terjadi menyalur hingga ke dalam formasi.


"Teknik pembekuan kehidupan! "


"Kau bisa mati dengan tenang, " ucap Dekan Akademi berpuas diri.


An Bingwen melihat sekelilingnya penuh akan kabut. Tubuhnya perlahan-lahan membeku.


"Hanya dengan tanah yang aku pijak ini aku bisa meminjam kekuatan alami benua Hanleng. Sebagai kultivator yang bisa memahami jalan pedang pendekar selatan, aku memiliki hak menggunakan energi suci, " ucap An Bingwen memegang erat pedangnya membuat kilatan cahaya berkilau ditengah tebalnya kabut.


"Jurus ke 25: Hantaman badai Hanleng! " ucap An Bingwen.


Gemuruh badai terdengar dari kejauhan bergerak dengan cepat. Angin berhembus dengan kencang. Dekan Akademi membuat perlindungan dari kedua tangannya menghindari serangan badai dingin secara tiba-tiba. Hawa dingin menusuk alami benua Hanleng perlahan-lahan membekukan formasi. An Bingwen melompat mengacungkan pedangnya menghancurkan formasi.


"Pyarrrrr!!! "


"Song Bojing! Formasi segitiga emas milikmu tak sempurna! Kau tak akan bisa mengurungku! " teriak An Bingwen tertawa.


Dekan Akademi menatap tajam An Bingwen. Dia marah mengepalkan tangannya.


"Tebas! " ucapnya mengayunkan pedang dengan kuat membelah angin melesat ke arah An Bingwen.


"Hancur! " teriaknya.


"Blarrr!! "


An Bingwen mengarahkan pedangnya ke langit. Dia menutup kedua matanya. Kedua sayap es muncul di punggungnya.


"Jurus ke 28 : Teknik sayap es abadi! "ucap An Bingwen.

__ADS_1


Sayap indah mekar dengan sempurna layaknya peri es abadi.


An Bingwen melesat menyerang Dekan Akademi. Pertarungan mereka mengesankan. Cukup lama mereka bertarung.


"Akan aku akhiri pertarungan ini! " ucap Dekan Akademi mengangkat pedangnya ke langit. Teratai raksasa tercipta di bawah An Bingwen.


"Teknik ledakan bunga abadi! " teriak Dekan Akademi.


"DUAAARRRR!! "


Ledakan begitu dahsyat di langit. Kepulan asap membumbung tinggi. Seteguk darah dikeluarkannya.


"Crappp!! "


Suara pekikan burung terdengar nyaring. Bayangan elang melesat bersamaan dengan An Bingwen. Pedang menusuk tubuh Dekan Akademi.


"Jurus 30: Kematian tak bersuara! " ucap An Bingwen.


Dekan Akademi melotot karena terkejut. Kecepatan An Bingwen tak terbaca sedikitpun. Ia berusaha meraih tubuh An Bingwen.


"Kena, " ucapnya sebeluk terjatuh menghantam tanah.


"Boommm!! "


Tubuh Dekan Akademi tak bisa digerakkan sama sekali.


"Degggg!! "


Jantung An Bingwen seakan berhenti. Dia merasakan kepalanya pusing.


"Apa yang kau lakukan! " ucap An Bingwen marah.


"Kau membunuhku maka kaupun harus mati bersamaku. Segel kematian, aktif! " teriak Dekan Akademi sebelum nafasnya berhenti.


An Bingwen terduduk lemah. Bibirnya pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat.


"Segel kematian klan Song! " ucap An Bingwen lemah. Dia berusaha mengambil pedang guna mengiris tangannya sendiri mengambil darah untuk melakukan sesuatu.


"Brukkkk!! "


Tubuhnya ambruk di tanah. Pandangannya mulai kabur.


"Aku tak bisa melakukan segel pembalikan, " ucap An Bingwen.


Seseorang datang berdiri di hadapan An Bingwen. Dia yang tak kuasa menutup kedua matanya.


"Segel kematian darah, " ucap Bi Dong mengarahkan kekuatannya pada tubuh An Bingwen. Hawa murni mengalir pada tubuh An Bingwen perlahan-lahan menghilangkan jejak segel kematian. Bi Dong menarik hawa murni miliknya setelah dirasa cukup. Dia melihat jasad Dekan Akademi.


"Sebenarnya Yang Mulia menunggumu di istananya, tapi kau telah tewas terlebih dahulu, " ucap Bi Dong menggelengkan kepalanya bersedih. Dia melambaikan tangannya membawa kedua orang tersebut ke istana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Istana Kaisar Xue Kai.


"Brukk!! "


"Brukkk!! "

__ADS_1


Bi Dong menaruh mereka berdua tepat di depan Kaisar Xue Kai.


"Hamba telah membawanya, " ucao Bi Dong memberikan laporan.


__ADS_2