Holy Dynasty Emperor Throne

Holy Dynasty Emperor Throne
Mengakhiri


__ADS_3

"Lihat saja pertarungan itu, kau bukan tandingannya untuk sekarang. Lukamu perlu disembuhkan, " ucap Wei Rong.


"Kau bisa menggunakan mata dewa? " tanya Hui Li.


"Aku bisa namun terlalu menguras tenaga, " jawab Wei Rong.


"Aku ingin menggabungkan kekuatan denganmu membuka mata semesta, " balas Hui Li.


"Itu larangan takdir. Bukankah tak sebanding jika hanya digunakan melawannya? " Tanya Wei Rong.


"Guru tenang saja. Aku yakin guru besar memiliki sesuatu yang kuat, " ucap pangeran Shang Feng.


Chen Duyi mundur ke belakang ketika ledakan terjadi. Pedang Tanhuang membelah dirinya satu per satu dengan cepat.


"Pergilah! " perintah Cheh Duyi.


Ribuan pedang melesat ke arah biksu Tang Zhou. Dengan tenang, biksu Tang Zhou mengucapkan mantra hingga lengan buddha berubah menjadi seribu. Masing-masing lengan memegang pedang.


Aliran energi spiritual meluap dari pedang Tanhuang. Chen Duyi akan bertarung mati-matian melawan biksu Tang Zhou.


"Tebasan menyilang! " ucapnya disusul dengan dua bilah pedang melesat dengan cepat.


"Hancurr! " ucap biksu Tang Zhou disusul dengan telapak tangan raksasa melesat menghantam serangan pedang Chen Duyi.


Kedua tangan biksu Tang Zhou mengepal bersiap menerima serangan dari Chen Duyi yang muncul secara tiba-tiba dari belakangnya.


"Bugg!! "


Suara tendangan yang ditangkis oleh lengan biksu Tang Zhou.


"Buggg!!..Buggg!!... Bugggg!!!... "


Mereka bertarung dengan kekuatan penuh berjarak dekat. Stamina biksu Tang Zhou tak bisa dihindari.


"Bangg!! "


Tendangan kaki yang dilayangkan Chen Duyi memukul mundur biksu Tang Zhou.


"Fisikmu tak lagi muda, kau harus sadar diri! " ucap Chen Duyi.


Biksu Tang Zhou terengah-engah. Chen Duyi melesat menggenggam erat pedangnya.


"Bangg!! "


Lonceng emas mengelilingi biksu Tang Zhou menghalau pedang Chen Duyi menembus pertahanannya.


"Aku dengar sekte gunung roh memang tak terkalahkan dalam bertahan, " ucap Chen Duyi.


"Namo Amituofo"ucap biksu Tang Zhou.


Suara benda bergerak terdengar jelas. Chen Duyi menjadi waspada melihat sekelilingnya. Memanfaatkan hal tersebut, biksu Tang Zhou memukul dada Chen Duyi hingga membuatnya mundur.


" Arkhh! "


"Memang gila kau! " marah Chen Duyi.

__ADS_1


Suara terdengar tak berhenti dan semakin jelas. Semua orang melihat ke sana ke mari dan terlihat jelas asal-usul suara tersebut yang ternyata dari biksu Tang Zhou.


"Itulah roda Dharma melambangkan kebenaran yang menuntun jalan ke surga, " ucap Kaisar Cai Jin.


Wujud seribu lengan Buddha dengan roda Dharma dibelakangnya. Biksu Tang Zhou membuat segel tangan seketika langit menjadi cerah hingga awan terbuka lebar.


"Turun! " ucap biksu Tang Zhou.


Telapak tangan raksasa muncul turun dari langit tak hanya satu melainkan delapan belas telapak tangan.


"18 tapak surga. Ini adalah salah satu teknik tertinggi dan mematikan dari sekte gunung roh, " ucap Kaisar Cai Jin.


Chen Duyi mendarat di tanah, melihat roda dharma serta 18 tapak berwarna emas seketika wajahnya berubah. Dia kemudian mengeluarkan kekuatan sesungguhnya. Pedangnya membelah menjadi ribuan menyebar menahan serangan tapak tersebut untuk turun. Ribuan pedang menuju langit. Pedang-pedang menancap pada tapak tangan raksasa menahannya untuk turun. Liu Mengyao memukul kota pedangnya membuat kota tersebut terbuka sepenuhnya.


Pedang Gubai, Pedang Qihei, Pedang Jiangyin, Pedang Xiyu, Pedang Leiyu, Pedang Juexin, Pedang Baiyun, Pedang Touming, Pedang Shabao. Pergilah! "perintah Liu Mengyao.


Sembilan pedang melesat keluar dari dalam kotak pedang mengarah ke Chen Duyi. Segera dia membuat pelindung disekitarnya. Satu per satu pedang menancap mengelilingi Chen Duyi berusaha memecahkan pelindung disekitar tubuhnya.


" Kau mengeluarkan sembilan pedang sekaligus? Takutnya belum cukup,"ucap Chen Duyi.


"Pedang Lieren, Pedang Xinling, Pedang Tianfa. Pergilah!" perintah Liu Mengyao.


"Crappp!! "


Tiga pedang menancap menambah tekanan untuk menghancurkan pelindung Chen Duyi.


"Apa! " ucap Chen Duyi terkejut.


"Apakah kau kira namaku hanya bualan? " balas Liu Mengyao.


"Pejamkan mata dan konsentrasi. Aku akan membuka mata semesta dan membutuhkan bantuan kalian, " ucap Hui Li.


"Baik, " ucap mereka serempak.


Mata hexagonal Hui Li memancarkan kilauan cahaya dan semua kesadaran ditarik olehnya.


"Buka! "ucap Hui Li.


Langit terbelah dengan bola mata melirik ke kanan dan ke kiri seakan mencari targetnya. Melihat Chen Duyi, dia seakan-akan telah mengunci targetnya.


" Datang! "ucap Hui Li.


Sebuah pedang melesat berada dalam genggaman Hui Li.


Di alam nyata, Liu Mengyao membuat segel tangan dengan cepat menggerakkan 12 pedangnya.


" Hancur! "perintah Liu Mengyao.


Ribuan pedang Chen Duyi retak hingga hancur. Delapan belas tapak surga biksu Tang Zhou melesat turun.


" Arkhhhhh!!!"teriak Chen Duyi.


"Bangg!!! "


Hempasan tapak surga menghantam tubuh Chen Duyi membuat tulang-tulangnya patah.

__ADS_1


"Tebas! " ucap Hui Li mengayunkan pedangnya membuat bilah pedang raksasa melesat ke arah Chen Duyi membelah tubuhnya.


"Arkhhh!! " teriak Chen Duyi.


Wei Rong dan pangeran Shang Feng membuka kedua matanya.


"Pedang Tunggal! " ucap pangeran Shang Feng.


"Urgghhh!! "


Hui Li memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya. Pola hexagonal pada bola matanya berubah menjadi kabur. Wei Rong segera menotok beberapa titik pada punggung Hui Li.


"Ughh!! "


"Kau memang benar-benar tak kehabisan akal. Hukuman alam benar-benar kau tanggung sendiri," ucap Wei Rong.


Aliran energi spiritual kacau yang berada di dalam tubuh Hui Li perlahan-lahan kembali berjalan seperti normal. Biksu Tang Zhou mendarat di tanah. Dia memegangi dadanya. Liu Mengyao menghampiri biksu Tang Zhou.


"Aku terlalu tua, " ucap biksu Tang Zhou.


"Yah.. Tak masalah, " balas Liu Mengyao.


Biksu Tang Zhou melihat Hui Li tengah disembuhkan oleh Wei Rong. Mereka berjalan mendekatinya.


"Jangan menggunakan itu lagi jika tak mampu menahannya, " ucao biksu Tang Zhou.


"Aku mengerti, " balas Hui Li.


Pangeran Shang Feng memegang pedang Tunggal dan menghampiri kelima pengawalnya.


"Kalian bagaimana?" tanya pangeran Shang Feng.


"Kami baik-baik saja, " jawab mereka serempak.


Penasihat istana telah membuat pelindung mengelilingi dirinya. Dia tengah menyelami kesadarannya sendiri. Pangeran Shang Feng membantu ratu Xi Shi berdiri.


"Kau tak apa? " tanya pangeran Shang Feng.


Ratu Xi Shi menggelengkan kepalanya. Lengannya lunglai.


"Tulang lenganmu patah, bagaimana mungkin baik-baik saja. Lihat! Tulang jarimu pun sama, " ucap pangeran Shang Feng mengangkat lengan ratu Xi Shi.


"Ughhhh.... " ucap ratu Xi Shi.


Pedang Tunggal lepas dari genggaman pangeran Shang Feng melayang di udara sebelum melesat menghilang. Pangeran Shang Feng menggendong ratu Xi Shi menghampiri lainnya.


"Pedang Tunggal kembali ke tempatnya, " ucap Hui Li.


"Aku ingin menyembuhkannya terlebih dahulu, " ucap pangeran Shang Feng.


"Bagus.... Kau memang pandai memilih wanita! " ucap Liu Mengyao mengacungkan jempolnya. Semburat merah muncul di kedua pipi ratu Xi Shi. Seutas senyuman tipis muncul pada bibir pangeran Shang Feng. Dia membawa ratu Xi Shi memasuki istana.


"Jangan pergi! " ucap penasihat istana kepada lima pengawal pangeran Shang Feng.


"Aku akan menggabungkan lautan kesadaran kalian denganku. Aku akan menyembuhkan jiwa kalian dan guru besar kalian akan meneruskan penyembuhan. Sesuatu gejolak terjadi pada pangeran dan aku tak bisa menerobos tanpa izin,"balas penasihat istana.

__ADS_1


" Baik! "jawab mereka serempak.


__ADS_2