
Semua orang melihat ledakan air di udara merasakan merinding. Cheng Gong menatap arena penuh akan air.
"Pengendalian air tak terbatas? Dia juga menguasai seni beladiri elemen air murni, " ucap Cheng Gong.
"Kita harus melawannya bersama-sama, " ucap Qiu Tuxuan.
Mereka menganggukkan kepalanya. Beberapa orang datang mencegahnya.
"Siapa? " tanya Qiu Tuxuan.
"Lima peringkat halaman barat saat ini, " jawab Qin Li.
Tetua Ya De melihat Tetua Agung sekilas dia tersenyum di dalam hatinya.
"Kau yang mengizinkan mereka kemari? " tanya Tetua Chen Qianfan.
"Benar. Halaman timur dan barat akan disatukan dan dipimpin satu orang tetua tertinggi dengan keputusan terpusat ditangannya untuk mengatur halaman luar. Peraturan yang aku keluarkan beberapa hari yang lalu. Jadi mereka sama seperti Shang Feng. Memperebutkan kursi masuk halaman dalam, " jawa Tetua Agung.
Tetua Chen Qianfan sedikit memiliki kecurigaan namun dia hanyalah bawahan dari Tetua Agung sendiri.
"Kalian tak diizinkan ke kemari! " balas Qiu Tuxuan.
"Benar-benar lupa peraturan. Halaman luar akan dilebur menjadi satu dengan kuota masuk halaman dalam hanya ada 10. Kami datang tentu saja merebutkannya, " ucap Qin Li.
"Benar-benar tak tahu langit! " ucap Cheng Gong mengayunkan pedang membuat gelombang air meninggi menyerang Qin Li.
"Byurrrr!!! "
Gelombang besar menahan serangan Cheng Gong. Huang Enlai menghentakkan kakinya.
"Tebasan badai angin! " ucap Qiu Tuxuan.
Huang Enlai memegang tombak yang ia putar membelah badai angin Qiu Tuxuan.
"Bagaimana bisa memiliki dua elemen! " ucap Qiu Tuxuan.
"Byurrrr!! "
Suara jatuh membuat gelombang air. Qian Fengge beranjak bangun mengusap darah di sudut bibirnya. Shang Feng mendarat dengan alami di depan pengawalnya. Pedang sungai dan gunung mengalir kekuatan hebat.
"Tak memiliki kemampuan kuat. Aku menjadi penasaran bagaimana pertarungan lima peringkat halaman dalam,"ucap Shang Feng.
"Aku akui kau memang kuat. Namun peringkat lima elemen halaman luar tak kalah dengan halaman dalam! " ucap Qian Fengge membuat segel tangan membelah naga lima elemen miliknya sesuai dengan atributnya. Naga api berdiri di belakang berikut dengan lainnya.
Shang Feng memberikan seutas senyuman mendongak nelihat kelima naga tersebut.
"Lima elemen? Mereka benar-benar tak tahu ketinggian langit. Jika karena tak ingin mengetahui alasan mereka berseteru tentu saja aku akan menghancurkan akademi ini dengan mudah," guman Shang Feng.
"Atur posisi! " teriak Shang Feng.
Qin Li, Huang Enlai dan Huo Xiang berdiri menghampiri Shang Feng. Xie Hua melambaikan tangannya membuat guqin giok muncul. Lian Xiang berdiri disampingnya menjaga dari segala marabahaya.
"Trangg... "
__ADS_1
Petikan guqin membuat hempasan angin kuat. Xie Hua memasuki ketenangan. Tangannya memainkan guqin dengan indahnya. Bunga teratai transparan menyelimutinya.
"Melupakan dunia dengan musik menuju abadi tanpa pertikaian, " gumam Xie Hua menarik senar sebelum ia lepaskan.
Serangannya berfokus pada jiwa tak terasa sakit ataupun luka fisik.
"Kunci! " ucapnya dengan tegas.
"Serang! " perintah Shang Feng.
Qin Li, Huang Enlai dan Huo Xiang maju setelah menerima perintah. Shang Feng menyeret pedangnya membuat air terbelah. Qin Li membelah dirinya.
"Trangg!! "
Suara pedang mereka saling beradu. Naga masing-masing elemen melesat mengaum menyerang mereka.
"Penguncian roh! " ucap Xie Hua.
Rantai tak terlihat mengunci pergerakan semua naga elemen. Qian Fengge menyipitkan matanya. Raungan terdengar menggema dimana-mana. Long Yu turun mengayunkan ekornya membuat lima naga elemen terpental jauh. Dia membalas raungan menyebabkan gelombang suara memekakkan telinga.
"Bukankah telah aku katakan bahwa melawan kalian hanyalah main-main, " ucap Shang Feng.
"Terlalu dini untuk mengaku kalah, " balas Qian Fengge mundur disusul dengan lainnya.
"Kakakmu akan kalah, " ucap Nangong Yuxuan.
Putri ketiga mengiyakan perkataan Nangong Yuxuan. Qian Fengge bertarung dalam posisi bertahan. Dia melihat Xie Hua dan Lian Xiang.
Nangong Yuxuan menganggukkan kepalanya. Dia setuju. Mereka berdua melesat turun ke altar pembuktian.
"Hati-hati, " ucap Xie Hua.
Sebuah pedang melesat ke arah Lian Xiang membuatnya terpaksa menjauhi Xie Hua.
"Kesempatan! " ucap Nangong Yuxuan.
Putri ketiga datang membuka kubus hexagonal memerintahkan benang roh mengikat tubuh Xie Hua.
"Crashhh!! "
Seluruh benang terputus. Nangong Yuxuan dan putri ketiga terkejut. Lian Xiang segera melompat memukul Nangong Yuxuan.
"Buggg!! "
Nangong Yuxuan meludahkan darah ketika menyadari kelengahannya.
"Benar-benar wanita menarik, " ucap Nangong Yuxuan.
Lian Xiang membuka telapak tangannya memerintahkan jarum-jarum keluar dari celah lengan bajunya menyerang Nangong Yuxuan.
"Trangg...!! Tranggg!!! Tranggg!! Tranggg!! "
Hawa dingin meledak dari pedang membuat angin membelokkan seluruh jarum yang mengarah kepadanya. Putri ketiga melakukan penyerangan tepat dibelakang Xie Hua.
__ADS_1
"Wanita gila! " teriak Lian Xiang berlari menjegal putri ketiga mendorongnya hingga jatuh. Dia merebut kubus hexagonal membuangnya jauh. Nangong Yuxuan segera bertindak. Namun dia terkejut akan kakinya tak bisa digerakkan.
"Apa! " ucapnya terkejut ketika melihat akar pohon melilit kakinya. Lian Xiang tersenyum. Dia menatap putri ketiga.
"Munafik! " ucap Lian Xiang.
Putri ketiga mengangkat kakinya menjepit tubuh Lian Xiang membalikkannya dakam sekejap.
"Aku menang, " ucapanya dengan bangga.
"Bodoh! " balas Lian Xiang mengadahkan tangannya membuat sulur tanaman rambat mengikat kaki putri ketiga menarikknya di udara. Gabungan sulur-sulur membentuk pohon mengantung mereka dalam posisi terbalik.
"Selesai, " ucap Lian Xiang.
Xie Hua tersenyum tanpa sadar. Nangong Yuxuan tak terima dia berusaha mengalirkan hawa dingin yang ia miliki untuk membekukan pohon.
"Penguncian jiwa empat sisi! " ucap Xie Hua.
Rantai tak terlihat mengikat mereka dengan pohon memblokir energi qi dan jiwa mengikatnya pada pohon.
"Kakak!! " teriak putri ketiga.
Qian Fengge menoleh melihat adiknya terikat terbalik segera dia marah.
"Tak terampuni!! " marah Qian Fengge.
"Adimu yang bodoh mengapa ia turun ke arena? Rekanku hanya mempertahankan dirinya sendiri, " balas Shang Feng.
Kemarahan Qian Fengge mencapai puncaknya. api membara menembakkan ke langit.
"Teknik meteor pedang api! " ucap Qian Fengge.
Ratusan ribu meteor jatuh dari langit. Pemandangan mengerikan seperti hari akhir dunia. Shang Feng mengangkat telapak tangannya memerintahkan air membendung hujan meteor.
"Teknik pilar membendung langit! " ucap Shang Feng.
Meteor-meteor berubah menjadi batu biasa akibat air. Qin Fengge melesat menyerang Shang Feng. Amarahnya meledak-ledak. Jantungnya berdegup kencang.
"Emosi sesaat melahirkan kekuatan, " gumam Shang Feng.
Qian Fengge berhasil menyentuh tubuh Shang Feng sesaat. Pedang api membara di langit menciptakan kobaran pedang raksasa.
"Teknik pedang api pembakar langit, " ucap Qian Fengge mengayunkan pedang sekuat tenaga membelah semuanya.
"Tuan! " ucap pengawalnya terkejut.
"Kekuatan dominasi mutlak! " ucap Shang Feng.
"Blarrrr!! "
Bilah api raksasa mengenai tubuhnya. Suasana begitu hening. Xie Hua marah semarah-marahnya menarik senar guqin menciptakan gelombang suara yang mampu membuat siapapun kesakitan dibuatnya.
"Dadaku! " ucap Qian Fengge merasakan sesak seperti ditekan oleh sesuatu. Dia menyemburkan darah dari mulutnya. Perlahan-lahan semua orang tumbang satu persatu.
__ADS_1