Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 10 : Mencintaimu Dalam Diam


__ADS_3

“Hei, hei apa yang kamu lakukan?!” Pekik Arga dengan rona wajah memerah.


“Kamu nggak lihat, aku sedang berusaha untuk menodaimu?!” Ucap Gladish dengan nada yang santai, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Arga.


Wajah Arga pun lagi-lagi memerah…


“Yak, kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan yah!” Umpat Arga kesal, kepada gadis yang baru saja menolongnya tersebut. Tak disangka, gadis itu juga mempunyai niat jahat terhadapnya.


 


Gladish pun langsung melepaskan pelukannya, dari arah lelaki tersebut.


“Su sudah?” Tanya Arga dengan nada gugup. Heran dengan gadis itu, yang dengan cepat sudah melepaskan pelukannya.


“Gimana, sekarang kedua tanganmu sudah bisa bergerak dengan leluasa bukan?” Tanya Gladish, memastikan.


“Eh, apa?” Arga pun menggerakan tangannya, yang sedari tadi terikat di belakang tubuhnya-yakni di salah satu kaki meja, tempat Ia bersandar. Tak terasa ikatan tersebut, telah dilepaskan oleh gadis kecil berambut ala laki-laki tersebut.


Wajah Arga pun langsung salah tingkah, malu dengan apa yang sudah dituduhkannya pada gadis tersebut. “Terima kasih yah!” Ucapnya kemudian.


“Iya sama-sama.” Ucap gadis tersebut dengan senyuman lebar, yang menurut Arga merupakann senyuman termanis yang pernah Ia lihat seumur hidupnya. Akan tetapi, Arga tetap memasang ekspresi sedatar mungkin, untuk menutupi kekagumannya tersebut.


 


“Perkenalkan namaku Gladish, anak kelas 3F.” Ucap Gladish, memperkenalkan diri, sambil menjulurkan tangannya.


 


Akan tetapi Arga hanya diam, tak ikutan menjulukan tangannya.


“Cih sombong sekali cowok ini!” Umpat Gladish dalam hati. “Namamu siapa?” Tanyanya lagi, berusaha untuk tetap bersabar menghadapi makhluk Alien aneh, di hadapanya tersebut.


“Arga.” Jawabnya singkat.


“Kelas?” Tanya Gladish lagi.


“3A” Jawabnya, tak kalah singkat dari kalimat sebelumnya. “Sudah yah aku pergi dulu!” Pamit Arga. Sambil berlalu dari gadis tersebut, dan tanpa membalas, uluran tangan gadis tomboy tersebut.


Dengan ekspresi jengkel, Gladish pun mengambil ember yang ada di dekatnya, dan melemparnya ke arah kepala Arga.


 


“Brukkk!” Pantat ember biru tersebut, dengan tepat-berhasil mendarat di belakang kepala Arga.


“Yaaaakkk!!!” Protes Arga.


Gladish pun lalu mengacak pinggangnya. “Kau kira aku membantumu dengan perasaan cuma-cuma apa?” Tanya Gladish dengan nada dingin, tak mau kalah, dengan tingkat kedinginan pria, yang barusan ia tolong tersebut.


“Jadi kau mengharapkan imbalan?” Tanya Arga-dengan nada merendahkan, sambil mengeluarkan beberapa uang lima puluh ribuan dari arah kantongnya.


Gladish pun lalu mengambil sapu yang bersandar di sebelahnya…. dan…


“Tuuukk!” Dan Ia pun mencatuk kepala Arga dengan keras.


“Yaaaak!” Pekik Arga, kesal. Lagi-lagi gadis galak ini, mencederai bagian kepalanya.


“Memang kau kira semua harus dibayar dengan uang apa?”


Arga pun memasukan uang tersebut, kembali ke dalam kantongnya. “Jadi maumu apa?” Tanya Arga lagi, sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya (Takut ada sesuatu yang akan mendarat lagi di kepalanya).


“Bayar dengan tubuhmu!”

__ADS_1


“What!” Langsung saja kedua tangan Arga berpindah dari kepala, dan kini menutupi kedua dadanya yang rata, guna melindungi tubuhnya dari jeratan gadis galak yang terlihat mesum tersebut.


“Tolong bantu aku!” Gumam Gladish pelan.


Arga pun mengerutkan keningnya, tak mengerti…


“…Tolong bantu aku untuk membersihkan gudang ini!” Lanjut Gladish meneruskan kalimatnya, sambil menyerahkan sapu yang kini dipegangnya, ke arah Arga.


“Huuuuffftt~" Arga pun langsung menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dan mengambil sapu (yang ujung tangkainya, baru saja mendarat indah di kepalanya) dari tangan gadis tersebut.


₩₩₩₩₩


………


……



“Mimpi itu lagi?!” Gumam Arga, ketika membuka mata, entah berapa kali Ia selalu memimpikan kejadian 8 tahun yang lalu, secara berulang ulang…


Kejadian 8 tahun yang lalu, merupakan kejadian dahsyat yang menjadi trauma tersendiri bagi kehidupannya.


Tak lama kemudian, Ia merasakan perih dan ngilu di bagian wajahnya, Ia pun mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan… ruangan yang saat ini merupakan tempat yang kini sudah tak asing lagi baginya.


Melihat pemandangan alat-alat kesehatan di sekitarnya dan bau obat-obatan yang sangat menyengat.


Yah, ruangan ini merupakan ruang UKS di SMA Tunas Bangsa.


Ia pun tersadar, kalau sedari tadi dirinya pingsan, tak sadarkan diri.


Ketika Ia mendudukan tubuhnya, Ia melihat ada sosok gadis berambut panjang, yang sedang tertidur pulas, dalam keadaan duduk dibawah lantai, sambil menyandarkan sebelah wajahnya di ujung kasur, tempat tubuhnya saat ini Ia berpijak.


“Gladish.” Gumamnya pelan. Segera Ia membangunkan diri dari kasur putih tersebut, Ia lalu dengan hati-hati mengangkat dan membawa tubuh gadis itu ke atas kasur yang sedari tadi Ia gunakan


#Flashback


Sebuah Tendangan T yang cukup tinggi mendarat ke arah wajah Arga...


“Hah, Arga?” Pekik Gladish, kaget plus ketakutan karena tendangannya barusan, merupakan tendangan yang… Salah Sasaran.


Spontan saja tubuh Arga yang terkena tendangan tersebut, kembali pingsan, terjatuh di atas lantai…


Sementara tubuh Niko berhasil menghindar, karena sudah terlalu terbiasa Doi terkena serangan cinta (Tendangan T) tersebut dari arah pujaan hatinya.


“Arga!” Jerit Maya histeris, melihat kejadian tersebut. Gadis itu baru saja menampakan diri, menyusul Arga keluar dari arah perpus.


Maya pun menoleh ke arah Gladish, dan menatap gadis tersebut dengan sorot mata yang tajam.


Sorot mata yang penuh dengan aura permusuhan…


Gladish yang panik-karena Arga sudah pingsan untuk yang kedua kalinya, tentunya gara-gara dirinya.


Langsung saja Ia mendekat ke arah tubuh Arga untuk menolongnya. Akan tetapi Maya tak tinggal diam, dia langsung menghalangi tubuh Gladish untuk mendekat ke arah Arga, dengan tangan kirinya.


Karena tenaga Gladish lebih kuat dari Maya, Gladish pun berhasil menjatuhkan tangan Maya yang menghalanginya, dan segera mengangkat dan menggendong Arga ke arah UKS.


Anak-anak SMA Tunas Bangsa, yang di sekitar perpustakaan itu pun terkejut, melihat kejadian langkah tersebut…


Membayangkan betapa kuatnya Gladish yang saat ini dengan santainya mengangkat tubuh Arga, tanpa terlihat raut wajah keberatan sama sekali dari mimiknya.


“Buju Buset, itu gadis atau Gorilla yah?” Pekik Niko takjub dengan Gladish yang berhasil mengangkat tubuh orang yang pingsan untuk ukuran postur seorang lelaki.

__ADS_1


Niko pun ingin menyusul mereka, akan tetapi Rebecca yang juga ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) pun, segera menghalangi, “Niko habis istirahat ini, kelas kita ada ulangan harian Bahasa Indonesia loh!”


“Aiiissssssss” Desis Niko pasrah.


…………………………………


Maya pun juga, ingin segera menyusul mereka, akan tetapi teman satu kelasnya menghalangi. "May, habis istirahat ini ada pembelajaran Pak Burhan loh, Fisika…”


“Bodoh amat.” Ucap Maya cuek, sambil mengeser tubuh teman yang menghalanginya tersebut, dengan tangan kirinya.


“Kamu nggak lupa kan, kemarin kamu juga sudah membolos di pelajarannya Pak Burhan…?” Lanjut temannya lagi, mengingatkan.


“Aiiisssss~” Desis Maya pasrah, mengingat Pak Burhan merupakan guru terkiller yang paling sadis, seentero SMA Tunas Bangsa.


#Flashback End


₩₩₩₩₩


Di UKS…


Arga sibuk…


Sibuk menatap wajah Gladish dalam-dalam.


Arga begitu takjub dengan keberadaan gadis pujaan hatinya, yang saat ini begitu dekat dengan dirinya, Ia menyukai semua yang ada di bagian wajah gadis tersebut, gadis yang selalu masuk ke dalam mimpi-mimpinya tersebut, baik mimpi buruknya, maupun mimpi indahnya, gadis yang saat ini hanya bisa di cintainya dalam diam, gadis yang baginya sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Ia menyukai semua yang ada di wajah gadis tersebut…


Ia menyukai alisnya yang sedikit lebat, menyukai pipinya yang sedikit tembem, menyukai hidungnya yang sedikit mancung (alis pesek) dan semua yang serba sedikit, dari gadis pujaan hatinya tersebut…


Gadis berkulit kuning langsat, di depannya ini, memang terlihat tidak begitu cantik, tapi tidak pula terlihat begitu jelek, hanya saja wajahnya begitu manis dan enak di pandang.


Ia pun mengelus-elus lembut, mengelus lembut ubun-ubun di ujung rambut, gadis yang sedang tidur nyenyak di hadapannya tersebut.


Sentuhan Arga sangaaaaaaaat lembut, Ia begitu hati-hati, agar gadis pujaannya tersebut, tak terbangun dari mimpi indahnya…


“Wajahmu indah.” Puji Arga, melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah di hadapannya tersebut.


 


Akan tetapi kini matanya tertuju di bibir Gladish yang terlihat berwarna merah muda dan tipis. Ingin sekali Ia merasakan keindahan tersebut, merasakan kelembutan bibir gadis manis dihadapannya tersebut.


Perlahan-lahan, Ia dekatkan wajahnya ke arah wajah Gladish…


 


Semakin dekat…


Dag dig dug. (Suara Soundtrack dentumann jantung Arga saat ini)


Semakin dekat…


Dag dig dug.


Semakin dekat…


Dag dig dug.


“Sedikit lagi…” Gumam Arga dalam hati. Ketika menyadari hidung mereka kini bersentuhan…


Dan…

__ADS_1


#To Be Continued


__ADS_2