Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 55 : Trauma


__ADS_3

“CCUUUUUUUUUUUURRRRRRRRRR~” Suara keran air, menggema di lobi toilet sekolah.


Gladish pun menunduk dan membasuh wajahnya berkali-kali di aliran air yang mengalir deras dari keran air tersebut.


Galdish pun mengangkat lagi wajahnya, dan mendekatkan wajahnya di hadapan kaca, terlihat wajah dan rambut bagian depannya yang kini basah dan lembab.


Dia pun lalu tersenyum…


“Apakah aku cantik? Gumamnya terhadap kaca tersebut, sambil mengelus tangan kanannya ke arah wajahnya.


Saat ini toilet perempuan di sekolah sedang sepi, karena di kelas-kelas lain saat ini sedang sibuk dengan guru-guru mata pelajaran yang masuk di dalam kelas-kelas tersebut. Kecuali kelasnya saat ini, karena saat ini jam pelajaran Fisika sedang kosong, karena Pak Burhan mengambil Izin tidak masuk untuk hari ini.


Gladish pun meraba-raba wajahnya sendiri. “Apa yang Ia sukai dari aku?” Tanya Gladish.


Gladish pun meraba matanya. “Apakah karena mataku yang bulat dan mempesona?” Tanya Gladish, terhadap kaca tersebut, sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Gladish pun lalu meraba hidungnya yang mancung (Kedalam). “Apakah hidungku yang pesek sangat menggoda?” Tanya Gladish, Ia pun langsung menarik-narik ujung hidungnya, agar terllihat lebih mancung.


Kemudian, Gladish pun meraba-raba bibirnya, dan memonyong-monyongkan bibirnya tersebut ke arah kaca. “Apakah karena bibirku yang natural dan seksi.” Ucapnya lagi, karena di antara teman-temannya yang lain, hanya dirinya lah yang tidak memakai pemerah atau pelembab bibir.


#Flashback


“Lepaskan!” Seru Gladish, sambil mengibaskan tangan Niko.


Niko pun nggak menyerah, dia masih menggenggam kuat tangan Gladish.


“KAMU MAUNYA APA, HAH?!” Bentak Gladish ke arah Niko, sambil membelalakkan matanya.


“Aku maunya kamu!” Ucap Niko, lirih.


“CIIIIHHH~” Decak Gladish, kesal. “Pasti kamu mau jahili aku lagi, IYA KAN?!” Bentak Gladish lagi, dengan nada penuh penekanan.


“Iya… aku mau jahili kamu lagi… setiap hari, setiap saat, setiap waktu, setiap menit, setiap detik… aku selalu, maunya jahili kamu terus!” Ungkap Niko, dengan suara yang lemah, akan tetapi, tetap bisa terdengar jelas oleh telinga Gladish.


Gladish pun mengerutkan alisnya, tak mengerti apa maksud dari Niko tersebut. “Ma… maksudnya?”


“Aku suka kamu Gladish…” Lirih Niko, sambil mengerutkan alisnya.


“A… Apa?!” Pekik Gladish, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Niko katakan kepadanya.


Sementara itu, Niko pun langsung membelalakkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Ia katakan dengan mulutnya sendiri, kata-kata tersebut keluar begitu saja bagaikan air mengalir dari arah mulutnya. Niko pun langsung menepuk-tepuk mulutnya sendiri, dengan keras. Marah dengan dirinya sendiri, karena sudah seenaknya saja mengutarakan perasaannya sendiri, tanpa adanya persiapan yang matang.


“Kenapa diam?” Tanya Gladish sambil berkacak pinggang, dan mengangkat tinggi-tinggi dagunya, “Kamu beneran suka sama aku?” Sambungnya lagi, sambil memaju-majukan langkahnya ke arah Niko.


Niko yang terlihat bingung plus gugup tersebut, langsung saja memundur-mundurkan langkahnya. “A… aku bohong!!!” Gumam Niko, dengan nada dan tubuh yang bergetar.


“Hahahahahahahaha~” Tawa Gladish, menggema di sepanjang koridor sekolah. Sekarang lihat, mana mungkin seseorang yang mengaku sedang berbohong, tubuhnya bergetar, gugup dan ketakutan, seperti ekspresi Niko saat ini.


“Sejak kapan kamu suka aku?” Tanya Gladish, dengan suara yang lantang.


“A… apa?!” Pekik, Niko pura-pura bud*k, akan tetapi masih setia dengan ekspresi gugupnya.


Gladish pun memutar bola matanya… dan terpaksa mengulang lagi, kalimat pertanyaan yang barusan Ia tanyakan tersebut. “Sejak ka…”


“GLADISH LIHAT DISANA ADA NAGA TERBANG!!!” Teriak Niko dengan ekspresi heboh, sambil merentangkan tangan kanannya ke arah atas, dan telunjuknya menunjuk ke arah langit.


“Mana… mana?!” Seru Gladish, antusias, sambil mengarahkan badan dan kepalanya ke arah langit yang di tunjukan oleh Niko.


Tanpa pikir panjang, langsung saja Niko mengeluarkan jurus langkah seribu nya, untuk kabur… kabur dari jangkauan Gladish.


“Yak~ Niko, kau bodoh yah, mana ada Naga Terbang di kehidupan nyata seperti ini!!!” Pekik Gladish dengan nada tak percaya, akan tetapi matanya masih sibuk mencari-cari sosok keberadaan Naga Terbang tersebut di atas langit, rupanya Gladish merupakan salah satu penggemar dari Drama Kolosal yang sering di tayangkan oleh Channel Ikan Terbang, yang sering di putar oleh Bapaknya di rumah.


Ketika Gladish berbalik betapa kagetnya dia, ternyata Niko sudah tidak ada lagi dari jangkauannya.


#Flashback End

__ADS_1


₩₩₩₩₩


Ketika Jennie dan Arya menyelesaikan makan siang mereka.


“Jennie, sebentar aku ke toilet dulu yah?!” Izin Arya, hendak berdiri dari kursi makannya.


“Kau selalu begitu…” Gumam Jennie, sambil mengelap mulutnya dengan anggun.


“Apa?!” Pekik Arya, tak mengerti dengan apa yang Jennie katakan.


“Kau selalu pergi ke toilet setelah kita makan bareng, entah makan pagi, siang, atau malam, kau selalu pergi ke toilet.” Ucap Jennie, sambil mengingat-ingat kebiasaan buruk Arya setelah habis makan bersamanya.


“Hahahaaa~ aku ada masalah pencernaan.” Jawab Arya, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak Gatal.


“Ingat, kau harus periksakan kondisi kesehatan pencernaan mu, Pak Dokter!” Ucap Jennie sambil menaruh kembali lap kain yang barusan Ia gunakan, “Karena kau CALON SUAMIKU!” Jelas Jennie, sambil memberikan penekanan yang kuat pada Frasa CALON SUAMIKU.


Arya pun tersenyum dengan kecut mendengar hal tersebut. “Aku ke toilet dulu yah?” Izin Arya lagi, sambil berlalu dari hadapan Jennie.


₩₩₩₩₩


Di toilet, Arya segera membuka mulutnya lebar-lebar, dan menusuk-nusuk kan tenggorokannya dengan jari tangannya dalam-dalam.


Ketika ada sesuatu yang mau keluar dari arah tenggorokannya. Arya pun langsung menekan-nekan saluran air yang ada di bagian atas, pada kloset putih tersebut. Agar apa yang akan Ia lakukan pada kloset putih tersebut, tidak terdengar lagi oleh orang-orang yang lewat di sekitar toilet yang kini ditempatinya.


"CCUUUUUUUUUUUURRRRRRRRRR~”


Arya pun membenamkan kepalanya ke arah Kloset tersebut…


“Hooooeeeeeeeeeeeeekkk~ Hooooeeeeeeeeeeeeekkk~” Terdengar suara bunyi muntahan-muntahan dari arah mulut Arya. “Hooooeeeeeeeeeeeeekkk~ Hooooeeeeeeeeeeeeekkk~”


Ia mengeluarkan semua makanan-makanan enak, yang barusan Ia nikmati dari dalam mulutnya. Mulai dari Steak Saos Mushroom dengan kentang goreng, Soupe a l’oignon, hingga Creame Brulee (hidangan penutup) yang baru saja Ia nikmati bersama Jennie.


Meski makanan-makanan yang barusan Ia nikmati porsinya tidak banyak, dan kadar lemaknya dalam makanan-makanan tersebut tidak terlalu tinggi, akan tetapi bagi Arya yang berat badannya pernah menyentuh 100 Kilogram, hal tersebut benar-benar menjadi masalah berat buatnya.


Apalagi pada masa-masa SMA…


Dia rasanya hanya ingin mati saja, pada saat itu!


Tergiang-ngiang lagi dalam pikirannya, suara-suara hinaan, cacian dan olokan-olokan dari teman-teman SMA sekelasnya.


“ARYA JELEK!”


“ARYA GENDUT!”


“ARYA GEMBROT!”


Nafas Arya pun seakan terasa sesak kembali, saat mengingat hal-hal menyedihkan tersebut… apalagi mengingat suara tawa-tawa mereka, menertawakan bentuk tubuhnya.


“HAHAAHAHAHAHAHA~”


“HAHAAHAHAHAHAHA~”


“HAHAAHAHAHAHAHA~”


Tawa mereka, terngiang-ngiang lagi dalam pikiran Arya, seakan Arya pada saat itu adalah sosok paling menyedihkan, dan tak pantas hidup di antara mereka pada saat itu.


Padahal tak ada manusia satu orang pun, yang ingin dilahirkan menjadi sosok gembrot, gendut, jelek yang menyedihkan, seperti dirinya… bukan?!


Arya pun mengelap sisa-sisa muntahan yang menempel di mulutnya dengan telapak tangannya.


Tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit. Sakiiiiittt sekaaaaliiiii…


Sehabis mengelap mulutnya, Arya pun memegangi dan mengacak kepalanya yang terasa sakit.


Ia pun mendudukan badannya di lantai kloset.

__ADS_1


Dengan tampang rambut yang kini acak-acakan, air mata Arya pun tiba-tiba berlinang pada saat itu.


“ARYA JELEK!”


“ARYA GENDUT!”


“ARYA GEMBROT!”


“HAHAAHAHAHAHAHA~”


Hinaan-hinaan yang membuat dadanya selalu sesak tersebut, kembali lagi terngiang-ngiang dalam kepalanya.


 


Seketika itu dada Arya merasa sesak kembali…


Ia pun lalu memukul-mukul dadanya tersebut dengan kuat. Guna menenangkannya~


 


“HAI KALIAN!!!” Terbayang kembali sosok suara perempuan, yang mengebrak meja, dan berteriak ke arah mereka, mereka yang selalu mengolok-olok bentuk tubuh Arya pada saat itu. “BISA NGGAK SIH KALIAN NGGAK GANGGU DIA TERUS!!!” Bentak perempuan tersebut. Dan perempuan tersebut merupakan sosok yang paling mengganggu pikirannya sampai saat ini.... yah~ Melanie.


Bagaimana Arya bisa lupa dengan sosok Melanie?


Meski banyak perempuan cantik yang singgah, berlalu lalang di hatinya, merayunya, menggodanya, memanjakannya, memuaskannya, menghamburkan uang untuknya… ratusan atau ribuan wanita cantik yang ada di hadapannya.


Bagaimana Ia bisa melupakan sosok Melanie?


Sosok Melanie yang dulu membelanya di saat masa-masa terpuruknya, padahal dahulu kala tak ada satu pun yang mau membelanya, tak ada satu pun yang mau peduli padanya.


“Melanie~ Huhuhuuuuu” Lirih Arya, sambil menangis.


#To Be Continued


.


.


.


.


Hai hai pembaca kesayangan INTROVERT MELANKOLIS💜💜💜😍😍😍


Jangan lupa yah LIKE, KOMEN, SHARE, RATTING 5, VOTE-nya.


Jangan lupa tinggalkan VOTE biar INTROVERT MELANKOLIS yang Badung ini,, masuk ranking kelas🤣🤣🤣


Contohnya seperti di bawah ini 👇👇👇👇



Oia rencananya author besok, hari minggu mau libur dulu yah🤣🤣🤣


tapi... tapi... nggak jadi libur tapi kalo misalnya komentar pembacanya nyampe 50an dalam sehari (tapi nggak mungkin lah yah sampe segitu komentarnya😅😅😅)


cover sekarang👇👇👇👇



Bye-Bye


💃💃💃


Makasih cinta-cintaku semuanya, sudah membaca dan mendukung INTROVERT MELANKOLIS selama ini.... Chalanghae 😍😘 assalamuallaikum🙋‍♀️🙋‍♀️🙋‍♀️

__ADS_1


__ADS_2