
Pagi hari sebelum jam masukan di SMA Tunas Bangsa, seperti biasa terlihat beberapa anak yang menyapu sesuai jadwal piket harian di kelasnya masing-masing,
Tak terkecuali Arga yang kebetulan mendapatkan jadwal piket hari selasa, dia sibuk menyapu halaman depan kelasnya. Terbersit lagi kata-kata Kak Arya, saudara kandung ternista-nya, yang baru saja menyakitkan hatinya.
………………………………………
...........
....
“*Yah pasti lah Arga punya teman cewek, dia loh ganteng!” Bela Tante Lia, kepada anak bungsunya tersebut. “Iya kan Arga?”
“Arga loh Homo!” Sindir Arya lagi, dengan kata seenak udelnya. “Buktinya dari dulu kamu nggak punya teman cewek kan?” Bisik Arya, sambil tersenyum simpul.
“A, Aku nggak homo, aku akan mengundang teman-teman cewekku dikelas!” Teriak Arga, sambil menjauhkan wajah Arya, dari hadapannya.
“Fix! Gua nunda keberangkatan gua ke Singapore demi ulang tahun Elu!” Ucap Arya, mengambil keputusan. “Awas Lo nggak datengin cewek-cewek cantik dari sekolah Lo, yah! Gua panggil Homo lo seumur hidup*!”
.....
...............
……………………………………
Arga pun mengambil nafasnya dalam-dalam… “Huuuuuuuffffttt~” dan mengeluarkannya. Ia pun menatap beberapa anak cewek, teman sekelasnya, yang sedang berkumpul dan asik bergosip.
“Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengudang mereka?” Pekik Arga dalam hati, masih menatap mereka, dengan sorot mata yang kosong.
₩₩₩₩₩
Pagi-pagi sekali, di depan kelas 2 IPA 6, ada sekumpulan enam orang gadis yang sedang asik ber-gibah ria…
“Eh Gaes, masa si Udin naksir Gua? Nggak nyadar tuh tampangnya kayak pantat panci! Hahaha~” Ucap seorang cewek berambut ikal (yang kebetulan nih cewek menilai lelaki dari tampangnya doank) kepada kelima orang temannya.
“Kamu masih mending Gaes, si Joko loh ngejar-ngejar Gua, nggak nyadar tuh, dia itu cuman kaum miss queen (miskin)!” Balas salah satu dari mereka, cewek berambut gelombang, yang kebetulan nih cewek menilai lelaki dari materinya saja.
“Eh… eh Gaes, sepertinya Arga sedang lihat ke arah sini deh!” Ucap seorang lagi, yang sadar dengan keadaan sekitar. Ia menyadari cowok tertampan di kelasnya, bahkan tertampan di satu sekolahan. Kini sedang memperhatikan mereka, dari arah kejauhan. “Bagaimana ini? Sepertinya, Doi sedang lihatin kita?!”
“Mana-mana?” Tanya salah satu dari mereka yang mencari-cari keberadaan Arga.
“Itu tuh, yang lagi berdiri di depan pintu kelas kita!”
“Ya Allah, pagi-pagi aja udah Ganteng BANGET!”
“Eh kalian jangan salah paham loh yah, Arga itu liatin gua!” Tegas salah satu dari mereka, yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. “Bukan Lo Lo pada! Sobat burik ku!”
“Enak aja, Doi loh liatin Gua! Bukan Elo!” Protes temannya lagi, yang nggak mau kalah.
Arga yang masih memegang sapu di tangannya pun, akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka… “Ha, Ha, Hai!” Sapa Arga dengan nada yang gugup dan butiran keringat dingin yang kini membasahi keningnya.
“HAI ARGA~” Sapa mereka berbarengan, dengan nada yang sumringah dan wajah yang merah merona.
“Aku… aku…” Ucap Arga dengan suara bergetar, wajahnya pun memucat. Ini untuk pertama kali baginya, dalam menghampiri kerumunan gadis.
“Aku tahu, kamu pasti mau nembak aku yah?” Tebak seseorang dari mereka.
“A Apa?” Pekik Arga, kaget, dengan mata membulat.
“Enak aja, Doi mau nembak aku lah!”
“Aku!” Seru yang lainnya.
__ADS_1
“Aku!” Protes yang lain, nggak mau ngalah.
Para gadis-gadis itu pun akhirnya berkelahi berebutan Arga, mereka pun nggak mau kalah, tentunya kini mereka sedang berkelahi ala-ala jurus anak gadis pada umumnya, yakni saling menjambak rambut satu sama lain.
Arga pun menjadi panik, Ia pun menggigiti bibir bawahnya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka, dengan sapu yang masih setia berada di tangannya.
“Sudah kuduga bakal gagal!” Pekik Arga dalam hati, sambil mengernyitkan dahinya.
₩₩₩₩₩
Di kamar itu, kamar kecil bernomor 316.
Dari balik pintu, Arya mengintip seseorang gadis dari arah kejauhan, gadis yang duduk termenung sendirian, dengan wajah pucat pasih, dan tatapan mata yang kosong.
Sudah lumayan lama, pria bertubuh tinggi nan bidang tersebut berdiri disana, untuk mengamati…
Mengamati seseorang yang selama ini pernah menjadi berarti bagi hidupnya…
Mengamati seseorang yang selama ini pernah menjadi bagian terindah dalam hidupnya…
Dan…
Mengamati seseorang yang selama ini pernah menjadi bagian terburuk dalam hidupnya…
Gadis yang sedari tadi Ia amati tersebut, akhirnya sadar akan keberadaannya.
“Siapa disana?” Tanya gadis berambut panjang lurus itu, sambil memindahkan arah matanya, ke arah pintu, tepatnya ke arah Arya.
Menyadari gadis manis, berlesung pipi tersebut kini sedang melihat ke arahnya, Arya pun langsung menatap gadis tersebut dengan senyum yang mengembang, senyum yang penuh kebahagiaan…
Arya pun mendorong lebar pintu tersebut, dan masuk ke dalamnya, Ia pun secara perlahan mendekat ke arah Melanie.
“Arya, untuk apa kamu ke sini?” Tanya Melanie, dengan nada suara bergetar. Dia benar-benar panik, mentalnya benar-benar belum siap, Ia belum siap untuk bertemu dengan siapa pun yang pernah Ia kenal, termasuk mantannya Arya.
“Siapakah yang memberitahu keberadaan ku disini?” Pekiknya dalam hati, Ia pun teringat kembali, dengan Teddy teman sekelasnya, sekaligus teman sebangku Arya semasa SMA, yang menjanjikan memberikan bantuan dana pengobatan, kalau Ia bersedia berobat di rumah sakit kecil milik pamannya di Bogor.
“SIAL!” Pekik Melanie dalam hati, sambil menyumpahi dirinya sendiri akibat kebodohannya.
Tak jarang, setiap orang yang berniat membantumu secara berlebihan, pasti ujung-ujungnya akan mengharapkan imbalan lebih darimu juga, bukan?
Tapi seorang Melanie masih tidak mengerti imbalan seperti apa yang diharapkan oleh MAHASISWA bermasa depan CERAH, seperti Teddy Priady, dari wanita LEMAH nan SAKIT - SAKITAN, bermasa depan SURAM seperti dirinya…
Dirasa jaraknya dan Melanie, sudah begitu dekat, Arya pun menghentikan langkahnya…
“Kau bertanya untuk apa aku kemari?” Pekik Arya, sambil menaikan sebelah alisnya, dan… “Hahahahahaa~ Hahahahahaa~” Ia pun tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kau tertawa, Hah?!” Tanya Melanie, dengan nada yang marah. “Puas, kau lihat aku menderita seperti ini?!”
“Aku sangat PUAS!” Seru Arya sambil membelalakkan matanya. “SANGAAAATT PUAAAAS!” Sambungnya lagi, sambil memberikan penekanan pada kata PUAS.
Mendengar kalimat tersebut, hati Melanie seketika saja menjadi sakit, sangaaaaaaaatt sakit… Tubuhnya yang lemah pun kini bergetar, kedua bola matanya pun kini berkaca-kaca.
Melihat reaksi Melanie, Arya pun tersenyum simpul, Ia masih belum puas mengganggu Melanie…
Meski saat ini, bulir-bulir air mata gadis berambut panjang tersebut, mulai mengalir dengan deras, di kedua pipi lembutnya…
Arya pun mendekatkan wajahnya ke arah Melanie, Ia tampak terkejut, rambut panjang gadis penderita Kanker Serviks Stadium 2B tersebut terlihat mulai menipis. Wajahnya pun terlihat pucat pasih, tak sesegar dulu.
Benar-benar terlihat sangat menyedihkan!
Tapi Ia seakan tak peduli, menurutnya sakit hati yang pernah Ia alami dulu, jauh lebih besar dari pada rasa sakit hati yang dialami Melanie, kini!
__ADS_1
Ia pun membisikan sesuatu ke arah Melanie. “Aku ingin melihat kamu Melanie…” Bisik-nya, yang sukses membuat hati Melanie mulai luluh. “…Aku ingin melihat kamu MATI secara perlahan!” Sambungnya, sambil memberikan penekanan pada kata MATI dan kata-kata itu sukses membuat Melanie membelalakkan matanya.
“Dasar pria Br*ngseeekkk!” Pekik Melanie, sambil melayangkan tangan kanannya, dan…
“PLAAAAAAAAAAAKKKK!!!” Mendaratkan tamparan keras ke arah pipi kiri Arya.
Tamparan itu sangat keras, hingga membuat pipi kiri Arya menjadi sangat merah.
“Haaaa~ Haaa~ Haaaa~”
Melanie pun kesulitan bernafas…
Sial~
Arya lupa, kalau Melanie semasa SMA punya penyakit Asma. Dan sekarang, ditambah penyakit berbahaya lainnya yang kini menyerang tubuhnya, yakni Kanker.
Arya pun menjadi panik, apa benar dia akan melihat kematian Melanie, bukan secara perlahan, TAPI SAAT INI JUGA?!
Arya pun merasa berdosa, dan menyumpahi dirinya sendiri. “BODOH, BODOH, BODOH!!!” Pekiknya dalam hati.
Sebagai calon Dokter, Ia benar-benar kekanak-kanakan dan tak professional.
Bagaimana Ia tega mengatakan hal sesadis itu pada orang yang saat ini, sedang menderita penyakit parah, atau penyakit mematikan?
“Haaaa~ Haaa~ Haaaa~” Melanie pun semakin kesulitan bernafas. Gadis berambut panjang itu pun tak berhenti memegangi dadanya dengan tangannya.
Arya pun langsung membantu Melanie untuk duduk dengan tegak dengan nyaman dan melepas satu persatu kancing baju piyama putih Melanie bagian atas, untuk melonggarkan pakaiannya agar tak sesak.
Arya pun langsung mencari tombol darurat, dan menekannya berkali-kali, berharap tenaga medis yang resmi segera datang dan memberikan penanganan medis bagi Melanie.
“Melanie maafkan aku!” Gumam Arya akhirnya. “Maafkan aku~ Huhuhuhu” Ucapnya dengan isak tangis.
#To Be Continued
.
Author sebenarnya bingung, kemarin yang request visual ada 2, Melanie dan Prisil dan masing-masing yang vote jumlahnya satu..
karena Chapter-chapter sebelumnya ada yang request Prisil juga, jd kita anggap vote Prisil ada 2 yah!
ini visual Prisil, si penyuka warna pink👇👇👇
wajahnya lebih anggun dan badannya pun lebih langsing daripada badan Gladish💃
Pict Bonus : Prisil Anak SEKOLAH👧
Terimakasih sudah membaca yah reader ... author ga akan nulis lagi kalau nggak ada reader nya😭👍
Jangan lupa favorit (❤) biar ga ketinggalan Chapter selanjutnya.
Jangan lupa jempolnya, buat absen👍
Jangan lupa komen, kritik n sarannya, biar gereget👄💋
Jangan lupa ratting lima bintangnya, biar ratting nya nggak 4,6 lagi😟😟
Jangan lupa sharenya, biar tambah rame 👭👭👬👬👫👫
Jangan lupa vote nya, biar ini novel abal-abal bisa lulus kontrak, amin-amin😃
Ayo yang mau request visual😘 komeng di bawah ini yak👇👇👇
__ADS_1