
#Prisil Pov
Hari ini di kelas 2 IPA 6 sedang mengadakan ulangan harian Bahasa Indonesia tentang Teks Prosedur. Tentunya anak-anak penghuni kelas ini, sibuk mengerjakan soal-soal yang di berikan Bu Guru Sinta dengan serius.
Tapi tidak denganku.
“Duh aku sudah pelajari ini semalam, kenapa semuanya lupa?” Pekikku dalam hati, sambil memegangi kedua kepalaku yang hampir pecah. Padahal materi-materi ini sudah kuhapalkan semalaman. Bahkan, hingga larut malam.
Kenapa semuanya lenyap, lenyap bagaikan dihempas oleh angin?
Tiba-tiba saja adegan itu terulang kembali di otakku, adegan dimana bibirku dengan bibir Niko bertabrakan, dimana untuk pertama kalinya bibirku bersentuhan dengan bibir lelaki…
Ciuman pertama atau yang biasa disebut First Kiss, sering dianggap spesial bagi setiap orang, baik lelaki maupun perempuan, karena hal itu merupakan pengalaman pertama dalam percintaan yang dianggap berkesan dalam kehidupan mereka.
Lagi dan lagi, Niko penuh dipikiranku, aku merasa bayangan bibir Niko berulang kali datang, seperti mengecup bibirku berkali-kali.
Lagi?
Duuuhhh, Aku membayangkannya lagi?
Serius? Kenapa aku jadi semesum ini?!
Aku penasaran, apakah Niko kini segelisah apa yang aku rasakan?
Aku pun menolehkan kepalaku ke tempat duduk bagian belakang, tepatnya tempat duduk Niko, Niko yang duduk di deretan kursi paling belakang, bersebelahan dengan Bambang.
Ku melihat Niko kini dengan wajah santainya, asik membuka buku catatan bahasa Indonesia di bawah laci mejanya (Nyontek).
Huh…
Memang yah, harapan tidak pernah sesuai dengan kenyataan!
Bisa-bisanya dia sesantai itu???
Bisa-bisanya dia menjalani kehidupan normal, seperti siswa biasa, setelah kejadian itu????
“Dasar cowok b*rengsek, bisa-bisanya dia sesantai itu setelah mencuri ciuman pertamaku!” Rengekku dalam hati.
“PRISIL !” Tegur Bu Siska, guru Bahasa Indonesia yang terkenal paling cerewet di SMA Tunas Bangsa. “Kamu nyontek yah?"
“Nggak Bu, Prisil nggak nyontek.”
“Alasan aja!” Cibir Bu Siska. “Terus kenapa wajahmu dari tadi, noleh ke belakang terus, hah?!”
Aku pun hanya menunduk, terdiam.
“HAHAHAHAHAHAAA~ HAHAHAHAHHAAAA~” Tawa anak-anak satu kelas, kompak menertawaiku.
Termasuk warna suara tawa Niko, terdengar jelas di telingaku.
“Nggak belajar Bu!” Seru Siswa yang lain.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku dipermalukan seperti ini. Padahal aku anak yang terkenal pintar, dan dari SD hingga SMA selalu masuk ranking lima besar.
“Benar kata Gladish, kalau Niko ialah laki-laki pembawa bencana!” Geramku dalam hati.
#Prisil Pov End
₩₩₩₩₩
#Author Pov
Di tempat kerja Tante Lia...
__ADS_1
Tante Lia saat ini sedang sibuk merancang gaun pengantinnya sendiri, untuk Ia kenakan di acara pesta pernikahannya dengan Hendra (Bapaknya Gladish) yang berlangsung dua bulan lagi….
Yah, Tente Lia saat ini berprofesi sebagai seorang desainer, di salah satu butik yang cukup ternama di kota Bogor. Butik tersebut saat ini melayani pembelian langsung di outlet, maupun online.
Tante Lia memandangi foto keluarga mereka, foto Ia dengan kedua anaknya yang dalam foto itu, Arga dan Arya sedang memeluknya, dan Ia berada di tengah dengan bahagia menerima pelukan dari kedua anaknya yang sama-sama berwajah tampan tersebut, entah mengapa Tante Lia merasa kangen dengan Arya, anak pertamanya yang saat ini berkuliah di National University of Singapore (NUS) jurusan Kedokteran.
Ia pun membuka Handphone-nya dan melakukan panggilan VC (Video Call) di media WhatsApp kepada anaknya yang terkenal ramah, aktif dan menyenangkan tersebut.
“Tiiiitttttttt… Tiiiiitttttttt… Tiiiittttttttt....”
₩₩₩₩₩
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kota Kent Ridge, Barat Daya Singapore.
Terlihat sepasang pria dan wanita sedang tidur bersama, di sebuah apartement yang cukup di bilang mewah.
Sang pria berambut hitam, berkulit kuning langsat, berorot atletis dan terlihat tampak berkebangsaan Indonesia.
Di sebelahnya, terbaring seorang wanita dengan rambut pirang, lengan yang kurus dan kulit putih, seputih susu, wanita itu berasal dari Eropa, tepatnya di negara Kanada.
Tampak jelas keduanya kini tidak memakai sehelai pakaian pun... karena pakaian beserta dalaman mereka, terlihat berceceran di lantai apartement tersebut.
Badan mereka kini hanya di tutupi oleh selimut abu-abu yang cukup tebal.
You tell me to come over, there's some games you want to play
I'm walking to your house, nobody's home
Just me and you and you and me alone.”
Terdengar sebuah lirik lagu berjudul Play Date-Melanie Martinez, dari arah Handphone pria berotot seksi tersebut.
“Akkkhhhh~” Erang pria tersebut, sambil mengucek-ngucek matanya. “Siapa sih yang VC siang-siang gini?” Tanyanya dalam keadaan setengah sadar.
“Who is that, Honney?” Erang wanita Bule di sampingnya, yang juga dalam keadaan setengah sadar, dari tidur panjangnya.
Pria itu pun terbangun, dan tersadar kalau pacarnya lebih dari satu, alias buanyak!
Dengan gercap, ia segera mencari-cari keberadaan Handphone nya.
“Duhh, Handphone aku dimana yah?”
“Wake up in your bedroom and there's nothing left to say
When I try to talk you're always playing board games
I wish I had monopoly over your mind
I wish I didn't care all the time”
__ADS_1
Lagu nada dering itu, semakin terdengar samar-samar dari arah kantong outher hitam panjangnya yang ikut berserakan di lantai, karena sebelum Ia bercinta dengan wanita Bule tersebut, Ia mengenakan setelan Outher hitam dengan kemaja putih rapi di dalamnya.
Dilihatnya dalam panggilan VC tersebut merupakan panggilan Bundanya.
“M*mpus Gua!” Pekiknya, dengan cepat Ia mengenakan outher hitam panjangnya. Dan segera mengangkat telpon tersebut ke arah kamar mandi apartement tersebut.
“Assalamuallaikum, Hai Bunda!” Sapa lelaki tampan tersebut, sambil sedikit merapikan rambutnya.
“Waalaikumsalam, Hai Arya.” Balas sapaan wanita di gambar layar Handphone tersebut.
“Bunda apa kabar? Arya kangen banget sama Bunda!” Basa-basi lelaki bernama Arya tersebut, dengan nada polos nan manja.
Wanita yang disapa Bunda itu pun tersenyum, terasa berbeda sekali dengan Arga yang kalau diajak mengobrol, kesannya kaku dan dingin, Arga sungguh membosankan.
Seperti biasa Arya jauh lebih menyenangkan, karena anak itu pandai menghidupkan suasana, apabila di ajak ngobrol seperti ini.
Setelah basa basi bertanya kabar, kondisi keuangan dan kondisi pembelajaran anaknya di Negara orang tersebut… bunda pun langsung ke bagian inti, menyampaikan maksud dari panggilan VC-nya tersebut.
“Seminggu lagi Paman Hendra dan Bunda akan melakukan acara lamaran. Kamu bisa datang ke Indonesia kan?”
“Tentu saja Bunda, Arya bisa datang kok, demi Bunda, Arya pasti selalu ada waktu buat Bunda!” Ucap Arya, meyakinkan, dengan nada meng’istimewakan’ Bundanya.
Sehingga bunda yang selalu merasa istimewa dan siap memberikan apa saja untuk Arya, termasuk menambah uang kiriman berbulannya.
Arya sangat pintar mengambil hati Bundanya, jangankan hati Bundanya, hati ratusan gadis sudah menjadi korban gombalan mautnya. Dari yang cantiknya biasa saja, sampai yang cantiknya kebangetan, dari gadis berkebangsaan Indonesia, maupun gadis berkebangsaan luar negeri.
Apalagi mengingat dia Mahasiswa semester akhir, tidak terlalu masalah kalau Ia meninggalkan negara dan kampus tersebut, selama beberapa hari. Untuk mengahadiri pesta pernikahan bundanya dengan seorang Duda beranak satu tersebut.
“Kira-kira calon adik tiriku nanti, seperti apa yah?” Tiba-tiba saja pertanyaan seperti ini, terpintas dalam pikiran Arya. Tapi bagaikan angin lalu, Arya pun dengan segera melupakan pemikirannya tersebut.
Ketika dia menutup VC dari bundanya, Arya pun segera kembali ke kamar Apartement tersebut. Untuk memakai pakaian lengkapnya kembali.
Untuk pulang kembali di Apartementnya yang kecil dan sederhana...
(Percakapan di bawah ini sebenarnya memakai Bahasa Inggris, tapi anggap saja mereka menggunakan Bahasa Indonesia yah readers)
“Siapa yang barusan telpon kamu sayang?” Tanya Cewek Bule yang bernama Emma tersebut, akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Bundaku.” Jawab Arya singkat. yang kini sudah selesai memakai pakaiannya kembali dengan lengkap.
“Apakah kau sudah ceritakan hubungan kita ke Bundamu?” Tanya Emma, dengan mimik wajah penuh pengharapan.
“Sudah.” Jawab Arya.
“Terus apa kata Bundamu tentang hubungan kita?” Tanya Emma kembali.
Arya pun langsung menatap mata biru Emma dalam-dalam, Ia pun mengenggam kedua tangan Emma, mengambilnya, dan menciumi tangan Cewek Bule tersebut.
“Ada apa sih sayang, kok kamu aneh gitu?” Tanya Emma lagi, melihat kelakuan Arya yang tak biasa, yakni menciumi tangannya dengan jarak yang lumayan lama.
Arya pun melepaskan ciumannya dari tangan Cewek Bule tersebut, “Maafin aku sayang…” Ucap Arya dengan mata berkaca-kaca, “Hubungan kita sepertinya sudah tidak bisa diteruskan lagi.” Sambung Arya, dengan nada kecewa, air matanya pun berjatuhan dari arah pipinya.
“Ke kenapa?” Tanya Emma, dengan nada bergetar. Air mata Bule manis itu pun ikutan tumpah, mengikuti alur Arya, “Aku mencintaimu, tak bisakah…”
“Maaf.” Potong Arya. “Ibuku menyuruhku pulang dan menjodohkanku dengan wanita Indonesia pilihannya.” Ucap Arya dengan penuh air mata, dan kini Emma pun sesengukan dan menangis sejadi-jadinya.
Kini pasangan itu pun saling menangis bersama, sambil berpelukan dengan erat.
Emma menangis, menangis penuh sesengukan karena perasaan cintanya ke Arya dan takut kehilangan lelaki yang baru saja menjalin hubungan satu malam dengannya tersebut.
Sedangkan…
__ADS_1
Arya menangis, menangis kerena bahagia, bahagia Karena tidak harus menjalani kehidupan membosankan yang penuh dengan komitmen, bahagia karena wanita di depannya ini berhasil ia bohongin…
#To Be Continued