
#Niko POV
Ketika Ibu Guru sedang menjelaskan materi pelajaran Matematika, di depan kelas…
Aku melirik Bangku Bambang yang ada di sebelahku.
“Kenapa dia belum datang juga?” Lirihku, masih setia menatap bangkunya, dengan tatapan sayu.
Aku pun teringat kejadian tadi pagi saat Prisil meniup-niupkan mataku di belakang toilet.
……………
………
“BRAAAAAAAAKKKK~” Terdengar bunyi sebuah tembok, yang di pukul dengan kuat.
“NIKOOOOOO…!!!” Teriak seseorang, yang suara seseorang itu, sudah tidak asing lagi oleh diriku.
Aku dan Prisil pun berbalik, mengikuti arah suara tersebut.
“BAMBANG!” Teriakku dan Prisil berbarengan. Sambil membulatkan mata kami, lebar-lebar ke arah Bambang.
“DASAR PENGHIANAT!!!” Sindirnya kepada Ku, dan Ia pun mengambil tasnya yang terjatuh.
Dan, Ia pun berlari dari arah kami berdua…
………
……………
“AISSS~ Sepertinya dia salah paham kepada kami!” Gumamku dalam hati, sambil mencatuk-catukkan kepalaku di atas meja tempat duduk Ku.
“Niko kamu kenapa?” Tegur Bu Ratih, kepadaku.
Biasanya guru-guru di sekolah yang besar, dan memiliki jumlah kelas dan murid-yang banyak… biasanya mereka hanya menghafalkan nama siswa yang paling… misal, paling nakal, paling pintar, paling rajin, paling malas dan sebagainya…
Ya begitu juga dengan Ku, guru-guru di sini tuh mengenal aku sebagai siswa yang paling TAMPAN, makanya NAMAKU selalu di HAFAL oleh mereka, hampir seluruh guru sudah menghafalnya… yah~ aku memang tampan dan mempesona…
“Kenapa kamu mencatuk-catukan kepalamu di meja?” Tanya Bu Ratih kembali.
Pertanyaan Bu Ratih tersebut, sukses membuat anak-anak sekelas tertawa terbahak-bahak “HAHAHHAHAHAAAAAA~”
__ADS_1
“Nggak Bu. Niko cuma iseng aja.” Jawabku sekenanya, nggak mungkin kan kalau aku jawab lagi sibuk memikirkan si Bambang Gundang Gulindang?
“Niko, kamu disini itu TERKENAL karena mendapatkan RANKING TERAKHIR di kelas ini, jangan sampai semester ini kamu juga dapat RANKING TERAKHIR!” Ujar Bu Ratih, dengan nada penuh dengan penekanan di Frasa : Ranking Terakhir.
Yang sukses membuat seisi kelas tertawa lagi.
Yah~ paling nggak, akhirnya, Gua jadi tahu nama Gua di hafal sama guru-guru disini, bukan semata-mata karena wajah Gua tampan saja, tapi…. Akh~ sudahlah.
₩₩₩₩₩
Karena nggak ada Bambang…
Aku, Arga, dan Rafi memutuskan untuk makan siang di kantin sekolah saja.
So, kenapa harus capek-capek manjat tembok pembatas sekolah, kalau di antara kami, sudah nggak ada yang ngerokok lagi disana?
Tiba-tiba saja, Prisil, Bacca dan Gladish… nimbrung di antara kami, sambil membawa makanan yang sudah mereka pesan, di tangan mereka masing-masing.
Prisil yang sengaja mengambil posisi duduk di hadapanku, kenapa sih ini anak? Lama-lama, Ia kayak permen karet, selalu nimbrung di sekitarku!
Gladish yang duduk di samping Prisil, berhadapan sama Arga yang kebetulan duduk di sebelah Gua… kok hawanya tiba-tiba jadi puanaaassss dan hauredang (gerah) gini yah. Apakah ini The Power of dijodohkan?
Hiks~
Sementara Rafi duduk berhadapan dengan Becca, udah nggak usah di tanyain lagi, kalau ini mah jelas, tanpa di minta pun, Gua udah kasih doa restu.
“Bambang mana?” Tanya Prisil, mengawali perbincangan kami.
“Perasaan aku tadi lihat dia ada.” Sambung Prisil. Ntahlah, gadis ini, bisa-bisanya dia, seolah-olah tak terjadi apa-apa terhadap Bambang, padahal jelas-jelas tadi pagi, kami berdua diteriaki “DASAR PENGHIANAT!” Oleh Bambang.
“Lha? Aing kira tadi Bambang nggak masuk loh.” Gumam Rafi.
“Denger-denger sih, si Bambang tadi kejang-kejang di ruang BK.” Ucap Becca, tiba-tiba.
Semua mata pun kini menuju ke arah Becca. Kami benar-benar Syok, dengan apa yang barusan Becca sampaikan kepada kami.
“Serius?” Tanya Arga, yang duduk tepat di sebelahku.
“Iya, tadi Doi sampe di gotong sama siswa-siswa kelas 1 IPS 6 (yang kebetulan ruang kelasnya dekat dengan ruang BK) menuju mobil Pak Bagas, untuk di bawa pulang kembali ke rumahnya.
“Wah pantas saja, waktu Gua ke toilet tadi ada penampakan siswa-siswa 1 IPS 6 yang menggotong temannya, aku kira yang kesurupan anak 1 IPS 6, eehh~ ternyata, nggak nyangka kalau siswa yang di gotong itu si Bambang, teman sekelas kita.” Cerita Gladish, panjang lebar. Entah mengapa, wajahnya terlihat sangat menggemaskan ketika Ia bercerita panjang lebar seperti itu.
“Berhenti memasang wajah menggemaskan seperti itu!” Teriakku tiba-tiba, ke arah Gladish. Yang langsung saja membuat ke lima orang sahabat, di sekitarku tersebut, langsung mengarahkan wajah mereka ke arah Ku.
“Maksudnya?” Teriak Gladish, sambil memicingkan matanya ke arahku.
“Berhenti menggodaku seperti itu, dasar tunangannya orang!!!” Teriak Ku ke arah Gladish, sontak saja, kelima sahabatku mengarahkan lagi wajah mereka ke arah Ku, kali ini dengan ekspresi mulut yang terbuka lebar.
₩₩₩₩₩
“Jeng, Jeng… akhirnya si Bambang dapat azab juga, akhirnya dia mati karena kejang-kejang, siapa suruh dia khianati istrinya.” Celoteh Mama Maya kepada Ibu Niko.
“Alhmdulillah Jeng, akhirnya Si Bambang kena karmanya juga.” Sambung Ibu Niko, sambil mengelap air matanya, terharu. Rupanya kedua ibu-ibu pengangguran tersebut sedang asik membicarakan, Sinetron Pelakor yang lagi Booming di Channel Ikan Lele.
__ADS_1
Ibu Niko sebenarnya banyak bisnis usahanya, akan tetapi dia mempercayakan saudara-saudaranya untuk menangani bisnisnya tersebut.
“Jeng, Jeng terima kasih loh yah sudah mau bersahabat dengan saya, sebenarnya saya orangnya introvert, pemalu.” Ucap Ibu Niko, sambil tersenyum simpul. Ibu Niko memang di kenal memiliki sifat Introvert, dia begitu pemilih dalam bergaul dengan orang-orang di sekitarnya.
Karena silsilah keluarganya merupakan keturunan Cenayang, dia paham betul siapa saja orang-orang yang ingin memanfaatkannya dan orang-orang yang tidak ingin memanfaatkannya.
“Wah kalau kita jadi keluarga, pasti seru tuh!”
“DEG!”
Perasaan Ibu Niko, akhirnya mulai memiliki perasaan yang nggak enak kepada Mama Maya.
“Maksudnya Jeng?” Tanya Ibu Niko, pura-pura nggak mengerti dengan maksud Mama Maya. Dari awal setelah dia menceritakan usaha-usahanya kepada Mama Maya, dia sudah merasakan aura Mama Maya yang mulai mengincarnya.
“Kan Saya punya anak perempuan, sedangkan Ibu Siska (Ibu Niko) Punya anak laki-laki. Kenapa kita nggak jodohkan saja mereka Jeng?” Jelas Mama Maya sambil memandangi foto keluarga Ibu Niko yang ada di ruang tamu.
Yah sekarang, kedua ibu-ibu itu sedang ada di ruang tamu keluarga Niko, dengan di temani pudding vanilla dan teh hangat di meja ruang tamu tersebut.
Ibu Niko pun mengambil cangkir teh nya, dan menyeruputnya.
“Gimana Jeng, kamu setuju?” Tanya Mama Maya lagi.
“Aku setuju-setuju saja Jeng, sepertinya seru juga kalau kelak kita menjadi besanan.” Ucap Ibu Niko dengan mata yang berbinar dan senyuman yang penuh arti.
Rupanya Ibu Niko sudah tahu, kalau rezeki keluarga Mama Maya juga bagus, Ia tempo hari juga sengaja menceritakan berbagai macam usahanya kepada Mama Maya, agar Mama Maya tertarik.
Akh~ Ia benar-benar nggak menyangka, kalau Mama Maya secepat ini mengambil umpan yang Ia berikan untuknya.
#To Be Continued
.
.
.
.
Hai hai pembaca kesayangan INTROVERT MELANKOLIS💜💜💜😍😍😍
Jangan lupa yah LIKE, KOMEN, SHARE, RATTING 5, VOTE-nya.
Jangan lupa tinggalkan VOTE biar INTROVERT MEKANKOLIS Biar Author yang MALAS ini Tambah SEMANGAT 🤣🤣🤣
Contohnya seperti di bawah ini 👇👇👇👇
Bye-Bye 💃💃💃
Makasih yah semuanya, sudah membaca dan mendukung INTROVERT MELANKOLIS selama ini.... Chalanghae 😍😘 assalamuallaikum🙋♀️🙋♀️🙋♀️
__ADS_1