
“Hai penonton jangan lupa yah, untuk like, comment, share dan subscribe channel ini!” Percakapan Arya, di depan sebuah kamera Sony A5100nya. “Sampai berjumpa lagi yah, di video Arya selanjutnya. Bye… bye!” Pamit Arya mengahiri siaran Youtube-nya.
Saat ini Arya sedang mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya kembali melalui Channel Youtubenya. Karena dompetnya kemarin baru saja mengalami kebangkrutan, akibat di rampas oleh perampok yang tidak bertanggung jawab.
Sebelum dia menjalani kesibukannya di perkuliahan, lelaki Ekstrovert tersebut sering sekali mengisi waktu luangnya dengan keegiatan yang bermanfaat sekaligus untuk menhasilkan uang, yakni dengan cara membuat Vloger di Channel Youtube buatannya sendiri yang bernama, “Healthy With Arya.”
Sesuai dengan nama Channel Youtube-nya, channelnya tersebut berisikan bagaimana seorang Arya menjalani kegiatan diet sehatnya seperti makan-makanan yang bergizi dan sehat, olahraga yang teratur, cara menghitung kalori, cara meningkatkan massa otot dan kebanyakan kegiatan dia selama Nge-gym dengan berbagai gaya baru di setiap episodenya.
Dan uniknya lagi, yang menjadi daya tarik dari channelnya tersebut ialah Arya selalu senantiasa memamerkan roti sobeknya atau biasa disebut perut six pack, yang berwarna cokelat dan ehm~ menggoda iman dan takwa.
Sehingga kebanyakan yang men-subscribe dan menonton channelnya merupakan golongan dari kaum wanita yang tergila-gila dengan wajah tampan dan keindahan tubuhnya. Sehingga tak bisa di pungkiri hampir satu juta penonton sudah men-subscribe channelnya.
Wah, pencapaian tersebut bisa dibilang tergolong lumayan banyak, untuk seorang mahasiswa BIASA sesibuk Arya, yang sibuk belajar di jurusan kedokteran dan sibuk mengencani banyak wanita di luar negeri.
Dengan penghasilan menjadi Youtuber, Arya bisa membiayai kuliahnya sendiri di luar negeri, mengumpulkan sepatu, tas dan pakaian branded agar selalu terlihat modis, berkencan dengan banyak gadis, dan tentunya membantu ibunya yang saat ini berstatus single parent dengan menghidupi dua orang anak.
₩₩₩₩₩
Di ruang BK…
Sekitar pukul 09.00 WIB, Pak Bagas berhasil mengumpulkan Gladish dan Maya, beserta orang tua mereka yang sudah menerima undangan panggilan, pada hari Jum’at sebelumnya. Maya yang di wakilkan oleh Mamanya (Karena Ayahnya sibuk bekerja) dan Gladish yang di wakilkan oleh Bapaknya.
“Jadi Gladish dan Maya, ingat yah! Kalian tidak boleh berkelahi lagi apapun alasannya, apalagi kalau cuma karena cowok saja!”
Ibu Maya melirik masam ke arah anak kandungnya, begitu pula dengan Bapaknya Gladish, melirik kesal ke arah anak kandungnya, sementara mereka berdua, Maya dan Gladish hanya bisa tertunduk sebagai wujud rasa bersalah mereka.
“Nanti kalau Bapak tahu atau ada pengaduan dari murid lain, kalau kalian berkelahi lagi,” Ucap Pak Bagas dengan nada tegas sambil menatap Maya dan Gladish secara bergantian. “Kalian akan bapak Skors selama dua minggu, atau bisa-bisa kalian tidak naik kelas!” Ancam Pak Bagas.
Yang sukses membuat Maya dan Gladish membuka mulut mereka, kaget.
“Tuh dengerin Maya, nasehat Pak Gurunya!” Pinta Mama Maya ke pada anak sulungnya tersebut. “Awas kelahi lagi loh yah?!”
“Iya Mah.” Jawab Maya dengan nada bersalah, sambil mengangguk-angguk kepalanya.
“Denger tuh, Dhis!” Tegur Bapak-nya Gladish, kepada anak semata wayangnya tersebut.
“Iya, Pak.” Jawab Gladish, yang ikut menyesal dengan perbuatannya.
“Ngomong-ngomong, anak lelaki yang diributkan oleh anak saya siapa yah, Pak?” Tanya Pak Hendra, penasaran.
Gladish pun langsung memukul jidatnya, melihat kelakuan Bapaknya yang terlihat kepo maksimal tersebut.
“Kalau nggak salah namanya Arga, Pak.” Jawab Pak Bagas dengan polosnya, kepada Bapaknya Gladish
.
“Oh Arga!” Gumam Pak Hendra, Pak Hendra pun langsung melirik ke arah anak gadisnya, dengan senyum seringai yang menakutkan.
“Mampus gua.” Pekik Gladish dalam hati, melirik senyum seringai Bapak-nya yang penuh dengan tanda tanya tersebut.
__ADS_1
₩₩₩₩₩
Ketika Arya selesai melakukan syuting Vlogger di salah satu pusat Fitness yang terkenal di kota Bogor.
“You call me on the telephone, you feel so far away
You tell me to come over, there's some games you want to play
I'am walking to your house, nobody's home
Just me and you and you and me alone.”
Terdengar sebuah lirik lagu berjudul Play Date-Melanie Martinez, dari arah Handphone pria berotot seksi tersebut.
Arya pun merogok kantong celananya, terdapat panggilan dari nomor asing, yang tak tersimpan di kontak nomor Handphone-nya tersebut. “Nomor siapa ini?” Gumamnya dalam hati. Dengan terpaksa Ia pun menjawab panggilan WhatsApp dari nomor yang ‘Tak Dikenalnya’ tersebut.
“Halo!” Sapa-nya.
“Hai Ya, ini Gua Teddy.” Sapa seseorang dari arah sebrang.
“Iya Betul sekali.” Jawab Teddy membenarkan, Ia merupakan salah satu teman Arya semasa SMA, pria bertubuh jangkung, berambut ikal, berkacamata, dan ber-hiasi tahi lalat di dagu sebagai pemanis. Pria dengan nama panjang Teddy Priady itu juga mengambil kuliah di jurusan Kedokteran di salah satu Universitas di kota Bogor. “Denger-denger lu sekarang ada di Bogor yah?”
“Tahu darimana Lo?” Tanya Arya, sambil mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman dekat tempat Fitness tersebut, dan meneguk sangar botol tumbler yang berisi air mineral yang sedari tadi di pegang-nya.
“Gua baru saja habis nonton Vlogger Lo.” Jawab Teddy, seadanya. “Denger-denger lu belum dapat Rumah Sakit untuk penelitian tugas akhir yah?” Tanya Teddy lagi.
“Denger-denger terus Lo!” Seru Arya, sambil menyipitkan matanya. “Belum sih, tapi rencananya Gua mau daftar penelitian di Rumah Sakit besar yang ada di Jakarta.”
“Kenapa nggak di Bogor saja, di rumah sakit milik Paman Gua?!” Usul Teddy. “Kan dekat sama rumah Lu sekarang, yang ada di Bogor.” Jelasnya.
Arya pun memutar bola matanya, Ia mengingat-ingat rumah sakit kepunyaan pamannya Teddy, rumah sakit itu begitu kumuh dan kecil. Dia kebetulan pernah mampir kesana, saat baru-baru pindah ke kota Bogor.
“Nggak Ted, Makasih banyak, Gua milih ajukan penelitian di Rumah Sakit yang di Jakarta saja.” Tolak Arya secara halus, secara gengsi dong bagi seorang Arya yang kuliah jauh-jauh di luar negeri, harus adakan penelitian di rumah sakit kecil, apa kata dunia?
Lagi pula di Jakarta ada kehidupannya yang lain, yakni Melanie, rupanya Arya belum puas, kalau belum bertemu secara langsung dengan sosok Melanie, mantan ternistanya yang paling dia benci, benar-benar mantan yang sangaaaaaaaatt dibencinya.
“Wah sayang sekali, padahal paman Gua butuh Vlogger seperti Elo loh buat promosi-kan rumah sakitnya!”
__ADS_1
“Tuh kan sudah kuduga ujung-ujungnya, bakal dimanfaatin.” Gerutu Arya dalam hati. “Ah, iya kah? Sayang sekali yah?! Hahahaaa.” Ucap Arya, akhirnya.
“Padahal di salah satu kamar di rumah sakit ini ada kamarnya Melanie loh, Ya.” Ungkap Teddy, dengan suara mengecil.
“Deg~” Tiba-tiba saya jantung Arya merasakan detak-an yang luar biasa saat Teddy menyebutkan keberadaan Melanie kepadanya.
“Me Melanie?” Pekik Arya, dengan nada yang tak biasa.
“Iya, Melanie mantan Elu saat SMA, masih ingat nggak?” Tanya Teddy, dengan senyum mengembang, rupanya dia sudah mendapatkan titik kelemahan mantan teman sebangkunya yang pernah memiliki postur gembrot tersebut, selama duduk di bangku SMA.
“Iya aku ingat, ngapain dia di rumah sakit itu?” Tanya Arya gelisah, yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
“Yah sakit lah.” Jawab Teddy, santai.
“Sakit apa?” Tanya Arya lagi khawatir, kali ini sambil menggigiti jari-jarinya.
“Penasaran? Sebentar yah!” Pinta Teddy, sambil mengeluarkan Aplikasi WA-nya yang masih dalam keadaan hidup, dan beralih ke menu kamera.
Pria yang bernama Teddy itu rupanya sedang berdiri tepat di depan kamar yang didiami oleh Melanie, Teddy pun menggeser pelan pintu kamar Melanie dan…
“Cekrek…” Mengambil gambar Melanie dari kejauhan, tanpa di sadari oleh gadis yang sedang duduk terdiam di ranjang rumah sakit tersebut, dalam keadaan melamun.
Langsung saja dengan cepat foto tersebut di kirimkan Teddy ke Kontak WhatsApp-nya Arya. “Oi, Coba Periksa pesan WA Lo, Ya!” Perintah Teddy, dalam keadaan masih menelpon Arya.
Tanpa Ba Bi Bu lagi, Arya segera mengeluarkan panggilannya, dan beralih ke pesan WhatsApp dan memeriksa foto yang di kirim oleh Teddy. Seketika saja tubuh Arya lemas, melihat wajah Melanie yang sedang duduk di ranjang rumah sakit itu, tampilannya terlihat tampak sangat pucat di foto tersebut.
“I, Ini Melanie?” Tanya Arya, dengan nada bergetar.
“Iya itu Melanie." Jawab Teddy, membenarkan. “Masa gua Bohong?”
“Me, Melanie sakit apa Ted~ Melanie sakit apa?” Tanya Arya dengan suara serak dan bergetar, seakan ingin menangis.
#To Be Continued
.
.
.
.
Mohon dukungannya y, baik vote, ratting, komen, like n shared...
terutama komentar deh, biar author bisa semangat lagi up eps selanjutnya🤗🤗🤗...
author jg mohon kritik n sarannya untuk lebih baik lagi kedepannya...😅🔫
terimakasih udh membaca, assalamuallaikum
🙏🙏🙏
__ADS_1