Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 6: Berubah ala ciwik-ciwik


__ADS_3

#Author Pov


 


Ketika di mobil, Tante Lia sibuk menyupir kendaraan mobilnya....


Sedangkan Arga sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri… dia teringat kembali moment saat Gladish berusaha mengajaknya ngobrol di ruang tamu, Galdish yang tersenyum ramah kepadanya, Gladish yang memengangi pundaknya, Gladish yang duduk dengan posisi mengkangkang dan memperlihatkan penampakan dalaman putih renda dibalik celana hijau bunga-bunganya yang robek.


“Bwahahahaahaaaa~” Suara tawa Arga pun lepas begitu saja, di tengah keheningan malam tersebut.


“Arga!” Tegur Tante Lia. “Kamu tertawa?” Tante Lia pun melirik lampu lalu lintas yang masih terlihat merah, dan segera mengambil ponselnya, dengan cepat menekan menu kamera dan…


“Cekreeeekkk!!!” Terdengar suara pengambilan gambar, disertai dengan cahaya Blitz dari arah ponsel Android Tante Lia.


“Bunda.” Pekik Arga, kaget.


“Habis moment langka kan, kamu tersenyum seperti ini.” Jelas Tante Lia, sambil menjalankan mobilnya kembali-begitu melihat lampu lalu lintas berwarna hijau. “Terakhir kali Bunda melihat senyummu, sudah lama sekali, kalau tidak salah, sebelum Bunda bercerai dengan Ayah.”


Arga pun memutar otaknya kembali, mengingat saat Gladish menyatakan cintanya untuknya… saat itulah dimana hari yang paling menyedihkan untuknya, yakni hari perceraian kedua orang tuanya.


Seandainya gadis itu tidak menghalanginya untuk pergi ke pengadilan, mungkin saat itu ia masih sempat untuk menghalangi Ayah dan Bundanya untuk bercerai, dan jikalau Gadis itu tidak menyatakan cinta padanya, mungkin saat ini kedua orang tuanya masih bisa rukun dan berkumpul bersama.


Itu yang ada di pikiran Arga saat ini. Pikiran anak umur 16 tahun yang masih labil, dan suka mencari-cari siapa yang salah atas kegagalan yang terjadi di dalam hidupnya. Seringkali Ia juga sering menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak bisa jujur… jujur akan sebuah rasa.


“Arga kamu suka Gladish?” Tanya Tante Lia, memecah keheningan malam mereka lagi.


“A… Apa?” Pekik Arga kaget, pertanyaan Tante Lia sukses membuyarkan lamunannya.


“Bunda nggak nyangka, sekolah yang kamu pilih untuk bersekolah, merupakan sekolah yang sama dengan Putrinya Calon Bunda.”


“Itu hanya kebetulan.” Jawab Arga singkat, agar suasana segera kembali tenang.


“Bukannya kita sama-sama dari Jakarta, terus Bunda dengar, waktu di Jakarta, dia Sekolah di SMP yang sama denganmu.”


Tapi Arga tidak menjawab, Ia segera memalingkan tubuhnya ke arah jendela mobil. Tubuhnya seperti didesain untuk tidak menjawab sesuatu, yang membuat suatu perkara semakin rumit.


“Terus malam ini untuk pertama kalinya, Bunda melihat tawamu yang sangat manis.” Lanjut Tante Lia dengan mata yang berkaca-kaca, Ia begitu rindu dengan senyuman anaknya yang sudah jarang sekali-bahkan tidak pernah Ia lihat lagi. “Dan malam ini, ketika kita makan malam bersama. Kau bilang ada seorang gadis yang kamu sukai? Siapakah gadis itu, Nak? Apakah dia Gladish?” Tanya Tante Lia lagi dengan nada bersahabat, mencoba mengajak Arga bercerita.


“Siapa pun itu, yang jelas bukan Gladish.” Jawab Arga dingin, sambil meremas Seatbelt (sabuk pengaman mobil) yang saat ini sedang melingkar erat di dadanya. Ia kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, melihat keramaian silauan lampu-lampu jalan raya dengan sorotan mata yang berkaca-kaca.


 


#Author Pov end


 


₩₩₩₩₩₩


Pagi hari, di sekolah.


Di sepanjang jalan di koridor sekolah…


Aku berjalan penuh dengan percaya diri, dengan dagu wajah yang kuangkat tinggi-tinggi, rambut yang bekas disisir rapi terurai, dandan tipis-tipis, berjalan anggun layaknya ciwik-ciwik cantik (bahkan aku belajar di Youtube tutorial berjalan dengan anggun).


Hampir semua mata Siswa kaum Jantan yang kukenal, kini menatapku, takjub…


“Itu Gladish yah?” Tanya seorang cowok.


“Tumben rapi.” Jawab temannya lagi.


“Manis Juga kalau rapi gini.”

__ADS_1


Bisik-bisik mereka yang berhasil aku dengar, aku pun tak bisa menyembunyikan senyumku yang mengembang, ketika mendengar pujian mereka.


“Nah gini dong elegan ” Terdengar puji suara cowok, dari arah lain. Yang lagi-lagi membuatku terlena.


“Biasanya hancur kayak Monyet. Hahahahaa!” Tungkas temannya lagi.


"Hahahahahaha... Lain, lebih tepatnya kayak B*bi." Tambah cowo yang barusan memujiku dengan kata ELEGAN.


Huuuuhhh… Asyeeeeemmmmm!!!


Biasanya sih, kalau Gua mendengar gunjingan atau cacian dari orang lain, langsung main baku hantam saja…


Sabar Dhis, sabar!


Elo itu cewek, Elo itu harus elegan… okey


.


.


 


#Flashback


 


“Siapa yang Arga sukai? Siapa yang Arga sukai?” Ngigauku sepanjang malam.


Aku bahkan bermimpi mengahancurkan pesta pernikahan Arga, mengagalkan ijab kabulnya, menjambak-jambak rambut wanitanya, sampai-sampai merobek gaun pengantin wanitanya.


“Siapa yang Arga Sukai? Siapa yang Arga sukai???” Erangku kesal, dalam lelap ku.


Dan itu masih berlanjut…


 


“KRRRRRRRRRIIIIIIINNNGGGGG… KRRIIIIIIIIIINNNNNNGGGGGGG... KRRRRRRRIIIIIIINNNNNNNGGG!!!” Bunyi jam alarmku kencang, menyadarkan bahwa semua kefrontalanku hanyalah fatamorgana semata, alias bunga tidur.


Aku pun segera mematikan jam alarmku.


Mandi yang bersih, keramas 2x, gosok gigi 2x sabunan berkali-kali…


Yah sejujurnya, biasanya aku cuma mandi bebek sih.


Kubuang baju-baju putih seragamku yang sudah menguning (kubuang di keranjang cucian maksudnya), kubongkar stok seragam baru, yang seharusnya bakal kupakai saat naik ke kelas Tiga.


Tapi nggak papa lah, toh Bapak ngga tahu juga.


Aku pun tak lupa menyisir rambutku berkali-kali…


Uhhh… mukaku terlihat item lagi, tapi nggak ada bedak.


Bibirku mana berwarna coklat keunguan, kering pula, duh nggak ada pemerah bibir lagi…


Aku pun langsung mengacir, masuk ke kamar Bokapku yang berada di lantai bawah, untung orangnya lagi sibuk di kamar mandi.


Rencananya sih aku cuma mau minta bedak, akan tetapi ketika kubuka almari bopet kacanya…


Subahanallah, Masya allah… Bapak!!!


Ada bedak, Lip tint, parfum, pengering rambut… yang paling menakjubkan adalah, ada berbagai masker, serum dan kream perawatan wajah yang akan membuat wajah Glowing.

__ADS_1


Kulihat jam dinding masih menunjukan pukul 06.00 kurasa cukup untuk menggunakan ini semua, tentunya dengan menggunakan bantuan Mbah Youtube.


 


#Flashback End


 


₩₩₩₩₩


Di waktu istirahat, di kantin sekolah…


 


Seperti biasa aku memesan dua buah mangkok bakso, tapi menginggat perutku terlihat semakin membuncit, aku memberikan satu buah mangkok bakso kesayanganku kepada Rebecca. Anggap saja lah sebagai hadiah terimakasih atas Boom Atom Nagasaki saat di Toilet tempo hari.


Aku juga bersiap untuk duduk melahap semangkok baksoku, tadinya sih mau duduk dengan posisi ternyamanku yakni mengkangkang, cuma melihat disekelilingku terlalu ramai, aku memutuskan untuk duduk anggun ala-ala ciwik.


Cara makanku yang biasanya mengecap dan nyaring, kini ku coba mengunyahnya secara perlahan-lahan.


“Glaaddddddiiissssshhh.” Seru Prisil, sambil mendorong bahuku dari belakang, seperti biasa Ia selalu datang dengan penuh kehebohan. “Gladish… Selama pelajaran aku selalu memperhatikanmu… kukira hanya imajinasiku… tapi…” Ia pun langsung mendongakan wajahku, keatas.


“Masya Allah, Subahanallah, Ternyata beneran kamu sudah tobat Nak?!” Puji Prisil dengan gaya Awkward-nya, sambil mendudukan tubuhnya di kursi sebelahku.


“Apaan sih Pensil.” Desisku, sambil menaruh satu buah pentol baksoku, ke arah mulutnya.


“Gladish atau janda…” Godanya, sambil mendekatkan tubuhnya kearahku. “Sepertinya kamu lagi Jatuh Cintrong???”


“Jatuh cinta? Huuufftt” Aku pun mengenduskan nafasku dalam-dalam. “Jatuh cinta itu, hanya untuk orang-orang yang lemah!” Gumamku meniru kata-kata kutipan sebuah Film yang berjudul Dilan. “…dan sekarang, aku sedang lemah.” Lanjutku dengan nada yang ikutan lemah. Sambil mengambil sebuah pentol bakso lagi, dan menaruhnya kedalam mulutku.


“Jatuh cinta sama Arga kan?”


“Uhuuukk, uhuuuukkk….” Tiba-tiba saja pentol bakso yang ada di mulutku tertelan bulat-bulat… masuk ketenggorokanku, tanpa sempat kukunyah.


B*ngke Lu Sil !!


Segera kuambil botol air mineral terdekat, dan meneguk air itu sebanyak-banyaknya. Sambil menepuk-nepuk dadaku yang kesakitan.


“Bwahahahahahahahaaa... Niko tadi cerita sama Gua, kalo lu kemarin mau cium Arga di UKS ya?!” Seru Prisil, sambil memain-mainkan matanya ke arahku.


 


B*ngke tuh sih Niko!!!


Ember bocoooor!!!


Sudah cerita sama siapa saja tuh anak tentang kejadian kemarin? Awas kalau ketemu yah?!!


Nggak kuasa Gua menahan emosi, sampai-sampai garpu dan sendok kantin yang kini kugenggam, sudah pada bengkok.


Prisil pun mendekat lagi, dan membisikan sesuatu kembali ke arah Gua. “Dhis… inget kah taruhan kita… jadi budak Gua selama seminggu!!!” Bisik Prisil, sambil mengelus-elus kerah baju gua, seakan merapikan.


“Jadi Elu, mau Gua jadi budak Elu?” Tanya Gua dengan nada penuh penekanan, sambil memelototkan mata Gua, dan menekuk kedua alis Gua-memasang wajah SESANGAR mungkin ke arah Prisil “… Selama seminggu?”


“I… I… Iyaa…” Jawab Prisil gugup, “I… itu kan... i... isi ta... ta… ta… taruhannya?” Lanjutnya, dengan ekspresi bergetar-ketakutan. Mengingat aku merupakan anak Pencak Silat bersabuk merah, yang sering dikirim di turnamen-turnamen tingkat nasional.


Aku pun langsung memperlihatkan sendok dan garpu yang habis aku bengkokan ke arah Prisil. “Yakin Sil?” Tanyaku lagi, sambil menjatuhkan satu-persatu garpu dan sendok itu ke arah tanah.


“Ng… ng… nggak kok Gladish, da... daku bercanda saja… hehehe…” Nyengir Prisil dengan sorot mata yang hampir menangis.


 

__ADS_1


#To Be Continued


__ADS_2