Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 13: Pelabrakan Maya


__ADS_3

 


“Hei Pensil!” Sapaku, melihatnya hanya termenung, sambil menggulung-gulung mie ayamnya.


“Emmm~” Erangnya, tanpa mempedulikanku.


“Makan yang bener mie ayamnya!” Tegurku, sambil asik mengunyah batagor yang barusan kupesan, “Nanti ngembang loh!”


“Aku udah nggak perawan lagi Dhis.” Ucap Prisil datar.


Langsung saja aku membelalakan mataku, garpu dan sendok yang kupegang langsung terjatuh.


“Bibirku.” Lanjutnya, ketika melihat reaksiku yang berlebihan.


“Lebay kamu!” Cibirku sambil mengambil garpu dan sendok yang telah kujatuhkan. “Kukira ada yang memperkosamu!”


“Apakah aku harus menikahi Niko?” Tanya Prisil dengan nada polos.


“Bwa~ Bwaaahahahahaaa…” Langsung saja aku ngakak kencang, mendengar pertanyaannya.


“Kamu pernah kuberi tahu kan, kalau ciuman pertamaku itu harus suamiku?”


“Jadi aku harus menikah dengan organisasi silat gitu, secara perawanku pecah karena silat?”


“Yah, enggak lah.”


“Tuh kan, nggak semua yang menjadi bagian dari pertamamu, bakal jadi jodohmu!” Jelasku, “Bahkan Bapak dan Ibuku yang telah menikah, dan itu merupakan pernikahan pertama bagi mereka, bisa bertahan seumur hidup, nyatanya nggak kan?” Tanyaku lagi pada Prisil, sahabat yang memang hampir tahu semua bentuk rahasiaku.


“Tumben lu pinter Dhis.” Puji Prisil ke Gua, yang gua denger seperti hinaan.


“Dasar!” Pekik Gua.


“Eh Sil, Bapak Gua kan mau nikah lagi tuh!” Ucap gua ragu-ragu, akan tetapi untuk saat ini Gua memang butuh teman curhat.


“Iya Gua tahu, kamu pernah cerita, dan calon istrinya cantik kan?” Ucap Prisil yang mengingat-ingat ceritaku yang dulu.


“Yap, Tapi pasti Elu bakal syok kalau tahu siapa saudara tiriku?!”


Prisil pun langsung memutar bola matanya. “Ngapain Gua syok?”


Aku pun langsung mengembungkan pipiku, ngambek.


Prisil pun langsung memasang ekspresi terkejut. “WAAAWWW, Memang siapa calon saudara tirimu?” Tanya Prisil dengan reaksi pura-pura penasaran, menghargai diriku bercerita, biar nggak ngambek lagi.


Tiba-tiba saja di depan kami, ada seorang cewek dan….


“BRAAAAAKKKKK!!!" Melabrak meja kami.


Keempat temannya yang berpostur gendut-gendut pun, menyusul di belakang cewek yang barusan melabrak meja kami tersebut.


“Eh, Elu yang namanya Gladish yah?”


Aku pun menyipitkan kedua mataku, mengenal dengan jelas siapa yang ada d hadapanku saat ini, cewek itu ialah Maya dari kelas sebelah gua, sang ketua OSIS yang sok cantik (tapi memang cantik sih).


"Iya, Gua yang namanya Gladish.” Jawab gua, dengan nada yang santai.”


“Bisa ikut gua?!” Ajaknya, dengan nada jutek.


“Makan Gua belum selesai.” Ucap gua nggak kalah jutek.


“Oke Gua tunggu!”


₩₩₩₩₩


 


#Author Pov


“Nah mumpung kita pas berempat, mari kita mengambil foto bareng!” Ajak Rafi kepada ketiga temannya tersebut.


“Njiiirr, Narsis loh, Buat apa?!” Protes Niko.


“Ya buat merayakan, kalau kita punya teman baru.”


Arga pun tersenyum, “Karena kalian merayakan kedatanganku, biar aku yang neraktir kalian semua!”


“Yeeeeeyyy…” Seru Rafi, girang.


“Tumben Elo Ga, ngomong dengan kalimat yang panjang?” Timpal Niko, yang biasanya mendengar kalimat Arga yang keluar dari mulut Arga selalu irit.

__ADS_1


“Ayo semuanya!” Ajak Rafi sambil mengeluarkan kameranya.


“Entar! Gua sembunyiin rokok Gua dulu.” Gumam Bambang, yang sedari tadi asik sendiri dengan rokoknya,


Semua pun menghadap ke kamera Rafi, untuk berfoto. “Tiga, dua, sa…..”


“Cekreeeeeekkk.”


 


₩₩₩₩₩


Prisil pun kini mengigiti ujung kukunya, kini dia duduk sendirian di meja kantin. “Duh, aku jadi takut terjadi apa-apa sama Gladish.” Pekiknya dalam hati, “Apa aku aduin ke teman-teman satu kelas yah biar bantuin Gladish?” Ia pun berdiri dari pijakannya, dan terhenti kembali. “Tapi…”


 


#Flashback


 


“Makanmu sudah kan Dhis, Ayo ikut gua!” Ajak Maya.


“Ok~” Ucap Gladish masih dengan ekspresi santai. Sambil berdiri dari pijakannya.


“Dhis, Gua ikut yah?!” Gumam Prisil, sambil menahan tangan Gladish.


“Tidak Sil, ini urusan gua sama Maya!”


Prisil pun menarik Gladish lagi, kali ini untuk membisikan sesuatu. “Loe nggak lihat teman-temannya Maya gede-gede?”


“Heleehh khintil, Elo takut gua yang kalah?” Ucap Gladish dengan nada berbisik juga.


“Iya, nanti Elo gepeng Dhis di tindih sama mereka.”


“Justru mereka yang mau Gua kurusin.” Ucap Gladish, sambil tersenyum renyah.


“Apa yang kalian bicarakan. Hah!” Ucap salah satu ajudan Maya yag paling gede, dengan nada galak, sepertinya Ia mendengar pembicaraan Gladish dan Prisil.


“Nggak Mpo, cuma Gibah dikit saja.” Ucap Gladish, dengan senyuman simpul, sambil meraba lengan kiri ajudan yang baru saja menegur mereka tersebut.


 


 


#Flashback end


 


₩₩₩₩₩


 


“Cekreeeek, Cekreeekk, Cekreeekk…” Pengambilan Foto berkali-kali oleh keempat lelaki yang terlihat jaim, padahal aslinya narsis.


“Ayo kita Tag fotonya di Instagram!”


 


Rafi pun menandai IGnya Niko @niko_gantz_beutt, IGnya Bambang @Bang2gram_official, IG dirinya sendiri, @rafi_celalu_trsyakiti dan…


“IGmu apa Ga?” Tanya Rafi.


“Aku nggak punya IG.” Jawab Arga, dengan ekspresi datar.


“What?!” Pekik Niko. “Hari gini nggak punya IG? Nggak gaul banget sih?!”


“Hahaha~ Mungkin dia sibuk.” Sambung Bambang, menenangkan suasana..


“Males! Terlalu banyak yang follow.” Ucap Arga sambil melanjutkan makannya. “Terlalu banyak juga yang inbox.”


“Buju Buseeett!” Pekik Rafi.


“Sombyooonggg.” Cibir Niko.


“Ya udah aku buatin yang baru yah Ga, jadi aku bisa nge-tag nama kamu di foto kita.” Solusi Rafi, sambil tersenyum simpul.


 


₩₩₩₩₩₩

__ADS_1


 


Di ruang BK…


“APAA!!! Maya dan kawan-kawannya ingin mengeroyok Gladish?!” Pekik Pak Bagas, Guru BK SMA Tunas Bangsa, yang terkenal dengan kumisnya yang menawan.


“Iya pak, mana tubuhnya gede-gede semua.” Adu Prisil kepada Pak Bagas, mencari pertolongan untuk Gladish, dan satu-satunya harapan yang bisa menolong Gladish, menurutnya hanya guru BK.


“Waduh, bisa-bisa Gladish bonyok itu.” Pekik Pak Bagas, mengingat postur tubuh Gladish yang lumayan ramping, “Kamu tahu kan mereka dimana?” Tanya Pak Bagas.


“Nggak tahu juga Pak, Tapi sepertinya mereka lewat arah menuju gudang sekolah deh Pak!”


“Baik ayo kita kesana!”


“Ayo Pak!!!!”


 


₩₩₩₩₩


 


“Hiyyaaaaaaaaaaaatttt... Ciiiaaaaaaaaaaaaaatttt... Ciiiaaaaaaaaaaaaaatttt... Ciiiaaaaaaaaaaaaaatttt!!!" Suara erangan Gladish, mengeluarkan segala jurus-jurus rahasianya


 


Maya pun ketakutan, satu-persatu teman-teman Buldoser-nya tumbang di tangan Gladish.


 


“Besar badan saja kalian!” Seru Gladish, selesai dengan tugas-tugasnya, dan melemaskan otot-ototnya.


“Yak! Dasar preman!” Pekik Maya.


“Kamu juga mau?” Tawar Gladish ke arah Maya, sambil menyipitkan matanya.


“Ng, Nggak!”Jawab Maya sambil memalingkan wajahnya, mulai takut dengan Gladish.


Gladish pun berjalan lurus kedepan, mulai mendekati Maya.


Maya pun refleks terjatuh dari pijakannya. “Ma, mau apa kau?” Tanya Maya dengan nada bergetar.


Melihat reaksi Maya yang berlebihan, Gladish pun menghentikan langkahnya. “Kenapa kamu membawaku disini? Hah!” Tanya Gladish.


Maya pun akhirnya berani menatap Gladish, “Aku marah, aku marah karena kamu tendang Arga kemarin.” Ucap Maya, jujur.


“Terus aku yang nendang Arga, kenapa kamu yang marah?”


“Karena, aku suka sama Arga.” Jawab Maya, dengan nada yang lantang.


Gladish pun terdiam. “Aku pun juga suka Arga!” Jeritnya dalam hati.


“BRAAAAAAAAAAAKKKKK!!!” Tiba-tiba saja pintu gudang tersebut terbuka, dengan sekali dobrakan oleh Pak Bagas.


“Hei, ada apa kalian disini?!” Teriak Pak Bagas, bermaksud menghentikan perkelahian tersebut.


“Gladish, kamu tidak apa-apa?” Jerit Prisil Khawatir.


Gladish dan Maya pun, refleks menghadap asal suara tersebut, yakni Pak Bagas dan Prisil.


“Eh apa-apaan ini?” Pekik Pak Bagas, melihat penampakan siswi-siswi muridnya yang berbadan besar-besar, berhamburan pingsan di lantai dengan keadaan bonyok.


“Maya ini perbuatanmu?” Tanya Pak Bagas.


“Tidak Pak! Tapi dia!" Tunjuk Maya ke arah Gladish.


Gladish pun mengembuskan nafasnya dalam-dalam. Dan membisikan sesuatu kepada Prisil dari kejauhan. “Kenapa kamu aduin ini ke Pak Bagas hah!” Bisik Gladish dengan gerakan mulutnya, sambil menatap Prisil bulat-bulan.


“Ampun Dhis, Gua nggak tahu kalau Elu yang bakal jadi pemenangnya.” Bisik Prisil dari arah kejauhan, sambil mengerutkan matanya, takut akan kemurkaan Gladish padanya.


“Maya, Gladish. Ikut Bapak ke BK!!!” Perintah Pak Bagas.


“Sekarang Pak?!” Seru Gladish dan Maya berbarengan.


“Nggak, tahun depan!” Jawab Pak Bagas sambil memutar bola matanya. “Yah, sekarang lah!”


 


#To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2