
#Arga Pov
Delapan tahun yang lalu…
Perkenalkan namaku Arga Bima Prasetya, biasa di panggil Arga, umurku saat ini 8 tahun, dan aku masih kelas 3 SD (Sekolah Dasar). bisa dibilang kehidupan sehari-hariku normal, aku memiliki Bunda dan Ayah yang saling mencintai dan selalu rukun, dan aku memiliki kakak laki-laki yang bernama Arya…
Aku dan Arya meski dikenal memiliki paras yang sama-sama tampan, akan tetapi paras kami berbeda, dia wajahnya lebih dominan ke Ayah dan wajahku lebih dominan ke Bunda, sifat kami pun juga berbeda.
Aku yang dikenal pendiam, pasif dan dingin, yang orang-orang biasa menjulukiku anak Introvert.
Sedangkan kakakku yang pembawaannya selalu ramah, aktif dan menyenangkan, dan orang-orang biasa menjulukinya anak Ekstrovert.
……
…
..
Karena aku sering menyendiri…
Ada saja orang-orang yang ingin menjahatiku…
Kala itu, ketika aku sedang membaca buku dibawah pohon beringin, yang terletak di belakang sekolah… aku pun tertidur pulas. Tanpa sadar ada beberapa anak yang membawa tubuhku di suatu tempat yang lembab dan pengap…
“HOIII BANGGUUUUNN!! HOIII BANGGUUUUNN!!” Teriak seseorang, aku merasakan beberapa alas sepatu menginjak-injak tubuhku dengan keras, rasanya sakit sekali.
Dan ketika kuterbangun, betapa terkejutnya aku, kini tubuhku sudah berada di dalam gudang terpencil belakang sekolah, biasanya tempat ini digunakan untuk menaruh peralatan-peralatan sekolah yang sudah rusak atau sudah tidak bisa digunakan lagi, seperti meja, kursi, papan tulis dan lain-lain.
Kulihat lima orang anak cowok, yang tak lain dan tak bukan, merupakan teman satu kelasku sendiri. Sedang memperlakukanku layaknya binatang, yakni menginjak-injak tubuhku.
“Kalian mau kulaporkan ke Polisi?!” Ancamku dengan sorot mata yang dingin, berusaha untuk tetap terlihat kuat, meski harus menahan rasa sakit disekujur tubuhku.
“Berhenti!” Seru Romi, anak yang paling bongsor, sekaligus bos geng mereka. Menyuruh anak-anak lainnya untuk berhenti dari aktivitas menyenangkan mereka, yakni menginjak-injakku.
“Kenapa kalian melakukan semua ini padaku?” Tanyaku, dengan sorot mata yang berkaca-kaca. “APA SALAH DAN DOSAKU KEPADA KALIAN?!” Teriakku, air mataku pun tumpah di sekujur pipiku.
Romi pun lalu mengangkat wajahku dengan tangan kanannya. “Wajahmu…”
“Maksudnya?” Gumamku tak mengerti, sambil mengerutkan kedua alisku.
“Kau bodoh atau pura-pura bodoh?!” Teriaknya.
Salah satu anak, dari mereka langsung membelakangi Romi, dan mencoba menjelaskan kepadaku. “Jadi gini, bos kami baru saja menyatakan cinta pada Selvi, bunga kelas di kelas sebelah. Tapi dia dengan lancang menolak bos, dia bilang tipe idealnya bukan seperti bos, tapi seperti kamu Ga.” Jelas anak itu kepadaku.
“Jadi bukan aku yang salah kan?” Bela ku, sambil menatap Romi dengan tatapan yang awalnya dingin, berubah menjadi tatapan memelas. “Tolong lepaskan aku!” Pintaku, mengingat tanganku kini diikat kencang di salah satu kaki meja, yang diatasnya bertumpuk dengan meja yang lain.
“Iya, memang benar kamu nggak salah…” Romi pun langsung mendekatkan diri padaku lagi, dan mengambil wajahku dengan tangan kirinya, dan memencat kedua pipiku dengan tangan kirinya tersebut. “Tapi wajahmu?” Tambahnya, langsung saja tangan kanannya merogok-rogok kantong celananya, dan mengambil sebuah benda seperti batangan, yang ketika Ia pencet tombolnya...
Betapa terkejutnya aku.
__ADS_1
Yang keluar dari batangan tersebut, merupakan kepala pisau yang tampak sangat tajam.
“Hai Bos kamu yakin?” Tanya salah satu anak buah dari Romi, yang ikut terkejut melihat penampakan benda tajam, dari arah tangan Bosnya tersebut.
“Bos ini namanya tindakan kriminal, nanti kita bakal di laporkan ke polisi loh!” Cetus anak buah Romi yang satu lagi, dengan nada polos.
Tapi Romi tak menghiraukan, malah mengelus-eluskan benda tajam itu kearah pipiku.
“Bos kau keterlaluan! Kita hanya anak kecil berumur delapan tahun, masa karena cinta kau tega untuk membunuhnya!” Protes anak buahnya yang satu lagi.
Romi pun tertawa terbahak-bahak mendengar peringatan-peringatan anak buahnya, sepertinya dia mengalami gangguan kejiwaan, atau dia mengalami gangguan kepribadian seperti psikopat?
“DIAM KALIAN!!!” Teriak Romi, sambil membelakakan matanya.
“Bunuh saja aku!” Pintaku, dengan nada dingin. “Paling kalau aku jadi hantu, kau orang pertama yang akan kubunuh!” Ancamku padanya.
“Aku tidak akan membunuhmu, aku hanya ingin merusak wajahmu saja. Hahahahahaaa~" Ucapnya, sambil menggores sedikit pipiku dengan pisau itu, menampakan sedikit bercak darah segar dari arah pipiku.
Perih, benar-benar perih.
“Bos, aku tak mau ikut-ikutan!” Seru salah satu anak buah Romi yang lain.
“Iya, aku juga.” Sambung temannya lagi.
Karena takut di penjara, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Romi bersama Arga.
“Mau kemana kalian?!” Teriak Romi, menghentikan kegiatannya. Dan melihat satu persatu-anak buahnya pergi meninggalkan dirinya.
#Arga pov end
₩₩₩₩₩
#Author Pov
“Sedih banget sih, aku dihukum lagi sama guru metik untuk membersihkan gudang.” Keluh seorang anak kecil berambut pendek ala laki-laki sambil membawa ember dan alat pel di tangan kanannya, sedangkan sapu dan serok bersarang di tangan kirinya. Gadis itu dihukum membersihkan gudang oleh pak guru, karena selama pelajaran Matematika berlangsung, Ia sibuk mengganggu dan berkeliling meminta contekan dengan teman-temannya di kelas.
Ketika Ia menuju gudang, ia melihat beberapa anak laki-laki berlarian keluar dari arah gudang tersebut, dengan ekspresi ketakutan.
“Ketakutan, apakah mereka habis melihat hantu dari gudang tersebut?” Tanya anak kecil bernama Gladish itu, dalam hati. “Sepertinya gudang itu menyeramkan. Apakah aku kabur saja yah?” Gumamnya, rupanya gadis itu takut juga dengan yang namanya hantu. “Toh Pak Guru paling juga nggak tahu kalau aku meninggalkan gudang tanpa membersihkannya!” Pikir gadis tomboy tersebut, sambil menaruh sapu dan serok di sampingnya, dan menggunakan tangan kiri tersebut untuk mengorek-ngorek hidungnya, atau bahasa gaulnya ngupil.
₩₩₩₩₩
“Baiklah, karena sudah tidak ada orang disini. Kita lanjutkan permainan kita yah?” Tanya Romi, meminta persetujuan Arga, sambil menjilati ujung pisaunya yang tajam, yang saat ini masih dipegangnya.
Arga yang melihat pintu gudang yang sedang terbuka lebar pun, tak melewatkan kesempatan tersebut. “TOLOOOOOONGGGG… TOLOOOOOOOONNGGG!!! TOLOOOOOOONGGGG AKU!!!!” Teriak Arga sekencang-kencangnya, berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya, menolongnya dan membebaskan tubuhnya dari jeratan Psikopat Romi.
__ADS_1
“Diam kau Arga!” Umpat Romi, sambil menjambak rambut Arga dengan kencang. “Sepertinya aku tidak hanya akan merusak wajahmu.” Sambil mengelus-eluskan pisaunya lagi ke wajah Arga yang mulus. “Tapi aku juga akan mencabik-cabik tubuhmu dengan pisau ini!” Ancam Romi, sambil membelalakan matanya ke arah mata Arga. “Hahahahhaahaahaaaa~ Hahahhahahahaaaa~” Tawa kerasnya menggema lagi, lebih keras dari tawa-tawa yang sebelumnya.
Suasana pun semakin mecekam.
“Dasar psikopat!!!” Pekik Arga dengan nada lemah, sepertinya dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya, jantungnya beritme tak beraturan, nafasnya pun terasa sesak...
Apakah hidupnya akan berakhir sampai disini?
Air mata pun kembali mengalir, dari arah mata pria tampan, berahang tirus tersebut.
“PAK GURU! PAK GURU DISINI!! IYA DISINI PAK!!!” Teriak seorang anak perempuan, seperti melapor kepada seorang guru.
Mendengar suara tersebut, langsung saja Romi berbalik ketakutan dan berlari sekuat tenaga, kewalahan dengan membawa tubuh buntalnya.
Ia ketakutan, takut ada guru yang melihat aksinya… takut Ia dikeluarkan lagi dari sekolah…
Ketika Romi sampai di depan pintu gudang, langsung saja seseorang yang berteriak tersebut, keluar dari balik pintu gudang, dan segera menaruh ember yang di pegangnya tersebut ke arah kepala Romi, dalam keadaan tengkurap.
Romi pun kesulitan melihat, penglihatannya tertutup dengan adanya ember biru tersebut di kepalanya, ketika Ia ingin membuka ember tersebut, seseorang menendangnya…
“Duuuuuukkk” Terdengar suara tendangan keras, ke arah pantat Romi.
Sehingga membuat pisau yang sedari tadi dipegangnya, terlepas begitu saja.
Gadis itu pun langsung memukuli Romi dengan ujung sapu….
“PAAAAAKKKKK... PAAAAAAKKKK... PAAAAAAAKKKK!!!” Terdengar bunyi ujung sapu yang melayang dan mendarat berkali-kali dengan kerasnya di sekujur tubuh lelaki buntal tersebut. “Rasakan ini kau gembrooott… rasakan!!!” Teriak cewek berambut pendek tersebut, dengan nada puas. Saat ini Gladish merasa, bagaikan emak-emak yang sedang memukul-mukul kasurnya di bawah sengatan sinar matahari.
“Ampuuunnn amppuuuunnn amppppuuuuunnnn!” Pinta anak lelaki bongsor tersebut dengan suara memelas.
“Pergi kau dari sini!! Pergi!!!!” Langsung saja Gladish menendang lagi, pantat anak laki-laki gembrot tersebut dan membiarkannya pergi.
Romi pun segera membuka ember yang bersarang di kepalanya, “Awas kamu yah! Kukasih tau mamaku kamu! Kukasih tau mamaku!!!” Ancam Romi, sambil menangis dan berlari dari arah gudang tersebut. Tentunya berlari dengan gerakan Slow Motion, Ia terlalu kesulitan mengangkat beban tubuh yang ada…
“Hahahahaa… M*mpus Lu! Makanya jadi anak jangan pembualan!” Seru Gladish sambil mengibas-ngisakan tangannya.
“Tolong aku, Tolong…” Teriak Arga dengan nada lemas, kepada gadis tersebut… sepertinya tenaganya sudah terlalu habis karena berbagai kejadian yang baru saja menimpanya, di umur sedini ini… yang mungkin saja, bisa menghadirkan trauma tersendiri bagi masa depannya.
Gladish pun menghampiri Arga, dan memeluknya….
Eh…
Memeluknya…?
“Hei, hei apa yang kamu lakukan?!” Pekik Arga dengan rona wajah memerah.
“Kamu nggak lihat, aku sedang berusaha untuk menodaimu?!” Ucap Gladish dengan nada yang santai, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Arga.
Wajah Arga pun lagi-lagi memerah...
__ADS_1
“Yak, kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan yah!” Umpat Arga kesal, kepada gadis yang baru saja menolongnya tersebut. Tak disangka, gadis itu juga mempunyai niat jahat terhadapnya.
#To Be Continued.