Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 28 : Ekstrovert Ambisius


__ADS_3

Mama Maya baru saja pulang dari SMA Tunas Bangsa, karena Ia baru saja mendapat panggilan surat dari guru BK di Sekolah anak gadisnya tersebut. “Aisss… Maya ada-ada saja!” Keluhnya, sambil masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


 


“Ting… Tong… Ting… Tong!” Terdengar bunyi bel dari rumah bernuasa Cream itu berbunyi. “Iya siapa?” Seru Mama Maya, mengurungkan niatnya untuk mengganti pakaiannya, dan segera membukakan pintu di area ruang tamunya.


“Assalamuallaikum…” Sapa seseorang, wanita paru baya berjilbab hijau, setelah pintu itu di buka oleh Mamanya Maya.


“Waalaikumsalam,” Jawab Mama Maya. “Anda siapa?” Tanya Mama Maya, yang merasa asing dengan wanita yang ada di hadapannya tersebut.


“Saya ibu tetangga, dari rumah sebelah.” Jawab wanita paru baya, berjilbab hijau tersebut. Sambil membawa rantangan yang di antar Maya kemarin ke rumah Niko. Wanita berjilbab hijau tersebut tak lain dan tak bukan merupakan ibu kandung Niko. “Makasih yah, Bu… Kemarin kue Brownis coklatnya, ini saya mengembalikan rantangan ibu dan mengisinya dengan kue Martabak India buatan saya. Silahkan dicicipi yah Bu! Semoga suka.” Ucap ibu Niko, ramah, dengan senyuman termanisnya, sambil hendak berlalu dari kediaman rumah Mama Maya tersebut.


“Eh, Ibu mau kemana?!” Tahan Mama Maya, sambil menahan lengan Ibu Niko yang hendak berlalu.


“Pulang dulu Bu… mau nonton sinetron pelakor yang lagi booming itu.” Jelas Ibu Niko, sambil tersenyum malu, karena kecintaannya pada sinetron tersebut.


“Kenapa nggak nonton disini saja Bu?” Tawar Mama Maya. “Sekalian kita ngobrol-ngobrol sebentar, bagaimana?!”


“Wah ide yang bagus, kebetulan rumah saya juga sepi, Bu!”


 


₩₩₩₩₩


 


Di dalam kamarnya yang bernuansa biru tua, Arya sedang sibuk kembali dengan laptopnya, rencananya sepulang dari Fitness Ia berencana mengedit video-video yang baru saja diambilnya untuk dimasukan ke dalam konten Vlogernya.


Akan tetapi dia urungkan niat tersebut, Ia saat ini sedang menyusun sebuah proposal untuk mengadakan penelitian di salah satu rumah sakit kecil di kota Bogor Indonesia.


 


Sebelum mengadakan penelitian itu, Ia diwajibkan harus mengajukan proposal, yang harus di tanda tangani dosen pembimbingnya yang ada di Negara Tetangga sana, yakni Singapore.


 


Dia pun berpikir sejenak, sambil melirik kalender di layar Handphonenya, apakah cukup waktu baginya untuk bolak balik dari Indonesia ke Singapore, lalu ke Indonesia lagi?


Sementara acara lamaran Bundanya dan Om Hendra, yang akan di laksanakan di kediamannya, akan terlaksana selama lima hari lagi.


Tak ada waktu untuk bersantai bagi Arya, lelaki Ekstrovert yang berwatak Ambisius itu, Ia harus segera melaksanakan penelitiannya secepat mungkin guna bertemu Melanie…


 


Ups~ salah…


Guna untuk mempercepat proses kelulusannya.


₩₩₩₩₩


 


Pada jam istrahat kedua, tepatnya di Perpustakaan SMA Tunas Bangsa.


 

__ADS_1


Saat ini Maya, sedang asik menatap sosok tampan, berwajah tirus, dingin nan misterius, yang sedang asik membaca buku sains kesayangannya… Maya mengamati setiap inci pemandangan indah, dari sosok lelaki tampan bak malaikat tersebut dari arah kejauhan.


“May… May…” Tiba-tiba saja, teguran dari seorang gadis yang sedari tadi memanggilnya, membuyarkan lamunannya. “Loe liatin apa sih dari tadi?” Tanya gadis berkacamata yang barusan menegur Maya.


Maya pun menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. “Eh Lala, nggak, aku cuma…”


“Liatin Arga, anak kelas 2 IPA 6 itu yah?” Tanya gadis berkacamata yang bernama Lala itu, sambil menunjuk keberadaan Arga dari jauh.


Lala merupakan anak kutu buku kelas 2 IPA 1 yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, mendampingi jejak Maya yang saat ini menjabat sebagai Ketua OSIS, yang tugas mereka untuk mengambil alih dalam memprakarsai, dan memberikan ide-ide kreatif dalam setiap kegiatan yang akan berlangsung di SMA Tunas Bangsa.


Maya pun memutar bola matanya. “Nah itu tahu!”


 


“Apa ini Maya yang kukenal?”


“Maksudnya?”


“Bukannya dari SMP sampai SMA kamu tim gercap yah kalau setiap ada cowok ganteng yang berkeliaran di sekolah?” Tanya Lala, rupanya Lala merupakan teman Maya sedari SMP. Dan sangat mengenali sifat Maya, luar dan dalam.


 


Lala tahu betul sifat Maya yang alergi dengan sebutan mencintai dalam diam… Dia tidak akan membiarkan kaum laki-laki duluan yang memulai mendekatinya, karena dia tipe yang suka mendekati lelaki duluan, bukan didekati…


Dan satu hal yang harus di ketahui dari sosok seorang gadis cantik, berwajah oriental dan berpostur tubuh tinggi semampai bak model seperti Maya…


Dia itu orangnya sangat pemilih dan seleranya itu sangat tinggi, yang Ia dekati hanya pria yang menurutnya enak di pandang saja.


Dia tak peduli laki-laki itu kaya atau miskin, yang penting ia mempunyai wajah yang tampan dan proporsi tubuh yang bagus menurutnya, sudah merupakan modal utama bagi lelaki itu dalam menaklukan hati Maya.


Dengan modal wajah cantik, pintar dan percaya diri yang tinggi, mantan-mantan pacar Maya yang pernah Lala liat, tidak ada satupun yang memiliki wajah jelek, semua enak dilihat, semuanya indah bagaikan aktor tampan yang ada di sinetron-sinetron televisi.


“What?!” Pekik Lala kaget, Ia nggak menyangka… ada lelaki yang berani menolak cewek secantik, seaktif dan sepintar Maya. baru kali ini ada lelaki tampan yang dikejar Maya menolaknya, biasanya lelaki-lelaki tampan yang di kejar Maya, selalu pasrah.


#*Flashback.


 


“Mau tahu sebuah rahasia?” Tanya Maya, kepada Arga.


Arga pun akhirnya melepaskan pandangan matanya dari arah bukunya-dan kini menatap Maya. “Apa?” Tanyanya dengan ekspresi sedatar mungkin, padahal aslinya penasaran.


“Sebenarnya, di SMA Tunas Bangsa ini… Banyak yang bilang aku merupakan siswi yang paling cantik di sekolah ini…” Jawab Maya dengan memasang ekspresi malu-malu, sambil tangannya menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya, padahal aslinya percaya diri banget.


“What?!” Pekik Arga dalam hati, sambil memutar bola matanya.


Tangan kanan Maya pun langsung memegang tangan kanan Arga yang sedang setia memegang buku, dan mengambil tangan itu kearahnya…


“Bruuukkk….” Buku yang di pegang Arga pun terjatuh dari singgasananya, yakni terjatuh ke lantai.


“Arga…” Gumam Maya, sambil mengelus-elus tangan Arga. “… Sepertinya kita cocok…” Jelas Maya, Maya pun langsung memain-mainkan jari-jemari Arga yang kini berada di tangannya. “… Apakah yang harus kita lakukan?” Tanya Maya, dengan memasang tampang sepolos mungkin.


 


Arga pun mengerutkan keningnya tak mengerti dengan maksud dari kata-kata Maya…

__ADS_1


Maya yang pintar membaca mimik Arga pun, kini menambahkan kalimatnya lagi. “… Apakah …Apakah kita harus jadian?”


 


Arga pun langsung melepaskan tangan Maya secepat mungkin dari tangannya. “Nggak!” Ucap Arga singkat, padat dan jelas. Dan…


 


“Deg~” Sukses membuat jantung Maya Shock. Karena untuk pertama kalinya dia diperlakukan dan di tolak seperti ini oleh seorang pria.


Arga pun berlalu dari pijakannya, pergi meninggalkan Maya duduk sendirian.


 


Jujur saja kelakuan Arga sukses membuat luka di hati Maya… Sakit… Sakiiiiittt sekali…


 


Matanya memerah, harga dirinya sebagai perempuan serasa hancur lebur.


Akan tetapi…


“Sakit sih, tapi kok tambah penasaran yah?!” Gumam Maya dalam hati, benar kata pepatah semakin ditolaknya cinta, maka justru membuat seseorang itu semakin penasaran.


#Flashback End*


“Hahahhahaaa~ Hahahhahaaa~” Lala pun tertawa puas, mendengar cerita Maya. Yang sukses mencuri perhatian beberapa pengunjung perpus di sekitar mereka.


“Asem kamu La!” Pekik Maya, nggak terima dengan reaksi sahabatnya itu.


“Jadi apa yang kamu rencanakan?” Tanya Lala, sambil menghapus air mata tawanya tersebut. Sangking bahagianya.


“Menurutmu?” Tanya Maya lagi, kepada sahabatnya tersebut, Maya yakin sahabat jeniusnya itu mengerti dia secara luar dalam, dan saat ini, pasti bisa membaca apa yang saat ini Ia pikirkan.


“Kamu… nggak akan menyerah?” Tebak Lala hati-hati, sambil mengerutkan alisnya, tak yakin dengan jawabannya.


“Nggak akan!” Gumam Maya, dengan suara yang tegas dan lantang.


Seperti biasa wanita bermata sipit, yang berkepribadian Ekstrovert Ambisius tersebut, tidak akan pernah mengenal kata putus asa dalam hidupnya, sebelum mendapatkan apa yang Ia mau.


#To Be Continued


.


.


.


.


Mohon dukungannnya y, baik vote, ratting, komen, like n shared...


terutama komentar deh, biar author bisa semangat lagi up eps selanjutnya🤗🤗🤗...


author jg mohon kritik n sarannya untuk lebih baik lagi kedepannya...😅🔫

__ADS_1


terimakasih udh membaca, assalamuallaikum


🙏🙏🙏


__ADS_2