Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 29 : Selamat tinggal dunia~


__ADS_3

Malam itu sekitar pukul 19.45 WIB, tepatnya setelah sholat Isya Gladish Gladish bersiap-siap dengan stelan baju putih-putih, dengan sabuk merah kebanggannya. Ia pun mengikat kuat, rambut hitam panjangnya kebelakang, dan menjinjing tas selempang yang sudah Ia isi dengan barang-barang pentingnya seperti dompet, Handphone dan sebotol air mineral berukuran 2 liter.


 


“Aku suka Body, goyang mama muda


Mama muda... da da da da da da da


Goyang mama muda da da da da da da da


Mama muda…”


 


Terdengar suara seseorang, yang sedang asyik mendendangkan lagu Mama Muda, lagu yang lagi hits di dunia Per’TikTok’an, dengan iringan musik Speaker yang Subahanallah, kencang banget.


“Bapak.” Gumam Gladish risih, sambil memutar bola matanya. Mengetahui pemilik suara ngebash, yang penuh dengan nada Fals itu merupakan suara dari Bapaknya tercinta.


Gladish pun segera keluar dari kamarnya, dan menuruni tangga-tangga rumahnya yang mengarah ke arah ruang keluarga.


“Buju Buseeeettt!!!” Pekik Gladish, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, melihat pemandangan ayahnya yang sedang berkaraoke ria, dengan baju putih berlengan pendek polos, disertai dengan celana pendek hitam miliknya.


Dengan perut buncitnya, Pak Hendra menyanyikan lagu tersebut dengan goyangan mama muda mautnya, yang menurut Gladish goyangan tersebut lebih layak disebut dengan tarian ular buntal.


Sebenarnya Gladish ingin sekali menggoda Bapaknya kala itu, cuma ada keberadaan sosok Tante Milea yang sedang duduk manis di sofa, sambil tertawa dan bertepuk tangan. Melihat pertunjukan yang di bawakan Bapak Gladish (yang sumpah menurut Gladish, malu-maluin) untuk wanita paru baya yang masih terlihat sangat cantik, untuk ukuran wanita di usia yang tak lagi muda tersebut.


Menurut Gladish sangat pas lagu yang kini didendangkan Bapaknya dengan kehidupan Real Live nya saat ini. Di lirik lagu tersebut mengisahkan seseorang (Brondong) yang mencintai seorang wanita janda muda yang memiliki dua orang anak. Bak Bapak Gladish (Om-Om Tuir) yang mencintai seorang janda (Tua), yakni Tante Milea, yang memiliki dua orang anak, yakni Arya dan Arga.


“Gladish mau kemana?” Tanya Tante Milea, yang tanpa sengaja menyadari keberadaan Gladish.


“Ah~” Gumam Gladish, yang menyadari keberadaannya di ketahui oleh Tante Milea. “Mau latihan silat, Tante.” Jawab Gladish seadanya.


“Wah hebatnya!” Puji Tante Milea, sambil mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Gladish.


Pak Hendra pun menghentikan nyanyian dan goyangannya. “Oh iya Dhis. Dapat salam dari Arga! Hehehehe~” Goda Pak Hendra, sambil terkekeh (setelah dapat BAHAN gibah dari Pak Bagas, Guru BK).


Wajah Gladish seketika saja berubah menjadi merah tomat, bagaimana tidak, Bapak kandungnya sendiri tega menyindirnya, di depan calon mertua… eh~ di depan Bundanya Arga.


Seandainya dia sebagai anak mempunyai hak untuk melakukan hal itu, Gladish hari ini rasanya ingin sekali mencoret nama Bapaknya sendiri, dari catatan Kartu Keluarga.


“Apa’an sih Bapak ini?!” Pekik Gladish, masih dengan wajah memerah, dan segera berlalu dari dua pasangan paru baya tersebut. Untuk menghindari konflik yang tidak diinginkan.


Dia pun terpaksa pergi latihan silat, tanpa pamit terlebih dahulu dengan Tante Lia dan Bapaknya.


“Kenapa kamu berkata seperti itu Hendra?” Tanya Tante Lia, yang masih tak mengerti dengan maksud dari kekasihnya tersebut.


“Nggak, tadi pagi saya di panggil ke ruang BK, katanya anakku dan gadis lainnya sedang ribut, gara-gara memperebutkan Arga.” Jelas Pak Hendra (Memperebutkan? Duh nie Bapak, kok jadi diubah-ubah sih versi cerita, sesuai kehendak hatinya).


Tante Lia pun membulatkan matanya, tak percaya. “Benarkah?!” Pekiknya, sambil menutupi mulutnya.


“Lia, bagaimana kalau kita menjodohkan Gladish dan Arga?” Usul Pak Hendra, dengan mata yang berbinar. “Toh mereka seumur, dan lagipula di agama kita juga nggak akan jadi masalah, saudara tiri kan bisa menikah~ iya nggak, iya nggak?” Tanya Pak Hendra lagi, sambil memainkan alisnya.

__ADS_1


“Duh masalahnya…” Tante Lia pun mengigit bibir bawahnya, tak yakin, Ia teringat kembali kata-kata Arga beberapa hari yang lalu, saat mereka berdua berada di dalam mobil.


#Flashback


“Arga kamu suka Gladish?” Tanya Tante Lia, memecah keheningan malam mereka lagi.


“A… Apa?” Pekik Arga kaget, pertanyaan Tante Lia sukses membuyarkan lamunannya.


“Bunda nggak nyangka, sekolah yang kamu pilih, merupakan sekolah yang sama dengan Putrinya Calon Bunda.”


“Itu hanya kebetulan.” Jawab Arga singkat, agar suasana segera kembali tenang.


“Bukannya kita sama-sama dari Jakarta, terus Bunda dengar dia Sekolah di SMP yang sama denganmu?”


Tapi Arga tidak menjawab.


“Terus malam ini untuk pertama kalinya, Bunda melihat tawamu yang sangat manis.” Lanjut Tante Lia dengan mata yang berkaca-kaca, Ia begitu rindu dengan senyuman anaknya yang sudah jarang sekali, bahkan tidak pernah Ia lihat lagi. “Dan malam ini, ketika kita makan malam bersama. Kau bilang ada seorang gadis yang kamu sukai? Siapakah itu, Nak? Apakah dia Gladish?” Tanya Tante Lia lagi, mencoba mengajak Arga bercerita.


“Siapapun itu, yang jelas bukan Gladish.” Jawab Arga dingin. Sambil meremas Seat Belt (sabuk pengaman mobil) yang saat ini sedang melingkar erat di dadanya.


#FlashBack End.


₩₩₩₩₩


 


#Gladish POV


Ketika abang Ojek Online baru saja berlalu dari pandanganku, tiba-tiba saja ada sebuah cahaya menyilaukan mengarah kearah ku, sebuah motor besar berwarna biru metal, melaju di depanku dengan kecepatan tinggi, Sangaaaaaaaatt LAJU, seakan ingin menabrak ku.


“AAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGHHHHHHHH~” Aku pun berteriak kencang, sambil menutupi mataku dengan lenganku. Tanpa persiapan untuk menghindar lagi dari lajunya cahaya itu.


Mungkin aku akan mati malam ini…


Selamat tinggal dunia~


aku pun menutup mataku kuat-kuat


dan....


“CIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTT…!!!!!!!!” Tiba-tiba saja motor gede berwarna biru metal itu, ngerem mendadak di hadapanku. Akan tetapi aku masih menutupi mataku dengan lenganku, masih Shock.


“Maafkan aku Preman Penakut! Bwahahaahaaa~.” Ucap pengendara motor tersebut, sambil tertawa renyah.


Tunggu!


Warna suara itu…


Warna ketawa itu…


Warna yang Cempreng itu...

__ADS_1


Aku pun membuka mataku yang tertutup lenganku, memastikan dugaan tersebut.


 


Begitu juga sang pengendara motor besar tersebut, membuka Helm besarnya yang bermerk mahal, sepadan dengan harga motor besarnya…


“NIKOOOOO!!!!~” Jeritku luar biasa kesal, rasanya sampai ke ubun-ubun. “KAMU MAU AKU MATI! HAH!” Teriakku.


“Maaf Dhis, hilaf.” Ujarnya, dengan tampang biasa saja, tanpa ada rasa berdosa sekali pun.


Langsung saja aku menghampirinya. Dan…


“DUUUUUUUUUUKKK~” Menendang motornya dengan kuat. Sehingga motor besar mahal beserta pengendaranya tersebut jatuh terjungkal ke arah samping, ke arah kanan.


“Mamp*s Lu!” Sindir Ku ke arahnya.


“Tega Lo Dhis!” Lirihnya, kesakitan.


Tanpa menghiraukannya lagi, aku langsung berlalu masuk ke arah gedung dorm tersebut


₩₩₩₩₩


Di dalam Dorm…


“Murid-murid ku sekalian… Kali ini kita kedatangan seorang murid baru di padepokan kita.” Ucap Suhu (Guru Pria), sambil menatap ke arah kami, murid-muridnya, dengan seksama.


“Duh kok perasaanku nggak enak yah?” Gumamku dalam hati. “Jangan-jangan…”


“Nak Niko, Perkenalkan dirimu!”


“WHAT! Niko…?! Pantes perasaanku dari tadi nggak enak, ternyata…” Pekik ku dalam hati sambil melebarkan mataku bulat-bulat, dan membuka mulutku lebar-lebar, sampai mulutku membentuk huruf O dengan sempurna.


#To Be Continued


.


.


.


.


Mohon dukungannnya y, baik vote, ratting, komen, like n shared...


Biar author bisa semangat lagi up eps selanjutnya🤗🤗🤗...


Author jg mohon kritik n sarannya untuk lebih baik lagi kedepannya...😅🔫


Terimakasih udh membaca, assalamuallaikum


__ADS_1


__ADS_2