
Sore itu, terlihat mobil Van Keluarga Niko sedang berjalan, MENURUNI daerah puncak pergunungan…
Akan tetapi, berbanding terbalik dengan lagu yang di bawakan oleh si Viko dan Riko, di dalam mobil Van tersebut…
“Naik-naik ke puncak gunung~ Tinggi-tinggi sekali~”
Nyanyi si kembar Viko dan Riko, tentang NAIK-NAIK ke puncak gunung, sambil duduk mengapit tubuh Memey yang ada di tengah-tengah mereka dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka, ke kiri dan ke kanan, sehingga tubuh dari si kecil Memey juga terikut bergoyang
“Naik-naik ke hati Memey~ Terjal-terjal sekali~”
Sambung mereka lagi, masih menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
Memey pun langsung menggeser tubuh mereka berdua yang mengapit tubuh Memey yang berada di posisi kiri dan kanannya, Memey pun langsung mendenyut-denyutkan mata kanannya.
Merasa seperti orang bodoh…
Karena, secara tidak langsung tubuhnya bergoyang mengikuti tubuh mereka.
“Kenapa sih kalian berdua goyang-goyang nggak jelas kayak gitu?!” Bentak Memey, sambil merentangkan kedua tangannya, menggeser posisi duduk Viko dan Riko, yang mengapit kedua lengannya. “Terus kenapa sih kalian nyanyi-nyanyi nggak jelas kayak gitu! Ada namaku juga lagi di lagu kalian?!” Sambung Memey lagi, kali ini memasang ekspresi jutek, sambil melipat kedua tangannya.
“Karena…” Ucap Viko yang bertabiat RESE, Ia pun langsung mendekatkan lagi posisi duduknya dengan tubuh Memey, dan kembali menggoyang-goyangkan tubuh Memey. “… satu-satu aku sayang Memey, dua-dua~ juga sayang Memey~” Nyanyi Viko dengan ritme cepat.
Sedangkan… Riko yang berwatak Melow pun mengerutkan alisnya, melihat pemandangan yang ada di depannya, pemandangan bagian belakang Maya dan Niko, yang sedang tertidur di kursi mobil Van tersebut, sambil saling menyandarkan kepala mereka satu sama lain.
Maya yang tertidur dan menyandarkan kepalanya di atas bahu Niko, sementara Niko, juga ikutan tertidur, sambil menyandarkan kepalanya di atas kepala Maya, yang tertidur di bahunya.
(Saat ini posisi duduk mereka, masih sama seperti posisi awal duduk mereka yang tadi, posisi saat mereka mau pergi ke puncak)
“Ibu, Ibu... Kak Niko dan Kak Maya nakal masa mereka di mobil ini tidur bareng… Huwaaaaa~”
Teriakan Riko yang di sertai rengekan itu, sukses menolehkan kepala kedua para Bapak, beserta Ibu Niko dan Mama Maya…
Mendengar hal tersebut, Ibu Niko dan Mama Maya langsung berteriak histeris.
Mendengar teriakan tersebut, sukses membuat Pak Heru menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Yongki yang berwatak dingin dan cuek pun, berusaha untuk nggak peduli, dan langsung memasang Headset Bluetooth di telinganya.
Sedangkan Niko dan Maya, masih saja tertidur pulas, nggak sadarkan diri (Tidur Mati). Mungkin karena faktor kecapekan di kejar-kejar sama enam preman gondrong di kebun teh yang luas tersebut.
Kedua Ibu-ibu tersebut, langsung saja menggeser posisi para Bapak, untuk berpindah tempat duduk dengan mereka.
Kedua para Bapak, yang notabennya Suami-Suami Takut Istri Clubs' pun akhirnya mengalah, dan berpindah tempat duduk mereka ke arah depan, menggantikan tempat duduk sang Para Istri tanpa perlawanan sedikit pun.
Mama Maya dan Ibu Niko yang bahagia melihat moment Niko dan Maya yang saling tertidur bareng ini. Tentu saja, nggak mau melewatkan kenangan manis ini, mereka berdua pun mengeluarkan Handphone Android bermerk mahal mereka, dan…
“CeKREEEEEKKK~”
__ADS_1
“CeKREEEEEKKK~”
“CeKREEEEEKKK~”
Dan mengambil beberapa foto moment Niko dan Maya, yang sedang tidur bersama tersebut.
Viko yang melihat pemandangan tersebut, langsung ikutan bersandar ke arah pundak kanan Memey… “Ibu~ Fotoin juga!” Pinta Viko, kepada ibunya.
“Apaan sih!” Bentak Memey, sambil menjauhkan kepala Viko dari arah pundak kanan-nya,
Setelah Memey berhasil menggeser kepala Viko dari bahu kanannya, si Riko pun ikutan menyandarkan kepalanya d bahu kiri Memey.
“Duh kerjaan lagi!” Batin Memey, sambil meniupkan poni rambut, di bagian keningnya.
♡♡♡♡
#Gladish POV
Malam itu, dua buah keluarga saling bertemu di rumah kediaman Tante Lia, Bapak dan sanak saudara mengantar beberapa seserahan untuk meminang Tante Lia.
Aku nggak tahu, setelahnya… apa yang terjadi di dalam sana, yang kulakukan hanya merenung di luar, di teras luar rumah Arga… tidak protes, dan tidak menggagalkan… hanya diam, tak bergeming.
Aku teringat kembali wajah ibuku, wajah ibuku yang menangis, wajah ibuku yang berteriak, wajah ibuku yang memecahkan beberapa guci di dalam rumah kami…
Bunga mawar merah yang dulu di tanam oleh Bapakku pun, sebentar lagi akan tergantikan dengan kehadiran duri…
Tak terasa air mataku mengalir lembut dari arah pipi ku… untuk kesekian kalinya, pada hari ini…
Ku dengar keributan kebahagiaan dari arah dalam ruangan rumah Arga…
Dari teriakan tersebut, sepertinya Bapakku telah selesai menyematkan cincin pertunangan ke arah jari manis Tante Lia.
Mendengar teriakan kebahagiaan itu, aku sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, tidak marah, tidak protes, dan tidak menggagalkan… saat ini aku hanya bisa meremas kuat, Gaun Batik Bogor berenda, yang saat ini masih ku pakai.
“Jangan remas kuat-kuat, nanti gaun Batik cantik itu kusut!” Tegur seseorang tiba-tiba.
Aku pun yang sedari tadi sibuk menatap duri mawar pun menoleh ke arah lain, ke arah asal suara tersebut…
“Kak Arya.” Gumamku pelan, sambil menghapus beberapa air mataku yang barusan menggenang di pipiku.
“Hei Gladish atau janda, kenapa kau menangis?” Tanya Kak Arya, sambil ikut mendudukkan tubuhnya di tangga teras, tepat di sebelahku.
__ADS_1
Saat ini Kak Arya memakai Setelan Batik Bogor, yang coraknya sama persis seperti milikku, Ia terlihat sangat rapi dan juga sangat tampan.
Yah~ keluarga kami memesan dan menjahitnya di tempat yang sama, dan dengan pilihan kain yang sama pula, khusus untuk acara malam pertunangan ini.
“Gladish atau janda?” Gumamku, sambil mengerutkan alisku “Kak Arya tahu olokan ku dari mana?”
#Gladish POV End
♡♡♡♡
“Gladish atau janda?” Gumam Gladish, sambil mengerutkan alisnya “Kak Arya tahu olokan ku dari mana?”
“Jangankan nama olokan mu, nama Bapakmu saja aku tahu… nama tuhanmu saja, aku juga tahu…” Ucap Arya mencoba untuk menggombal Gladish, Gladish pun hanya bisa tersenyum simpul mendengar hal tersebut.
“Alhamdulillah, akhirnya tersenyum juga…” Ucap Arya, sambil mengelus dadanya sendiri. Setelah mengelus dadanya sendiri tangan kanan Arya, mulai menjalar pelan… dan pelan ke arah bahu Gladish, dan menggenggam bahu Gladish.
Gladish pun langsung mengerutkan alisnya, saat merasakan tangan Arya sudah menggenggam bahunya.
“Kenapa Kau menangis Gladish?” Tanya Arya kembali, dengan mimik wajah yang seakan peduli… “Kamu Cantik…” Ucap Arya kembali, kini tangan kirinya yang menjalar ke arah pipi kanan Gladish, dengan gerakan menghapus air mata, dia menyentuh dan mengusap pipi Gladish dengan lembut. “Tapi lebih cantik lagi kalau kamu tersenyum.” Ucap Arya kembali, sambil menatap mata Gladish dengan tatapan yang dalam dan tajam.
Akan tetapi tatapan mata Gladish tidak luluh, Ia pun segera menoleh ke arah lain dan melepaskan rangkulan tangan Arya.
Tapi Arya tidak menyerah, Ia kali ini malah merangkul pinggang Gladish, dan kembali mendaratkan tatapan tajam ke arah mata Gladish…
Gladish pun akhirnya hanya bisa membatu mendapat tatapan mata setajam itu.
Dag… dig… dug…
Dag… dig… dug…
Arya pun langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Gladish… dan...
#To Be Continued
Kuning : Viko
Hijau : Riko
Pilih Viko atau Riko?
__ADS_1