
Di dalam angkot, Prisil terlihat sedang tersenyum sendiri, dia tak menyangka doa-nya katika main Hom Pim Pa bakal terwujud… dia memikirkan bagaimana keadaan di dalam rumah Niko? Bagaimana orang tua Niko? Bagaimana saudara-saudara Niko? Bagaimana…”
“Hei Prisil!” Tegur Gladish, sambil menepuk pundak gadis berbandana Pink tersebut. “Kamu gila yah?” Tanya Gladish, melihat Prisil yang senyum-senyum sendiri.
“Nggak.” Elak Prisil, buyar dari lamunannya. “Aku nggak apa-apa.”
“Kamu naksir Niko yah?” Tebak Becca.
“Mana ada!” Teriak Prisil, membantah tuduhan Becca.
“What? Kamu naksir Niko?!” Tanya Gladish, terkejut sambil membelalakan matanya.
“Nggaaaaakkk!” Teriak Prisil.
“Gladish kamu kok nggak peka sih?” Tanya Becca. “Aku loh yang duduk berjauhan sama dia saja bisa peka, masa kamu yang duduk satu bangku sama dia, nggak peka?”
“NGGAAAAAAAAAAAKKKK!” Teriak Prisil lebih nyaring.
“Aing loh bukan cowok, jadi nggak bisa peka.” Jelas Gladish sambil memonyongkan bibirnya.
“Makanya kamu perhatiin Prisil dong, sangat ketara banget kok kalo Prisil naksir Niko, tatapan matanya itu loh!” Ucap Becca sambil terkekeh.
“Yak, kalian! Bisa-bisanya kalian omongin orang lain di depan orangnya sendiri?!” Teriak Prisil.
“Yeehh~ bagus dong, dari pada ngomongin orang di belakang!” Seru Becca.
“Mau-maunya kamu sama Niko… Prisil, Prisil!” Gumam Gladish, sambil menggelengkan kepalanya.
“Nggak kok, aku nggak naksir Niko! NGGAAAAAAAAAKKKK~” Elak Prisil dengan wajah memerah, gadis beraksesoris serba pink tersebut, terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan Ia yang sebenarnya, terhadap teman-temannya tersebut.
Sementara itu, supir angkot yang tak sengaja mendengar percakapan gadis-gadis ABG tersebut hanya bisa terkekeh, mengingat masa muda.
“Eh ngomong-ngomong, rumahnya Niko Burik dimana yah?” Tanya Gladish akhirnya, dia sama sekali belum pernah ke rumah Niko.
“Iya yah, aku cuma tahu jalannya, tapi nggak tahu rumahnya di sebelah mana~” Gumam Becca sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Bodohnya kita, kita tadi cuma tanya jalannya doang, nggak minta di jelasin ciri-cirinya!” Pekik Gladish sambil menepuk-tepuk jidatnya, kali ini dia yang dari lahir sudah tercipta bodoh, merasa tambah bodoh pula.
“Tenang saja, sebentar lagi kita sampai kok!” Ujar Prisil, menenangkan.
Mendengar ujaran Prisil tersebut, Becca dan Gladish pun spontan menatap ke arah Prisil dengan tatapan penuh curiga…
“Apa?!” Pekik Prisil sambil menggigiti bibir bawahnya, merasa dicurigai oleh teman-teman ganasnya tersebut.
Jujur saja, rupanya diam-diam Prisil pernah menguntit Niko dari arah kejauhan, ketika cowok keturunan Arab tersebut pulang dari arah sekolah, hingga sampai ke kediaman rumahnya.
₩₩₩₩₩
“Maya, apa yang kamu lakukan?!” Seru Mama Maya, saat melihat anak gadisnya sedang mengeledah isi dapur dan kulkasnya.
“Mah, ada Kue nggak?”
“Mama nggak buat kue hari ini! Buat apa sih May?” Tanya Mama Maya, sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
__ADS_1
“Aku mau bertamu di rumah tetangga sebelah, Mama.” Jawab Maya, seadanya.
Mama Maya pun menaikan sebelah alisnya, mendengar jawaban dari anak sulungnya tersebut. “A apa?” Pekiknya, nggak percaya. Tak terduga anak gadisnya yang satu ini ternyata lebih pintar dari dugaannya, bisa membedakan mana lelaki yang hanya sendok perak, dan mana lelaki yang merupakan sendok emas. "Kamu mau bertamu di rumah Niko?"
“Iya, aku mau main ke rumah Niko.” Jawab Maya, sambil meniup ujung rambutnya.
Mama Maya pun langsung tersenyum sumringah. “Sebentar yah Maya, Mama pesen di Ojek online dulu.” Ucap Mama Maya sambil mengeluarkan Handphone Android mahalnya, dari dalam saku dasternya tersebut.
“Pesen bolu kukus saja Mah atau gorengan!” Usul Maya, memilih cemilan yang murah meriah.
“Jangan dong sayang, kalau mau datangin calon suami itu harus dengan makanan yang mewah dan mehong!” Jelas Mama Maya.
“What?!” Pekik Maya dalam hati, sambil mengerutkan alisnya. “Calon suami? Jangan-jangan Mama tahu, kalau di rumah sebelah ada Arga gebetan aku.”
Mama Maya pun, memperlihatkan kepada Maya aplikasi pemesan makan Online yang ada di handphonenya. Mama Maya pun menunjuk foto sebuah Pizza Mozarella dengan topping sosis dan daging, berukuran besar yang berharga lumayan mahal.
Maya pun membelalakkan matanya melihat pesanan Mama untuknya. Akan tetapi dia langsung tersenyum simpul membayangkan reaksi Arga, saat dia mendatangi cowok tampan tersebut dengan sekotak Pizza Mozarella lezat yang berharga lumayan mahal.
₩₩₩₩₩
“Kalian nggak kesasar?” Tanya Bambang, melihat ketiga orang gadis, teman sekelasnya, satu persatu turun dari angkot.
“Nggak kesasar kok.” Jawab Becca, sambil tersenyum. “Untung ada Prisil.” Sambungnya, sambil menepuk-tepuk pundak Prisil.
“Apaan sih?!” Pekik Prisil kesal.
Sementara Gladish yang ingin membayar angkot tersebut, langsung ditahan tangannya oleh Arga. “Biar aku saja!” Tawar Arga, sambil memegangi tangan Gladish.
Gladish pun menatap wajah Arga, dengan rona memerah. Sementara Arga masih menatap ke arah supir, nggak berani menatap wajah Gladish, akan tetapi tangannya masih setia memegang tangan Gladish.
Mendengar suara batuk Rafi, Arga pun langsung melepaskan tangan Gladish dari genggamannya. Sementara Gladish langsung salah tingkah, dengan menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
“Nggak usah!” Tolak Gladish, dengan nada yang dingin, masih kesal dengan apa yang Arga pernah perbuat terhadapnya.
“Nggak apa-apa, anggap saja sebagai permintaan maaf aku, ke kamu.” Ucap Arga sambil tertunduk, sadar akan kesalahan-kesalahan yang selama ini Ia lakukan terhadap Gladish.
Gladish pun menghembuskan nafasnya, luluh dengan permintaan maaf Arga.
“Hei gadis-gadis, kalian sudah datang?” Tanya Niko yang keluar dari pintu rumahnya. Biasa, Ia baru saja sibuk membantu ibunya menghidangkan cemilan di dapur, untuk disajikan kepada teman-teman kelompok sekelasnya.
“Iya, barusan saja… kita bertiga baru saja sampai kok.” Jawab Prisil, sambil tersenyum malu-malu, bak kucing orange yang sedang menggoda tuannya dan menggulungkan rambutnya yang bergelombang.
Becca pun memutar bola matanya, sementara Bambang langsung memasang muka jutek. Ketika mereka melihat tingkah Prisil, yang seakan menggoda Niko.
“Kita sudah boleh masuk nggak?” Tanya Bambang, ke arah Niko.
“Ayo semua, kita masuk ke dalam!” Ajak Niko, sambil tersenyum simpul.
Ketika mereka masuk ke dalam kediaman rumah Niko, tak lama kemudian, muncul sebuah motor yang membawa sekotak Pizza dan memberhentikan kendaraannya di rumah sebelah, yakni rumah Maya.
₩₩₩₩₩
__ADS_1
“Wah, Niko adik-adik kamu menggemaskan sekali yah?!” Ucap Prisil, sambil menatap foto keluarga besar Niko, yang terpajang dengan bingkai besar di dinding ruang tamu Niko. Dengan ibu yang mengenakan hijab, berkulit sawo matang khas wanita Jawa, ayah yang keturunan Arab Saudi, Niko yang terlihat sangat tampan dengan blazer hitamnya dan kedua adik kembar laki-laki yang tampangnya mirip dengan Niko, yakni sama-sama Blasteran Arab.
“Iya.”
“Mereka dimana sekarang?”
“Biasa, main PS di lantai atas.” Jelas Niko.
“Pepet terus Sil, jangan kasih kendor.” Bisik Becca, dari arah belakang Prisil.
“Diem aja Lo! Nggak liat apa Gua lagi usaha?!” Ucap Prisil dengan nada pelan, sambil menyipitkan matanya ke arah Becca.
Akh~ akhirnya gadis feminim tersebut mulai jujur juga dengan maksud tujuannya.
Ketika Gladish lewat, dan hendak melewati Niko, Niko pun langsung mengulurkan satu kakinya, sehingga gadis tomboy itu tersandung, dan hampir kehilangan keseimbangan.
Arga yang melihat tubuh Gladish yang mulai oleng, dengan sigap memegangi lengan Gladish, agar gadis tomboy tersebut tak terjatuh dari pijakannya.
“UPS~ Maaf nggak sengaja.” Ucap Niko, sambil memasang wajah tak berdosa.
Mata Gladish pun melotot ke arah Niko, dan hendak memukul Sang Tuan Rumah tersebut, untungnya berhasil di tahan oleh Becca dan Prisil.
Melihat kejadian itu Bambang dan Rafi menggelengkan kepala mereka. “Lagi-lagi, Niko mencari perhatian Gladish dengan cara yang salah!” Gumam mereka dalam hati.
“Ting Tong, Ting Tong~”
Suara Bel rumah Niko pun berbunyi.
“Niko, buka pintunya!” Pinta Ibunya, dari arah dapur.
“Iya Bu.” Jawab Niko, sambil menuju ke arah pintu ruang tamu, yang tak jauh dari jangkauannya.
“KREEEEEEEKKK~” Bunyi pintu tersebut, saat di buka oleh Niko. Niko pun membelalakkan matanya, terkejut, melihat pemandangan sosok bidadari cantik, yang kini ada di depan matanya.
“Maya?!” Pekik Niko, sambil mengerutkan keningnya.
#To Be Continued
Hai pembaca🙋♀️
Jangan lupa like, komen, share, vote and shared yah... mohon bantuannya untuk author bisa lebih semangat lagi menulisnya 🙆♀️🙏
Ini Visual Maya Gaes👇👇👇
cantiknya luar biasa, kulitnya seputih susu, dan matanya kecil💁♀️
mirip Author yah?🤣🤣🤣
Ok, Voting lagi untuk Visual Tokoh, untuk Chapter selanjutnya👇👇👇
__ADS_1
A. Bambang
B. Rafi