Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 72: Kencan Pertama yang Tak Terduga


__ADS_3

“Biar dia mundur aja deh, biar Gua bisa bebas deketin Niko tanpa ada rasa bersalah sekalipun.” Ucap Prisil, sambil tersenyum simpul.


 


Beca pun memutar bola matanya, mengingat dulu dia menebak Prisil naksir Niko, tapi Prisil berkali-kali mengatakan kata “NGGAK.” Padanya. (Saat di angkot bertiga dengan Gladish, ketika ingin kerja kelompok di rumah Niko)


“MAKSUDMU APA?!” Teriak seseorang, dari arah yang nggak jauh dari jarak mereka berdiri.


Prisil dan Becca pun membalikan wajah mereka, mendengar teriakan tersebut.


“NIKO!” Seru mereka berbarengan.


Niko lalu menghampiri mereka, dan tangan kanan nya pun langsung menangkap lengan Prisil.


“Becca, aku minjem Prisilnya sebentar!”


Ingin sekali Becca membuat candaan ‘Pinjem lama-lama juga boleh.’ Akan tetapi Becca mengurungkan niatnya, karena sikonnya saat ini, sedang tidak pas. “Oke.” Jawab Becca, sambil menganggukan kepalanya.


 


♡♡♡♡


 


Niko pun membawa Prisil di tempat yang sepi, yakni di belakang toilet.


 


“TEEEEEEEEETTTTTTTTT….TEEEEEEEEEEETTTTTTT…. TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTT.” Bunyi bel masukan pun telah berbunyi, dan menandakan jam pelajaran pertama, akan di mulai.


Meski bunyi bel masukan telah berbunyi, Niko tetap nggak peduli. Dia tetap menahan tubuh Prisil agar tetap di belakang toilet, bersamanya.


“Niko, Please~ udah masukan, tolong lepasin aku!” Pinta Prisil, sambil berusaha melepaskan kedua tangan Niko, yang saat ini sedang berusaha menahan kedua lengannya.


Prisil disini memang bucin sama Niko, cuma baginya pelajaran tetaplah nomor satu, karena dia termasuk salah satu siswi berprestasi di kelas 2 IPA 6, dan peringkat rankingnya selalu kejar-kejaran sama Rafi.


Mungkin kelak, bakal kejar-kejaran juga dengan Arga (Murid pindahan dari Jakarta, yang juga di kenal pintar).


“Lepasin Gua Niko!” Teriak Prisil, dengan suara yang lemah, dia akhirnya mulai galau, antara belajar, atau tetap disini berduaan sama Niko.


Jarang-jarang loh ada moment seperti ini bareng Niko, apalagi sekarang, jarak Prisil dan Niko, saat ini dekat banget.


“Loe kok tega banget sih, ngomong seperti itu sama Bambang tadi?” Tanya Niko, sambil menatap mata Prisil tajam, tentu tangannya masih setia menahan kedua lengan Prisil.

__ADS_1


Mendapat tatapan setajam itu dari seorang Niko, Prisil pun gugup… “Ka, ka, karena, karena dia suka sama Gua…” jawab Prisil gagap, akibat kegugupannya.


“Rasanya gua mau mati, sumpah! Jarak Niko sama Gua, sekarang deket banget! Duh~ Deg-degan Gua!” Jerit Prisil, dalam hati.


♡♡♡♡


#Gladish POV


Sekarang Aku dan Arga sudah masuk ke dalam mobil Honda Jazz merahnya.


Dengan Arga yang mengendalikan kendaraan mobilnya, dan aku duduk di sebelahnya, sebagai seorang penumpang.


Nggak nyangka, kita bagaikan couple disini~ Kaos dan Jaket Arga, warnanya senada yakni biru tua, sangat pas sekali kalau di sandingkan dengan baju kaos ku yang berwarna biru muda. Pasti kalau kita jalan bareng kemana pun, orang-orang menjuluki kami Pasangan yang serasi, hahay~ (Maksa).


“Arga sekarang kita mau kemana?” Tanya ku sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Pantai? Hutan? Kuburan? Atau tempat sepi buat mesum?” Ucapku sambil, menghitung tempat-tempat itu dengan jari-jari tanganku.


Arga pun hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, mendengar tebakanku tersebut.


“Jadi?” Tanyaku lagi kepadanya, sambil mengerutkan alisku. “Bioskop tutup Arga, Cafe juga, Mall apalagi… ini loh masih pagi!” Ucapku lagi, sambil menyebutkan tempat-tempat kramat, yang biasa anak muda nan imut seperti kami, gunakan untuk berkencan.


“Pasar.” Ucap Arga, kemudian.


Spontan saja aku langsung membulatkan mataku lebar-lebar. “YAK!!!” Pekik ku, nggak terima, masa kencan pertama kami di lakukan di pasar sih?


“Kau bercanda kan Arga?” Pekik Ku, ke arahnya, sambil tersenyum masam.


“Tenang Gladish, pasti dia hanya bercanda saja! Pasti dia Cuma mau menggoda aku saja! Hahahaha~” Batinku dalam hati, sambil tersenyum lemon, masem.


♡♡♡♡


Sesampainya di TKP (Tempat Kejadian Perkara)


Oh tuhan~ cobaan apa ini?


~Gladish pergi ke pasar~ Tang ting, ting tang dut~ (musik ala ala topeng monyet)


Kenapa dia mengajak ku ke pasar beneran, apa dia mau menjual ku ke tukang ikan?


Sumpah! Seumur hidupku, aku baru pertama kali ini menginjakkan kaki di pasar, maklum Ibu ku dulu selalu mengajakku belanja di Supermarket. Atau beliau belanjanya di tukang sayur keliling. Apalagi, konon teman-temanku sering mengatakan, kalau pasar itu bau dan becek ketika habis hujan.


Tentu saja, karena Bogor itu kota hujan, kau bisa membayangkan kan tanah semen berpasir yang ku pijak sekarang beceknya seperti apa?


Apalagi ada beberapa jalan yang berlubang, sehingga bisa menampung genangan air, yang bercampur dengan tanah, sehingga menciptakan warna coklat susu.

__ADS_1


Ku melihat orang-orang di sekelilingku yang berjalan dengan sendal jepit, yang menimbulkan cipratan lumpur di baju daster dan paha bawah mereka, ketika berjalan.


Aku pun lalu ikutan melihat bagian paha bawah celana Jeans ku, untung saja, tidak ada sama sekali noda cipratan di bagian paha bawah celanaku, karena aku memakai sepatu Kets.


Begitu juga dengan Arga, yang sama sepertiku, Ia juga memakai sepatu Kets.


Aissss~ Hei Arga kau benar-benar merusak moment kencan pertamaku!


“Kenapa, kenapa kita harus ke sini sih?! Kau sangat, sangat merusak momen kencan pertamaku Arga, Kau menyebalkan!!” Protes Ku, akhirnya, kepada pria tampan berwatak dingin tersebut. Tak bisa lama-lama diriku memendam rasa kecewa. Semua ini benar-benar tidak sesuai ekspetasi ku.


“Bunda menyuruhku belanja untuk kebutuhan acara untuk besok malam Gladish.” Jelas Arga, akhirnya. Akhirnya ada juga kata yang lebih dari SATU KATA, setelah di mobil dia hanya menjawab beberapa pertanyaan ku dengan SATU KATA.


Arga menghentikan langkahnya.


Dan, aku pun juga ikut menghentikan langkahku.


“Berapa harganya ikan ini sekilo, Pak?” Tanya Arga, sambil menunjuk Ikan Kakap Merah segar, yang dijajakan seorang pedagang Pria Paru Baya, yang jaraknya nggak jauh dari kami.


“Tujuh puluh ribu rupiah, Dik.” Jawab Bapak itu. “Adik nggak salah pilih loh, ikan ini sangat segar, karena baru saja masuk ke sini satu jam yang lalu.” Tambah Bapak Paru Baya tersebut, sambil memuji dagangannya sendiri, agar pembeli lebih tertarik lagi untuk membeli dagangannya.


“Tolong bungkus 10 kilo yah, Pak!” Pinta Arga, pada Bapak pedagang tersebut.


“Baik, Dik!” Jawab Bapak tersebut, dengan senyuman mengembang di wajahnya.


Aku pun yang mendengar hal itu, langsung memelototkan mataku. “APA?! Semudah itu???” Pekik Ku, dalam hati, sambil mengerutkan alisku. “Arga ini, bisa belanja di pasar nggak sih???” Batinku lagi, kali ini sambil menggeleng-gelengkan kepala ku.


“Hei Pak, tunggu dulu!” Tahan ku, kepada Bapak penjual ikan tersebut, ketika Bapak tersebut akan menaruh beberapa ikan dagangannya ke atas timbangan. “Kita kan sedang beli banyak, bisa kurang nggak?” Tanyaku lagi, entah kenapa jiwa emak-emak ku disini muncul.


Yah~ meski aku nggak pernah ke pasar, tapi aku sering banget ngelihat ibu-ibu ribut di tukang sayur keliling kompleks Ku, sekedar untuk mendapatkan harga yang lebih miring dari harga yang di tawarkan.


“Aiss~ Pak masa segitu, lima puluh ribu aja lah sekilo. Mau-mau, nggak-nggak!” Tawar ku lagi, sambil menawarkan harga, dengan harga yang lebih sadis lagi.


Melihat hal tersebut, Arga hanya bisa menatap Ku, sambil mengedip-ngedipkan matanya dan membuka mulutnya, membentuk huruf O. mungkin dia terpesona oleh jiwa emak-emak Ku, yang menggebu-gebu… Jiahahahaa~


#To Be Continued


.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2