Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 68 : Kediaman Jennie


__ADS_3

“Brukk~”


Mau nggak mau, tubuh Gladish akhirnya terturun, dan tubuh bagian depannya, spontan menempel pada punggung Niko.


“Deg!” Tubuh Niko pun langsung menegang, menerima penempelan dari tubuh Gladish tersebut.


“Dag Dig Dug~”


“Dag Dig Dug~”


Karena tak ada jarak lagi di antara kedua tubuh mereka, jantung mereka berdua pun berdetak dengan kencang.


Apalagi Niko merasakan dada Gladish menonjol, dan menempel pada punggungnya, pikirannya sekarang ini, menjadi kacau nggak karuan…


Sedangkan Gladish bingung ingin berbuat apa, mau memundurkan badannya, tapi motor Niko terlalu laju.


Lagipula tangan Gladish, yang sedari tadi berpegangan dengan Behel belakang motor Niko, mulai keram dan kesemutan.


Tangan Gladish yang mulai keram dan kesemutan pun, langsung berpindah posisi ke arah depan, berpegangan dengan kedua pinggang Niko.


Niko pun mulai merinding Disco di buatnya, baru kali ini ada gadis yang dia bonceng dengan motornya, karena sebelumnya yang dia bonceng, selalu teman-teman cowoknya. Terlebih lagi gadis satu ini merupakan orang yang sangat spesial bagi kehidupannya.


Ada yang berdiri tegak, tapi lagi-lagi bukan keadilan!


Bukan berlebihan, akan tetapi mengingat darah Niko Blasteran cowok Arab yang sebenarnya memiliki nafsu lebih tinggi dari cowok Indonesia kebanyakan, Niko yang sering ngaku-ngaku berpredikat sebagai Jomblo dari Bayi pun, mulai menepikan motornya ke arah kiri jalan.


“Ke kenapa berhenti?” Tanya Gladish dengan nada yang gugup, yang merasa perjalanan mereka belum berakhir.


Bagaimana Ia nggak berhenti, kalau waktu dia membonceng Gladish, pikirannya nggak konsen, selalu memikirkan hal yang aneh-aneh tentang Gladish. Mau pasrah saja, tapi doi takut kecelakaan lalu lintas.


“Da dadamu...” Ucap Niko gugup.


Mendengar hal itu Gladish pun langsung membuka mulutnya, dan menjauhkan dadanya yang sedari tadi menempel di bahu Niko. “Ma… Maaf.” Pekik Gladish, malu.


“… Dadamu datar.” Sambung Niko kembali, refleks tanpa perencanaan.


“A apa! Dada Ku datar?!” Pekik Gladish, sambil mengerutkan alisnya.


Tanpa Ba Bu Bu lagi, langsung saja lepakan keras, melayang ke arah kepala berhelm Niko, dari arah kiri belakang.


“PLAAAAAAAAAAKKKK~”


“AAAWWWWW~” Jerit Niko.


“Hei, Dedemit Onta!” Seru Gladish, sambil menurunkan tubuhnya dari arah motor besar Niko. “Dadaku itu bukan datar, tapi seksi!”


Kepala Niko yang berhelm pun merasakan pusing, karena mendapatkan lepakan yang cukup keras dari arah Gladish. “Iya, seksi banget, seksi kayak Triplek!” Ucap Niko sembarangan, habis dia juga terlanjur kesal, karena Gladish barusan melepak kepalanya.


“BRUUUUKK~”

__ADS_1


 


Langsung saja Gladish menendang motor Niko, bagian samping, dengan keras. Untung saja kaki Niko berhasil menahannya, agar motor itu dan dirinya tidak terjatuh seperti kejadian seminggu yang lalu, saat Ia baru masuk kegiatan silat.


 


“Dasar Set*n, bawa motor saja kesetanan!” Umpat Gladish, sambil mencibir.


 


“Ya udah, aku bonceng kamu pelan-pelan yah!” Izin Niko, dengan nada sedikit bersalah.


“Males…” Jawab Gladish, dengan harga diri yang tinggi, sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan berlalu dari arah Niko.


 


Akan tetapi, Niko nggak mengejarnya.


 


Gladish pun mengedepankan tasnya, dan membukanya. Merogoh Handphonenya.


Terkejutlah Ia melihat Saldo Ojeknya hanya bernilai 500 Rupiah, Ia pun langsung merogok dompetnya, dan membukanya. Asyemmm… uang di dompetnya tinggal selembar uang sepuluh ribu. Gladish lupa kalau dia baru saja memakai uang tersebut untuk melunasi cicilan Handphonenya.


Dengan harga diri yang rendah, Gladish pun berbalik lagi dan berlari ke arah Niko.


♡♡♡♡


#Arya POV


Wah aku benar-benar tercengang saat memasuki pekarangan rumah Jennie, benar-benar indah, mewah dan megah.


Ketika aku dan Jennie memasuki area teras depan rumah Jennie, ada pelayan yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Dan membukakan pintu rumah berukuran besar tersebut untuk kami.


“Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya muda.” Sapa pelayan tersebut, sambil memandu kami untuk masuk.


Aku pun memasuki rumah besar dan mewah tersebut, mengikuti arah langkah jenjang Jennie.


Tak henti-hentinya aku memandang takjub, sambil membuka mulutku lebar-lebar, melihat isi rumah tersebut yang berdesain Klasik Modern.


Klasiknya terlihat dari dominasi warna Gold, dengan karpet bernuansa Eropa, beserta lampu-lampu gantung yang menghiasi sepanjang jalan lorong rumah tersebut.


Sedangkan, modernnya terlihat dari lift dan ekskalator sebagai pengganti tangga yang terdapat di ruang tengah, mesin ATM, dan Vending Machine (mesin minuman kaleng dan snack) pada area rumah mewah bagaikan istana tersebut.


♡♡♡♡


Aku dan Jennie sekarang sudah duduk di meja makan ruang makan Jennie… lagi-lagi aku benar-benar takjub. Saat melihat ruang makan Jennie yang luasnya 2x lipat dari luas Apartment Ku.


Beberapa pelayan pun menyajikan berbagai macam hidangan di meja berukuran persegi panjang tersebut.

__ADS_1


Makanan-makanan yang tersaji di rumah ini pun terlihat berkelas dan mewah, khas Eropa, pantas Jennie sangat menyukai makanan-makanan Eropa, di rumahnya saja hidangannya seperti ini.


Keluarga Jennie terdiri dari Ayah, Ibu, Kakak Lelakinya, Istri dari Kakak lelakinya, dan anak berumur 2 tahun (yang di dudukan di kursi khusus) dari pasangan suami istri muda tersebut .


Nggak seperti bayanganku sebelumnya, keluarga Jennie aslinya sangat ramah, hangat dan sopan. Sambil makan, mereka sibuk bercerita kepadaku tentang masa kecil Jennie dengan kehidupan mewahnya.


Sesekali Jennie dengan wajah memerah malu-malunya, mengehentikan ayahnya bercerita…. Dan di sertai tawa oleh mereka.


“Hangat…” Batinku dalam hati, mengingat serunya makan bersama bareng keluarga ku yang dulu, yang masih lengkap. Ayah yang masih ada, Bunda, Arga kecil dan aku remaja, yang bertubuh masih gendut.


“Aku ke Toilet dulu yah~” Izin Jennie padaku, sambil menepuk pelan bahuku.


Aku yang sedari tadi asik melamun kan masa lalu ku, langsung tersadar dan menganggukan kepalaku, menanggapi Izin Jennie.


Ketika Jennie berlalu, tiba-tiba saja hawa HANGAT dari ruang makan tersebut, berubah drastis menjadi hawa HOROR…


Muka mereka semua yang sedari tadi memasang senyuman hangat padaku, berubah menjadi senyuman horor, seakan ingin membunuhku.


Apakah senyuman hangat yang tadi di tujukan padaku itu, palsu?


Aku pun berusaha tidak mempedulikannya, dan melanjutkan acara makan ku.


“Wahai anak muda rakyat jelata, tolong tinggalkan Jennie!” Bentak, Ayah Jennie dengan raut wajah dan nada suara, yang sama-sama KASAR.


Aku yang sedang asik mengunyah makanan ku pun, langsung tak sengaja menggigit lidahku sendiri, karena kaget.


“Sakit!” Batinku, sambil memegangi mulutku.


“Beraninya kau mendekati anakku, dasar gembel!” Ucap Ibu Jennie, dan aura cantiknya terkesan aneh, aku yakin 100% banyak Silikon yang di tanam di wajahnya.


“Ayah, Ibu, pasti dia mau melakukan panjat sosial dengan mendekati Adikku, Jennie!” Tuduh Kakak Jennie yang laki-laki, yang di barengi suara tawa tertahan sang Istri, yang sibuk menahan tawanya sambil menutupi mulut nya, dengan anggun.


Benar kata Kevin, mereka semua keluarga Lampir. (Kecuali Jennie ding, karena Jennie cantik)


Apa ini yang di namakan muka dua?


Di depan Jennie mereka semua memasang wajah hangat kepadaku dan memperlakukanku bagaikan raja, di belakang Jennie mereka menghinaku dan menganggap ku sebagai sampah seperti ini.


.


.


.


.


.


#To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2