Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 103 : Surat Cinta


__ADS_3

Saat ini Gladish berada di dalam mobil milik Tante Ajeng, Tante Ajeng sibuk dengan stir mobilnya, sedangkan Gladish sedari tadi hanya sibuk menatap kaca jendela mobil, dengan tatapan mata yang kosong…


Ia terlalu sibuk dengan pemikiran-pemikirannya sendiri, perasaannya kini nggak enak.


Apakah dia akan di terima oleh ibu kandungnya dengan baik?


Atau sebaliknya?


Tentu saja untuk menemui Ibu Kandungnya sendiri, Gladish harus membohongi Bapaknya, dia beralasan akan menginap di kediaman Tante Ajeng selama tiga hari, empat malam.


Padahal tidak demikian…


Ia Hanya semalam menginap di rumah Tante Ajeng, dan untuk tiga hari kedepannya, dia akan menghabiskan waktunya di kediaman rumah ibunya.


Tubuh Gladish pun kini gemetaran, jantungnya pun berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, wajahnya pun memucat.


“Kamu lapar?” Tanya Tante Ajeng, yang sesekali melihat tingkah Gladish dari arah kaca depan mobilnya.


“Tidak!” Jawab Gladish datar, sambil meremas Safety Belt yang menempel di dadanya.


Rupanya Tante Ajeng yang pada dasarnya hobi ngomong, hobi ngegibah, hobi mem-bully… bukan mendadak jadi pendiam di hadapan Gladish, Cuma ketika dia mencoba mengajak Gladish berbicara, anak itu hanya menjawabnya dengan kata “Iya.” ,“Tidak.” Dan “Terserah.”


Sungguh membosankan bukan?


Makanya Tante Ajeng lebih memilih untuk diam, mengikuti permainan Gladish.


“Tante lapar… Ayo kita cari makan?” Tanpa menunggu persetujuan Gladish, Tante Ajeng pun menepikan mobilnya di dekat warung makan yang ada di sekitar mobil mereka.


*****


Di Toilet, ternyata keempat toilet guru penuh, karena keempat guru yang jam nya kosong di jam pertama tersebut sepertinya salah makan di ruang guru, dan mengakibatkan BAB (Buang Air besar) berkali-kali.


Ratih pun juga sibuk melipat kedua kakinya, karena harus menahan BAK (Buang Air Kecil).


Apakah dia harus menjongkok di semak-semak untuk BAK?


Lupakan~


Karena statusnya guru. Bisa-bisa dia di Bully oleh murid-murid yang tak sengaja melihatnya di semak-semak.


Atau…


Apakah dia harus mencari botol air mineral kosong untuk BAK?


Lupakan~


Karena hal tersebut hanya bisa di lakukan oleh kaum lelaki saja.


Sambil menahan rasa gejolak yang ada… Bu Ratih yang bosan menunggu pun, akhirnya memutuskan untuk membaca surat izin beramplop putih yang di tujukan dari Gladish, untuknya.

__ADS_1


“Dear Pak Damar…” Baca Ratih, dalam hati.


“Hah? Pak Damar?” Pekik Ratih kaget, akan tetapi dia segera menutupi mulutnya, takut ke empat guru yang sedang menjalankan hajatannya di toilet, mendengar suaranya.


“Ah~ sudah selesai… Ratih ayo masuk!” Ucap seorang guru, yang baru saja keluar dari toiletnya.


“Yakin sudah selesai Bu?” Tanya Ratih memastikan.


“Iya, lagipula aku hanya memakan siomay jamur, yang ternyata sudah kadaluarsa itu, sedikit saja.” Terang Ibu tersebut.


Langsung saja tanpa Ba Bi Bu lagi, Ratih langsung masuk ke dalam toilet tersebut, tak lupa Ratih membawa surat yang mau di bacanya tersebut, di dalam toilet yang akan Ia masuki.


*****


“Dear Pak Damar…


Sosok pria dewasa yang aku sangat sukai.


Sejak pertama kali aku melihat Bapak, aku merasakan getaran yang berbeda. Betapa aku tak menyadarinya.


Namun setelah sekian kali aku melihat bapak, setelah sekian kali aku berbicara dengan Bapak, sekian kali aku menghabiskan waktu-waktu berhargaku bersama dengan Bapak. Aku akhirnya sadar, selama ini aku menyimpan rasa sama Bapak.


Maaf sebelumnya Pak, jikalau aku tidak sopan.


Tidak sepantasnya aku yang hanya seorang siswi, yang masih belum jelas masa depannya, mengagumi sosok dirimu yang sudah jelas sangat bercahaya.


Bapak harus tahu, betapa senangnya hati Saya, jika ketika Saya melihat mata Bapak, melihat senyum Bapak, mendengar suara Bapak dan ketika tak sengaja bersentuhan dengan kulit Bapak. Bapak begitu spesial di mata saya.


Saya harus bagaimana lagi Pak?


Maaf apabila tulisan saya jelek, format surat saya amburadul, karena seperti Bapak tahu, saya hanya pintar di bidang Saint, tapi sangat bodoh di bidang Sastra Indonesia.


Terima kasih selama tiga hari ini sudah menemani saya dengan tulus, membimbing saya dengan sabar, dan memberikan perhatian-perhatian kecil untuk saya, sehingga saya bisa sukses dan menang dalam menjalankan lomba Olimpiade Sains IPA.


Sungguh tak mengapa, jika akhirnya Bapak tidak membalas perasaan saya… saya cuma ingin Bapak tahu saja…


Bahwa ada seseorang yang begitu menyukai Bapak… Begitu mengagumi Bapak…


Sungguh tak tahan rasanya saya menyimpan rasa ini terus menerus, sendirian.


Saya memutuskan untuk menulis surat ini, dan menunggu jawaban dari Bapak.


Semoga Bapak berkenan membalas surat ini, agar saya bisa menentukan langkah saya selanjutnya, apa masih berharap lebih ke Bapak, atau mundur?


Demikian surat dari saya Pak, Maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati Bapak. Semoga dengan surat ini Bapak tidak membenci saya yah? Hehehe…


Saya tunggu balasannya Pak.


Dari seseorang yang mengagumi mu… Lala Ayudia.”

__ADS_1


“Sreeeekk~ sreeeekkk~”


Seketika saja… Ratih mengacak dan meremas surat yang ada di tangannya tersebut.


Ratih saat ini sedang membaca SURAT IZIN yang ternyata isinya SURAT CINTA tersebut di toilet duduk, tempat dia melaksanakan BAC.


“Hahahaaa~ berani-beraninya bocah ini!” Dumel Ratih dengan perasaan yang amat kesal. “Lala, rupanya kamu sudah bosan yah mendapatkan nilai yang bagus dari ibu?” Gumam Ratih, dengan sorot mata yang tajam dan senyum yang sinis.


*****


Ketika Pak Damar keluar dari kelas yang di didiknya, dan berbelok ke arah kiri, untuk menaiki tangga…


Tiba-tiba saja langkah Pak Damar dicegat oleh sosok Lala dari arah depan.


“La Lala, ada apa?!” Pekik Pak Damar, kaget dengan sosok Lala yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.


Lala pun langsung merogok kantong sakunya, mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya ke arah Pak Damar.


“I ini… Pak!” Ucap Lala, dengan suara yang bergetar, dan mata yang tertutup kuat-kuat.


“A apa ini Lala?” Tanya Damar, yang juga ikut bergetar mengikuti suara Lala.


Rupanya pemandangan seperti ini, sudah tidak asing lagi bagi seorang Damar.


Bagaimana tidak?


Ternyata dia sering sekali mendapat surat seperti ini dari siswi-siswinya di sekolah, akan tetapi dia tidak pernah menanggapinya dengan serius, menurutnya siswi-siswinya tersebut masih bocah. Apalagi masih ada keberadaan Ratih yang masih singgah di hatinya.


“I ini, pe perasaan saya ke Bapak!” Ucap Lala, masih dengan menutup matanya rapat-rapat. Setelah Damar mengambil surat beramplop putih tersebut dari arah tangan Lala.


Lala pun langsung berlari kabur dari hadapan Damar.


“Aiss~ manisnya, ada-ada saja tuh anak!” Ucap Damar, sambil tersenyum simpul.


Apakah ini saatnya Damar buka hati?


Apalagi hubungannya dengan Ratih saat ini telah berakhir.


Damar pun dengan wajah memerah membuka surat beramplop putih tersebut.


Damar pun membaca surat itu dalam hati, dan mengerutkan alisnya…


“A apa ini?! Su surat Iziiiinnnnn?????!!!!!” Tanya Damar dengan ekspresi wajah yang kecewa.


#To Be Continued



__ADS_1




__ADS_2