Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 23: Menunggu


__ADS_3

“CUUUUUUUUUUURRRRRR!!!” Terdengar bunyi keran air yang mengalir di arah kaca toilet pria, Arga membasuh wajahnya berkali-kali. Agar tak tampak bila wajahnya, baru saja habis menangis.


………


……


“*Kamu jangan Ge’er!” Seru Reva.


“Ge’er?” Tanya Arga.


“Iya Ge’er, sebenarnya Gladish dulu nembak kamu bukan karena Ia suka sama kamu… BUKAN…” Sambung Reva lagi… guna menyelamatkan harga diri, sahabat lamanya tersebut, Gladish.


“Bukan?” Tanya Arga lagi, tak mengerti.


“Iya betul sekali, sebenarnya Gladish, Aku dan Reva dulunya taruhan…” Sambung Nadia, ikut ingin menyelamatkan harga diri sahabat lamanya tersebut. “Jadi isi taruhan kami, kalau Gladish bisa nembak Elo, dan Elo terima, kita bakal kasih Gladish uang*.”


……


………


Entah mengapa kata-kata yang terlontar dari mulut Reva dan Nadia, selalu terbayang-bayang di batin Arga dan tentu saja kata-kata itu sangat melukai perasaannya.


“Sudahlah Arga~ jangan nangis lagi, nanti Kak Arya akan menertawakanmu!” Gumamnya dalam hati, menenangkan dirinya sendiri.


₩₩₩₩₩


Gladish melirik sebuah jam dinding bernuansa antik yang tergantung di tembok Caffe, Jarum jam Caffe tersebut menunjukan jam delapan tepat, sudah lewat setengah jam dari waktu mereka janjian untuk bertemu.


Di sekelilingnya sudah di penuhi oleh pengunjung yang datang, yang kebanyakan datang bersama pasangan atau lawan jenisnya masing-masing. Gladish pun mulai tidak percaya diri, karena di Caffe tersebut, hanya dirinya yang duduk seorang diri.


Ia pun mengambil Handphonenya kembali, dan menelpon orang yang sama kembali, dan entah panggilan Handphone ini sudah berapa kali Ia ulang, dan hasilnya sama…


“TUUUUUUUUUUTTTT… TUUUUUUUUUUTTTT… TUUUUUUUUUUTTTT… Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan…” Dan untuk kesekian kalinya… Suara dari nada telepon yang tak terjawab, menggema dari arah ponsel Gladish.


 


“Kruyuuuuuukkk.” Tiba-tiba perut Gladish berbunyi. “Duuhh Arga lama banget, aku sudah lapeeerr…” Pekik Gladish sambil meraba-raba perutnya yang keroncongan.


 


₩₩₩₩₩


 


Ketika Arya sedang duduk sambil mengikat tali sepatunya di teras gerbang musolah. Setelah selesai mengerjakan Sholat Isya.


“Mau Praktik dimana Pak Dokter?” Tanya seseorang, yang dilihat Arya mengenakan sepatu Sneakers berwarna hitam beraksen Merah Maroon, datang menghampirinya.


Arya pun mengadahkan kepalanya ke atas, “Arga?” Gumamnya.


“Kau lucu sekali~” Sindir Arga sambil menepuk tangannya, melihat kakaknya mengenakan Jas Dokter, di hari libur dan di tempat rekreasi santai seperti ini.


“Hei kau, tumben pakaianmu se-modis ini? Apakah kau akan pergi berkencan?” Tanya Arya, sambil menyipitkan matanya, melihat Outfit yang dikenakan Arga yang di dominasi dengan warna Merah Maroon, merupakan Outfit yang tidak biasa.


 


Arga pun terdiam, Ia teringat kembali kalau malam ini merupakan malam janjiannya dengan Gladish untuk makan malam berdua di sebuah Caffe.


“Ah~ Oh iya lupa,” Arya pun memukul pelan jidatnya. “Kamu kan Jomblo!” Sindir Arya membalas sindiran adiknya barusan.

__ADS_1


 


Arga pun tersenyum sinis, kakaknya dari dulu, hingga sekarang, masih sama, masih nggak berubah, masih nggak mau kalah dalam perdebatan apapun dengan adiknya.


 


Padahal usianya sudah memasuki usia 22 lebih, tidak lagi berusia remaja seperti dirinya. “Kamu mau pulang, atau ku tinggal disini?!” Ancam Arga ke arah Arya, dengan sorot mata yang dingin, sambil mengangkat jarinya dan memutar kunci mobilnya.


₩₩₩₩₩


Sebelum pulang ke Bogor, Arga dan Arya mampir ke Pos Polisi terdekat, tentunya masih di kawasan Ancol, guna membuat laporan tentang adanya pencurian, ternyata di kantor polisi tersebut ada seorang wanita paruh baya, yang menemukan tas beserta dompet Arya di jalan.


 


Arya terus-terusan bersyukur karena kartu-kartu penting di dompetnya tidak ada yang hilang, seperti KTP, SIM, Kartu ATM, Kartu Pelajar, Kartu Kesehatan dan lain-lain tidak lenyap dari dompetnya. Meski segepok uang dolar dan rupiah di dalam dompet tersebut, sudah ludes tak bersisa.


 


₩₩₩₩₩


Tak terasa jam dinding bernuansa antik yang tergantung di tembok Cibogy Caffe tersebut, menunjukan pukul setengah Sembilan lewat lima menit, sudah lewat sekitar satu jam lebih, dari waktu mereka janjikan untuk bertemu.


Gladish yang sudah menunggu sekitar satu jam yang lalu, kini perutnya mulai keroncongan… akhirnya Ia dan perut buncitnya pun pasrah.


Ia pun segera memesan Chicken Katsu sebagai cemilan, sambil menunggu kedatangan Arga di Caffe cantik, yang bernuansa kaca-kaca di area atas dindingnya tersebut.


“Aku akan memesan nasi nanti, pas Arga datang saja.” Gumam gadis tomboy tersebut, merencanakan makan malamnya, sambil memakan lahap Chicken Katsu-nya, pasca kelaparan melanda perutnya.


₩₩₩₩₩


 


“AGH~ Aku lelah sekali.” Pekik Arya, keluar dari mobil merah tersebut dan melemaskan otot-otot tangannya, yang agak lelah mengambil alih menyetir mobil merah tersebut, dalam jarak perjalanan yang lumayan jauh.


Arga pun juga segera keluar dari mobil merah tersebut, dan berlari menerobos rumahnya, guna memasuki area kamarnya, untuk menggapai sebuah Handphone yang sedari tadi tertinggal di atas almari bufet hitamnya.


Ia pun mengambil Handphone tersebut dari arah kamarnya. “Dilihatnya ada sebanyak 43 pesan WA yang masuk, dan ada sebanyak 52 panggilan tak terjawab, dan semua itu dari orang yang sama, yakni Gladish. Dan baterai Handphonenya terlihat memerah yakni 15% karena pesan dan panggilan secara bertubi-tubi tersebut.


 


Ketika Ia ingin membuka pesan WA-nya, tiba-tiba saja kata-kata Reva dan Nadia terngiang lagi dalam kepalanya.


……



“*Kamu jangan Ge’er!” Seru Reva.


“Ge’er?” Tanya Arga.


“Iya Ge’er, sebenarnya Gladish dulu nembak kamu bukan karena Ia suka sama kamu… BUKAN…” Sambung Reva lagi… guna menyelamatkan harga diri, sahabat lamanya tersebut, Gladish.


“Bukan?” Tanya Arga lagi, tak mengerti.


“Iya betul sekali, sebenarnya Gladish, Aku dan Reva dulunya taruhan…” Sambung Nadia, ikut ingin menyelamatkan harga diri sahabat lamanya tersebut. “Jadi isi taruhan kami, kalau Gladish bisa nembak Elo, dan Elo terima, kita bakal kasih Gladish uang*.”



……

__ADS_1


Arga pun menutup matanya rapat-rapat, ada perasaan sakit yang menyerang di sekitar hulu hatinya.


“DRRRRRRRRRTTTTTTT…. DRRRRRRRRTTTTTTTT….” Handphone Arga pun bergetar dengan kencang, dari arah layarnya bertuliskan “Gladish Calling.”


Mungkin gadis itu menyadari bahwa pesan WA-nya ke Arga sudah centang dua, karena saat ini lelaki Introvert tersebut sedang menghidupkan Paket Datanya. Meski puluhan pesan WA yang gadis itu kirimkan belum di Read oleh Arga.


Arga pun bingung harus berbuat apa. Ia pun langsung memencet tombol Power Off (Mematikan) Handphonenya dengan kuat. Dan mencharge Handphonenya di atas meja belajarnya dengan keadaan terbalik.


Ia pun berbaring dan ikutan membalikan badannya di arah ranjangnya yang bernuansa biru.


Saat ini Arga dalam keadaan menangis terisak, yah~ laki-laki Introvert Melankolis itu menangis sejadi-jadinya meluapkan segala kemarahan yang sedari tadi Ia tahan, kemarahan yang sedari tadi Ia sembunyikan.


Ia masih belum bisa menerima bahwa dirinya hanya digunakan sebagai bahan taruhan…


Ia masih belum bisa mencerna bahwa dirinya hanyalah alat yang digunakan untuk mendapatkan sejumlah uang.


Oleh seseorang yang selama ini Ia anggap spesial tersebut.


Sakit?


Ia saat ini hatinya merasakan sakit yang luar biasa.


Rasa sakit yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


₩₩₩₩₩


 


“Kenapa Handphone-nya sekarang nggak bisa di hubungin yah?” Gumam Gladish saat melakukan panggilan yang ke 54 ke arah kontak nomor Arga.


Saat ini Baterai Handphone Gladish juga sekarat yakni sekitar 28%, Gladish pun sangat kesal kepada Arga, dan langsung berniat untuk pulang.


 


Setelah menghabiskan 2 gelas Milk Shake Coklat dan 3 piring cemilan, piring yang pertama Chicken Katsu, piring yang kedua Kentang Goreng, dan piring yang ketiga Burger Keju.


Dan saat ini perutnya pun masih terasa lapar, karena Ia sepanjang malam belum menyentuh nasi.


 


“BRAAAAAKKKKK!” Gladish pun berdiri, sambil menggebrak kuat meja makannya. Piring-piring dan gelas-gelas disekitarnya ikut bergetar (Untung tidak sampai berjatuhan).


Beberapa pasangan yang duduk di sekitarnya pun, mulai menatap ke arah dirinya dengan ekspresi ketakutan. Melihat mimik wajah Gladish yang sangar, seperti aura ingin membunuh.


“Dasar Cowok Br*ngseeekkk!!!” Pekiknya kesal, dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


 


Gladish saat ini merasa seperti orang bodoh, menunggu sendirian di Caffe di daerah Puncak tersebut.


#To Be Continued


.


,



__ADS_1


__ADS_2