
Arya masih sibuk berjalan-jalan dengan dunianya, tepatnya dunia masa lalunya, kali ini langkahnya yang lunglai menapaki sebuah gedung yang bertuliskan Sea World, yang letaknya masih di kawasan sekitar Ancol.
Sea World adalah Akuarium besar yang modern dengan hiu dan aneka macam ikan lainnya, aneka pertunjukan memberi makan hewan, kolam sentuh dan juga terdapat toko Souvenir di dalamnya.
Dia pun berjalan di dalam Antasena Tunnel, yakni tempat dimana kita bisa melihat di sekeliling kita (dari atas hingga samping) terdapat air laut dan ikan-ikan cantik, yang dibatasi oleh kaca pembatas yang membentuk setengah lingkaran.
Arya pun menaruh tangan kanannya di salah satu sudut kaca tersebut, ikan-ikan kecil disekitar kaca itu pun berlarian saat Arya menaruh tangan kanannya di kaca tersebut.
Ia pun teringat kembali, dahulu dia pernah menaruh tangan kanannya seperti ini, dan ikan-ikan kecil pun berlarian, akan tetapi ada yang berbeda…
Dulu tangannya besar dan gemuk, sekarang tangannya lentik dan ramping.
#Flashback
.......
....
Arya pun menaruh tangan kanannya di salah satu sudut kaca tersebut, ikan-ikan kecil disekitar kaca itu pun berlarian saat Arya menaruh tangan kanannya di kaca tersebut.
“Bwahahaahaaa~” Ngakak Melanie tiba-tiba. Yang kebetulan berdiri di sebelah Arya.
“Kenapa kau ketawa sekencang itu?” Pekik Arya bingung, sambil mengerutkan dahinya.
“Coba lihat ikan-ikan kecil tersebut.” Ucap Melanie, sambil menunjuk ikan-ikan kecil yang barusan berlarian dari sekitar Arya.
“Kenapa memangnya?” Tanya Arya, sambil melihat ikan-ikan kecil yang ditunjuk oleh Melanie.
“Kata mereka, mereka takut sama tanganmu…” Sambil mengambil tangan kanan Arya dan membandingkannya dengan tangannya yang kecil. “…Kata mereka tanganmu terlalu besar… hahahaha…” Canda Melanie, sambil tertawa renyah.
Tangan Arya pun langsung menggenggam tangan Melanie yang ada di hadapannya, tangan yang baru saja menjadikan tangan kanannya sebagai perbandingan.
“Hei lepaskan!” Pekik Melanie. Menyadari tangannya di genggam kuat oleh Arya.
“Melanie…” Gumam Arya, sambil menatap gadis di hadapannya tersebut dalam-dalam.
“Yah?” Jawab Melanie, sambil meneguk air liurnya, gugup dengan tatapan dalam Arya, yang dilakukan pria tersebut secara tiba-tiba.
Arya pun ikut meneguk liurnya, keringat dingin pun keluar, membasahi sekitar keningnya. “Maukah kau menjadi pacarku?” Tanya Arya akhirnya, dengan nada mantap, rupanya laki-laki itu sudah berlatih mengucapkan kalimat tersebut, sebelum mengajak jalan gadis cantik berambut panjang tersebut.
Gadis cantik itu pun tersenyum malu, ia pun menggaruk kupingnya yang tidak gatal.
“Ba, bagaimana... ka, kamu mau atau nggak? Tanya Arya gugup, meminta kepastian, sambil mengelap keringat dinginnya dengan sapu tangan yang kebetulan ada di saku bajunya.
“Aku nggak mau.” Jawab Melanie akhirnya.
Jawaban singkat Melanie tersebut, sukses membuat wajah pria bertubuh buntal di hadapannya tersebut, berubah menjadi pucat pasih.
“Aku nggak mau nolak kamu. Hahahahahahahaha…” Jawab Melanie kembali, kali ini lebih detail, diiringi dengan tawa renyahnya.
__ADS_1
“Aaaaaggghhhhh~~ Erang Arya, sambil menghembuskan nafasnya dalam-dalam, entah lelaki bertubuh buntal itu harus marah atau berterima kasih kepada gadis berambut panjang yang ada di hadapannya tersebut, yang jelas saat ini perasaan ‘Bahagia’ menyelimuti sekujur tubuhnya.
“Hahahahaaaa~” Mereka pun akhirnya tertawa bersama, tapi tanpa berani menatap satu sama lainnya. Mereka hanya menatap ikan-ikan di sekitar mereka yang seperti melayang-layang, seakan turut merayakan hari kebahagiaan mereka.
.
#Flashback End
.
“Brrruuuuuukkk!!” Tiba-tiba ada sesosok tubuh yang menabrak Arya.
“Maaf.” Gumam Orang yang menabrak Arya tersebut, dan langsung berlari meninggalkan Arya. Arya sekilas melihat wajah orang tersebut, lelaki tinggi, bersetelan hitam-hitam, bertas jinjing coklat, dengan mengenakan masker dan topi hitam juga di area wajahnya.
Arya pun berniat mengambil tas jinjingnya kembali, yang sedari tadi ia taruh di lantai, tepatnya di sebelah Ia berpijak.
Tunggu!
Dimana tas jinjing tersebut?
Kenapa tiba-tiba menghilang?
Jangan-jangan…
Arya pun mengingat kembali, lelaki yang menabraknya barusan juga mengenakan tas jinjing berwarna coklat.
Astaga itu kan tas jinjing yang sedari tadi dibawa Arya!
Itu tas jinjing milik Arya!
Tanpa Ba Bi Bu lagi, Arya pun langsung mengambil langkah seribu, untuk mengejar pencuri tersebut. “Yak tunggu, dasar pencuri!!!” Teriaknya.
₩₩₩₩₩
Prisil lagi?
Yah, gadis ber-oufit serba merah muda, yang semula ngambek itu kembali hadir di kehidupan Gladish, ketika Gladish menyodorkan kepadanya selembar uang berwarna merah, yang bernilai seratus ribu rupiah.
Benar kata pepatah, uang merupakan salah satu cara yang paling ampuh dalam meluluhkan hati seorang wanita. Termasuk meluluhkan hati seorang Prisil… dan Gladish tahu benar tentang hal itu.
Karena Prisil Mat… ah sudahlah…
Gladish pun membeli Overall pendek berwarna Terracotta, dengan Tunic bermotif garis vertical, tas selempang bertekstur kulit jeruk berwarna Mustard, dan sandal jepit kayu berwarna coklat dengan aksen bunga matahari di tengahnya.
Tentu saja itu semua merupakan Outfit of The Day (OOTD) pilihan Prisil, atas dasar persetujuan Gladish, karena harga barang-barang yang barusan mereka pilih selama kurang lebih dua jam tersebut, memiliki harga yang cukup terjangkau dan tak mencekik kantong Gladish yang pas-pasan.
Warnanya pun menurut Gladish sangat pas, karena tidak terlalu Girly, entah mengapa Ia tidak terlalu suka warna-warna cewek seperti pink, ungu dan sebangsanya, kemarin malam Ia memakai warna pink, itu pun hanya karena mendesak. Lebih tepatnya karena baju pinjaman.
“Gila Gua capek banget.” Keluh Gladish, sambil mencari sandaran terdekat untuk dia beristirahat sejenak.
“Baru dua jam belanja, Lu udah tepar gini. Payah lu Dhis!” Pekik Prisil dengan nada meremehkan Gladish, sambil ikutan duduk di sebelah Gladish.
“Cuma…? Memang Elu biasanya belanja seperti ini, memerlukan waktu berapa jam?” Tanya Gladish kepada Prisil, sambil mengatur nafasnya yang kelelahan.
“Bisa empat jam, atau bisa lima jam, tergantung…” Jawab Prisil dengan nada yang santai.
“What!!!” Pekik Gladish sambil membelalakan matanya.
₩₩₩₩₩
__ADS_1
Di sebuah kamar, yang bernuansa serba biru…
Terlihat seorang Pria Tampan berdagu tirus, sedang membolak balikan tubuhnya, memantau kaca berukuran panjang, yang menyatu dengan lemari pakaian hitamnya.
Sepertinya sudah beberapa baju atasan dan bawahan yang telah Ia coba, dilihat dari tumpukan baju dan celana, yang tergeletak berantakan di atas ranjang, berselimut birunya.
Lelaki tampan itu bernama Arga.
Tak mau kalah dengan kesibukan Gladish yang mencari OOTD untuk tampil sempurna di hadapan Arga, orang yang Ia sukai.
Arga pun demikian, tidak mau berpenampilan apa adanya di depan Gladish, orang yang Ia anggap spesial.
Lelaki Introvert Melankolis yang selalu terlihat cuek tersebut… diam-diam peduli… diam-diam memilah dan memilih OOTD terbaiknya untuk melewatkan acara makan malamnya bersama Gladish.
Lelaki yang jarang tersenyum itu pun, tersenyum… Saat melihat pantulan bayangannya, mengenakan outfit pilihannya di dalam kaca tersebut…
Pilihannya jatuh kepada kaos putih polos dengan kemeja Flanel berwarna Merah Maroon sebagai Outher, dan celana Jeans ketat berwarna Dark Gray… dengan sepatu Sneakers berwarna hitam beraksen Merah Maroon, senada dengan Kemeja Flanelnya.
“Sempurna!” Gumamnya dalam hati.
“DRRRRRRRTTT... DDDDRRRRTTTTT … DDDRRRTTTTTT…” Terdengar bunyi getaran Handphone Arga, yang cukup kencang bergetar di almari bopet kamarnya.
Arga pun segera mengambil Handphonya tersebut.
“Arya Calling.” Terpampang di layar Handphonya tersebut. Dan Arga pun segera menerima panggilan panggilan tersebut.
“Halo Arga.” Sapa suara dari seberang sana.
“Iya Kak?”
“Arga, tolong aku, aku baru saja kecopetan!” Seru Arya, dengan nada panik.
“A… Apa?!” Pekik Arga.
“Aku kecopetan, bagaimana ini? Tasku hilang, dompetku hilang, identitasku hilang, uangku hilang…” Adu Arya dengan nafas tak beraturan, lelaki itu sepertinya dalam pikiran sedang kacau. “Untung saja handphoneku ada di kantong kemejaku, jadi aku bisa hubungin kamu!” Sambung Arya, dengan nada hampir ingin menangis.
“Jadi sekarang, kakak ada dimana?” Tanya Arga, dengan nada ikutan panik.
“Aku ada di Ancol dek.”
“Ancol…?” Arga pun berpikir sejenak. “Jakarta?!” Tebaknya, sambil mengerutkan kedua alisnya.
“Iya, Jakarta.”
#To Be Continued
.
.
Mohon dukungannnya y, baik vote, ratting, komen, like n shared...
terutama komentar deh, biar author bisa semangat lagi up eps selanjutnya🤗🤗🤗...
author jg mohon kritik n sarannya untuk lebih baik lagi kedepannya...😅🔫
terimakasih udh membaca, assalamuallaikum
🙏🙏🙏
__ADS_1