Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 37: My First Kiss


__ADS_3

 Hari ini Melanie nggak masuk sekolah, kata guru wali kelas ku penyakit asma Melanie kambuh lagi di rumahnya. Sebagai pacar yang baik, aku harus menjenguknya dong.


Malam itu sehabis sholat Magrib, kebetulan mobil Ayah sedang menganggur, aku pun meminjam mobil Ayah kala itu untuk menemui Melanie. Untuk menjenguknya.


Tak lupa aku membawakan sebungkus martabak daging dan sebungkus sate ayam pinggir jalan, untuk merebut hati sang calon mertua.


Pepatah versi Gua yang gembrot ini, mengatakan : Manjakanlah perut orang lain, sebelum kau mengambil hatinya.


Meski rumah Melanie letaknya lumayan jauh dari rumah Gua, tetap saja Gua sebagai seorang pria, harus rela berkorban demi menemui orang yang tersayang.


“CIIIIIIIIITTT~” Aku pun menginjak rem mobilku. Ketika sekiraku sudah sampai di depan pintu pagar rumah Melanie yang terkesan asri dan sederhana.


Terlihat dari arah kursi teras, Melanie sedang duduk berdua dengan seseorang, yang…


Sial~ wajah pria tersebut saat ini tertutupi oleh ranting pohon mangga yang ada di halaman rumah Melanie.


Kira-kira siapa pria, yang kini sedang duduk berduaan dengan Melanie tersebut? Apakah pria itu sosok Kak Reza, seperti yang di ceritakan Teddy Priyadi tadi pagi?


Apakah aku harus turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua?


Jangan gegabah Arya!


Semua itu butuh kesabaran…


Semua itu butuh strategi...


Hanya orang bodoh yang menyelesaikan masalahnya langsung dengan emosi!


Ketika melihat mereka berjalan, hendak menuju pagar luar untuk keluar, aku pun segera memundurkan mobil ayahku. Kebetulan kalau aku mengajak kencan Melanie, selalu menggunakan transportasi angkot, jadi Doi nggak tahu, kalau saat ini Doi sedang ku mata-matain di dalam mobil.


Sial~


Melanie yang saat itu hanya mengenakan gaun silver ketat yang minim, Ia pun melingkaran kedua tangannya di lengan pria tersebut.


Dan kurasa saat ini yang sedang berjalan dengan Melanie, bukan Kak Reza, setahuku Kak Reza yang aktif di Ekskul OSIS dan Paskas, mempunyai postur tinggi tegap dan kulitnya berwarna sawo matang… sedangkan cowok yang saat ini di gandeng oleh Melanie mempunyai tubuh jangkung, dengan jas hitam rapi (Seperti orang kantoran), berkulit putih susu, rambut hitam yang disisir rapi dan berkacamata.


Sial~


Cowok itu ganteng banget!


Sepertinya dia bukan lelaki biasa, tapi orang kaya… di lihat dari setelannya mahalnya yang sangat rapi, dan Ia pun menekan Key Fob mobilnya…


“Tiiittt… Tiiittt!” Terlihat mobil BMW seri terbaru berbunyi menyala-nyala lampunya mengikuti perintah Key Fob yang bersebelahan dengan kunci mobil yang di pegang oleh pria tersebut.


“Buju buset, keren banget tuh mobil!” Gumamku pelan, sambil membelalakkan mataku.


Sebelum mereka berdua masuk ke dalam mobil tersebut, ku melihat tangan Melanie menarik bahunya, dan…


Ku melihat mereka pun berciuman dengan mesra…


“DEG…” Seketika saja jantungku terasa mau copot, hampir setahun aku belum pernah sama sekali berciuman dengannya. Bahkan seumur hidup aku belum pernah merasakan berciuman dengan seorang gadis mana pun.


Dan ini, saat ini… di depan kedua bola mataku sendiri, aku melihat sesosok gadis, yang ini menjadi spesial dalam hidupku, gadis yang merupakan kekasih hatiku, kini sedang berciuman mesra dengan lelaki lain?


Ciuman yang dalam dan penuh dengan Lum*tan, sama seperti yang sering Ayah dan Bunda contohkan di depan mataku.


"Menjijikan!" Pekik ku dalam hati, sambil memukul keras stir mobilku.


Kepalaku tiba-tiba terasa pusing, mataku terasa berkunang-kunang, nafasku pun terasa sesak tak karuan.


Tanpa ku sadari Melanie dan Pria tersebut telah masuk dan berlalu dari hadapanku, dengan mobil BMW-nya.


Apakah masuk akal, gadis yang paginya izin tidak masuk sekolah karena sakit gangguan pernafasan, dan malamnya berkeliaran dengan pria lain, dengan pakaian yang lumayan terbuka?


Saat itu tubuhku terasa sangat lemah, sehingga aku tak sanggup lagi untuk mengikuti mereka… dari pada terjadi apa-apa denganku dan mobil ayahku.

__ADS_1


Mungkin bukan sekarang... Mungkin besok…


Yah~ besok! Aku akan menguntit ke rumah Melanie lagi, dan mengikutinya kemana pun Ia berada dengan lelaki itu, bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun!


Saat ini aku sedang tertunduk lemah, sambil menangis sejadi-jadinya…


Kaca jendela di mobil Avanza yang sederhana ini, cukup gelap bukan?


Sehingga, orang-orang yang melintas di jalan ini tak akan tahu kalau aku sedang menangis...


₩₩₩₩₩


 


“Arya kenapa kamu nggak makan sarapan mu?” Ucap Bunda, melihat nasi goreng hangat, dengan telur mata sapi, yang ada di hadapanku saat ini, masih tampak utuh.


Aku tak menjawab, masih sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri, tentunya tentang Melanie...


“Kak Arya lagi diet Bunda!” Celetuk adik pendiam ku, Arga, yang sesekali Ia bersuara pasti langsung menusuk ke dalam hatiku. Lamunanku pun buyar karena celetukan Arga, mengingat lelaki yang di gandeng oleh Melanie tadi malam, merupakan lelaki yang mempunyai postur kurus, yang menurutku TUBUH KURUS merupakan idaman bagi semua wanita.


Aku pun mengerutkan keningku…


Dan memencet perutku yang penuh dengan lemak…


 


Apakah benar kata Arga... bahwa aku harus diet?


 


Aku pun keluar dari meja makan ku, mengambil tasku yang terletak di sofa ruang tamu.


“Arya, kamu mau kemana?” Tanya Ayah yang juga masih duduk bersama Arga dan Bunda di meja makan.


“Arga makananmu!” Teriak Bunda, ke arahku. Tapi tak ku hiraukan.


Bagaimana aku bisa makan dengan tenang? Sementara kejadian Melanie dan lelaki kurus berjas semalam itu kini terngiang di pikiranku…


Jangan kau tanyakan tentang sebungkus martabak daging dan sebungkus sate ayam pinggir jalan, yang ku belikan khusus untuk Melanie.


Karena semalam makanan-makanan tersebut sudah ku sumbangkan kepada pemulung di pinggir jalan....


 


₩₩₩₩₩


 


“Arya!” Seru Melanie, menghampiriku, sambil menepuk bahuku. “Aku belum mengerjakan PR Matematika, bisakah aku melihat hasil kerajaanmu?” Pinta Melanie dengan Puppy Eyes-nya.


“A apa?” Pekik ku, kaget. Memang sih Melanie sering menyontek PR (Pekerjaan Rumah) ku jika di sekolah, dan dengan senang hati aku akan selalu memberikan hampir seluruh tugas PR ku untuknya. Tapi kenapa hari ini aku seakan nggak ikhlas?


Terbersit sebuah pikiran, yang selama ini selalu menggangguku, akan tetapi selalu ku tepis kuat-kuat dari pikiranku, yakni… “Apakah selama ini Melanie menjadi pacar ku hanya untuk memanfaatkan ku?” Gumamku dalam hati.


Yah aku di kenal sebagai Arya sang ranking satu, aku selalu cepat paham apa yang diajarkan guru-guru di sekolah, bahkan tanpa belajar sekali pun, ingatan-ingatan itu, ingatan tentang materi pelajaran sehari-hariku, selalu dengan cepat menempel di dalam memori otakku.


Aku berbeda dengan Arga, yang ingatannya tak terlalu bagus, Ia harus sering belajar dan membaca buku dengan keras, demi mendapatkan ranking satu. Tentunya untuk menyaingi ku, sebagai kakak kandungnya.


Dan aku sebaliknya, aku tak harus belajar dan tak harus sering membaca buku. Akan tetapi, aku selalu dengan mudahnya mendapatkan ranking satu.


Meski aku nggak suka belajar, tapi tetap saja yang namanya PR aku selalu rajin mengerjakannya, demi mempertahankan ranking satu ku di kelas.


Aku pun menatap mata Melanie dalam-dalam, dan Ia pun terlihat bingung dengan tatapan mataku yang tiba-tiba.


Aku pun lalu tersenyum simpul ke arahnya, senyuman yang cukup lama… dan dia pun menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal, bingung dengan arti dari senyumanku tersebut...

__ADS_1


 


“Aku sudah mengerjakannya, kau mau lihat?” tawar ku ke arahnya.


₩₩₩₩₩


Ketika pelajaran olahraga…


Melanie sedang beristirahat sambil sibuk meneguk air mineral kemasannya, di pinggir lapangan sekolah. Nafas gadis ini, kebetulan tidak terlalu tahan untuk berlama-lama dalam berolah raga. Karena dia mempunyai penyakit asma.


Aku pun datang menghampirinya, untuk menemaninya yang sedang duduk sendirian….


“Melanie boleh nggak nanti malam aku ke rumahmu?” Tanyaku kepadanya.


“Uhuk~ uhuk~” Ia pun hampir tersedak saat meneguk minumannya. “Untuk apa?” Tanyanya, sambil memegangi lehernya yang kesakitan.


“Nggak papa, cuma mau main saja.” Jawab ku padanya.


“Maaf yah, Arya aku nggak bisa, aku dan orang tuaku malam nanti nggak ada di rumah.” Ucapnya, sambil menutup kembali botol air mineralnya.


“Ah, iyakah?” Gumamku sambil menggaruk belakang telingaku, yang tak gatal.


Aku pun tiba-tiba teringat kembali kejadian ciuman Melanie semalam, dengan pria asing tampan, kurus, dan berjas hitam.


 


Aku pun melihat sekitarku.


Sepi…


Anak-anak yang lain, sibuk dengan kegiatan latihan Bulutangkis dengan rekannya masing-masing. Kebetulan hari ini ada kegiatan Praktik Bulutangkis, untuk pengambilan nilai.


Aku pun memberanikan diri untuk mendekatkan diri ke arah Melanie.


“A A Arya, kamu mau apa?” Tanyanya gugup. Sambil memundurkan sandarannya, menjauhkan wajahnya dari wajahku. Tubuhnya pun bergetar seakan ketakutan.


Ah~ ketakutan?


Tapi aku nggak peduli…


Aku pun segera menutupi pipi kiriku dengan Raket Bulutangkis yang tak jauh dari jangkauanku.


Lalu...


Aku pun dengan cepat mendaratkan bibirku ke arah bibirnya...


Dan…


“Cuupp…” Sebuah kecupan hangat dari bibirku, mendarat sempurna ke arah bibirnya, dan ini untuk pertama kalinya bagi kami, dan pertama kalinya bagiku...


 


#To Be Continued


Visual Bundanya Arya Arga, ini dia tante Melanie... meski tua namun tetap terlihat masih cantik💃👩


👇👇👇



Mirip sama Arga nggak wajahnya?💁‍♀️



Coming Soon, Visual Bapaknya Gladish🕺👨👉

__ADS_1


__ADS_2