Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 84 : Terkepung


__ADS_3

“Perasaan Gua nggak enak Mey!” Ucapku, memecah kesunyian kami. Karena tiba-tiba saja, dada aku merasakan debaran yang aneh, bukan debaran cinta yah~ tapi…


“Sama Ko, perasaanku juga nggak enak.” Ucap Maya, merespon perkataanku barusan.


“Aku merasa ada aura jahat disini!” Gumamku merasakan debaran jantungku yang semakin kencang.


Menanggapi perkataanku, Maya pun berucap… “Aku malah merasa, ada aura, kedua ibu kita, mau menjodohkan kita disini!” Gumam Maya, akhirnya. Sambil menyipitkan matanya.


“Apa, dijodohkan?!” Pekik Ku, kaget. Pantas saja dari tadi, kedua Ibu itu mendekatkan posisi kami terus agar selalu bersama, mulai dari posisi tempat duduk kami.


Hingga saat ini… kita saat ini sedang berjalan berduaan… (semoga nggak ada setannya di antara kami)


“Dari ekspresi wajahmu… sepertinya, kamu udah agak lama tahu yah, tentang rencana perjodohan itu?” Tebak ku padanya. Sambil mengerutkan alisku.


“Gimana Nggak tau coba? Wong hampir tiap hari, emak ku selalu wanti-wanti aku, untuk deketin Niko, Niko, Niko mulu!” Ucap Maya, dengan nada kesal, dan masih menyipitkan matanya.


“Wong pantas saja, Emak mu suruh kamu deketin aku terus! Wong aku tampannya kebangetan gini!” Ucapku pede, sambil menyibakkan Jaket hijau ku, bagian leher.


Maya pun hanya memutar bola matanya, menanggapi kepedeanku.


Tiba-tiba saja ada sekelompok pria dewasa menyeramkan, yang mencegat kami, dari arah depan.


Kira-kira ada 6 orang Pria dewasa, berbody macho, berambut gondrong, berjambang dan bertatto di sekujur lengannya.


Kulihat sekelilingku…


Asyeeeeeeeeemm !!


Sepiiiiiik !!!



“Kalian mau kemana?” Ucap salah satu dari mereka, sambil terkekeh. Kekehannya pun serem pula.


“Cewek, godain kita donk!” Goda salah satu, dari mereka juga, yang kini mulai menggodain Si Cantik Maya.


“Siapa sih para laki-laki jelek ini? Tampang mereka kayak B*bi tau, Bikin kesel aja!!!” Ucap Maya, seenak udelnya, tanpa menyaring dulu kata-kata, yang akan dia keluarkan.


“Ja jadi ka kalian mau apa ke sini?” Ucapku dengan nada yang bergetar.


Asyeeeemmm, ternyata benar firasatku, kalau akan ada hal jahat yang akan menimpa kami disini!


Tapi bagaimana, aku akan melawan mereka???


Kalau ilmu silatku saja masih ada di kasta paling bawah, yakni sabuk putih…


Lagi pula, aku nggak pernah belajar silat dengan sepenuh hati, aku belajar silat hanya setengah hati, untuk sepenuh hati melakukan PDKT dengan Gladish.


“Maya… Apa Boleh buat! Sepertinya kita harus mengeluarkan Jurus Seribu Bayangan deh!” Ucapku panik, dengan keringat dingin yang kini membasahi area keningku.

__ADS_1


“Jurus Seribu Bayangan?” Tanya Maya, sambil mengerutkan alisnya.


“Eh, salah, salah… maksud Aing, Jurus Seribu Langkah~” Sanggah ku lagi, untuk memperbaiki kalimat Typo ku, barusan.


“Jurus Seribu Langkah???” Pekik Maya, masih tak mengerti, sambil mengerutkan alisnya. “Apaan tuh?


Aku pun mengambil tangan Maya, dan menggenggamnya…


“KAAAAAAABBBBBBBBBUUUUUUUUUURRRRRRRR…!!!” Teriakku, sambil menarik tangan Maya, yang baru saja ku genggam tersebut.


Kami pun berlari, dan berlari, tanpa arah, mereka pun juga berlari mengejar kami.


“Duhhh~ dari tadi kita jalannya jauh banget sih, masih jauh dari keramaian pula lagi…!!!” Batinku yang melihat sekelilingku, hanya ada hamparan hijau, perkebunan teh, yang sangat luas.


♡♡♡♡


“Lepaskan aku!” Ucap Maya, sambil menyibak tanganku dari arah tangannya, kedua tangannya pun kini ada di lutut, dan dia pun menundukan badannya… untuk mengatur deruan nafasnya. “Capek!!” Keluhnya.


Aku pun juga ikut mengatur nafasku pada saat itu….


Saat itu, aku juga merasakan capek yang luar biasa.


“Kalian terkepung!” Ucap salah satu, preman gondrong bertatto, yang wajahnya paling hitam, di antara mereka berenam.


 


Astaga!!!


 


Betapa kagetnya diriku dan Maya, melihat sosok keenam preman tersebut. Saat ini… sudah berbaris di antara kami, membentuk sebuah lingkaran, untuk mengepung kami.


“Bagaimana ini, Ko?!” Ucap Maya, panik, sambil meremas Jaket Hijau Ku.


Kami saat ini sudah nggak bisa lagi menggunakan Jurus Seribu Langkah, karena posisi kami sudah terkepung.


“EH, ADA NAGA TERBANG!!!” Teriakku, sambil menunjuk ke arah langit. Sapa tahu saja mereka semua menoleh ke arah atas langit, dan kita berdua ada kesempatan buat lari.


Tapi takdir berkata lain, mereka berenam ternyata nggak ada satu pun yang sebodoh Gladish. Tidak ada satu pun, di antara ke enam preman tersebut, yang menoleh ke arah langit.


 


M*mpuss kamu Niko! M*mpuuuuuuuuuuussss!!!


#Niko POV End


 


♡♡♡♡

__ADS_1


Di sebuah restoran bernuansa Sunda, yang ada di kota Bogor…


Saat ini, Ratih dan Damar sedang menikmati makan siang mereka… dengan posisi duduk lesehan, dan makan menggunakan tangan t*lanjang.


Ada apa kau mengajakku ke sini Damar? Tumben.” Ucap Ratih, sambil melihat ke sekeliling Restoran, yang pemandangannya sangat cantik sekali.


Ada air terjun kecil di depan mereka, dan ada sungai kecil, yang berisi ikan-ikan yang berenang-renang di bawah Gazebo mereka.



“Ratih kamu masih ingat nggak tempat ini?” Ucap Damar, sambil mencubit Ikan Gurame goreng, yang ada di hadapannya.


“Tentu saja ingat, ini kan tempat pertama kali kita kencan, waktu kita pacaran…” Ucap Ratih, dengan mata yang berkaca-kaca. Dia pun melihat ke arah sekelilingnya, dan dia pun bernostalgia kembali.


Tentang saat, untuk pertama kalinya, mereka datang ke Restoran ini.


Dan… untuk bertama kalinya juga, mereka melakukan kencan perdana mereka. Kurang lebih sekitar lima tahun yang lalu.


Saat itu, ketika mereka makan di restoran itu… mereka berdua hanya diam-diaman, nggak berani menatap ke arah mata satu sama lain, pandangan mereka berdua sibuk dengan makanan, atau sibuk dengan pemandangan air terjun yang ada di hadapan mereka.


Tempat duduk dan posisi duduk mereka, yang saat ini mereka duduki pun, tetap sama seperti waktu mereka pertama kali datang untuk pergi berkencan.


Ratih pun yang sedari tadi melihat ke arah sekelilingnya, kini melihat ke arah pemandangan yang ada di hadapannya…


Yakni, pemandangan Damar, yang kini matanya sedang berkaca-kaca juga… air mata Damar pun bertumpahan di pipinya…


Dengan bibir yang mengeluarkan suara-suara isakan.


Apakah, lelaki berwajah tegas dan macho itu… menangis???


Baru pertama kali ini Ratih melihat Damar menangis…


Padahal sebelum-sebelumnya… dia tidak pernah, bahkan satu kali pun… tidak penah melihat wajah Damar menangis…


Bahkan di hari pernikahannya sekali pun, saat dia terpaksa harus menikah dengan orang yang Ia tidak cintai…


Ia mengira Damar akan menangis karena hal itu… karena di tinggal nikah...


Akan tetapi…


Damar tidak pernah menangis!


Paling yang paling parah, Ia hanya melihat mata Damar saja yang terlihat merah dan berkaca-kaca… akan tetapi Damar pun langsung segera tersenyum kembali, setelahnya…


Tidak sampai menangis.


“Karena tempat ini adalah tempat untuk pertama kalinya kita pergi berkencan… bisakah tempat ini, juga menjadi tempat untuk terakhir kalinya… untuk mengakhiri hubungan kita, Ratih?” Tanya Damar dengan suara terisak, dan dia pun mengambil beberapa Tisu restoran tersebut, untuk menghapus air matanya.


“A Apaaa???”

__ADS_1


#To Be Continued



__ADS_2