
“Arga ayoooo!!!” Ajak Gladish, sambil menarik tangan kanan Arga.
Tangan kiri Arga pun dengan cepat memegangi tiang terdekat dan memeluknya. “Enggak mau!”
“Enggak mau, jangan paksa aku!”
“Ayo lah, sekali saja!”
“Enggak mau! Enggak mau! Enggak mau!” Tolak Arga dengan keringat dingin yang memenuhi wajahnya.
Seketika saja Gladish merasa seperti tante-tante yang ingin memperk*sa anak SD.
Banyak pengunjung yang kini memperhatikan mereka, sambil berbisik-bisik.
“Kasihannya cowok itu terlihat ketakutan.” Ucap seorang ibu kepada anaknya.
“Kakak cewek yang menariknya Barbar banget mah!” Sambung anak dari ibu tersebut, menanggapi perkataan ibunya.
“Gantengnya cowok yang ketakutan itu!” Gumam seorang cewek, tepat di hadapan cowoknya.
“Cowok payah, masa naik Roller Coaster saja takut, HAHAHHAHAHAAAAAA~” Sambung cowok tersebut, menanggapi perkataan ceweknya. “Memalukan!”
Seketika saja harga diri Arga terluka karena perkataan dari cowok tersebut. Arga pun melepas pegangan tangan kirinya dari tiang tersebut.
Ketika Arga melepas pegangan tiang tersebut, Arga hampir saja jatuh terjerungkup.
“Huwaaaaaa~” Teriaknya ketakutan.
Untung saja tubuh Gladish berhasil menahan lengannya.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Gladish khawatir. “Kalau kamu nggak bisa, biar aku sendirian saja yang menaikinya!”
“A aku bisa~” Ucap Arga, dengan memasang ekspresi ketakutan.
♡♡♡♡
Kini Arga dan Gladish sedang berada di puncak wahana Roller Coaster.
“HUWAAAAAAAAAAAAAAAAA~” Teriak mereka semua, para pemain Roller Coaster, termasuk Arga dan Gladish.
Saat wahana tersebut meluncur turun dengan cepat dari puncak ketinggiannya.
Arga berteriak kencang, dengan ekspresi shock, takut, kaget, dan jantungan…
Sementara Gladish berteriak dengan ekspresi gembira di wajahnya. Gladish begitu menikmati sensasi jantung yang hampir copot seperti ini.
“Gladisssshhhh~ kapan ini semua akan berakhir? HUWAAAAAAAA~~” Teriak Arga ketakutan, kepada Gladish yang saat ini sedang duduk tepat di sebelahnya, sambil memegangi pengaman yang melingkar di lehernya dengan kuat.
“Mungkin satu jam lagi.” Jawab Gladish mengerjai Arga, sambil tersenyum lebar.
“APA?!” Teriak Arga frustasi, merasa nyawanya telah hilang sebagian.
__ADS_1
“HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~” Teriak mereka kembali, saat wahana itu sampai di puncak yang lain, dengan ritme yang cepat, dan kembali terjun ke bawah dengan kencang, akan tetapi turunan kali ini, membuat tubuh mereka memutar ke posisi bawah dan kembali ke posisi atas dengan cepat…
Seketika itu juga wajah Arga pucat pasih, dan kini nyawa Arga seperti melayang-layang di udara.
Arga pun menutup matanya kuat-kuat.
“Bunda, Arya… selamat tinggal~”
♡♡♡♡
Saat ini Rafi dan Bambang sedang berjalan-jalan di sebuah Mall besar di pusat kota Bogor.
Karena Rafi ingin sekali membeli sebuah buku Ensiklopedia keluaran terbaru, dari penulis populernya. Kebetulan Rafi nggak bisa mengendarai motor dan perlu teman juga untuk berjalan-jalan ke Mall.
Akhirnya Rafi pun memutuskan mengajak Bambang untuk menemaninya membeli buku.
“Tumben Loe ajak Gua saja, biasanya ajak Niko juga kalau jalan-jalan begini?” Tanya Bambang. Bambang tidak menyebutkan nama Arga, karena nggak bisa di pungkiri Arga adalah orang baru di antara persahabatan mereka.
“Kata Niko, Doi nggak enak badan Mbang, kasian-kasian~” Jawab Rafi, menjawab pertanyaan Bambang.
“Dia sih kemarin kirimin Gua pesan kalau kemarin Doi liburan sama keluarga Maya, mungkin karena itu Doi nggak enak badan.”
“Itu sudah.” Jawab Rafi. “Arga tadi juga Gua ajakin, katanya Doi masih sibuk juga dengan bekas pesta Pertunangan Bundanya.”
“Masa sih, wah Arga anak sholeh banget yah bantu-bantu acara emaknya… hehehe~” Tanggap Bambang.
“Emaknya Arga bakal nikah sama Bokap nya Gladish kan?” Tanya Rafi kembali.
Rafi pun ikutan terkekeh, dan nggak sengaja matanya kini menuju ke arah atas, arah sebelum turunan ekskalator. “BTW itu cowok kok mirip banget sama Si Onta Buluk, Niko yah?” Tanya Rafi, sambil melepas gagang kacamatanya, dan mengucek-ngucek matanya.
“Mana, mana? Tanya Bambang, sambil mengikutkan arah pandangan matanya, ke arah pandangan yang Rafi tuju.
Terlihat cowok berpakaian serba hitam yang kini sedang merangkul sosok cewek dengan gaun kaos berwarna merah muda.
“Asyeeeemmm~ itu kan Prisil!” Seru Bambang, tanpa BA BI BU lagi, Bambang pun langsung berlari ke arah tangga ekskalator.
“Mbang tunggu!” Seru Rafi, sambil berlari, berusaha mengejar langkah Bambang.
♡♡♡♡
“Niko… Prisil…?” Pekik dua orang pemuda yang kebetulan nggak terduga baru saja berlari menuju tepat di hadapan mereka. Dan sialnya~ suara dua orang pemuda tersebut sudah tidak asing lagi bagi seorang Niko.
“Bambang… Rafi…?” Pekik Niko dan Prisil secara bersamaan.
Bambang pun memandang tajam tangan kiri Niko, yang kini sedang menggantung di bahu Prisil.
Menyadari hal tersebut, Niko pun dengan Spontan langsung melepaskan Bahu Prisil yang sedari tadi di rangkul nya.
“Br*ngsek kamu!” Seru Bambang, sambil tersenyum sinis ke arah Niko.
__ADS_1
Prisil pun memelototkan matanya, mendengar umpatan yang tidak sopan yang barusan keluar dari arah mulut Bambang.
“Mbang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan!” Ucap Niko, ingin mengakhiri kesalahpahaman yang di lihat oleh Bambang saat ini.
Tanpa aba-aba lagi…
“BRUUUUUUKKKK!!!” Sebuah tonjokan keras kini mendarat tepat di pipi mulus Niko, dan tonjokan tersebut sukses membuat tubuh Niko jatuh terjerungkup.
“BAMBANG!” Teriak Prisil dan Rafi secara bersamaan.
“Banyak omong Loe nggak ada bukti!” Ucap Bambang sambil menjongkokkan kakinya, menarik kerah atas, kaos hitam milik Niko, dan dengan cepat kembali melayangkan beberapa tonjokkan ke arah pipi Niko. “Dasar Cowok B*jingan, berkali-kali kau jelaskan Gua, kalau Loe nggak ada hubungan apa-apa ke Prisil! Dasar Set*n! Dasar ibl*s!!!” Ucap Bambang di sertai umpatan emosi tak sopan, yang keluar dari arah mulutnya. “Dasar pembohong!!! Licik Loe!!!
“BUUUKKKKKKK… BUKKKK… BUUUKKKKKKK!!!”
Sementara Niko pasrah, nggak membalas… Ia ikhlas menerima tonjokan-tonjokan yang tangan Bambang layangkan kepadanya.
Para pengunjung Mall kiri ramai-ramai menghampiri mereka, karena ingin menonton aksi Bambang yang memukul Niko... Mereka semua tidak ada yang melerai, mereka hanya sibuk menonton, sibuk berbisik, sibuk berseru memberikan dukungan dan sibuk mengambil kamera ponsel mereka untuk mendokumentasikan kejadian tersebut.
“Mbang, hentikan Mbang, hentikan!” Seru Rafi, berusaha memisahkan tubuh Niko dan Bambang. “Banyak orang yang lihat Mbang, malu!!!”
Akan tetapi…
“BUUUKKKKKKK~” Satu tonjokan kini mendarat lepas di pipi Rafi.
“Bambang~ Please hentikan! Please~” Teriak Prisil, berusaha berjalan dengan ritme terpincang ke arah mereka, karena kakinya masih cidera.
Prisil pun mencoba menjongkok di tengah mereka dan berusaha menghentikan aksi Bambang.
Dan…
“BUUUKKKKKKK~” Satu tonjokan kini mendarat lepas di pipi Prisil.
♡♡♡♡
“Huweeekkk~ Huuueeeeek~ Huuuueeeek~” Muntah Arga di toilet terdekat. Asli tubuhnya saat ini benar-benar mual, karena hari ini merupakan perdana kalinya Doi menaiki wahana Roller Coaster.
Setelah selesai dengan tugasnya, Arga pun langsung memencet saluran air di Kloset tersebut, agar cairan muntahnya larut bersama dengan air.
Arga pun keluar dari arah toilet tersebut dengan ekspresi pucat pasih seakan ingin mati.
“Sayang kamu muntah?” Tanya Gladish yang sedari tadi menunggu Arga di depan toilet Pria.
“Sayang?” Pekik Arga, sambil mengerutkan alisnya.
Tangan Gladish pun kini meraba perut Arga, yang datar paripurna, tanpa lemak, tanpa Six Pack. “Sayang, kamu hamil?”
#To Be Continued
__ADS_1