Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 12 : Ada Namanya Dimimpimu


__ADS_3

Keesokan harinya, pada jam istirahat...


 


Bambang yang malas mengantri di kantin (alias mau merokok) mengajak kembali sahabat-sahabatnya untuk nongkrong dan makan di warung belakang tembok sekolah, yakni Rafi dan Niko, akan tetapi hari ini bukan dua anak itu saja yang diajak ke warung tersebut, tapi ada Arga si anak baru juga yang diajak (lebih tepatnya dipaksa mereka untuk nongrong di kantin tersebut).


“Bruuuukkkk!!!” Terdengar bunyi tubuh Arga yang terjatuh terjungkal dari tembok tersebut.


“Arga, kamu tidak apa-apa?” Tanya Rafi, panik. Kebetulan Arga merupakan anggota terakhir yang mendarat dari tembok tinggi tersebut.


“Coba lihat sini lututmu?” Pekik Bambang, khawatir, sambil memeriksa luka Arga.


 


Arga pun meringis kesakitan, terlebih lagi melihat celana seragam di bagian lututnya yang robek, dan lututnya yang kini terluka.


Melihat mimik Arga yang matanya mulai berkaca-kaca, Niko pun langsung menyipitkan matanya. “Kamu bukan lelaki melankolis kan, Ga?”


Arga pun langsung menatap Niko, dengan tatapan mata yang dingin.


“Masa gini saja, kamu mau nangis?” Tambah Niko lagi.


“Sudah, sudah!” Seru Bambang menenangkan.


₩₩₩₩₩


 


Ketika kaum hawa sedang berkumpul, banyak yang bilang, “Wanita adalah makhluk paling gila dalam gosip.”


Siapa bilang?


 


Hasil penelitian menunjukkan kalau kaum pria jauh lebih gila gosip daripada kaum wanita. Menurut survai global yang dilakukan onepoll membuktikan kalau pria juga suka keranjingan gosip, termasuk Niko Cs, tentunya.


Niko CS, bukannya seharusnya Bambang CS yah ?


Meski Bambang dengan gaya dewasa, tampang alim, dan aura kharismatiknya, merupakan ketua kelas, sekaligus ketua Grub kecil-kecilan mereka… akan tetapi kalau ada info-info baru tentang kejadian di sekolah, selalu Niko duluanlah yang memprakarsai gosip duluan…


“Sumpeeeehhh Lo, Ko! Elo beneran tercium sama Prisil?” Seru Rafi tak percaya, sambil menutupi mulutnya sendiri, dengan tangan kanannya.


“Waduuuhh, padahal Prisil itu cewek incaran Gua, dari kelas satu SMA loh, Ko. Nggak jadi udah gini caranya, terpaksa Gua mundur alon-alon.” Ucap Bambang, dengan ekspresi air wajah yang tampak kecewa, akan tetapi tetap berusaha untuk tersenyum renyah-untuk menutupi sakit hatinya, sambil menepuk-nepuk bahu Niko “Demi temen!” Lanjutnya.


Sementara Arga hanya diam saja, sambil mendengarkan sekilas, Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, yakni memplester luka kecil yang ada di lututnya dengan Hansaplast.


“Yah enggak gitu juga kali Mbang, Elu tanggapinnya dewasa dikit dong!” Jelas Niko, sambil menyeruput Kopi Susu hangatnya. “Itu kan Gua sama Prisil cuma sebatas kecelakaan doank, nggak lebih!”


“Terus reaksi Prisil gimana?” Tanya Rafi, penasaran.


“Nggak gimana, gimana, dia loh diem aja seharian." Jawab Niko santai.


Bambang pun terdiam lemas. “Pantes, kemarin sehabis jam istirahat, Prisil jadi terlihat pemurung, Ia juga nggak konsen waktu ulangan harian Bahasa Indonesia. “ Pekik Bambang dalam hati, khawatir.

__ADS_1


“Malah nih yah, gara-gara kejadian itu, si Gladish, ngamuk-ngamuk sama-sama Gua, ngejar-ngejar Gua lah.” Ucap Niko, dengan nada percaya diri yang tinggi.


“Wah Doi cemburu tuh, Loe ciuman sama temannya.” Gumam Rafi menambahi, sambil menyendok nasi goreng pedas pesanananya.


Arga terlihat senang karena Es Cendol pesanannya sudah datang, dan ia pun menyedotnya.


“Tapi yang lebih parah.” Lanjut Niko, keasikan sama dunia pergosipannya, “Masa dia mau nendang aku, eehh apesnya, yang terkena tendangan itu malah wajahnya Arga, Hahahahhahaaaa…!!!”


“Brrrruuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttt~” Spontan Arga langsung refleks mendengar namanya di sebut dalam cerita Niko-tak sengaja isi Cendol Dawetnya, menempel ke Arah Niko yang kebetulan duduk tepat di hadapannya.


Jadi tempat duduk mereka di warung itu seperti ini, Rafi duduk bersebelahan dengan Arga, sedangkan di depan mereka ada Bambang dan juga Niko. Bambang yang duduk berhadapan dengan Rafi, sementara Niko duduk berhadapan dengan Arga.


“BWAHAHAAHHAHAHAAAA!!!" Suara tawa seisi warung yang tak terlalu ramai itu mengema, ketika melihat kejadian itu dan juga melihat wajah Niko yang penuh dengan penampakan cendol hijau.


Tak terkecuali Bambang dan Rafi, yang ikut tertawa terbahak-bahak mengikuti irama tawa penghuni kantin… sedangkan Arga hanya terdiam, tak bersuara.


(Di warung tersebut bukan hanya mereka bertiga pelanggannya, akan tetapi ada pelanggan-pelanggan lain dari kelas lain juga tentunya, dan semua pelanggan di warung itu pria, karena kaum wanita tidak bisa memanjat tembok.)


“Ma, Maaf…” Gumam Arga akhirnya. “Ini semua nggak sengaja.” Jelas Arga, sambil memberikan sekotak tisu kantin tersebut kepada Niko.


“Hahahahhahaaa~” Niko pun, tertawa melihat ekspresi Arga yang seperti orang ketakutan di depannya. “Santai saja, aku orangnya nggak pemarah kok, Btw maaf dan terima kasih banget loh yah, kemarin kamu sudah gantikan aku jadi korbannya Gladish...” Ucap Niko dengan tawa renyah, sambil menerima kotakan tisu dari Arga. Niko pun mengelapkan tisu tersebut di daerah wajah, leher dan baju seragamnya, “Lagi pula udah dua kali juga kan, Elo jadi korbannya Gladish gara-gara Gua?”


Seperti biasa, Arga hanya diam, tak menjawab. sambil melanjutkan aktivitas melahap nasi campurnya.


“Niko!” Tegur Bambang dengan ekspresi serius, kepada sahabat yang saat ini sedang duduk disebelahnya tersebut. “Elu nggak capek cari perhatian Gladish dengan cara kayak gini?” Tanyanya. Sambil mengambil sebatang rokok dari kantongnya, dan menghidupkan ujung batang rokok tersebut dengan Pemantiknya.


“Capek, maksud Loe apa?” Tanya Niko bingung, kebetulan Niko terkenal Telmi (Telat Mikir) di kelasnya.


“Apa! Niko sedang mencari perhatian Galdish?” Pekik Arga dalam hati. Air wajahnya yang santai, tiba-tiba saja berubah menjadi serius.


#Flashback


Perlahan-lahan, Ia dekatkan wajahnya ke arah wajah Gladish...


 


Semakin dekat…


Dag dig dug. (Suara Soundtrack dentumann jantung Arga saat ini)


Semakin dekat…


Dag dig dug.


Semakin dekat...


Dag dig dug.


“Sedikit lagi…” Gumam Arga dalam hati. Ketika menyadari hidung mereka kini bersentuhan…


Dan…


“Nikoooooooo~!” Erang Gladish tiba-tiba.

__ADS_1


Mendengar erangan tersebut, Arga pun kaget, Ia langsung membelalakan matanya, dan menjauhkan wajahnya dari arah Gadish.


“Niko?” Gumam Arga, sambil mengerutkan alisnya, mengingat-ingat siapa siswa bernama Niko di kelas barunya.


Gladish pun masih enggan membuka matanya, masih terlelap dalam tidur nyenyaknya, “Awas Elo yah Niko, kalau ketemuuu! Akan kupatahkan tulang-tulangmu, kuhancurkan masa depanmu, kusentil ginjalmu! Lalu~ dan...” Cerocos Gladish dalam tidurnya, sepertinya gadis itu sedang bermimpi, bermimpi buruk tepatnya,


Tapi yang bikin Arga kecewa ialah, di dalam mimpi gadis yang sering dianggapnya spesial tersebut, tak ada keberadaannya, tidak ada gaungan namanya…


Akan tetapi, hanya ada keberadaan lelaki lain, keberadaan nama pria lain.


Padahal sosok Gladish selalu ada di mimpi-mimpi lelaki Introvert Melankolis tersebut, baik di mimpi baiknya, maupun di mimpi buruknya.


Seketika saja mata Arga memerah, dan berkaca-kaca…


Arga pun akhirnya menginggat, siswa yang baru saja dierangkan Gladish dalam mimpinya:


- Niko yang memperkenalkan dirinya dan langsung SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) mengajaknya main basket bersama teman-teman yang lain.


- Niko yang melempar bola ke arah Gladish…


- Niko yang langsung ditutup mulutnya oleh Gladish, saat ingin memberitahukan sesuatu kepadanya… saat di UKS.


........


...


“*Arga kamu nggak diapa-apain sama nenek sihir ini kah?” Tanya Niko, dengan nada khawatir.


“What?!” Pekik Gladish, tak terima.


 


“Eh tahu nggak Ga, tadi kamu hampir mau di ciuuuu~~~” Belum selesai Niko melanjutkan kalimatnya, Gladish langsung menangkap dan menutup bibir Niko rapat-rapat dengan kedua tangannya*.


...


........


Seketika saja tubuh Arga bergetar, Ia pun menutupi matanya dan Ia pun menangis, menangis sesegukan di ruang UKS yang sepi dan lembab tersebut. Sedangkan Gladish masih saja sibuk menyumpahi nama Niko, yang ada dalam mimpinya.


#Flashback End


“Capek, maksud Loe apa?” Tanya Niko bingung, kebetulan Niko terkenal Telmi (Telat Mikir) di kelasnya.


“Maksud Gua nih yah, kalau elu lama-lama deketin Gladish dengan cara nggak manusiawi kayak gini, lama-lama bukannya dia suka ke Elo, dia malah bisa tambah benci sama Elo!” Sambung Bambang lagi, sambil menghisap ujung rokoknya.


“What!” Seru Niko, kata-kata Bambang Barusan, benar-benar menancap keras di hatinya.


Begitu juga dengan Arga, kata-kata bijak dari ketua kelasnya tersebut sukses membuat matanya terbelakak, seperti ada sesuatu juga yang menancap keras di hatinya.


“Benar kata Bambang, kalau aku diam seperti ini terus, apakah Gladish bisa suka denganku?” Resah Arga-dalam hati, sambil mengigiti ujung kukunya.


#To Be Continued

__ADS_1


 


__ADS_2