Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 45 : Kejutan dari Maya


__ADS_3

#Gladish POV


“TEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTT… TEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTT… TEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTT…”


Bel Istirahat pun berbunyi.


 


Sebagian anak-anak SMA Tunas Bangsa sudah berhambur dari kelasnya masing-masing. Dan sebagian lainnya masih berada di dalam kelas.


Ketika aku, sedang asik menyusun buku bahasa Inggris ku dan memasukannya ke dalam tas.


“Hei, hari ini kelompokmu bawa hewan apa?” Suara tanya seorang siswa, kepada temannya dari kelompok lain. Mereka sedang mendiskusikan tentang tugas kelompok Biologi tentang sistem reproduksi hewan, pelajaran Pak Damar yang berada di jam terakhir.


“Kelompokku membawa ikan mas.” Jawab temannya tersebut, sambil memamerkan ikan yang terkurung dalam plastik dengan gembongan udara bagian di atasnya. “Kalau kelompok mu?” Tanyanya balik.


“Kalau kelompokku membawa katak.” Jawab temannya lagi.


Aku pun tersenyum simpul mendengar perbincangan mereka.


“Gladish Yuk!” Kode Prisil, mengajakku ke kantin, untuk makan siang bareng.


“Oke…” Jawabku. “Becca mau ikut?” Tawarku ke arah Becca yang sedang bermain dengan empat kawan barunya (Mencit putih).


“Nggak, aku disini saja.” Tolaknya.


Ketika aku dan Prisil hendak keluar untuk makan siang di kantin. Begitu juga geng Teletubbies (Bambang, Niko, Rafi dan Arga) yang hendak keluar, mereka berempat sudah merencanakan untuk makan di warung tersembunyi di belakang tembok sekolah.


Tiba-tiba saja Maya dan beberapa teman cewek sekelasnya datang ke kelas kami, dengan posisi Maya yang berdiri di tengah sambil membawa kue Black Forest dengan hiasan lilin berangka 17 di tengah kue tersebut, yang menandakan umur yang berulang tahun, memasuki usia tujuh belas tahun.


 


“Selamat ulang tahun, kami ucapkan~” Nyanyi Maya dan kawan-kawannya, sambil berjalan mendekat ke arah meja tempat duduk Arga, yang ada pojok, di baris kedua tepat di depan tempat dudukku.


“Kenapa aku panas yah?” Pekik ku dalam hati.


“Selamat panjang umur, kita kan doakan~” Sambung nyanyian mereka lagi.


Kali ini wajah Arga terlihat malu dan memerah dibuatnya.


Malu?


Memerah?


Kenapa mataku ikutan memerah?


Kenapa hatiku terasa sakit?


Yah~ sakit!


Sakit, melihat orang lain berusaha memberikan surprise bagi orang yang dirasa spesial untuknya (Maya).


Sakit, melihat orang lain merayakan kebahagiaannya, dengan sebuah kejutan dari orang yang menganggapnya spesial (Arga).


“Arga ulang tahun?” Tanya seseorang Siswi lainnya, dari kelas kami, sambil berbisik kepada temannya.


“Wah, Maya anaknya ternyata romantis parah yah!” Seru Siswi yang lain.


“Salut dengan pesona Arga yang berhasil menggaet hati bidadari satu sekolah, hingga bidadari nya bisa sebucin itu. HAHAHAHA~” Ujar seorang siswa, sambil terkekeh.


“Gua iri Bro!” Ucap Bambang dan Rafi bersamaan, dengan wajah murung, sambil saling menyenderkan kepala mereka, satu sama lain.


“Sabar Mblo, semua ada masanya!” Ucap Niko menenangkan kedua sahabat Jomblo-nya tersebut. Heran deh~ Apakah Niko sendiri nggak nyadar, kalau dirinya sendiri juga jomblo?


Aku pun yang sedari tadi kepanasan melihat pemandangan tersebut langsung berlari, berlalu dari arah mereka, berlari untuk menuju keluar dari pintu kelas.

__ADS_1


Karena di dalam sana rasanya benar-benar seperti neraka.


“Gladish Tunggu!” Teriak Prisil, sambil ikut berlari mengikuti langkahku.


₩₩₩₩₩


“Gladish Tunggu!” Seru Prisil, sambil ikut berlari sampai ke lorong lobi sekolah, mengikuti langkahku.


Langkahku pun berhenti, mengikuti seruan Prisil.


Tubuhku pun bergetar, dan…


“Hiks~”


“Hei, kau menangis?” Tanya Prisil, sambil memegangi kedua buah lenganku, dan mengarahkan wajahku di hadapan-nya.


“Nggak, siapa yang nangis?!” Elak ku, kepada Prisil, sambil menghapus beberapa bulir air mataku, yang sudah berjatuhan di pipi ku.


“Heol~ jelas-jelas air matamu keluar!” Pekik Prisil sambil memutar bola matanya.


“Aku marah saja Sil, tapi aku nggak tahu marah kenapa?!” Ucap ku, dengan suara terisak.


“Itu namanya cemburu, Gladish atau janda…” Jawab Prisil sambil terkekeh, “Sini tak peluk!” Tawar Prisil sambil merentangkan kedua tangannya, maksud hati ingin memeluk agar menenangkan tangisan ku.


“Ih ogaaaahh!” Tolak ku, geli, sambil berlari menjauh dari Prisil. “Tak Peluk.” Kejar Prisil.


“OGGGAAAAAAAAHHH~”Teriak ku, masih sambil berlari menjauhi prisil.


#Gladish POV END


₩₩₩₩₩


#Author POV


Setelah Maya dan kawan-kawan selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lagu pun berganti menjadi…


Jujur saja saat ini, Arga pun terharu dengan hadiah kejutan dari Maya, baru kali ini ada gadis yang BERANI memberikan KEJUTAN LANGSUNG seperti ini di hari ulang tahunnya.


......


Karena...


Biasanya kalau dia ulang tahun, para gadis hanya memberi kado lewat lokernya, kadang bertuliskan nama, dan kadang tak bernama.


Bahkan ada yang memberikan langsung kado ulang tahun untuknya dengan rona wajah malu-malu, dan langsung berlari begitu saja, setelah Arga menerima hadiah kado darinya.


…..


Maya yang masih setia memegang kue Black Forest tersebut.


Dan salah satu temannya yang berusaha menghidupkan lilin berbentuk angka tujuh belas di kue tersebut.


Becca yang sedari tadi bermain dengan keempat Mencit putih di meja tempat duduknya tersebut, mulai merasa risih dengan kehadiran Maya dan kawan-kawannya, Becca teringat kembali wajah Gladish yang terlihat dengan mimik muka tak biasa, dengan mata memerah, seperti cemburu dengan kedatangan Maya di kelasnya, dan berlari menjauh dari kelas tersebut.


Entahlah~ Becca ini dari dulu selalu mempunyai indra perasaan yang peka, terhadap teman-teman terdekatnya.


Becca pun tiba-tiba saja terkekeh, terpikir sebuah ide jahil di dalam otaknya, Becca lalu dengan sengaja melepaskan salah satu Mencit putih dari kandang plastik di mejanya tersebut, dan melemparnya di area sekitar Maya.


“Aduh kok lilinnya nggak mau hidup ini?” Tanya teman Maya, sambil berusaha menekan korek api yang di pegang-nya tersebut.


“Cepetan, pegel nih!” Keluh Maya, dengan nada berbisik, masih dengan setia memegang kue Ulang Tahun tersebut.


“Duh, Aing laper!” Keluh Niko, sambil memegangi perutnya.


“Sama Ko, Hiks~” Gumam Bambang sambil meringis, menanggapi keluhan Niko.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Maya pun merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak dan meraba-raba sepatu hitamnya.


“Duh, sepatu mahal ku kok berasa ada yang meraba-raba yah?” Gumam Maya dalam hati. Dia pun lalu menundukkan wajahnya.


Maya pun langsung membelalakkan matanya, betapa terkejutnya dirinya ketika melihat ada tikus putih yang menurutnya sangat menjijikan, hinggap di sepatu mahalnya, dan seperti mencakar-cakar sepatu tersebut dengan kuku-kuku kecilnya.


“HUWAAAAAAAA~ MAMAAAAAAAAA!!!!~” Teriak Maya histeris, sambil melompat-lompat, dan refleks melempar kue Black Forest yang sedari tadi di bawanya tersebut, ke arah atas.


Dan…


“Syuuuuuuutttt~”


"Pluuuuuukkk~"


Kue Black Forest pun mendarat cantik di atas kepala Maya.


Dan…


“BWAHAHAHAHHAHAAA~ BWAHAHAHAHHAHAAHA~” Seketika saja, suara tawa yang kenceng banget, menggema di sekitar area kelas 2 IPA 6.


Melihat wajah cantik Maya yang terkena jatuhan kue, yang pelaku pelempar kue tersebut merupakan dirinya sendiri.


Dan kini wajah Maya bagaikan seperti badut, yang penuh dengan hiasan cokelat kue, di rambut dan di bagian atas wajahnya. bahkan Kue Black Florest yang dalam keadaan terbalik tersebut, masih setia hinggap di kepala Maya, bagaikan sebuah topi.


“BWAHAHAHAHHAHAAA~ BWAHAHAHAHHAHAAHA~” Suara tawa itu lagi.


Entah mengapa suara tawa itu membuat tubuh Maya merinding dibuatnya, nafasnya terasa sesak, dan matanya yang penuh dengan Butter Cream dan Dark Chocolate pun terasa perih.


 


Bukan hanya perih karena hiasan kue tersebut semata, tapi seperti karena luka yang ada di dalam hatinya, luka karena malu, lebih tepatnya, dan kini luka tersebut membuatnya hampir menangis.


Maya pun menyingkirkan Butter Cream dan Dark Chocolate di area matanya, yang mengganggu pengelihatannya, dan melihat sekitarnya.


 


Ada Niko, Bambang, Rafi, Becca, dan anak-anak penghuni 2 IPA 6 yang masih ada di kelas, tertawa terbahak-bahak. Dan itu berhasil membuatnya harga dirinya hancur, malu, sekaligus sedih.


Dan yang paling menyedihkan baginya saat ini adalah, ternyata teman-teman cewek yang di bawanya dari kelasnya tersebut, juga ikut menertawakannya. Mata Maya pun berkaca-kaca.


“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Arga, yang terlihat khawatir. Sambil mengangkat kue Black Forest dari arah kepala Maya. Dan menaruhnya di meja.


“Kamu tidak tertawa?” Tanya Maya ke Arah Arga, dengan nada sesegukan, sambil menahan air matanya yang hendak keluar dari arah kelopak matanya.


#To Be Continued


Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE, SHARE dan RATTING 5-nya yah... Biar Author-nya bersemangat dalam ngetik dan berimajinasi, dan update-nya bisa lebih sering-sering lagi (nggak 2x sehari lagi kayak dulu-dulu🤣)


Kalau ada poin berlebih tolong sumbangkan kepada author yang MICIN ini, Huhuhuuuuu~ 😭😭😭👇👇👇



BTW ini wajahnya Teddy Priady yah, ayo tebak Teddy Priyadi itu siapa hayo???👇🤔👇🤔👇🤔


 



 


Pria Mahasiswa kedokteran semester akhir ini memiliki tubuh yang jangkung, berambut ikal, berkacamata, dan ber-hiasi tahi lalat di dagu sebagai pemanis. 😍😍😍



Semoga yang baca lebih banyak dari Chapter kemarin, amin amin Ya Rabb🙏🙏🙏

__ADS_1


Yang Silent Reader tolong donk tunjukan semangatnya buat author 💪😉💪😉💪😉


Udah dulu yah gaes,, Terimkasih sudah membaca....Assalamuallaikum🤗


__ADS_2