Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 18 : Aku Rindu


__ADS_3

 


Di Ibu Kota Indonesia tepatnya di Jakarta, suasana hiruk pikuk kota yang selalu ramai, jalan raya yang tak jauh dari kata macet. Arya yang jauh-jauh datang dari Bogor ke ibu kota demi menemui seorang gadis, terpaksa harus memupuskan harapannya tersebut.


Arya pun memilih menaiki MRT Jakarta (sebuah alat transportasi baru, kereta dengan menggunakan listrik) guna berjalan-jalan tanpa tujuan di kota besar tersebut…


Dulu Arya dan keluarganya menetap di Jakarta, akan tetapi ketika ibunya ingin menikah dengan teman kecilnya… terpaksa mereka harus pindah ke kota Bogor, yang berjarak 2 jam dari Jakarta. Arya dan Arga pun tak keberatan, karena tempat tinggal mereka bernaung sering tertimpa banjir yang lumayan tinggi.


Di salah satu kursi MRT paling ujung, tepatnya di samping jendela Arya duduk melamun, sambil menyandarkan kepalanya disisi jendela tersebut… Ia pun membuka layar ponselnya, dan men-Zoom sebuah Foto dari foto Profil akun Facebook, terlihat seorang wanita cantik berwajah oval, dengan rambut lurus panjang, dengan lesung pipi besar yang menghiasi ujung senyumnya.


“Melanie kamu dimana?” Tanya Arya, dengan tatapan kosong, sambil mengelus lembut layar ponsel yang terpampang sebuah foto wanita yang Ia panggil Melanie tersebut. “Aku rindu…” Gumamnya, dengan suara yang lirih.


 


#Flashback


 


“Huhuhuhuuu~” Suara tangis seorang anak cowok menggema, di pojok sudut kelas. Seorang anak cowok berseragam putih abu-abu ketat, ketat sekali, bukan karena baju seragamnya yang kekecilan, bukan…


 


Karena baju yang Ia kenakan tersebut, memang sudah berukuran paling besar yakni XXL, akan tetapi sang pemilik baju tersebut memiliki ukuran badan sangat besar untuk postur seseorang anak SMA.


 


Saat itu kelas sedang sepi, karena memang sudah tiga puluh menit berlalu, saat suara bel pulangan telah menggema di penjuru kelas...


“Tap… Tap… Tap…” Terdengar suara langkah sepatu yang sedang berlari kecil, menuju kelas itu kembali.


Tampak seorang gadis berambut lurus panjang, sedang mengambil sesuatu barang yang tertinggal di meja laci kelasnya.


“Aiiisss Handphoneku tertinggal, untung saja tidak ada seseorang yang mengambilnya.” Gumam Gadis itu, sambil mengantungi Handphone yang baru saja dijangkaunya tersebut.


“Huhuhuhuhhhuuuu~” Samar-samar, gadis tersebut mendengar suara tangisan, dan mendatangi asal suara tersebut.


“Astaga, kukira penampakan Gunderuwo, ternyata kamu Arya… bikin kaget saja… hahhahaaa!” Pekik gadis itu sambil tertawa renyah. Gadis itu lalu menundukan tubuhnya, mensejajarkan tubuhnya, dengan tubuh lelaki gendut, yang sedang menangis sambil terduduk tersebut. “Kamu menangis?” Tanya gadis itu sambil mengerutkan alisnya.


Akan tetapi Arya tak menjawab, ia masih sibuk dengan tangisnya. “Huhuhuhuhhu~”


“Hei… Kenapa kau menangis?” Tanya gadis itu lagi, sambil memegangi kedua pundak Arya.


Tapi Arya masih enggan untuk menjawab, "Huhuhuhuhhu~” , dia pun mengelep hidungnya dan… “Pluuuppp…” Gelembung ingus dari arah hidung Arya pun keluar…


 


Spontan saja gelembung ingus itu membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak… “Bwahahahahahaa ingusmu… bwahahahahahhaaaa…”


Arya yang tersinggung dengan suara tawa gadis berambut panjang tersebut, langsung saja Ia mengelap ingusnya dengan ujung baju seragamnya, dan menangis kembali, kali ini tangisnya lebih keras…. “HWAAAHHUHUHHUUUUUU~~”


Langsung saja gadis yang bername tag Melanie itu pun mengeluarkan Handphone dari sakunya. Dan menekan tombol merekam video, untuk mengabadikan moment tangisan Arya tersebut.

__ADS_1


“Hei…” Teriak Arya. Sambil menjangkau Handphone Melanie.


 


Akan tetapi gerakan Melanie terlalu cepat, sehingga berhasil menghindar dari jangkauan Arya tersebut. Ia pun langsung segera mensave rekaman video tersebut. “Kamu mau menceritakan masalahmu ke aku atau mau kusebarkan video ini di Grub kelas kita?” Ancam gadis berambut panjang tersebut, memberikan dua pilihan ke Arya, sambil memainkan kedua alisnya.


“Aku mau mati saja… aku mau mati saja!” Ucap Arya memilih pilihan yang lain, dengan suara bergetar dan ada aura keputusasaan dari arah warna wajahnya. “Dia bilang aku gendut… gendut jelek bagaikan B*bi bengkak dan dia bilang aku lebih baik mati saja… dia bilang aku tidak pantas hidup…” Adu Arya dengan isakan tangis yang menggema kencang. “…dia bilang orang gendut seperti aku ini, hanya akan menambah beban di bumi yang berat ini, menjadi semakin berat!”


“Jahat sekali!” Kecam Melanie. “Siapa yang tega melontarkan kalimat jahat seperti itu?” Tanya Melanie, dengan ekspresi wajah ikut prihatin.


“Nia, dia… dia barusan menolakku…” Adu Arya, dengan nada yang sesegukan.


“Jangan dengarkan dia Arya… dia orang yang jahat.” Ucap Melanie sambil memegangi kembali kedua pundak Arya… “Dengar ini baik-baik, Kamu orang yang baik, Kamu pantas hidup, Arya… kamu pantas hidup!!!” Ucap Melanie, menenangkan Arya…


“Tidak, aku mau mati saja Melanie… aku mau mati saja!” Gumam Arya dengan isak tangisnya. “Dia benar, orang gendut seperti aku memang tidak pantas untuk hidup. Lagipula dari SD hingga SMP aku selalu di bully karena aku ini gendut… karena aku ini jelek!” Ucap Arya dengan nada yang sesak, nafasnya saat ini terasa sesak, Ia benar-benar berada di level keputusasaan yang tinggi.


“Jangan Arya…” Ucap Melanie menenangkan dan memeluk tubuh lelaki berbadan buntal tersebut, untuk menenangkannya. “… ingat di dunia ini masih ada orang baik, keluargamu akan sedih kalau kamu mati… termasuk aku…”


Wajah Arya pun berubah menjadi merah. “Jangan peluk aku… aku tak pantas...” Gumam Arya, berusaha melepaskan pelukan tersebut.


Tapi Melanie tidak mau melepaskan pelukan tersebut. “Akhirnya aku tahu kenapa orang gendut seperti kamu diciptakan di dunia ini…!”


“Kenapa?” Tanya Arya, sambil mengerutkan alisnya, tak mengerti dengan maksud Melanie.


“Karena orang gendut seperti kamu membuat dunia yang keras ini menjadi lebih empuk.” Jawab Melanie dengan senyum renyah, sambil mengadahkan wajahnya ke atas, masih dalam posisi memeluk Arya.


“Yak!” Protes Arya, tak terima. Akan tetapi pasrah dengan pelukan Melanie tersebut.


#FlashBack End…


“Stasiun berikutnya Ancol stasiun… Ancol Stasiun…” Suara pengumuman kereta listrik tersebut menggema di penjuru ruangan kereta, dan membuyarkan lamunan Arya.


Kebetulan Ia sudah jauh-jauh datang ke Jakarta, dia pun memutuskan untuk berkeliling kota tersebut… mengunjungi tempat-tempat hiburan di ibu kota tersebut, untuk mengusir penggap di dadanya, mengusir rasa sepi yang kini menghantuinya… tentunya Ia masih memgenakan seragam lengkap jas putih ala dokter tersebut.


 


₩₩₩₩₩


 


Semenjak nomor WhatApp Arga di masukan oleh Bambang sang ketua kelas, ke dalam grub 2 IPA 6, banyak gadis-gadis 2 IPA 6 yang mengirim pesan ke nomornya.


Entah kata ‘Assalamuallaikum, hai, ini nomor Arga? … dan lain-lain’


Akan tetapi Arga tak membalas, bahkan tak men-Read puluhan pesan, yang masuk di pesan WhatsApp-nya tersebut.


Akun istagram @arga_bmpsty yang baru di buatkan Rafi dan men’tag foto mereka dengan akun instagram tersebut, juga banyak di follow oleh cewek-cewek, bahkan di inbox oleh cewek-cewek tersebut-yang berasal dari satu sekolah, yang kebetulan berteman dari instagram Rafi @rafi_celalu_trsyakiti.


Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diingikan, Arga pun mengganti gambar Profilnya yang sebenarnya kosong (Tidak memakai foto profil) dengan foto bundanya.


Baik di WA maupun di IG… seketika cewek-cewek yang Ia cuekin tersebut, berhenti mengganggu inboxnya…

__ADS_1


Akan tetapi tidak dengan nomor yang satu ini…


“Hai Tante Lia.” Bunyi sebuah pesan WA, yang ketika Arga lihat dari foto dan name tag nya menunjukan bahwa yang barusan mengirimnya pesan adalah…


“Gladish!” Seru Arga, seburat senyum pun terlihat mengembang di pipi pria, yang memang jarang tersenyum tersebut.


 


₩₩₩₩₩


#Gladish pov


“Hai Tante Lia.” Sapaku kepada kontak seseorang, yang semalam baru saja kontaknya dimasukan ke dalam grub kelas kami, oleh Bambang sang ketua kelas.


“Hai…” Jawab seseorang bername tag Arga, akan tetapi foto profilnya menggunakan foto Tante Lia tersebut.


“Apa kabar Tante?” Tanyaku lagi.


“Aku bukan Bunda, aku Arga.” Balasnya kembali.


“Iya tahu, tapi aku pura-pura nggak tahu hehe…” Balasku kembali.


Kutunggu balasannya kembali, akan tetapi Ia tidak membalas… apa dia menganggapku nggak penting…. Oh iya lupa, aku memang nggak penting.


“Bisakah kita bertemu lagi?” Ketikku kembali, membuang jauh-jauh semua rasa baper yang kumiliki… dan dengan nekat kukirimkan pesan itu kepadanya.


Lama tak di balas….


30 menit kemudian…


Masih tak di balas…


Satu jam kemudian…


Yeah, dibalas!!!


“Oke… kapan?” Tanyanya.


“Bagaimana kalau nanti malam?” Balasku kembali, dengan cepat tentunya.


“Bisa.” Jawabnya. Singkat padat dan jelas… tapi sukses membuat jantungku berdetak tak karuan di buatnya… “Dimana?” Balasnya lagi. Dan sukses membuat aku loncat-loncat bahagia di kasurku yang empuk.


“Bagaimana kalau di Cibogy Caffe.” Balasku.


“Ok…” Jawabnya.


Seketika aku langsung melompatkan diriku dari kasur ke lantai, dan salto berkali-kali di lantai kamarku tersebut.


Tunggu… aku lupa kalau aku tidak punya baju yang pantas untuk kencan, nggak mungkin kan aku memakai pakaian punya Prisil yang kemarin malam?


Apakah aku harus mengemis dan berlutut kepada Bapak untuk di belikan sebuah baju baru?

__ADS_1


#To Be Continued


__ADS_2